“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)

‘Age of Bones: Zaman Belulang’ Review: A Play with No Compass

14589932_1071671339546985_3313595589960709725_o

My bizarrely riveting 90-minute experience of witnessing Sandra Thibodeaux’s “Age of Bones: Zaman Belulang” at Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran on October 12, was this week’s real page-turner. It was bizarre because it felt like being in the same world with Nemo’s only without coral reefs or resplendent cerulean backdrop, yet it was riveting because I was not in it. In fact, in the fearless hands of Alex Galeazzi (Griffin Theater Company) and Iswadi Pratama (Teater Satu Lampung), taking charge on director’s seats, the bilingual play injects a fresh spectrum of exotic colors almost effortlessly in terms of “in-between-ness”. Let alone the intermediary use of both English and Bahasa for the script, mindfully executed by Kadek Krishna Adidharma, conveying tone of foreignness to the spectators and furthering the level of indeterminacy. Conducted by Department of English, Department of Literature and Cultural Studies FIB UNPAD, and Teater Satu Lampung, “Age of Bones” swiftly registers to be an A-list tragedy for self-cure in encountering such issues as, out of many others, child abuse and human exploitation.

Recounted by an alleged septuagenarian narrator claimed as Pak Tua or the “walker”, the play mostly takes place under the sea, far beneath the two waters separating Indonesia from Australia. Its story orbits around Yakub, or more ubiquitously-known as Ikan, who, detached from his “rocked” sailing boat, yearns to return up home while befriending a ferocious transcontinental shark simply for a late night chit-chat. Meanwhile, at home, his parents are perplexed waiting for his youthful son to be back in their arms, gradually losing their appetite, sight and “tongue,” as it happens to the father. As the story progresses, Ikan meets two Australian divers who abduct him and escort him to the country of kangaroo for labor. Discovering that he has been victimized, a lovely but bad-mouthed Australienne, who presently becomes his lawyer, advocates him to court for being trafficked. Well, I might miss few steps in-between, but that was pretty much it.

In regards of such storyline, a qualified ensemble of cast must surely be of concern. I must first then acknowledge the humorously “intrusive” dalang (the puppeteer in traditional shadow plays) called himself Dalang, rendered by the earthly charming Made Sidia (Institut Seni Indonesia Denpasar), who holds paramount part for the plot. His portrayal, indeed, bequeaths a certain complexity to the play’s donnée while he performs both on- and off-stage. (Well, it sounds wrong to say “off-stage” because he is actually on the stage, only unseen). Furthermore, the actors playing Ibu and Bapak might too be the spectator’s favorite. Their display of affection and intimacy in the beginning creates a quite enviably mellifluous chemistry but later fizzles as the story entangles, conceiving instead an inevitable pathos toward them. The hoary yet resilient Pak Tua also makes room in the audience’s heart, being the plenipotentiary figure but still partakes in the spur of acerbically comical moments with either Dalang or the bric-á-brac narratees. Being old, often does he lose track of what he intends to say, thus enabling Dalang to correct his sentences although it might turn out off beam.

All these characters were assembled upon a countrified proscenium stage with a modest luncheonette, preceded by a quadrangular verandah on the right-hand side, across which placed a carton-made sailing boat craft in front of a booth with a triangle-cut projecting screen where Dalang operates his puppets. Thanks to Mic Gruchy for his picturesque montages, exacerbating the mood of each scene where it could otherwise have gone monotonous. Let’s say Ikan’s wave-hit boat scene where the rustled stormy sea filled the screen, supported by attributive narratees wobbling their green quartos in the air. What a feast for the eye! This is yet to mention the exquisite touch of sound effects impeccably managed by Panos Couros. A scene where Dalang took off the whale puppet to assure Pak Tua that it would no longer disturb his flow of reciting, was surely one to giggle about, as the sound of a whale echoed in the background.

However, much of the musical involvement in the play does not hinge on Couros’ input alone, an acapella of sopranos and occasionally the thumps of rebana, creating a suspenseful, sometimes ambient, tone for certain scenes, also retain key roles for the play’s build-ups. With reference to suspense-builder, a final court scene where an octopus playing as Judge and a dolphin as Lawyer, was just the cherry on top. No spectator I assume would expect that one coming after the appearance of Shark, performed by the same actor as Judge (though it’s a bummer I forgot his name on the finale call out). None the less, his attempt for such infectiously catchy ‘judgy’ accent was in fact what made him to be most remembered, which prompted me to directly associate him with Charles Laughton from Witness for the Prosecution. Ha! I know, right? Anyway, Imas Sobariah, the costume designer, has for sure made all this preparatory, and it was much learnt by heart.

Overall, I have mentioned “in-between” and indeterminacy earlier, but what is the real deelio here? What exactly, if should be exact, does the title “Age of Bones” have to do with the storyline of a “humane fish” missing to be back home? By the time I left the hall, the first thing that came across me is Seno Gumira Ajidarma’s exemplary Kitab Omong Kosong (Book of Nonsense), in which Satya and Maneka set off to find Walmiki, the God-like figure who “writes” down the story as the novel progresses. One thing to highlight here is both Satya and Maneka are highly aware of the fact that their fate is being determined by Walmiki, unlike Ikan, or any other character. The other is that Walmiki is described far-off from the rest of the characters as well as the reader, creating a sense of him as a supreme being. But Dalang, the Walmiki figure in the play, would not be considered supreme whatsoever. He is still able to laugh, mock Pak Tua when sounded lost in his recital or sentences, and even interact with the spectators in the denouement of the play. Simply put, he is a completely mundane figure, which links to the next thing I had in mind: human error.

“We are going round and round with no sense of direction,” as echoed by Lawyer, on the subject of the Australian government’s ignorance to take Ikan’s case seriously, was crucial in the midst of child-trafficking issue happening in the status quo. She went on to say that she and Ikan were like being in a “ship with no compass,” somewhat pinpointing that the idea of his abduction for foreign labor stems from the bestiality of the capitalist’s nature, and that the whole “mess” was the very cause of depravity of self-respect for one another. (Well, now we know why is she “bad-mouthed”, huh?) For what it costs, the metaphoric Dalang figure, being, say, the operator of the whole play, pretty much sums up the fact that human’s present actions are the core of what the future may bring. However, he sees this in a rather witty and sarcastic, if not disrespectful, point of view that human’s conscious unawareness of problems he himself conceives, is a thing to simply laugh at. All in all, “Age of Bones: Zaman Belulang” shall be a palpable reminder, through a body of signs stashed at its entirety, that people, in the era of capitalization, cease to see others as human beings, as those with souls and feelings, but instead as machines, with only bones to work, earn money, and perpetuate foreign capitalistic ideals.

In the end, the play suggests that we need a “kompas moral” (moral compass), as much as it needs a compass to direct the characters, together with spectators, away from the dark and cold world of “down under.”

Antara Gelap dan Terang: Ketakutan dalam Film _Lights Out_

lo-00228
Martin (Gabriel Bateman) dan Becca (Teresa Palmer) dalam Lights Out (2016) | sumber: cdn3

Menurut saya, film horor yang baik adalah film yang mampu menampakkan sifat buruk manusia atau hal-hal yang perlahan menggerogoti sifat baik manusia melalui cara-cara yang subtil. Tak hanya menampilkan hantu-hantu berwajah mengerikan, ditambah suara musik pengiring yang membuat jantung nyaris copot, tapi juga mampu menyampaikan ide bahwa sisi gelap manusia dan sifat-sifat yang dibawanya (marah, dengki, benci, dendam, berkabung dan lainnya), sama juga dengan sifat-sifat baiknya, memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan alam semesta. Film-film seperti Babadook, Shelley, dan The Witch langsung menjadi favorit saya karena alasan tersebut, tapi kali ini sebuah film terbaru karya David Sandberg Lights Out langsung masuk ke dalam daftar film horor terbaik yang pernah saya tonton sepanjang tahun 2016.

Hidup di Amerika Serikat, bergaji cukup untuk menghidupi diri sendiri dan anak, bertempat tinggal nyaman, anak bersekolah di institusi di ibukota, memang menjadi impian sebagian orang. Namun begitu, kesibukan yang tak diseimbangkan dengan kondisi mental yang juga perlu perhatian justru bisa mengarah pada tekanan. Setidaknya itu yang terjadi pada Sophie, karakter yang diperankan Maria Bello. “Hantu” yang sering muncul di sepanjang film kali ini berbentuk bayangan perempuan hitam yang disebut-sebut sebagai Diana, karib Sophie semasa kecil. Jika The Conjuring 2 punya Valak atau The Witch dengan The Black Goat, Lights Out punya Diana. Tulisan ini, dengan begitu, secara subjektif akan membahas mengapa Diana muncul sesuai dengan apa yang sedikit banyak ditampilkan di dalam film.

Dari awal, penonton tidak diberikan keterangan yang jelas terkait apa yang terjadi dengan Sophie pada masa lalu. Yang jelas, anak-anaknya, Becca dan Martin, sesekali menyatakan bahwa ia “gila”. Tanda-tanda lain yang bisa diambil adalah ia pernah masuk rumah sakit jiwa bersama Diana bertahun-tahun silam, namun penyebab mengapa ia bisa sampai titik itu, tidak dipaparkan secara jelas. Salah satu argumen berangkat dari botol-botol pil kecil berwarna tangerine yang ditemukan anaknya Becca di kamar mandi. Ini cukup menjelaskan bahwa Sophie sedang melewati masa-masa sulit berdamai dengan beban dalam pikirannya. Ditambah lagi, fakta bahwa ia sering “berbicara sendiri” di kamarnya menjadi penanda bahwa pikirannya sedang tidak sehat.

Juga terlihat dalam sebuah adegan di mana ia memberikan secarik kertas pada Becca bertuliskan “I NEED HELP,” dan tak lama setelah itu baju hangat yang digunakannya tampak ditarik oleh sesuatu dari dalam yang membuatnya harus menutup pintu cepat-cepat dan kembali dalam kegelapan. Ini merupakan adegan yang menurut saya krusial pada kondisi psikologi Sophie sebagai seseorang yang berada di bawah tekanan berat. Penonton yang sudah terlanjur dibuat takut oleh mood adegan itu mungkin hanya bisa mengintip dari balik jari, khawatir ada penampakan yang muncul tiba-tiba. Penonton yang agak jeli mungkin akan melihat ini sebagai sebuah momen kepasrahan, di mana Sophie tampak tak berkutik di hadapan Diana yang membawanya masuk ke dalam kamar gelap. Di titik ini, jika kita lihat fenomena ini dengan perspektif yang lebih luas, Sophie bisa jadi wakil atas mereka yang hidup dalam kesendirian dan kungkungan rasa takutnya sendiri. Ia adalah persona yang menggambarkan betapa mengerikannya hidup dalam jeratan pikiran negatif yang terlanjur membenalu.

Kata “takut” akhirnya menjadi poin penting dalam film ini (seperti yang dikatakan trailer-nya bahwa “Anda sudah seharusnya takut dengan kegelapan”). Berawal dari suaminya, petugas perempuan di kantor suaminya, Becca, Martin, hingga Bret, ketakutan yang berakar dari mendengar cerita tentang “kegilaan” Sophie, ditambah saat berada di dalam rumah besar yang minim cahaya, jelas-jelas menjadi pemicu Diana untuk hadir. Dengan kata lain, karakter pendukung yang berusaha membantu Sophie menemukan siapa dirinya dan membebaskannya dari rasa takutnya sendiri, menjadi incaran sebuah bahaya luar biasa yang bisa melukai mereka, bahkan secara fisik. Namun begitu, berbeda dengan Sophie, mereka mampu menghadapi kegelisahan dan cemas yang menimpa mereka dengan cepat.

Dari film ini, dengan begitu, saya belajar bahwa rasa takut dapat bermanifestasi menjadi berbagai bentuk yang mungkin tak pernah kita sadari. Kegelapan, misalnya, adalah bentuk lain dari takut dan kecemasan. Ia juga mewakili adanya bahaya dan teror yang akan muncul karena itu adalah kondisi di mana cahaya sedang tidak hadir. Sementara itu, cahaya adalah lambang kebebasan, keterbukaan, dan keberanian. Seperti yang dikatakan Martin pada Sophie, “hal paling berani yang pernah kita lakukan adalah menghadapi rasa takut kita sendiri.” Masalahnya adalah dengan apa kita akan menghadapinya? Apakah dengan “menyalakan lampu”, yaitu menanamkan kekuatan dalam qalbu bahwa ada entitas yang jauh lebih besar dari diri ini, atau, seperti yang Sophie lakukan di akhir film, menembak kepala sendiri karena tak tau dan tak mau tau cara menghadapi rasa takutnya sendiri?

Dari tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk tidak lagi melihat film horor, atau mungkin film pada umumnya, sebelah mata saja. Simbol, perumpamaan (imagery), dan kode-kode visual lain yang muncul di dalamnya adalah strategi untuk membangun sensitivitas kita terhadap hal-hal yang sering kita abaikan. Dari National Institue of Mental Health, hampir 40 juta orang di Amerika Serikat mengalami “mental ilness” yang berkisar dari umur 18 ke atas setiap tahunnya. Kesibukan dunia yang begitu mematahkan leher jaman ini, dengan demikian, terkadang membuat kita abai dengan hal-hal lain yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang atau dengar dengan telinga terbuka, yang sebetulnya membawa kita kembali pada diri kita sebagai seorang manusia, yang membutuhkan kekuatan jauh lebih besar di luar tubuh ini. Film, dengan begitu, menjadi salah satu penyambung antara kita dengan entitas itu, dan Lights Out, bisa dibilang, telah berhasil melakukannya.

Sumber:

https://www.adaa.org/about-adaa/press-room/facts-statistics

Dawn of the Planet of the Apes: Persembahan Ciamik tentang Dunia Kera dan Umat Manusia

(Artikel ini diterbitkan di Majalah Hai! edisi mingguan hari Rabu, 23 Juli 2014 dan dijadikan highlight di laman virtual Kompasiana hari Rabu, 23 Juli 2014)

 

Film ber-genre science-fiction (sci-fi) belakangan makin menarik di mata para pencinta film. Beberapa di antaranya yang cukup menjadi sorotan adalah The Hunger Games: Catching Fire (Jennifer Lawrence), Ender’s Game (Harrison Ford), dan The Last Days on Mars (Liev Schreiber), ketiganya dirilis tahun 2013. Hal-hal menarik dan “tak disangka-sangka” yang ditawarkan filmnya seolah menjadi magnet tersendiri untuk merebut perhatian para movie-goers. Portal yang dirupakan seperti jam sebagai penentu datangnya bencana dalam Catching Fire, simulasi pertarungan sengit imajiner yang ternyata merefleksikan keadaan planet bumi sebenarnya dalam Ender’s Game, dan perjuangan para astronot untuk mengumpulkan bebatuan langka di planet Mars dalam The Last Days on Mars, seakan menjadi perhatian tersendiri karena semua hal itu tidak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, sesuatu yang dianggap tabu atau aneh dalam dunia palsu (hiperrealita) yang digambarkan lewat film, menjadi sesuatu yang lumrah justru.

Tahun ini, film-film sci-fi kembali hadir mengobati rasa rindu para pencinta film khayalan, satu di antaranya adalah Dawn of the Planet of the Apes, yang menggambarkan atmosfer di masa depan, di mana teknologi sudah jadi teman hidup, dengan arahan sutradara-aktor-screenplay writer Matt Reeves. Kali ini, bukan lagi portal penanda bencana, atau simulasi tarung di lapisan horizon, bukan juga kondisi planet Mars yang melepuh, melainkan kera. Hewan yang kerap dijadikan pembanding manusia dilihat dari segi fisiknya ini, ditambah karena kemampuan kecerdasannya yang di atas rata-rata dibandingkan hewan-hewan lain, menjadi nilai jual film berdurasi 130 menit ini. Tanpa terduga, para kera buatan para cempiang di masa depan ini akan membuat para penonton tercengang dan bahkan, kalau boleh dibilang, ngeri dibuatnya. Tapi yang jelas, para kera dalam film ini akan membuat tanda pada jamannya sendiri, membuat terobosan dalam dunia ke-sci-fi-an.

Poster Film

Sinopsis

Dawn of the Planet of the Apes bercerita tentang perang yang terjadi antara kaum para kera canggih yang terlahir dari hasil uji coba laboratorium para peneliti di Amerika dan para manusia yang masih tersisa di bumi. Di film sekuelnya ini, digambarkan bahwa para kera tersebut, masih di bawah pimpinan Caesar (disuarakan oleh Andy Serkis: The Adventure of Tin Tin, The Hobbit: An Unexpected Journey) yang berwiba, sudah memiliki rumah sendiri jauh dari tempat para manusia tinggal. Sementara itu, para manusia, yang sedang krisis daya (listrik padam dan kekurangan air dan bahan pangan), tentu membutuhkan daya yang cukup besar untuk menopang hidup mereka. Sayang sungguh sayang, satu-satunya kekuatan yang ada ternyata terdapat di tengah-tengah rumah para kera itu, yaitu sebuah bendungan raksasa berkekuatan besar yang bahkan mampu menyelamatkan jiwa manusia. Tetapi, para manusia itu terlalu ngeri untuk datang ke sana mengingat mereka sendiri tak tahu apa yang akan terjadi. Mereka takut ketika sedang “melihat-lihat” di sekitar hutan, tidak hanya para kera yang mengoyak tubuh mereka, tapi juga rusa liar, beruang yang kelaparan, atau hewan-hewan ganas lainnya.

Tapi tidak sekumpulan orang ini. Malcolm (Jason Clarke: Zero Dark Thirty) bersama rombongannya menerobos hutan tersebut dengan harapan mereka bisa tiba di bendungan itu tanpa kemungkinan terbunuh. Namun, harapan pasti pupus jua tanpa digerayangi rintangan, bukan? Benar saja, di tengah-tengah perjalanan, salah satu anggota rombongannya, Carver, berpapasan dengan dua ekor kera yang habis berburu. Sontak, dan tak tahu harus berbuat apa, Carver mengangkat senjata dan menarik pelatuknya hingga raungannya terdengar ke seluruh penjuru hutan. Mengetahui hal ini, Caesar langsung “memanggil” keluarga besarnya dan mendatangi sumber bunyi tembakan. Dalam waktu beberapa menit saja, Malcolm dan rombongannya sudah dikepung dalam sebuah lingkaran yang kecil di antara keluarga besar para kera yang bergelantungan di mana-mana. Caesar murka, mengetahui bahwa salah satu anggota keluarganya hampir terbunuh (lagi) oleh tangan manusia, dan memperingati para manusia itu untuk pergi dan tak boleh kembali.

Tapi apa mau dikata. Namanya manusia, pasti berontak juga. Malcolm, setelah berpikir matang-matang, dan atas seijin keluarganya dan walikotanya, Dreyfus (Gary Oldman: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Tinker Tailor Soldier Spy), akhirnya kembali ke hutan untuk meminta ijin pada Caesar agar beberapa dari rombongannya bisa bekerja di bendungan itu, yang disetujui oleh Caesar. Tentu saja, ada kawan muncul lawan. Sikap setuju Caesar untuk membiarkan para manusia bekerja di rumahnya, memicu percik-percik perlawanan dalam diri beberapa anggota-anggota kera yang lain, satu yang paling ambisius adalah Koba (disuarakan oleh Tobby Kebbell: War Horse, The Sorcerer’s Apprentice). Ambisius Koba perlahan-lahan makin memuncak ketika melihat para kera yang mulai mengenal para manusia dengan berbagai cara; ini membuatnya makin geram, yang mengakibatkan perpecahan tidak hanya bagi keluarga para manusia, tetapi juga rumah mereka sendiri.

– Malcolm dijaga dua kera ke bendungan

Naratologi

Film ini bergerak maju. Transisi antara satu naratif ke naratif yang lain begitu jelas dan dibungkus dengan penggambaran yang ciamik. Tidak hanya itu, pergantian scene dari, misalnya, keadaan di hutan hingga keadaan di pusat kota dibundel dengan sangat rapi, membuat para penonton dengan luwesnya mengikuti jalan cerita tanpa merasa diseret. Tidak seperti film-film atau serial televisi arahan Matt Reeves sebelumnya, seperti Conviction (2006) atau Let Me In (2010), yang menampilkan alur cerita yang kerap memainkan teknik foreshadowing (bolak-balik, maju-mundur), film yang memakan bujet cukup besar untuk pembuatan CGI ini terasa mengalir dalam penceritaannya. Tak hanya itu, sekuel film Rise of the Planet of the Apes, yang dirilis tahun 2011 ini, menyuguhkan cerita yang segar dengan penjelasan yang cukup menyeluruh. Singkat kata, tanpa harus menonton film pertamanya, penonton bisa tetap menikmati film yang meraih skor 8,3 dari laman film virtual IMDB ini.

 

Sinematografi

Berbicara masalah sinematografi, Michael Seresin juaranya. Di film ini, ia kembali bermain-main dengan teknik penggambaran, dan dengan demikian mampu menyiduk emosi penonton dengan sedemikian rupa, dalam scene yang padahal cukup rumit dalam proses pengambilannya. Lihat saja karya-karyanya terdahulu, seperti Step Up (2006), di mana dalam kondisi para pemainnya harus bergerak luwes “ke sana ke mari” mengiringi musik dalam tempo cepat, Seresin berhasil menangkap momen itu dengan teknik pengambilan yang menyeluruh. Atau seperti Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004). Adegan permainan Quidditch, di mana pemainnya harus berada di atas sapu terbang, kamera tentu harus menangkap semua hal yang penting dalam game itu, seperti rival game-nya (yang tampak berada jauh di seberang sana), atau para penonton (yang jaraknya dengan pemain di sapu terbang tidak dekat). Kemampuan sinematografi yang handal tentu sangat dibutuhkan dalam pengambilan semua itu.

Michael Seresin melakukannya lagi dalam film ini. Teknik pengambilan adegan para kera di hutan dengan wide-shot betul-betul mujarab. Dari satu adegan itu saja, para penonton disuguhkan tidak hanya panorama hutan yang begitu teduh, tetapi juga pemandangan keluarga besar para kera yang bergelantungan di atas pohon yang menjulang. Yang lebih menariknya, kepiawaian Seresin dalam memilah-milah adegan sesuai dengan emosi penonton juga tidak boleh diilewatkan. Misalnya, adegan ketika para kera yang menyerang pusat kota saat suasana mulai memuncak, tentu kamera harus menangkap secara seimbang keadaan kota yang kacau balau (diam) dengan gerakan para kera yang agresif (bergerak). Di sini, Seresin memilih menggunakan teknik panning sehingga atmosfer film terkesan terjaga dan dinamis. Atau adegan lain, ketika Koba dan Ash bertarung di bendungan karena geram satu sama lain, Seresin menggunakan teknik shaky camera seperti halnya ia pada saat yang bersamaan juga mengaduk-ngaduk emosi penonton saat itu.

– Koba bertarung dengan Ash
– Adegan penyerbuan ke pusat kota

Musik

“Film tanpa musik bagaikan sayur tanpa garam”, begitu kata mutiaranya.

Gubahan tangan Michael Giaccino, yang juga biasa didampuk untuk mengisi soundtrack film-film science fiction, seperti Super 8 (2011), dan Startrek: Into Darkness (2013), memberikan nuansa baru dalam film ini. Permainan strings, genderang, dan tuba yang terasa dominan dalam film ini, membuat cerita yang juga ber-genre drama dan aksi ini makin terasa gurih. Adegan para kera “menyabot” para manusia, misalnya, yang diiringi dengan sederet bunyi genderang membuat adegan terlihat lebih apik. Adegan lain, ketika Caesar dirawat di rumah Will Rodman (James Franco) yang diiringi dengan suara selo menciptakan suasana sedih dalam diri penonton. Kemudian, adegan Malcolm bersembunyi dari para kera pembunuh untuk mengambil obat-obatan untuk Caesar dan bertemu anak laki-laki Caesar terasa begitu mengaduk-ngaduk emosi para penonton dengan suara violin yang dimainkan dalam nada yang tinggi dan dinamisasi yang kompleks.

 

Pemain

Wajah-wajah baru dalam film ini bisa dibilang pendatang baru, kecuali Gary Oldman dan Jason Clarke. Kehadiran Gary Oldman, jelas, tidak hanya menambah citra film sains fiksi di mata para sineas dunia hiburan. Perannya sebagai Dreyfus, mantan polisi yang sekarang menjadi seorang walikota, memberi bekas yang takkan mau hilang dalam dunia perfilman. Oldman, pantaslah, memang dikenal sebagai aktor yang terkenal memerankan tokoh-tokoh kebapakan atau seseorang yang bertanggung jawab atas sesuatu (in charge), sehingga tokoh Dreyfus, bisa dikatakan, dapat dikejawantahkan dengan baik.

Lain halnya dengan Jason Clarke, meski namanya baru terdengar belakangan, terlebih karena peran anta-protagonisnya dalam Zero Dark Thirty (2013), karakternya sebagai Malcolm mampu ia transfer ke penceritaan dengan begitu stabil. Karakternya kuat, tidak mudah terpengaruh oleh pencitraan karakter lain, yang membuat Malcolm dicirikan sebagai sosok pemimpin dalam rombongannya. Perannya sebagai seorang ayah juga memperkuat fakta itu. Inilah yang mungkin akan membawa nama Clarke menjadi hot stuff dalam dunia perfilman, khususnya jenis sains fiksi atau drama.

Pemain lain seperti Kerri Russell (Ellie), Kodi Smitt-McPhee (Alexander), dan Kirk Avecedo (Carver), meskipun seakan seperti pemanis, namun berpengaruh penting dalam penjalanan cerita secara keseluruhan. Seperti halnya Andy Serkis, yang tubuhnya dimanipulasi oleh teknik komputer tingkat tinggi CGI dalam bentuk Caesar, dan Toby Kebble dalam bentuk Koba, juga memiliki pengaruh yang vital (mengingat mereka protagonisnya). Terlepas dari itu, suara Serkis dan Kebble, dengan bantuan teknologi sulihsuara, yang memungkinkan suara mereka menjadi lebih berat dan “menyeramkan,” terdengar sangat apik dan tidak mengganggu penonton.

– Aktor Andy Serkis memerankan Caesar dengan teknik CGI

 

Kesimpulan

Sebetulnya masih banyak yang bisa dikupas dari film ini, namun setidaknya aspek-aspek di ataslah yang perlu digarisbawahi terlebih dahulu. Dari alur cerita, teknik pengambilan gambar, musik pengiring, sampai para pemain, sangat disayangkan jika semua itu terlewat begitu saja. Tanpa basa-basi, film ini, sekali lagi, kalau diibaratkan hadiah, merupakan sebuah tontonan yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik. Yang jika siapapun membuka kertas kado pertama, pasti akan terpesona dengan kertas kado di lapisan kedua, dan seterusnya hingga filmnya usai. Dengan demikian, Dawn of the Planet of the Apes bukanlah suguhan “kacangan” yang bercerita tentang sekumpulan monyet liar yang berambisi menguasai dunia, melainkan lebih dari itu. Film ini mengingatkan pada kita, sebagai umat manusia, untuk tidak saling menyerang satu sama lain, tidak untuk kepuasan pribadi semata.

– Malcolm dan Caesar bersikutan

Selamat menonton! 🙂

Salam,

Himawan Pradipta.