Trial: An Ode for the One-Eyed Face

stanczyk_matejko
Lukisan “Stanczyk saat pesta dansa di pengadilan Ratu Bona yang baru kehilangan Smolensk” karya Jan Matejko yang diselesaikan pada tahun 1862.

Fourteen winged faces shoved into sun-
Less tombs, mouth wide open under the EXIT.
Each was called out with an eye to submit
And another to keep. One sojourned
Where the others had been. “What’ve you seen?”
Came a voice so profound. He fought the fear
To tilt but saw no face aground: “I’ve seen life.”
The voice paced forth and the thunders thrive.
It cast his eye and told him to refrain
Some remnants of memories he lay pride within.
Then, his dyed-white guise began to deign:
“How’d I squeeze back the sight that’s purloined?”
Thus a smile was thrown but not for good,
Clung to the the souls, longing to be spooked.
Grind! Grind! He reached the ground’s apex
Dazzled by the vast expanse before him
As if he just revealed a brave new world.
“I’m here,” he purred in the need of whim
To see life better at once and the next.

AUGUST, 2017.

Note: This poem was inspired by the day of my undergraduate thesis trial.

Ode untuk Hujan

P1230608

Dalam bahasa Arab, hujan juga bisa berarti “kembali.” Dari air, naik, terendap, pindah tempat, hingga akhirnya turun lagi. Lucu bukan? Melihat bagaimana semuanya berawal dari ketiadaan, menjadi sesuatu yang kecil dan mungkin tak berarti, naik pelan-pelan, hingga ia akhirnya singgah di atas, berdekatan dengan awan-awan, lalu ditiup, sampai akhirnya jatuh lagi, berenang bersama sampah.

Sesadar-sadarnya manusia, aku pasti takkan pernah membuka mata penuh-penuh. Seperti kehendak Allah yang lain, hujan datang untuk mengingatkan kembali. Bahwa apa yang dulu dianggap sebelah mata, suatu saat akan terbang tinggi-tinggi. Apa yang dicicil hari demi hari, suatu saat akan terbayar hingga mati. Dan siapa yang sedang berjuang, suatu saat pasti akan dapat puji-puji.

Kadang aku suka abai. Mataku terbuka tapi sebenarnya buta benar-benar. Hujan tak datang begitu saja. Tak tiba dalam sekejap mata. Ia dari panas dulu, beralih jadi hangat, berangin, hingga membeku dalam es. Siapa yang tau air dari awan ini adalah air sungai yang sudah bercampur dengan sepersekian kencingmu? Atau dari air got yang setengahnya bersekam dengan mani orang ini dan itu?

Tapi kita tak peduli. Yang kita tau, air ini menyucikan. Membersihkan pikiran-pikiran kotor yang kadang berujung pada akhir hidupnya sendiri. Menggerus rasa rindu mendalam kepada orang yang terpisah jarak dari rumahnya sekarang? Menjawab semua bimbang yang kadang bikin bertanya sendiri: apa yang dicinta juga pikirkan yang di sini?

Maka, jangan takut. Dia bukan musuh. Juga bukan temanmu. Alam bisa jadi begitu hebat, berperan jadi raksasa yang menghuni tata surya, tapi ia tak jahat. Maka jangan ragu untuk memandangnya, dan bertingkah seperti kau makhluk satu-satunya. Ini hujanmu, tapi hujanku juga. Dia gurumu, dan guruku juga.

Maka jangan kau kutuk dia. Karena ia akan kembali mengutukmu, dalam hati.

Anak-anak Indonesia “Mati Mimpi”

Imagination is an important part of everybody’s life. With today’s kids, imagination is lost because kids play so many video games, and it’s bad for that. I see kids nowadays play a lot, and I was always outside playing Army, rolling around on the ground, playing with squirt guns and playing kickball. I think kids need to do that more often. – Josh Hutcherson (Actor), ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak pada jaman sekarang.

Perhatikan betapa bahagia wajah anak-anak ini. Mereka tertawa, ya mereka tertawa. Karena satu-satunya yang ada di pikiran mereka ya cuma ketawa dan seneng-seneng. Bukan buat bersedih. Kalopun sedih juga itu pas diomelin emak atau bapaknya, abis itu ketawa-ketiwi lagi kaya orang kesurupan. That’s what kids are. What they aim is to laugh all day, sing all the time, make fun of one another and other things. Tapi tenang, jangan nebak-nebak ya kalo foto diatas salah satunya adalah gue waktu kecil. Bukan.

Waktu kecil dulu, gue gak pernah berharap banyak dari video games. Di rumah, bokap beliin PlayStation (PS) karena ulang tahun abang gue yang paling tua. Gak jauh dari rumah, banyak disana-sini rental PS yang gampang banget kejangkau. Gue gak pernah tertarik untuk main game, even sampe sekarang. I don’t see anything interesting on that little black box plugged in with some sticks to play.

Dulu waktu jamannya masih komputer pentium 98/99, gue masih tertarik banget main Solitaire, sejenis game kartu kocok yang kalo lo sekali main pasti langsung ngerti. Sesambil mantengin layar komputer, gue sesekali ngelirik ke abang yang lagi asyiknya main dan gak lepas pandangan dari layar TV. Setiap hari pemandangan itu gak pernah berubah. Sampe akhirnya, ada salah satu temen abang yang minjem stick PS, karena keluarga gue adalah satu-satunya orang yang baru punya game macam itu. Kalo yang lain mungkin masih jamannya Tetris Pack atau Gameboy atau bahkan yang lain.

Abang gue langsung bela-belain pergi ke rental PS deket rumah. Sejurus gue samperin dan tanya,
“Kok main di rental? Kan kita punya PS?”
“Sticknya lagi dipinjem sama temen gua.” katanya singkat. Sambil lanjut menghadap ke layar TV.
“Yaudah kenapa lu ga nungguin di selesai main aja? Emang lama?”
“Udah tanggung. Save-an game gua bentar lagi juga udah mau tamat kok!”
Gue menghambur keluar dan pergi ke rumah.

Alhasil, bokap marah dan entah apalagi kejadiannya.

Sekarang PS 2 yang udah dari kapan tau itu entah kemana perginya. Entah disimpen atau kemana. Malah, adek gue justru ikut-ikutan kecanduan main PS. Dari Winning Eleven, PES, Grand Theft Auto, sampe Smack Down jadi bahan mainannya mereka berdua setiap pulang sekolah. Duh, miris ngeliatnya. Trus kapan ngerjain tugas sekolah dan ngerjain lain-lain? Dan malah sampe SEKARANG, laptop bahkan jadi korban. Entah ya, somehow teknologi kenapa jadi dimultifungsikan sekaligus disalahgunakan kaya gini ya? Satu sisi buat cari informasi karena fasilitas internet, dan gue ga ngerti gimana prosedurnya. Tapi belakangan ini gue liat mereka main PS udah di laptop! Semua stick dan perangkat lainnya terhubung ke laptop! Kacau. Yang ada, setiap mereka buka laptop, gue harus curi-curi waktu buat ngerjain tugas atau sekedar ngedit-ngedit dokumen buat karya tulis.

Walhasil, laptop gue jadi lemot dan cenderung lama setiap kali buka file atau sekadar nyetel lagu. See? Pembunuhan karakter dari game ternyata juga bisa merusak masa depan. Lewat laptop yang disalahgunakan inilah, semuanya jadi hancur berantakan.

Yang mau gue utarakan adalah kasus-kasus sama yang ternyata gak cuma kejadian sama abang dan adek gue.
Kaya yang udah gue bilang tadi. Imajinasi itu penting buat seorang anak kecil. When I was a kid, all I do is laugh, run, smile, catch butterflies, play around, and be anything I want to be. Imajinasi itu, ketika kita masih punya mimpi buat jadi rock star, superman, spiderman, atau bahkan raja neptunus adalah satu hal yang dirindukan. Imajinasi yang bikin kita tau bahwa anak-anak kecil bisa bermimpi besar. Gak ada batasnya.

Sekarang, di setiap sudut warnet/ruko game online di berbagai tempat didominasi oleh anak-anak. Gak sedikit yang cari-cari alasan untuk bolos sekolah cuma buat nongkrong dan main game di warnet selama berjam-jam. Kalo gak dikasih uang sama orangtua, bisa jadi nyolong. Tuhkan, udah ngelantur kemana-mana deh. Anak-anak Indonesia sekarang ngomongnya udah yang, sorry to say, brengsek dan segala macam hewan di kebun binatanglah. What is with world? Kemana mimpi anak-anak Indonesia yang udah dicandu lingkungan peradaban modern? Yang dipengaruhi pendar-pendar negatif dari media dan televisi?

It’s no use if I’m talking this repeatedly with the same exact issues, that would be trashy. Peran orangtua udah dibumihanguskan oleh era baru pengejawantahan karakteristik seorang anak. Sepenuhnya menyalahkan pemerintah juga bukan langkah yang tepat. Lingkungan yang rusak dan ketebalan iman seorang ruh yang ditiupkan dalam sebuah tubuh kecil yang memiliki mimpi telah menghancurkan segalanya.

Siapa yang rindu anak-anak yang dengan polosnya mengatakan, “Aku pengen jadi princess!” atau “Papa, beliin aku baju Spiderman bial aku bisa telbang” atau “Mamah, gendong aku deh biar aku terbang kaya Superman.”

Dimana anak-anak Indonesia?
Mimpinya terbakar abu era. Hangus dalam tangis sia. Membakar uang hasil keringat papa mama. Membunuh karakter bangsa dan agama. Yang harusnya putih dan tak pernah renta. Namun akhirnya hilang ditelan derita.

Bermimpilah setinggi langit. Raih bintang tertinggi di singgasana benakmu yang tak terhingga. Rebahkan segala pendapa harapan pemupus sia dari dampak negatif media tak berguna. Mari bermimpi! Bermimpilah besar.

Berlelah-lelah dan berjuanglah. Sesungguhnya manisnya hidup terasa setelah lelahnya berjuang.

Aku rindu mendengar mimpi anak-anak Indonesia.

Sajak Kecil Tentang Cinta

A lovely Indonesian poem called “Sajak Kecil Tentang Cinta” by Sapardi Djoko Ramono. The poem itself has been brought up into a song with the same title and put in the soundtrack of “Minggu Pagi di Victoria Park”.

The poem tells a story about something we love and it has to be fought for. For what happens anytime could be a big time barrier on us in pursuing something we deeply fall in love with. Each stanza speaks somehow and I felt so full-heartedly exhilarated by the words.

Mencintai angin harus menjadi siul
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku