Perempuan yang Meniti Jalan

img_20161113_134251

Kita duduk berhadapan. Tapi kau jadi yang pura-pura.
Kau tak bisa diam. Karena mulutmu sibuk bicarakan dirinya.
Sesekali kauusap kepalamu. Panas mengingat-ingat kenangan.
Dua kali kau pejamkan mata. Jengah membahas yang seharusnya ditelan saja.

Dari seberang meja, kuhamparkan seluruh raga.
Dengarkanmu yang tak henti-hentinya bersuka cita.
Kau menangis. Kuberikan bahu.
Tapi air mataku ikut turun. Karena kau mulai bersandar di bahunya.

Saat hujan turun. Ku tak pernah ambil pusing.
Atau matahari menerik. Aku pun lebih pilih diam.
Bulan menggelinyang. Kau bilang jidatmu pening.
Dan tenggelamkan aku hingga runyam.

Birahi memang tak pernah bisa bohong.
Ada gejolak nafsu di balik tameng wajahmu.
Tersimpan keping-keping jiwa yang rindu dalam bolong.
Tapi kau tak bisa utarakan itu. Karena kaupikir aku yang seharusnya maju.

Hai perempuan yang meniti jalan.
Inikah takdirmu? Untuk terus bergelimang dalam palsu.
Hatimu yang remuk seakan lepas menjadi bulan-bulanan.
Dalam titian putih beralaskan debu.

Suatu saat nanti, mungkin aku akan berdoa:
“Ya Tuhan, jadikan aku perempuan sehari saja,”
Agar kubisa masuk dalam kepalamu dan mengorek seisinya
Dan mencari inspirasimu, sebelum kembali menjadi pria seutuhnnya.

Advertisements

Ode untuk Hujan

P1230608

Dalam bahasa Arab, hujan juga bisa berarti “kembali.” Dari air, naik, terendap, pindah tempat, hingga akhirnya turun lagi. Lucu bukan? Melihat bagaimana semuanya berawal dari ketiadaan, menjadi sesuatu yang kecil dan mungkin tak berarti, naik pelan-pelan, hingga ia akhirnya singgah di atas, berdekatan dengan awan-awan, lalu ditiup, sampai akhirnya jatuh lagi, berenang bersama sampah.

Sesadar-sadarnya manusia, aku pasti takkan pernah membuka mata penuh-penuh. Seperti kehendak Allah yang lain, hujan datang untuk mengingatkan kembali. Bahwa apa yang dulu dianggap sebelah mata, suatu saat akan terbang tinggi-tinggi. Apa yang dicicil hari demi hari, suatu saat akan terbayar hingga mati. Dan siapa yang sedang berjuang, suatu saat pasti akan dapat puji-puji.

Kadang aku suka abai. Mataku terbuka tapi sebenarnya buta benar-benar. Hujan tak datang begitu saja. Tak tiba dalam sekejap mata. Ia dari panas dulu, beralih jadi hangat, berangin, hingga membeku dalam es. Siapa yang tau air dari awan ini adalah air sungai yang sudah bercampur dengan sepersekian kencingmu? Atau dari air got yang setengahnya bersekam dengan mani orang ini dan itu?

Tapi kita tak peduli. Yang kita tau, air ini menyucikan. Membersihkan pikiran-pikiran kotor yang kadang berujung pada akhir hidupnya sendiri. Menggerus rasa rindu mendalam kepada orang yang terpisah jarak dari rumahnya sekarang? Menjawab semua bimbang yang kadang bikin bertanya sendiri: apa yang dicinta juga pikirkan yang di sini?

Maka, jangan takut. Dia bukan musuh. Juga bukan temanmu. Alam bisa jadi begitu hebat, berperan jadi raksasa yang menghuni tata surya, tapi ia tak jahat. Maka jangan ragu untuk memandangnya, dan bertingkah seperti kau makhluk satu-satunya. Ini hujanmu, tapi hujanku juga. Dia gurumu, dan guruku juga.

Maka jangan kau kutuk dia. Karena ia akan kembali mengutukmu, dalam hati.

Penantianku

DSC_0350-min
“Kontemplat”

Hey, ingatkah kamu Tuhan ciptakan kita dua mata, tapi hanya satu mulut? Apa supaya kita tak banyak bicara? Kurasa tak hanya itu.

Kuping, lengan, kaki, dan mata saja tercipta berdua, sempurna bentuknya. Lain dengan hidung, pusar, dan dagu yang hanya satu-satu. Tapi sayang, sebenarnya mereka sengsara. Kupernah mendengar masing-masing mereka mengeluh, “mengapa kita tak pernah bertemu?” karena terpisah batang hidung.

Lengan. Tak peduli seberapa bagus bentuknya. Sebesar apa trisep dan bisepnya. Orang-orang mengaguminya. Tak sedikit manusia yang melatihnya, agar kuat dan jadi sorotan mata. Tapi tetap saja. Mereka tak bahagia, karena hidup sendiri-sendiri, terpisah oleh tubuh. Begitu juga dengan kaki, jenjangnya tak jadi apa-apa kalau berjalan saja tak bersama-sama. Betapa sulitnya membuat mereka jadi satu, kalau kau tidak menyilangkannya saat kau beristirahat.

Tapi aku juga tak bilang, bahwa hidung, pusar, dan dagu hidup sejahtera. Bahkan dua lubang hidung terpisah sebongkah kulit yang kau sering rasakan untuk menghirup udara segar. Lubang di dalamnya kotor dan hidup sekawan bakteri, yang kalau sudah menggumpal akan kau cungkil sampai air matamu keluar. Pusar juga begitu. Ia tenggelam di tengah-tengah kerumunan pori-pori perut, yang isinya katanya bisa “menyentuh bulan.” Tak bisa bergerak. Ia malah jadi sarang daki yang kadang untuk membersihkannya saja terasa ngiang di daging bagian bawah.

Lalu, apa gunanya tangan yang satu kalau yang lain tak ada? Tak akan ada yang namanya “menggenggam.” Memang paslah lenganmu ada dua, kalau tidak, bagaimana aku bisa merengkuhmu? Sama halnya dengan mata. Saat kau menangis, dan masing-masing mengeluarkan air asin, mata yang satu selamanya takkan pernah tau bahwa yang lain sedang menangis. Maka itulah kau hadir.

Kita mungkin takkan jalan bersama. Tapi setidaknya aku tau, kau ada di sana.

Maka aku akan di sini…

…dan selamanya akan begitu.

DSC_0371
“Kontemplat”

Perbincangan dengan Matahari

73c8145d97f3540d69fa18fcaa6151c1-d5wbk67
“Seize the Sun” oleh dynax700si (sumber: deviantart)

Malam ini aku berbincang dengan matahari. Dikawani klan bebintang, ia segan menampakkan diri, jadi kubicara dengan halonya. Ini sudah larut malam. “Matamu juga punya hak,” bisiknya. Tapi, hanya orang goblok yang mau menukar perbincangan ini dengan bergelung di bawah selimutnya. Singkat kata, kubilang padanya bahwa aku takut. Besok adalah hari ulang tahunku. Yang ke…coba kupikir dulu. Ah, tak pentinglah.

“Tapi setiap hari kan ulang tahunmu,” jawab matahari. Ia pun mulai sok tau. Aku jadi gerah. Awalnya memang aku tak paham apa maksudnya, maka kutekuk saja alis dalam-dalam; tiba-tiba, matahari yang balik bercerita.

Bahwa setiap sebelum anak ayam berkokok, embun pertama mendarat di kaki-kaki pohon, yang airnya diserap lagi jadi camilan para tanaman, ia harus minta ijin pada tuhannya: apakah masih boleh terbit? Kalau masih, maka Tuhan akan menggesernya ke belah timur bumi, bertopang pada gravitasi galaksi, berusaha penuh agar kendali bimasakti tetap terjaga. Kalau tidak, mungkin aku hanya bisa jadi hantu.

Kendati bumi selalu diputar, seperti roda sepeda anak kecil yang baru belajar, matahari juga bisa berhenti memendar. “Jangan menangis,” kataku mendapati basah ekor matanya. “Sinarmu takkan mati, hanya berhenti sebentar saja,” seperti liburan sekolah.

“Aku bukan menangisi diriku. Tapi dirimu!” cahaya mulai terlontar. Garis merah pucat berjalar pelan ke ufuk langit barat daya. Sungguh digdaya.

“Kau lupa,” lanjutnya. “Ini sudah hari ke berapa? Kau lagi-lagi terjaga saat pagi tiba, abai pada kedua matamu yang juga meminta ijin pada Tuhannya tiap kali malam tandas! Juga tanganmu, tubuhmu, dan mulutmu.”

Tiba-tiba aku ingin menangis. Matahari tetap pada tempatnya sejak 21 tahun lalu, saat pertama kali kami bertukar sapa.