Trial: An Ode for the One-Eyed Face

stanczyk_matejko
Lukisan “Stanczyk saat pesta dansa di pengadilan Ratu Bona yang baru kehilangan Smolensk” karya Jan Matejko yang diselesaikan pada tahun 1862.

Fourteen winged faces shoved into sun-
Less tombs, mouth wide open under the EXIT.
Each was called out with an eye to submit
And another to keep. One sojourned
Where the others had been. “What’ve you seen?”
Came a voice so profound. He fought the fear
To tilt but saw no face aground: “I’ve seen life.”
The voice paced forth and the thunders thrive.
It cast his eye and told him to refrain
Some remnants of memories he lay pride within.
Then, his dyed-white guise began to deign:
“How’d I squeeze back the sight that’s purloined?”
Thus a smile was thrown but not for good,
Clung to the the souls, longing to be spooked.
Grind! Grind! He reached the ground’s apex
Dazzled by the vast expanse before him
As if he just revealed a brave new world.
“I’m here,” he purred in the need of whim
To see life better at once and the next.

AUGUST, 2017.

Note: This poem was inspired by the day of my undergraduate thesis trial.

Advertisements

Perang dan Persimpangan

image_6461
“War” (Pindex)

Di kelas puisi minggu ini, kami membahas tiga sajak Archibald Macleish, Thomas Hardy, dan Carl Sandburg. Ketiganya membahas perang dan kerumitannya, namun masing-masing dengan sikap yang berbeda. Ada yang sinis, menolak mengerti, menanti secerca harapan, dan bahkan tak peduli sama sekali. Di atas air, mungkin sajak-sajak semacam ini terdengar membosankan (setidaknya begitu yang kurasakan saat membacanya pertama kali), padahal, tenggelam di bawahnya, terkubur banyak hal menarik yang bisa terus digali dan ditafsir, yang nantinya meninggalkan torehan menohok dalam kenangan.

Membaca secara dalam sajak-sajak peperangan membawa saya dalam sebuah lorong panjang yang dibangun oleh milyaran imaji. Satu di antara imaji itu menampilkan proyeksi manusia-manusia yang sedang sembunyi di balik batu pertahanan. Gambar lain memperlihatkan anak-anak kecil dan para perempuan yang sedang merengek menunggu ayah dan suaminya pulang ke rumah dengan keadaan utuh. Dalam gugus imaji lain, butir-butir peluru sedang menari dalam gerakan pelan, menembus rusuk dan limpa para tentara yang tengah berjuang melindungi diri sendiri. Mereka muda, berani, percaya diri, ambil belati, lalu siap ditembak mati.

Pergi ke medan perang bukan keputusan yang sulit atau menyulitkan, namun bukan juga sesuatu yang bisa membuat siapapun mengangguk iya. Para lelaki muda yang sudah siap menggenggam senjata itu tak punya pilihan banyak: terlanjur pergi atau kembali tak diakui. Hodge pergi dalam lamunan: apa yang akan kulihat nanti? Gurun Karoo? Gunung Merapi? Sayap Malaikat Jibril? Sayangnya, ia tak lihat apa-apa. Hanya pucat dan basa.

Mungkin Tolkien ada benarnya juga. Ia bilang “tak semuanya yang berpergian tersesat.” Tapi mungkin juga ia keliru. Miris kubilang bahwa Hodge mungkin tak masuk dalam “tak semua” di kalimatnya. Seperti Chairil, ia “terbuang” di dalam “kopje-crest“, dibekap “veldt” yang mencekiknya dari dalam, sampai ia mati di bawah kuburnya sendiri.

Hodge sudah mati, tapi semangatnya tidak pernah. Kerabatnya di Wessex mungkin masih membicarakannya. Namanya mungkin sengaja atau tidak terucap dalam obrolan-obrolan remeh di meja makan malam dan warung kopi murah. Tentara muda yang mati, tak tau apa-apa, dan hilang disesap bumi, dimakan tetumbuhan, Hodge masih bergelayutan di loteng kamar pembunuhnya, membuat berisik agarnya tak mampu tidur nyenyak.

Namun begitu, yang namanya manusia tetap saja lupa. Nyawa tak lagi dilihat suci, tak lagi sakral. Ada “nilai dan ideologi” lain yang melampauinya, dan permasalahannya tidak itu saja. Kata Macleish, mereka yang mati dalam perang mesti “didengar” dalam liang-liang mereka, bagi kita yang masih hidup. Menjadi pelajaran bahwa bumi adalah teman jauh kita, dan cepat atau lambat, kita akan menjabat tangannya.

Aku jadi ingat satu kutipan dari Song Joong-Ki dalam Descendants of the Sun. Ia bilang: tentara hidup dalam kain kafan. Di manapun ia mati, maka di situlah tempat kuburnya. Kalau prinsip itu dipegang kuat-kuat, maka tentara manapun akan mati dengan terhormat. Dalam berbagai lapis, para tentara muda, manusia-manusia yang sedang bersedih itu, akan “tumbuh menjadi semacam pohon Selatan” dan bersamanya pula terkonstruksi “konstelasi bintang” yang “terlampau berkilau” selamanya.

Ini bukan tentang mereka. Mereka sudah berperang dalam artian yang sebenarnya. Tapi kita? Yang hidup dan bernapas lega, tak dikelilingi ranjau darat tetiba atau “bom udara yang mengerikan”:

Apa kita sedang siap siaga untuk melawan atau diam-diam merajut “silver string nest” di dinding dan mengunci diri?