Telanjang

Yoga by Eli Whitney
“Yoga” oleh Eli Whitney (deviantart)

Hidup dalam “dunia yang dilipat” memang menjadi tantangan yang berarti bagi kaum milenial. Mereka yang hidup di jaman serba cepat menuntut segala sesuatunya harus dibuat dan dibentuk untuk memenuhi hasrat mereka untuk dihibur. Apa yang terpampang di layar harus selalu disajikan menarik dan menggugah indera. Secara tak langsung, generasi Z dibuai dalam sebuah dunia baru yang penghuninya beranak pinak di dalam kepala mereka sendiri, dibuat bingung dalam bauran ilusi dan realita yang sepertinya juga sudah terlanjur malas berkenalan dengan satu sama lain. Tanpa sadar, mereka disetir untuk percaya pada gagasan yang menjunjung hasil daripada proses, yang mengabaikan perjalanan, kerikil yang terdapat di sana, terik panas yang mengganggu, dan hanya memuja-muja tujuan akhir.

Sampai pertengahan bulan April, aku memutuskan berhenti mengakses Instagram dan menghapusnya dari ponselku. Bukan karena tampilannya yang membosankan. Atau karena perasaan bahagia saat melihat kawan lama bekerja di perusahaan ternama. Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman seangkatan di kampus yang ibunya baru saja nyawanya dicabut. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang tak terlalu kenal berfoto bersama pacarnya yang perlente. Bukan juga karena lihat info lowongan pekerjaan atau sambilan menulis yang gajinya lebih dari cukup untuk ajak gebetan makan di Braga Culinary Night. Atau karena siaran langsungnya Pak Ridwan Kamil yang sempat-sempatnya sadar kamera saat rapat di dewan tinggi Bandung.

Bukan itu.

Teman-teman terdekatku sempat bertanya kenapa, tapi aku tak mau nyinyir dan banyak basa basi, jadi kubilang saja “capek”. Entah itu memang benar atau alasanku saja untuk menghindar dari lontaran pertanyaan lanjutan. Tapi yang jelas, untuk menjawab pertanyaan mereka, tak bisa kujawab dengan cepat. Pertanyaan itu bukanlah macam pertanyaan yang butuh tanggapan tiba-tiba dan spontan. Bagi sebagian mereka, mungkin pertanyaan itu seharusnya bisa dijawab dengan segera dan tak perlu banyak jawaban yang elaboratif atau sok filosofis. Mereka hanya mau mendengar jawaban singkat: “gara gara mantan”, “ga mau diuntit gebetan”, atau, yang agak kasihan, “followers gue kurang banyak.”

Tampaknya, bagi mereka, media sosial adalah poros hidupnya. Ia menjadi semacam orbit yang mengarungi galaksi kehidupan yang remeh-temeh, diperlakukan sebagai pasangan hidup ketika pasangan hidup di dunia nyata bahkan belum juga diketemukan. Ruang baca-dengar-lihat di dalam layar mereka menjadi bulan-bulanan yang mereka tertawakan sendiri, tangisi sendiri, dan mungkin jadi bahan meracap untuk diri sendiri. (Emang meracap untuk diri sendiri kali! Hehe). Sadar atau tidak, media sosial menjelma menjadi urat nadi yang bahkan melekat lebih erat dari tuhannya sendiri.

Aku lihat teman-temanku pasang foto di instagram. Cantik dan tampan semuanya. Dari kepsyen yang kadang bentuknya hanya stiker dan emoji, pinjam quote para ternama yang sudah meninggal, bikin-bikin kata mutiara sendiri pakai bahasa Inggris, sampai cerita pengalamannya sepanjang potongan novel yang ceritanya tempe. Itu juga persis yang aku lakukan saat awal-awal punya akun instagram: inginnya cari foto paling bona fide (dari wajah, sudut kamera, pencahayaan, warna, bahkan sampai porsi badan paling pas yang harus masuk bingkai kamera). Bahkan kalau bisa ajak teman yang punya kamera berlensa canggih untuk jalan-jalan bareng, yang tujuan akhirnya adalah dapat foto yang sempurna! Tubuhnya jelas, latarnya buram. Sambil senyum kandid atau pura-pura ngobrol dengan partner di dalam foto.

Ta-da!

Aku resmi jadi penghuni dunia digital.

Perlahan aku sadar: tempat ini bukan untukku. Yang namanya “media sosial” bagiku harusnya mencerminkan nilai-nilai dalam masyarakat yang perlu dijaga untuk menghormati dan mengasihi orang lain, serta menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri sendiri. Pasang foto kegiatan sosial dan cerita panjang lebar soal betapa beruntungnya aku bisa ikut serta dalam kegiatan itu, memang menyenangkan. Tapi ketika melihat foto orang lain dengan kegiatan yang lebih bergengsi, nalar kotorku mulai bermain. Sesekali kuingatkan diri untuk menahan nafsu, tapi apa jadinya kalau semua yang kulihat adalah kesenangan “mewah” yang sebenarnya pura-pura?

Pada titik itu, aku disetir untuk menjadi orang yang iri, mudah kesal, dan bahkan enteng menghakimi. Aku disetir untuk jadi orang yang dibiasakan melakukan perbandingan dan mengabaikan penyamaan. Aku dilatih menjadi hakim yang ulung, yang berani menjatuhkan vonis tanpa pertimbangan matang. Jadi orang yang abai dengan perasaan orang lain dan hanya mau ingin dilihat dan dipuja-puja.

Dengan kata lain, aku menjadi orang lain yang bahkan dulu sempat kubenci sendiri.

Mengerikan, bukan?

Itulah alasan aku tak ingin berikan alasan panjang lebar padamu, kawan. Karena aku ragu kaupun akan mendengarnya. Maka biarkan aku mengoceh sendirian di sini. Aku sayang dengan semua teman-temanku yang “masih” berkutat dengan media sosial dan berharap pula sayang dengan pilihanku sendiri yang “sudah” meninggalkannya. Aku sedih melihat temanku yang berkata nyinyir di statusnya hanya untuk menjatuhkan atau mengejek temannya sendiri secara halus. Sempat dengan kata-kata yang lebih kasar dari nama situs telkomsel yang diretas baru-baru ini, atau bahkan dengan kalimat-kalimat halus yang menenangkan tapi membakar diam-diam. Aku sedih melihat mereka merasa “dibenarkan” dengan jumlah like, share, atau komentar yang mereka dapatkan, terlepas dari apa itu konten statusnya.

Aku sedih melihat orang yang marah di media sosial karena kritiknya terhadap sesuatu menjadi “benar” karena orang-orang lain juga ikutan marah. Aku sedih melihat mereka membenci sesuatu karena hal itu tidak sejalan dengan jalur pikir mereka. Aku makin sedih melihat teman-temanku sendiri merendahkan kawan lamanya yang tak lagi berhubungan dengannya, melabelinya dengan istilah-istilah alien yang menyakitkan, dan kadang menggunakan bahasa asing hanya untuk menyamarkan kemarahan atau mengangkat martabat sendiri.

Aku sedih karena mereka merasa benar, saat orang lain dalam orbit “sosial”nya juga membenarkan.

Sebagai penutup, seorang guru sempat berkata padaku: “menulis itu seperti menelanjangi diri.” Dan menulis di sana aku artikan tidak hanya secara harfiyah tetapi juga kiasan (memasang foto, menampilkan emoji, mengunggah video, dan semacamnya). Dan makanya menulis itu sulit, katanya lagi. Semakin banyak hal-hal yang dituangkan dalam kata-kata, semakin lucutlah pakaian yang sedang dikenakan. Semakin detil penggambaran yang dipampang, semakin tanggal benang-benang yang sudah rapi terajut. Semakin banyak hal-hal yang kita sampaikan, semakin terlihat pula sisi diri kita dan orang macam apa kita sebenarnya.

Kalau memang telanjang di “media sosial” lebih menyenangkan bagi mereka, maka izinkan aku telanjang di dunia nyataku sendiri. Izinkan aku bernapas di luar kepala, beranak-pinak di sana, dan mengajakmu melakukan hal yang sama.[]

Advertisements

Hidup Dalam Layar

“We are only as blind as we want to be.” – Maya Angelou

52d26fecf9d04134e337e58cb4f175ab
“Internet Kills Socialising” oleh Endoo (deviantart.com)

Aku tak tau pasti. Mesti senang atau benci. Realita sudah jadi fiksi. Fiksi jadi sabda ilahi. Yang kuharap bertukar berita, lempar sapa, atau sekadar bersua “lagi sibuk apa?” akhirnya hanya jadi basa-basi. Halaman yang tergeser kini jadi saksi, seberapa waktu yang kuhabiskan memandangi dunia yang berbalik arah, menyerang pelan-pelan, dalam diam. Tak tau saat itu padahal sedang ditipu mati-mati.

Siapa yang mau protes? Kalau layar sebesar jarak pandang mata sudah disulap jadi psikotes. Atau konsultan untuk alat kelamin temannya yang maninya hanya tinggal setetes-setetes. Mungkin juga jadi rumah sakit penampung keluh kesah penderita diabetes. Karena terlalu lama melihat yang “manis-manis.”

Sekali pampang, gadis pujaanku dulu saat duduk di bangku menengah. Tubuhnya sudah semampai, lentik seiring berputarnya usia, persis seperti bulu matanya yang di-entah-diapakan itu. Belum lagi opini sejawat di bawahnya, tak habis-habisnya mau terlihat seperti dia. Kuturun, dan bintik hitam jerawat sahabat sebangkuku sudah pudar. “Karena vitamin” katanya. Sebesar-besar layar, wajahnya hampir bersaing dengan sinar dari telepon genggam. Buset!

Hingga tertangkap angka jumlah temannya, dan kulihat angka jumlah temanku. Sialan, damprat dalam hati. Tapi mau bagaimana? Beginilah hidup. Ada yang menang, ada yang tak mau kalah. Kucari gambar terbaikku. Tak ada noda, bintik, apalagi jerawat. Mulus dari jidat hingga leher atas. Kupencet “kirim” dan dua puluh orang mengangkat jempolnya. Kucari lagi terbaik yang lain. Kali ini tak hanya memberikan jempolnya, mereka juga membuka mulutnya. Aku pun mulai tinggi.

Satu persatu aku mulai ragu. Hidup di situ tak menjamin bahagiaku. Siapa yang tau, jari-jari yang mereka angkat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya untukku, ternyata hanya bualan mereka. Agar kusenang. Sebagai balasan karena sudah mengangkat jempol untuk mereka. Siapa yang tau. Tiap gambar terbaikku ternyata mimpi buruk bagi sejawatku yang lain. Yang hidup dengan serba keterlanjuran, serba ke”biasa-biasa-aja”an.

Akhirnya, kuputar saja engsel layarku. Suara windows menyapa pelan. “Halo!”, sapaan yang paling nyata dalam hidupku.

Kini aku tau pasti. Apakah mesti senang…

…atau benci.

JANUARI 2016

Twitter: Dunia Tipu-tipu

Twitta….twittaa..tuit…tuit.
Tweet. Tiap menit. Tiap detik.
Tak kenal lelah. Tak kenal status.
Asal nama bisa terjual.
Status haram pun dipublikasikan dengan entengnya.
*ketawa renyah*

Apa sih sebenernya yang kalian cari di Twitter? Ga sedikit rasanya orang-orang ini secara cuma-cuma blow up sejadi-jadinya di social network berlogo burung biru ini, dari update status di negeri orang, sampe warna celana dalem pun bisa jadi bahan yang normal untuk di-tweet. Dimanapun, apapun mood yang lagi into, pasti tangan ini dengan santainya mulai ngetik-ngetik di keyboard BB atau iPhone untuk update status. What they feel. Just to let public know what they are doing instantly, even for some, tweeting, let’s say, too much matters to their lives.

Pertama kali gue kenal Twitter itu…….tahun 2009. Selesai SMP. Pas facebook udah banyak ditinggalin anak muda. Karena korban pergaulan temen-temen labil gue, akhirnya gue memutuskan untuk bikin akun twitter kala itu. Mungkin, satu dari tiga orang Indonesia yang baru bikin Twitter itu, bisa dibilang Gue. Rasanya agak bangga pas pertama kali punya twitter. Berhubung belom terlalu ada banyak followers waktu itu, jadi bisa ngomong apapun di timeline. Kurang labil apa cuba.

Masuk SMA, mulailah lagi obsessed2nya sama twitter, ditambah satu temen2 sekelas ikutan bikin akun. Setahun berjalan, ternyata Indonesia sudah masuk Most Citizen Who Access Twitter In The World list dan berada pada urutan ketiga DUNIA! Du-ni-a. Gila! Ga pernah kebayang gue, sehari bisa berapa kali orang-orang ini ngetweet hal yang sengena-ngena nya dan bahkan hal yang aib sekalipun bisa jadi Trending Topic. Hebat ya, teknologi.

*ngecap lidah*
*geleng pala*

Sejurus, gue ngerasa kalo main Twitter itu suatu kebutuhan. Karena mungkin, pas masih awal-awal dari euphoria Twitter yang membludak, rasanya agak garing kalo seharian aja gak nge-tweet. Some part of my body dies rasanya. Sampe akhirnya kejadian BB gue ilang, beberapa bulan lalu, mengingat hape yang ilang itu Blackberry, media PALING pewe buat ngetweet, hilang. Ada semacam rasa kehilangan yang begitu mendalam. Hahahaha. But I moved on.

Twitter rasanya bakal jadi hal yang normal buat bagi para ABG, ditambah buat bisnis dan promosi. Di TV-TV, gak jarang presenter berita yang selain namanya ditampilin, juga username twitternya dibawah namanya–which means Twitter has been spread out nationwide! Good thing tho. Ditambah kesederhanaan dan ke-gak-ribetan yang Twitter punya dibanding media sosial lainnya, orang-orang jauh lebih into sama Twitter karena tampilannya yang gak neko-neko dan kita bisa ngomong straightforward disitu.

Tapi, semakin kesini. I found out Twitter had kinda been boring recently. Gak tau kenapa. Semenjak BB ilang, the urge to tweet seems to fizzle gradually. Fizzlin’ and fizzlin’. Ampe sekarang. Walhasil, kalo mau ngetweet, gue mau ga mau harus off ke echofon dan ngidupin PC. BUT I MOVED ON (Again). Hai kalian anak-anak-yang-kecanduan-Twitter, let me tell you this. Setelah melewati beberapa proses dan pertimbangan, I tell you that this thing destructs you slowly heheheh ga percaya? Bisa dibuktiin sendiri. Kalian main twitter, katakanlah sehari bisa sekitar 20 kali buka handphone. Dan setiap kali buka timeline, pasti bisa sampe 7-15 kali ngetweet. Bahkan hal yang gak penting. Secara ga sadar, ngeliat timeline orang-orang yang isi tweetnya ga ada hubungannya sama sekali sama kita, yang bikin kita ada rasa untuk ngetweet yang macem-macem, itu justru malah bahaya. Kalo dihubungin sama agama, istilah nguntit atau ngestalk ini haram hukumnya. Karena apa yang kita utarakan sama yang kita baca yang jelas-jelas bukan keperluan kita, nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Heheheh. Apapun yg kita tulis. Bahkan apa yang ada dipikiran kita sebelum ngetweet itu bakal dipertanggungjawabkan kelak.

Secara ga sadar, (terutama gue) ngerasa kalo selama 2 tahun belakangan udah ditipu si burung biru ini. Setiap ada kejadian APAPUN itu, whatever mood I’m into, pasti pelariannya ke Twitter, share sjadi2nya sama orang2 yang gak semuanya kita kenal. Cuma untuk kasitau hal-hal semacam itu, yang bisa dibilang kurang penting dan bisa2 menjurusnya ke publikasi aib sendiri. Gue ngerasa kalo hal2 yang berkenaan dengan hidup gue sekarang, sejalan, senafas dengan hadirnya Twitter ini. Apapun kejadian yang baru terjadi (kecuali hal2 diluar pribadi ya) pasti selalu ada di Twitter. Menuhankan Twitter bahasa kasarnya. Hahhaha sounds cliche ya, but i found Twitter is, like, the media of giving feedback of reaction between one to another people we barely know in lifetime.

Di Twitter, semua orang bisa jadi teman.
Di Twitter, semua orang bisa jadi pacar.
Di Twitter, semua orang bisa kenal sama kita.
Di Twitter, hal-hal buruk bisa aja kejadian.
Di Twitter, hal-hal yang kita bikin bohong di timeline, bisa menjurus ke masalah lebih panjang di kehidupan nyata.
Di Twitter, I found nothing.

So, would quitting Twitter be a wise choice? Or is it just a media/place to express your feelings to public through your Status Updates, while the other are, somehow, cornered for being jealous of what you wrote and annoyed to tweets you said to your friend while they don’t know who they truly are.

I’ve been enjoying tweeting these days. But it kinda made me think that, how much times I’ve wasted for this social-media-urge-to-moody-people thingy with my other IMPORTANT activities.

Suck up. I quit.