“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)