Lagu “Indonesia Raya”: Kita di Mana?

indonesia2braya1
sumber: 4.bp.blogspot

Entah apa yang dipikirkan para peserta undangan kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Pada hari itu, lagu yang sekarang kita kenal sebagai lagu “Indonesia Raya”, diperdengarkan secara publik. Jelas, dengan lirik yang padat dan membakar semangat, lagu ini langsung memukau banyak pendengarnya. Para pemuda dan pemudi Indonesia begitu bangga dan terpesona, merasakan getar semangat kebangsaan yang terpercik dalam setiap kata-katanya. Sampai akhirnya saat ini, lagu itu kemudian konsisten menjadi lagu kebangsaan Indonesia, belum ada yang berani menggantikannya.

Selama 21 tahun resmi bernapas bebas di Indonesia, saya selalu merasa bangga saat momen ulang tahun negara Indonesia dirayakan. Tanggal 17 Agustus selalu menjadi saat-saat mendebarkan, setidaknya bagi orang-orang di rumah. Kami akan berkumpul di ruang keluarga dan menonton upacara kenaikan bendera merah putih di stasiun tivi yang menawarkan sudut kamera paling bagus. Kalau bendera sudah merangkak naik, sambil marching band memainkan lagu “Indonesia Raya”, kami menghindari banyak bercakap, membiarkan kekhusyukan itu masuk ke dalam relung hati kami.

Sampai setidaknya dua hari yang lalu.

Singkat cerita, saya diundang mengikuti konferensi internasional ke-10 tentang hubungan Indonesia dan Malaysia di Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti of Malaya. Di hari kedua, yang juga hari terakhir, seselesainya panel sesi pertama, seorang profesor dari Universitas Lancang Kuning mengambil alih posisi pembawa acara dan mengumumkan bahwa saat coffee break nanti, semua orang Indonesia diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Akhirnya, kami semua turun ke lobi. Beberapa orang tampak belum mau mengambil kopi dan camilannya karena menunggu momen menyanyi lagu kebangsaan, sementara saya sudah habis dua piring cupcake dan segelas lemon tea. Ya namanya sudah keburu lapar mau bilang apa? Hehe.

Selang berapa menit setelah itu, kami semua diminta berdiri. Suasana menjadi agak mengharukan karena Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaannya sementara saya sedang tak berada di sana. (Ditambah juga dengan selebrasi kemenangan Tontowi dan Liliana di ajang Olimpiade Rio 2016. Selamat!) Wah, pasti Indonesia sedang berpesta pora. Tapi, di lobi itu, semuanya tak sama lagi.

Tepat saat menyanyikan lagu kebangsaan, di lirik “di sanalah aku berdiri” saya jadi tepekur sendiri. Kalau posisinya saya sedang berada di Malaysia, mengatakan “di sana” sebagai rujukan untuk Indonesia, sepertinya lebih pas. Dibandingkan saat saya di Indonesia, dan mengatakan “di sana.” Jadi, selama ini saya berdiri di mana? Di “sini” atau di “sana”? Hayo. Jadi makin bingung deh.

Yang ingin saya katakan adalah entah apa yang Almarhum Wage Rudolf Supratman pikirkan pada tahun 1928, sehingga kata-kata “sana” muncul dan bukannya “sini.” Sehingga, kesan yang timbul dari kata itu menunjukkan bahwa lagu ini memang harusnya dinyanyikan bukan di Indonesia. Ini juga mungkin yang menjadi alasan Tontowi tampak begitu haru saat menyanyikan lagu itu sambil memberi hormat pada sang saka karena memang itulah momen yang tepat untuk menyanyikannya.

Maka dari itu, kembali lagi: apa ya yang sebenarnya dipikirkan oleh para tamu undangan kongres Pemuda II tahun 1928 itu? Ya, mungkin ada yang juga bertanya-tanya soal liriknya. Atau mungkin ada juga yang ikut-ikutan nyanyi saja. Atau mungkin, sudah kepikiran makanan apa saja yang dihidangkan di meja prasmanan.

Anda yang mana?

(juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/lagu-indonesia-raya-kita-di-mana_57b70d6c90fdfd9d42ea0dba)

Sekolah di Luar Negeri: Kultur Pengaminan dalam Masyarakat Indonesia

Minggu pertama Mei 2016, Line News Digest atau sekarang LINE TODAY merilis artikel tentang betapa “sederhananya” kehidupan artis cantik dan penyanyi Maudy Ayunda yang sedang berkuliah di Oxford University. Pas saya cek Youtube, ternyata ada beberapa vidio lain dari channel Maudy sendiri yang isinya adalah pengalamannya berkuliah di salah satu universitas tertua di dunia itu.

Maudy Ayunda
Vidio-vidio unggahan Maudy Ayunda (dok.pri)

Gak bohong ini sih. Dengan konten-konten yang menarik, sinematografi yang ciamik, musik yang menggelitik (ini maksa yah biar berima aja), ditambah bisa melihat si “Rena” dewasa yang cantik, jumlah penontonnya sudah dalam kisaran ratusan ribu. And it is all great. No wonder about that. But the problem does not lie there. It starts, in fact, somewhere else.

Ketika saya cek Facebook, beberapa anak SMA, entah itu teman-teman adik saya atau mereka yang pernah saya bimbing mengerjakan soal Bahasa Inggris untuk UN atau SNMPTN di SMA-SMA di Jatinangor dan Rancaekek, mereka menulis status yang menyatakan bahwa betapa kerennya si  Maudy ini. “Banyak modal,” kata salah satu dari mereka, beberapa yang lain bilang: “perfeck banget!”

Belum selesai, komentar-komentar yang muncul juga beragam. Ada yang setuju, ada yang merasa biasa saja, ada juga yang keliatannya kalimatnya biasa-biasa tapi sebenarnya mengimplikasikan bahwa dia suka.

Saya pun langsung berpikir: these guys only see what they see on the surface. Dengan entengnya, mereka bisa buat komentar-komentar dengan kalimat yang bahkan belum jadi kalimat. Yang saya takutkan adalah anak-anak yang sedang dalam masa peralihan antara UN dan SBMPTN (atau SMA dan kuliah) akan beranggapan bahwa berkuliah di luar negeri itu adalah pencapaian yang gak bisa terbeli dengan harga berapapun.

Mereka mungkin luput bahwa, katakanlah, Maudy memang datang dari keluarga yang lebih dari berada, terlepas dari intelektualitas Maudy sebagai seorang mahasiswi. The same thing goes with, for example, Gita Gutawa atau Vidi Aldiano, atau artis-artis lainnya yang berkesempatan sekolah ke luar negeri. Namun, saya tidak akan mempermasalahkan fakta bahwa mereka cukup beruntung karena mampu secara finansial. No, we all know that they are rich even before we knew they were.

Yang akan saya  bahas di tulisan ini adalah, dari satu contoh kasus di atas, terdapat semacam pengaminan dalam kultur dan pola pikir masyarakat Indonesia yang kemudian membuat mereka luput 1) bahwa ada proses menyakitkan dan tidak mengenakkan hati di sepanjang perjalanan sebelum mencapai sukses itu dan bahwa, untuk kasus yang agak ekstrem, 2) melumrahkan anggapan bahwa pendidikan di Indonesia itu belum seberapa dibandingkan pendidikan di luar negeri, di negara apapun itu. Saya mungkin salah, tapi bukan berarti kedua hal di atas tidak mungkin terjadi. Kembali lagi, bahwa ada pengaminan bahwa luar negeri dijadikan semacam kiblat untuk keberhasilan studi seseorang. Ada juga pengaminan bahwa siapapun yang bisa berkuliah di luar negeri, maka ia kemudian dianggap unggul secara intelektual dan, kalau merujuk ke salah satu komentar di facebook tadi, “sukses dunia akhirat.”

Kasus ini sebenarnya juga terjadi pada saya. Sewaktu di semester 1 kuliah, saya dan beberapa kawan sempat terpesona ketika hari perkenalan dosen-dosen tiba. Di layar perak, mereka menampilkan biodata singkat dosen dan tempat dulu mereka menempuh studi. Ada satu dosen yang berkuliah di satu universitas di luar negeri, dan saya jujur tak tau di mana itu (yang jelas di Amerika Serikat). Namun demikian, tetap saja, collective memories dalam otak saya menganggap bahwa universitas tertentu di luar negeri itu, di manapun dia, itu keren dan “wah.” Setelah hari itu selesai, sempat terbersit dalam pikiran saya bahwa “ya saya mah cuma di universitas ini” dan terus-menerus mengasihani diri sendiri. Ternyata, setelah saya cek akreditasi universitas dosen tadi, ternyata biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak ada yang perlu dibanggakan, tapi juga bukan untuk diremehkan. Namun, karena kultur pengaminan tadi yang mulai (atau sudah) berkembang dalam paradigma saya, universitas itu, dan dosen tertentu itu, tetap saya lihat sebagai panutan.

Kultur pengaminan ini sebenarnya sudah mulai melekat dalam benak masyarakat Indonesia sejak, setidaknya setelah saya menginjak bangku SMA, terbitnya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Negeri Lima Menara-nya (beserta dua novel lanjutannya) A. Fuadi. Di novel-novel itu, beberapa karakternya digambarkan sukses dalam studinya dengan (akhirnya) mampu bersekolah di luar negeri. Alif di New York sebagai wartawan VOA, satu temannya lagi (saya lupa namanya) di Turki, Ikal di Sorbonne University, dan Arai di London. Semua pembaca pasti kalau tidak tergerak hatinya pasti terharu melihat perjuangan semua karakter itu melewati rintangan dan hambatan untuk mencapai tujuan belajarnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Tak ada sama sekali itu. Justru perjuangan mereka mesti diapresiasi setinggi-tingginya.

Namun demikian, pemberian apresiasi itu  juga menjadi kerumitan tersendiri. Para pembaca (dan penonton vidio-vidio Maudy Ayunda) dikhawatirkan bukan lagi tergerak atau mungkin terharu dengan perjuangan mereka bisa berkuliah di sejumlah universitas ternama dunia. Persepsi mereka telah disetir bahwa pendidikan di  luar negeri sudah menjadi maskot, menjadi kampiun bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul, terus siapa yang bisa menebak bahwa, dengan pandangan seperti itu, ada kemungkinan bahwa mereka menganggap remeh pendidikan di Indonesia?

Argumen saya, kemudian, adalah bahwa kultur pengaminan semcam ini mesti dihentikan secepat mungkin. Meskipun saya tidak menutup kemungkinan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih banyak celah yang bisa ditinjau ulang dan direvisi, saya yakin tidak ada upaya yang sia-sia untuk mengatakan bahwa “pendidikan di Indonesia juga bisa sama juaranya dengan pendidikan di luar negeri.” Masalah lain pun muncul: mengapa kita mesti menjadikan patokan itu dengan luar negeri? Atau segala sesuatu yang berbau luar negeri dijadikan cult atau semacam patokan yang “baik” bagi negara yang “bukan luar negeri.”

Semua ini bisa dimulai dengan melihat dari banyak sudut pandang, dengan melihat sisi lain dari apa yang terjadi, dan mencari implikasi dari sekadar “pernyataan.” Saya rasa sudah bukan jamannya lagi untuk membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain, khususnya dalam hal yang Indonesia belum lakukan atau sudah lakukan tapi tidak maksimal hasil akhirnya. Masyarakat yang masih terjebak dalam paradigma bahwa “luar negeri adalah segalanya” mesti ditegur dengan cara apapun untuk tidak masuk dalam keterlanjuran itu.

Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/kultur-masyarakat-indonesia-yang-mengamini-superioritas-studi-di-luar-negeri_57356c9d26b0bd2512d3eedd

A (Wo)man in Distress: LGBT Communities and What To Do With It

In a particular occasion during college holiday, a good friend of mine recommended me a movie called “Prayers for Bobby.” It centers on a familial conflict between, among other things, Bobby, who finds out himself gay, and her religious mom. Being a seventeen-year-old teenager, Bobby lives his world as a maze of identity- and, yup!, sexuality-searching premise. As a normal heterosexual-oriented woman, his mother refuses the fact that his own son is “a companion of man”, and referring to it as an “illness.”

51cejy1ogpl
“Prayers for Bobby” poster

As I was watching it, I cried during the half-end of the movie (not to be sexist, please!) In a scene where Bobby is so bewildered by the situation, knowing that he has a male lover now (finally!) and after playing hide-and-seek with his family concerning on his “illness”, he decides to jump off the bridge. Now that the mother is crushed, she finds a way to understand what it means to be “different.” By the end of the movie, she eventually accepts his son as he is, as a gay–a “man in distress.”

What’s The Deelio?

Just a few days ago, an article from TEMPO left me thinking, along with the headline: “LGBT communities in campuses are to be banned,” which you might have read as well. It felt so right on one side, but also so wrong on the other. It postulates that owing to the fact that Indonesia is an Eastern country and that it glorifies the norms of Islam as the majority’s religion, gay communities in campus are to be “wiped out of the map.” And a question arises: how should that be possible? These campus communities, several of which are mentioned in Jakarta, Yogyakarta, and Makassar, are allegedly rife and “hard to detect.” However, another source even states that same-sex couples in campuses are no longer embarrassed to engage in an intimate relationship in public. They hold hands, kiss, smooch, and, even, hug . Now, who’s to blame here?

During a discussion in TVoNE with a panel of a psychologist, an alim ulama, and an FTV celebrity, one of the speakers pinpoints that family plays a huge role in defining the child’s characteristics, including his own sexuality. How the child is raised, treated, and behaved contribute highly to the way he will perceive the world he is going to live in. All of them share a same belief that when a baby is born, the baby’s mind is blank “as a canvas”, or, as philosophy terms it, encounters “tabula rasa.” Another speaker of the panel emphasized that it is environment that creates his sexuality, especially that in school. Bullying, cyber-bullying, and its effects will potentially lead the child to doubt his self-esteem, and in a long term, his identity and in the end sexuality.

Well, going back to college students. They are far from home, and from their parents, and the only thing that surrounds them is their college friends, who come from different place, background, and parenting, which I think is the beauty of college life. You meet new people, choose several of them to be your company, and probably end up having none. No matter how individualistic one student would be, they have to blend, or the world shall end, so they say.

homo-img_assist_custom-617x354
“Homoseksual Bukan Penyakit Jiwa” (jakartapost)

What Do They Say?

Judith Butler in Gender Trouble asserts that sexuality, desire, femininity, and masculinity are all fluid. You might consider yourself straight probably because you are not gay, or at least, you think you are. But that is the way you like it. You can never really tell, can you? Butler continues that we can never be a hundred percent masculine, nor feminine. There is always part of ourselves that defies against our biological genetics or beginnings as we grow and let our perspectives be changed by “outer-body experiences”, such as books we read, movies we saw, or people we talked to. “It would be scary as hell if you’re too masculine or feminine,” a lecturer once said.

What is more, in a seminar that Julia Suryakusuma attended, as she shared on Jakarta Post‘s View Point section, one of the three speakers, Hendri Yulius, who is gay, stated that he is not aroused by looking at two men kissing, but at two women smooching. See how complicated that sounds? As to me, for example, I sometimes get aroused by a curvy-shaped woman but also by a well-shaped man. I am indeed so grateful that I do not end up like most of my male friends who have gone “out of the book” and stay there.

komunitas-lgbti-peringati-idahot-di-car-free-day_20150517_173337

In A Nutshell

What I am saying is that, first, I want to challenge the idea of such classification. We must not forget that, although Islam forbids homosexuality, all in all, as its essence, it also is a religion of love, compassion, and affection, which means that we must accept who we are, as we are given to be, a “perfect creature” (physically) among many other creatures. It should not necessarily close the door of chances of finding out who we love and who we don’t. Neither should it block us from escaping to the “script” that the society wants us to play out. And when such limit occurs, we shut down. We will say yes to everything, and that is not what it means to love.

Secondly, it might sound politically incorrect, but the problems of sexuality, in whatever scope it covers, may never be institutionalized by the government. If a man is gay and the public does not like that, there is no better way to “cure” him but a strong willing from the person being it. If it’s not lucky enough, the LGBTs might not want to be “cured” by going to a psychiatrist because going there means they’re “ill.” This makes them stay true to they are, as a gay, as a lesbian, and, above all, a human being.

As from the movie, not long after Bobby’s “jump accident”, his mother shares his heart out to the priest for which Bobby used to follow: “I know now why God didn’t heal Bobby. He didn’t heal him because there was nothing wrong with him.”

And that closes it, fellas!