Anak-anak Indonesia “Mati Mimpi”

Imagination is an important part of everybody’s life. With today’s kids, imagination is lost because kids play so many video games, and it’s bad for that. I see kids nowadays play a lot, and I was always outside playing Army, rolling around on the ground, playing with squirt guns and playing kickball. I think kids need to do that more often. – Josh Hutcherson (Actor), ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak pada jaman sekarang.

Perhatikan betapa bahagia wajah anak-anak ini. Mereka tertawa, ya mereka tertawa. Karena satu-satunya yang ada di pikiran mereka ya cuma ketawa dan seneng-seneng. Bukan buat bersedih. Kalopun sedih juga itu pas diomelin emak atau bapaknya, abis itu ketawa-ketiwi lagi kaya orang kesurupan. That’s what kids are. What they aim is to laugh all day, sing all the time, make fun of one another and other things. Tapi tenang, jangan nebak-nebak ya kalo foto diatas salah satunya adalah gue waktu kecil. Bukan.

Waktu kecil dulu, gue gak pernah berharap banyak dari video games. Di rumah, bokap beliin PlayStation (PS) karena ulang tahun abang gue yang paling tua. Gak jauh dari rumah, banyak disana-sini rental PS yang gampang banget kejangkau. Gue gak pernah tertarik untuk main game, even sampe sekarang. I don’t see anything interesting on that little black box plugged in with some sticks to play.

Dulu waktu jamannya masih komputer pentium 98/99, gue masih tertarik banget main Solitaire, sejenis game kartu kocok yang kalo lo sekali main pasti langsung ngerti. Sesambil mantengin layar komputer, gue sesekali ngelirik ke abang yang lagi asyiknya main dan gak lepas pandangan dari layar TV. Setiap hari pemandangan itu gak pernah berubah. Sampe akhirnya, ada salah satu temen abang yang minjem stick PS, karena keluarga gue adalah satu-satunya orang yang baru punya game macam itu. Kalo yang lain mungkin masih jamannya Tetris Pack atau Gameboy atau bahkan yang lain.

Abang gue langsung bela-belain pergi ke rental PS deket rumah. Sejurus gue samperin dan tanya,
“Kok main di rental? Kan kita punya PS?”
“Sticknya lagi dipinjem sama temen gua.” katanya singkat. Sambil lanjut menghadap ke layar TV.
“Yaudah kenapa lu ga nungguin di selesai main aja? Emang lama?”
“Udah tanggung. Save-an game gua bentar lagi juga udah mau tamat kok!”
Gue menghambur keluar dan pergi ke rumah.

Alhasil, bokap marah dan entah apalagi kejadiannya.

Sekarang PS 2 yang udah dari kapan tau itu entah kemana perginya. Entah disimpen atau kemana. Malah, adek gue justru ikut-ikutan kecanduan main PS. Dari Winning Eleven, PES, Grand Theft Auto, sampe Smack Down jadi bahan mainannya mereka berdua setiap pulang sekolah. Duh, miris ngeliatnya. Trus kapan ngerjain tugas sekolah dan ngerjain lain-lain? Dan malah sampe SEKARANG, laptop bahkan jadi korban. Entah ya, somehow teknologi kenapa jadi dimultifungsikan sekaligus disalahgunakan kaya gini ya? Satu sisi buat cari informasi karena fasilitas internet, dan gue ga ngerti gimana prosedurnya. Tapi belakangan ini gue liat mereka main PS udah di laptop! Semua stick dan perangkat lainnya terhubung ke laptop! Kacau. Yang ada, setiap mereka buka laptop, gue harus curi-curi waktu buat ngerjain tugas atau sekedar ngedit-ngedit dokumen buat karya tulis.

Walhasil, laptop gue jadi lemot dan cenderung lama setiap kali buka file atau sekadar nyetel lagu. See? Pembunuhan karakter dari game ternyata juga bisa merusak masa depan. Lewat laptop yang disalahgunakan inilah, semuanya jadi hancur berantakan.

Yang mau gue utarakan adalah kasus-kasus sama yang ternyata gak cuma kejadian sama abang dan adek gue.
Kaya yang udah gue bilang tadi. Imajinasi itu penting buat seorang anak kecil. When I was a kid, all I do is laugh, run, smile, catch butterflies, play around, and be anything I want to be. Imajinasi itu, ketika kita masih punya mimpi buat jadi rock star, superman, spiderman, atau bahkan raja neptunus adalah satu hal yang dirindukan. Imajinasi yang bikin kita tau bahwa anak-anak kecil bisa bermimpi besar. Gak ada batasnya.

Sekarang, di setiap sudut warnet/ruko game online di berbagai tempat didominasi oleh anak-anak. Gak sedikit yang cari-cari alasan untuk bolos sekolah cuma buat nongkrong dan main game di warnet selama berjam-jam. Kalo gak dikasih uang sama orangtua, bisa jadi nyolong. Tuhkan, udah ngelantur kemana-mana deh. Anak-anak Indonesia sekarang ngomongnya udah yang, sorry to say, brengsek dan segala macam hewan di kebun binatanglah. What is with world? Kemana mimpi anak-anak Indonesia yang udah dicandu lingkungan peradaban modern? Yang dipengaruhi pendar-pendar negatif dari media dan televisi?

It’s no use if I’m talking this repeatedly with the same exact issues, that would be trashy. Peran orangtua udah dibumihanguskan oleh era baru pengejawantahan karakteristik seorang anak. Sepenuhnya menyalahkan pemerintah juga bukan langkah yang tepat. Lingkungan yang rusak dan ketebalan iman seorang ruh yang ditiupkan dalam sebuah tubuh kecil yang memiliki mimpi telah menghancurkan segalanya.

Siapa yang rindu anak-anak yang dengan polosnya mengatakan, “Aku pengen jadi princess!” atau “Papa, beliin aku baju Spiderman bial aku bisa telbang” atau “Mamah, gendong aku deh biar aku terbang kaya Superman.”

Dimana anak-anak Indonesia?
Mimpinya terbakar abu era. Hangus dalam tangis sia. Membakar uang hasil keringat papa mama. Membunuh karakter bangsa dan agama. Yang harusnya putih dan tak pernah renta. Namun akhirnya hilang ditelan derita.

Bermimpilah setinggi langit. Raih bintang tertinggi di singgasana benakmu yang tak terhingga. Rebahkan segala pendapa harapan pemupus sia dari dampak negatif media tak berguna. Mari bermimpi! Bermimpilah besar.

Berlelah-lelah dan berjuanglah. Sesungguhnya manisnya hidup terasa setelah lelahnya berjuang.

Aku rindu mendengar mimpi anak-anak Indonesia.

Advertisements

Maaf Ma, Nisa Merokok.

Hari ini aku bingung. Wajahku terasa lebam sehabis ditinju pohon berduri berkali-kali, tubuhku gemetar seiringan dengan detak jarum jam yang semakin menghunus, hatiku kacau, mataku sayu, rasanya aku ingin muntah. Memang, tidak ada yang bisa tau bagaimana rasanya dimarahi orangtua berulang kali dan dicaci maki dan diduga yang tidak-tidak oleh teman-teman sekitarmu.

Namaku Nisa. Aku anak baik-baik. Gadis dari keturunan keluarga yang baik-baik. Wajar saja, namaku Annisa Nadia Dzikrillah. Begitu islami, mengandung ruh rohani yang begitu relijius yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Di sekolah, aku bukan siapa-siapa. Tidak terlalu populer, tetapi juga tidak terlalu kuper. Aku anak yang pendiam, namun cukup atraktif jika berinteraksi dengan teman-teman sebayaku. Bahkan, guru-guruku sering mengatakan kalau aku ini diam-diam menghanyutkan. Kalau tidak diajak berbicara, tidak merespon. Tetapi kalau dijahili sedikit, bisa ngamuk. Begitulah aku.

Aku punya cukup banyak teman di sekolah, di rumah, dan pekarangan kebun kecil di belakang rumahku; kebanyakan temanku di kebun adalah para petani yang sangat ramah dan terbuka kepadaku, bahkan mereka adalah satu-satunya tempat pelarian ketika aku sedang memiliki masalah di rumah. Meskipun penampilanku yang agak nyentrik, para petani, khususnya ibu-ibu mengatakan bahwa aku adalah seorang anak gadis ABG yang seharusnya mendapat perlakuan sebagaimana seorang gadis. Tapi aku tidak peduli. Aku pede dengan keadaanku yang seperti ini.

Suatu malam, teman-teman sekolahku mengajakku  makan malam. Katanya sih makan malam, tidak tahu jelasnya apa acaranya. Malam ini malam minggu, tepat sekali, perfect timing. Kebetulan bulan ini adalah bulan ramadhan, jadi akan diadakan acara buka bersama di suatu food court di kawasan Bintaro. Aku memesan Big Mac Beef Burger yang rasanya begitu menggoyang lidah, satu pack kentang goreng, dan satu teh kemasan yang disajikan dingin. Tidak sampai lima menit, perutku sudah terisi penuh sampai-sampai aku tidak bisa bergerak. 

Salah satu teman cowokku, Rando dengan segera mengeluarkan satu bungkus rokok berbungkus putih, dicomotnya satu batang dan disulutnya ujung batang rokok itu. Aku terhuyung melihatnya; pura-pura tidak peduli dan melanjutkan ngobrol dengan Maria, teman satu bangkuku. Tidak sampai aku berbicara panjang lebar dengan Maria, asap rokok yang dihembuskan dari bibir Rando seolah-olah secara sengaja ditiupkan ke arahku hingga aku terbatuk. Tapi, tidak sampai aku terbatuk untuk kedua kalinya, Maria mencomot satu batang rokok yang lain dari bungkus rokok Rando.

Ia menyulut dan membakar rokok itu, menghisap rokok itu dengan nikmatnya dan mengepulkan asap-asap tebal ke udara. Aku sangsi melihatnya. Aku merasa malu dibuatnya. Teman-temanku adalah teman yang selalu sejalan denganku. Mereka selalu go with it dengan apa jalan pikiranku. 

“Nis, cobain satu gih. Mumpung masih banyak. Ayo, coba sekali dulu. Apa salahnya kan?” bujuk Maria dengan kata-kata yang menggoda.

Aku tetap sangsi. Wajahnya terlihat begitu santai dari sebelumnya. Setelah menyulut batang rokok, aku melihat raut wajah dan garis-garis muka mereka yang perlahan berubah menjadi jauh lebih rileks dan santai dibanding tidak merokok. Aku pun penasaran untuk mencoba. Dengan tekad dan keraguan yang begitu, aku comot satu batang rokok dan kusulut ujungnya. 

“Uhuk…….Uhuk…..” aku terbatuk saat menghisap pertama kali.

“Pelan-pelan, Nis. Coba nikmati dan rasakan lezatnya. Kau pasti akan terbiasa kok.” bujuk Maria sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di atas punggungku.

Aku terhasut, mencoba menghisap rokok itu lebih dalam, dan lebih dalam. Semenjak itu aku merasakan ketenangan batin dan sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya: kenikmatan abadi. Apalagi jika disulut malam hari ditemani secangkir kopi susu. Wah, bisa-bisa tidak bisa tidur aku.
Selama dua minggu berturut-turut, aku tidak bisa melepaskan dari yang namanya rokok dan kopi. Mataku mulai menghitam karena kurang tidur, badanku jadi semakin lunglai, materi-materi pelajaran di sekolah yang diajarkan pun terasa melayang-layang di atas kepalaku, aku tidak fokus ketika diajak bicara, nilaiku anjlok.

Akhirnya, orangtuaku dipanggil ke sekolah untuk berhadapan dengan Kepala Sekolah mengingat aku tidak akan bisa mengikuti Ujian Kenaikan Kelas jika nilaiku tidak bisa diperbaiki. Tapi bodohnya aku, aku malah tertidur ketika dinasihati. Hingga akhirnya, aku merasakan pukulan keras yang mendarat di pipiku. Aku terhempas. Saat bangun, aku tidak sadarkan diri.

Aku begitu terhanyut dalam pergaulan yang begitu merusak. Hingga yang tadinya aku merasa cukup dan mampu dalam mengikuti pelajaran, ternyata itu semua keliru. Orang-orang yang selama ini aku percaya ternyata bukan siapa-siapa selain penghancur yang sangat profesional. Aku lupa Tuhan. Aku lupa mensyukuri ni’matnya. Aku mendekati larangan-Nya. Aku lupa bahwa aku adalah perempuan. Menyulut rokok dan bergaul bersama para cowok-cowok sebetulnya diharamkan. Tapi apa mau dikata? Aku sudah terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Maria dan Rando sekarang sedang berada di penjara karena mengonsumsi narkoba tingkat lanjut, ditambah usia mereka yang masih muda sudah menggunakan obat-obatan terlarang di tempat tersembunyi. Ya ampun. Aku membakar uang kedua orangtuaku, memusnahkan hasil keringat mereka, membumihanguskan darah mereka, membanting balik tulang yang telah mereka perjuangkan untuk menyekolahkanku. Dengan air mata tumpah aku mengucap astaghfirullahul adzim berulang kali dalam hatiku.

Siapa aku?
Bukan siapa-siapa.
Hanya penyulut uang dan darah pahit orangtua.

Image

Kisah si Pengamen Jalanan

Hidupnya gentar. Tak kenal usia. Tangannya memilin batang gitar ukulele kemana-mana. Memasang wajah pusara tak bertuan. Berpindah dari satu bus ke bus lainnya. Merangkak, berjalan, bahkan berlari dengan sandal bututnya. Demi mengejar selembar biru penentu masa cerah. Untuk ibu di rumah, untuk adik yang menangis, meronta-ronta perutnya. Tiada kesempatan untuk menuntut jua, merenggut asa, meraih cita di sekolah.

Kami para pengemis receh para penghuni jalanan. Yang bernyanyi, berjoget, bahkan menangis demi koin-koin berharga. Satu, dua, tiga remah koin di jalanan yang kami temukan menjadi tumpuan hidup kami. Hasil bernyanyi seharian hanya bisa untuk makan sore ini. Hari mulai panas, aku mulai lekas. Semakin kencang aku berlari. Tapi ternyata ukulele ku meleleh mencair di bakar marahnya sang matahari.

Suatu hari aku bosan, aku muak dengan keluhan ukulele kecil yang aku beli dengan hasil mengamen hari itu. Ia meronta, menarik-narik baju pemberian ayah yang selalu aku sisipkan di bawah ketiak sebelum mengamen. Sabar ya, sahabat… kataku dalam hati. Pagi itu aku terbangun, dinginnya udara dini hari yang menggigit tulang mengetuk-ngetuk ubun kepalaku, menghembusan nafas bersih tanda aku agar lekas bangun. Karena jika aku tidak bangun, tubuh ibuku akan semakin kurus, adik-adikku semakin meronta dan membuas nantinya. Aku dan ukulele kecilku penentu nasib hidup ini.

Hari itu aku memutuskan untuk tidak pergi mengamen. Kakiku tersengal, tanganku terlipat, kerongkonganku terasa haus bagai sepeda motor yang rindu pelumas. Aku lelah. Sambil melamun manja, mendongak atap-atap rumahku yang hilang dua per dua, aku melihat tabungan ayam adikku yang ada uangku juga didalamnya. Tabungan itu tersudut di pojok kamarku yang 3 x 3 meter. Dengan tekad bulat, kupecahkan bank koin itu. Tidak sampai dua detik, bunyi koin-koin yang berjatuhan bergerincing membahana seisi rumahku. Tidak ada suara setelah itu. Aku comot lima per lima koin-koin kuning dan perak kecil itu. Segera aku keluar dan mengucapkan Assalamu’alaikum Ibu dan adik-adikku dengan cinta dalam hati.

Tak terasa embun pagi itu terlalu malu untuk berbaring di atas daun-daun, para kumbang jelata pun tak ragu untuk menari-nari di atas rerumputan yang tersenyum, kepompong yang hendak berdewasa dengan eratnya mencumbu kekayuan. Matahari sudah muncul. Aku bisa mendengar riuh di kejauhan, suara pasar, pertemuan para saudagar dan penggantung nasib. Menjual apa saja, membeli apa saja.

Pasar loak. Suara dari pasar itu semakin keras ketika aku berjalan mendekati riuh itu. Berbagai barang-barang bekas atau barang daur ulang dipampang, dipajang, dan dijual di setiap meternya. Ramai nun gaduh, riang nun teduh. Kesemua barang itu tidak ada yang menarik–padahal memang aku saja yang tidak berduit–semua barangnya berharga diatas tiga ribu rupiah. Sayang, saku ku berkata lain. Aku hanya mengantongi uang sebanyak seribu lima ratus rupiah. Meskipun ada beberapa barang yang sependapat dengan suara kantongku, tapi aku terlalu malu untuk mengeluarkannya, karena uangku koin semua–ya yang 5oo-an lah, 100-an lah, bahkan ada yang 25 sen. Ditambah, bajuku yang lusuh dan penampilanku yang kusut. Rasanya aku ingin cepat-cepat memisahkan diri saja dari kerumunan orang ini.

Tapi setelah aku berjalan dan berjalan, satu hamparan kain putih yang lebih kecil dari hamparan kain-kain lainnya menarik matanya. JUAL BIOLA BEKAS. HANYA SERIBU RUPIAH SAJA. Tulisannya yang besar-besar membuatku semakin tertarik. Sudah bosan aku dengan ukuleleku, kini waktunya aku harus berubah, beli ah..lagipula kemampuan menggesek biolaku bisa sedikit. Tidak apalah, pikirnya panjang. Setelah ia memilih, ia mendapatkan biola barunya.

Segera ia turun ke jalan dan naik bus jurusan Garut – Lebak Bulus. Dengan rasa percaya diri yang tinggi dan biola baru yang ia tenteng sekarang, ia masuk ke dalam bus berpenumpang berdesakan itu. Seketika bus dijalankan pelan-pelan, ia mulai menggesek biolanya perlahan disesuaikan dengan irama dari lagu yang ia nyanyikan. Seisi bus hening dan mendengarkan lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu dengan khidmat. Beberapa penumpang terlihat berbinar matanya. Aku terus menggesek biolaku dan bernyanyi. Tak kurasa, ternyata alunan musik yang kumainkan menciptakan harmoni yang begitu indah. Tidak sedikit koin-koin yang aku dapatkan ketika aku menyodorkan bekas plastik permen Kopiko kepada para penumpang. Beberapa penumpang menyodorkan recehan seribuan, bahkan ada beberapa yang memberiku lima ribu rupiah. WAH!

Hari ini aku akan makan banyak, air mata ibuku akan tumpah membayangkan momen ini, perut adik-adikku akan terlonjak kegirangan, bulir tangisku tumpah seketika. Sambil menghitung pendapatanku hari ini, adzan zuhur sudah berkumandang. Segera aku shalat zuhur dengan pakaianku yang belum terlalu bau dan sarung dari masjid. Aku panjatkan syukur yang tiada henti. Aku panjatkan doa agar aku diberi kemudahan dalam mencari penghasilan demi ibu dan adik-adikku.

Dengan senyum, aku pun termangu di kaki masjid mengharap sesuatu. Bahwa hidup adalah perjuangan. Apa yang akan terjadi esok hari jika kita menyerah hari ini?

Terimakasih, Bu..

Beginilah suasana rumah. Terpaksa ninggalin rumah untuk keperluan tugas dan kantor. Dengan sebegitu ikhlasnya beliau pulang-pergi pontang-panting cari uang untuk uang jajan gue, abang, dan adek. Ibu.

Namanya Siti Rahayu; Tanah yang Subur. Nyokap, anak keempat dari sembilan bersaudara. Sang pahlawan. Selama sekian tahun nyokap kerja di Departemen Kehutanan, ga pernah ngebayangin bakal se’sepi’ ini akhirnya kalo beliau ternyata dikasih beban untuk pergi kesana kemari luar kota, bahkan kadang luar negeri. Yang tugasnya gak cuma sehari-dua hari, bisa lima hari, paling lama seminggu.

Hahaha. Call me corny, juvenile little weeping boy ato apalah. Jelasnya apa yang ada didalem benak ini harus gua blow up, biar gak jadi beban hidup selanjutnya. Hmm. Gak terkecuali bulan Ramadhan kaya gini, yang harusnya beliau nyiapin makanan untuk sahur dan buka puasa, tapi justru tugas itu yang akhirnya ditransfer ke anak-anaknya disini. Beliau selalu pesen dan gak pernah lupa untuk, kadang, ngajarin gua sekadar bikin teh buat orang rumah ato ninggalin duit untuk beli bukaan di komplek. Hehehe. Yah, corny sih emang. Cengeng ya? Tapi justru hal itu yang bikin gua makin sadar kalo she has a big role in this. Big role.

Secara ga langsung, somehow, beliau ngajarin gimana caranya jadi mandiri diliat dari segi ini-itu. Sesekali kadang gua yang harus bangun pagi nyiapin makanan, masak dan segala macamnya. Malah ade gua yg cewe justru yg lebih bangun siang hehehe. Kadang, pas nyokap pulang tugas, segelintir raut capek dan ga keruan tergambar jelas di wajahnya. Di saat itulah, beban yang gua tanggung akan semakin berat nantinya.

Gak jarang, beliau rela teriak-teriak ngomel kalo gua ada perlu penting, yang gua akhirnya tau kalo beliau ngelakuin itu sebenernya niat baik. Meskipun kadang agak terganggu, tapi perlahan-lahan alhamdulillah gue udah mulai terbiasa. Mulai bisa ngontrol lah. Gak jarang juga, beliau untuk sekadar minta tunjukkin cara upload foto-foto Tugasnya ke facebook. Segaptek-gapteknya beliau, ya gua tau lah itu juga pasti bukan prioritas utama nyokap. Itulah tugas gue sebagai anak; membimbing dan berbakti sepenuhnya sama orangtua.

Terimakasih, Bu. Atas kepercayaan yang telah engkau berikan. Semua ‘kepergian’mu ini mungkin belum terasa, ‘kepergian’ yang sesungguhnya baru akan terasa setelah Allah memperlihatkan rencana terindahnya: kematian. Subhanallah..
Mom, I wish nothing but the best. The privilege I’m having to have you here is just another surprise and blessing that God gave. I’d never regret by the time God calls you, because I know, deep deep down inside I’ve never regretted being given the trust you give, and the love you share. My gratitude, Ya Allah. I’m blessed to have a most beautiful, strong woman in a lifetime.

With love.