Bersihkan “Kacamatamu” Setiap Hari!

Pake kacamata itu enak ga enak. Kalo lagi dibutuhin, kadang ngeselin. Tapi kalo lagi gak ada, rasanya ada sesuatu yang hilang. He he. Hampir setiap aktivitas yang jadi kegiatan sehari-hari saya selalu membutuhkan dua pasang kaca ber-frame ini. Pernah suatu hari saya sempet lagi dalam keadaan yang bener-bener sibuk di kampus. Disuruh fotokopi bahan tugas sama dosen, terus tiba-tiba keinget banyak banget tugas-tugas yang belum dikerjakan, ditambah rambut ini yang semakin panjang menguntai-nguntai ke jidat, dan keringat bercucuran di balik kacamata, belom lagi tenggorokan yang kering dan kantong yang kering. Hah! Rasanya pengen diremek-remek aja muka saya biar gak ‘penuh’ kaya waktu itu. Tapi gimanapun…saya harus hidup dengan benda ini.

Tapi dari sini, saya bisa ambil hikmah penting di baliknya.

Setiap pagi, secara rutin saya selalu membersihkan kacamata saya dengan kain soft-fabric. Padahal hari-hari sebelumnya kacamata itu tampak baik-baik aja. Seperti biasa, saya akan coba membuka jalan pikiran kawan-kawan dari sudut pandang yang gak biasa. He he. Dari kebiasaan itu saya belajar kalo ternyata dari sebuah benda kaca berbingkai bisa dianalogikan dengan ini: hati yang kotor, lupa, dan terlena.

Lho, apa hubungannya kacamata dengan hati?

Kawan-kawan, kacamata, sama halnya seperti hati manusia, berfungsi untuk membantu penglihatan aja, yaitu sebagai pembeda apakah yang kita lihat itu jelas atau buram. Setiap hari saya pake kacamata itu kemana-mana, dibawa kemana aja, sampe tidur (dan mandi) pun kadang kebawa. Tapi pas keesokan harinya, kita pasti akan menemukan kotoran-kotoran halus/debu kecil yang menempel di lensanya. Saya bertanya-tanya.

Kok bisa ya?

Nah, sama seperti hati kita, setiap hari terkadang kita seolah-olah tersedot dalam kehidupan perkuliahan yang serba divergen dan bebas. Mikirin kuliah, musingin ini-itu, uang kiriman yang telat dari orangtua, atau bahkan masalah sama temen, pacar, gebetan, dosen kita. Semua itu secara gak sadar bikin kita semua terlena, membuat kita melupakan hal-hal yang jauh lebih penting. Sangat masuk akal kalo saya bilang bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, haruslah diserahkan semuanya kepada Sang Pendatang Masalah. Tuhkan, coba perhatiin lagi, Pendatang Masalah. Allah SWT, secara tidak langsung, sebenarnya bukan memberikan masalah kepada kita hamba-hamba-Nya, tetapi justru mendatangkannya. Ini berbeda. Penjelasan ini harusnya bikin kita sadar bahwa kalo suatu saat ni’mat yang kita miliki sekarang (panca indra, islam, iman, mencintai, dan dicintai) dicabut, maka kita sudah seharusnya gak boleh putus asa, karena semua itu kan milik Allah. Jadi, para kawan, dibawa pasrah aja sih hidup ini. Gak ada yang perlu dilebih-lebihkan, dan gak perlu juga mengurang-ngurangi yang ada pada diri kita. Saya pun selalu ingat kata mutiara pemberi semangat, “mensyukuri apa yang kita miliki merupakan kunci kemenangan daripada menginginkan sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah kita dapatkan.”

Nah! Gitu deh. Jadi udahlah gausah galau-galau mikirin hal-hal yang gak penting/gak pasti, kalo diserahin semuanya sama Allah, pasti semua ada jalannya ๐Ÿ™‚ insya Allah.

Balik ke masalah hati. He he. Teman-teman, pada dasarnya, hati kita ini, luar biasanya, dianugerahi kemampuan untuk menentukan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Tanpa disadari, setiap hari kita gak pernah tau seberapa bersih sih hati kita. Apakah semakin hari semakin meningkat kualitas hatinya, atau justru makin banyak “debu-debu” yang menempel? Itulah pentingnya bagi kita untuk selalu mendekatkan diri pada Si Penguasa dan Pembolak-balik Hati. Kita pun harus pandai-pandai memilih kelompok pergaulan, dan mencari cara bagaimana kita harus bersikap ke mereka-mereka yang tidak “seia sekata” dengan kita. Itu harus diperhatikan betul-betul agar tidak terjadi kesalahpahaman antarkedua belah pihak.

Kira-kira seperti itulah analogi hati dan kacamata. Mereka sama-sama memiliki potensi untuk berubah menjadi semakin baik atau malah semakin buruk. Makanya, dengan membersihkan hati kita secara rutin, salah satu caranya adalah memperbanyak dzikir dan menjaga perkataan dan sikap, kita, insya Allah, bisa menjadi pribadi yang lebih unggul dalam segala hal. Asalkan tawakkal, yang dibarengi dengan sifat optimis, mengingat Allah sudah menjamin rejeki masing-masing hamba-Nya. Dan bersyukur. Dengan begitu, jika kita berhasil, kita akan lebih tawadhu’ (rendah diri) kepada Allah–lepas dari salah satu sifat syetan: sombong, tetapi jika kita gagal dalam satu hal, itu bisa menjadi batu loncatan agar kita bisa menjadi insani yang lebih kompeten, berjiwa islami dan berkepribadian kokoh yang tahan banting.

Salam.

Advertisements

Cermin Terbaik Bagi Diri

Perbedaan bukan omong kosong. Ia mampu menebas jarak antara kedudukan, status, jabatan, bahkan martabat seseorang atau kaum sosial. Keberadaannya mampu menetaskan kelompok-kelompok baru pada golongan tertentu dengan berbagai macam jenisnya. Entah itu pengaruh lingkungan, atau bahkan diri sendiri. Perbedaan mampu melahirkan berbagai macam hal yang bertentangan; meskipun demikian, ia mampu membuat persamaan antara dua kelompok yang disandingkan. Yang pada akhirnya, perbedaanlah yang membuat baik newbies ‘orang-orang awam’ maupun orang-orang lama yang sudah menggerakkan kelompok-kelompok tersebut. Akhirnya, muncullah si kaya dan si miskin, si tinggi dan si pendek, si gaul dan si cupu, si pintar dan si bodoh, dan berbagai macam hal lainnya yang mesti disandingkan–yang terkadang tidak masuk akal. Karena sebetulnya semua itu tidaklah begitu penting. Pertanyaannya, lalu apa yang dituntut hidup yang sementara ini? Apakah perbedaan yang menentukan kedudukan satu orang dengan yang lain menjadi lebih tinggi atau lebih rendah di mata Tuhan?

Dengan tegas, Allah melarang makhluk-makhluk-Nya untuk berperilaku sombong kepada sesama manusia–dan terutama kepada Tuhannya–dalam surat Al-Baqoroh ayat 34, yang berbunyi:

ูˆูŽุฅูุฐู’ ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ู„ูู„ู’ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉู ุงุณู’ุฌูุฏููˆุง ู„ุขุฏูŽู…ูŽ ููŽุณูŽุฌูŽุฏููˆุง ุฅูู„ุง ุฅูุจู’ู„ููŠุณูŽ ุฃูŽุจูŽู‰ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽูƒู’ุจูŽุฑูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: โ€œSujudlah kamu kepada Adam,โ€ Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.

collage

Saudara-saudaraku, tanpa disadari, sering kita khilaf dan lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Apa yang sudah ada pada diri kita (tanpa embel-embel materiil) sebetulnya adalah harta karun dan rahasia Tuhan yang tidak layak dikufuri. Segala hal yang sudah Allah berikan pada kita (seperti yang pernah saya bahas disini) merupakan karunia yang tak ternilai harganya. Dengan demikian, sudahkah anda bersyukur? Apalah arti harta, kekayaan, jabatan, rasa bangga, dan lain-lain jika pada akhirnya akan musnah? Komaruddin Hidayat, dalam bukunya Psikologi Kematian, menyebutkan bahwa satu dari berbagai macam cara yang paling simpel untuk mensyukuri nikmat adalah menganggap bahwa everyday is my birthday ‘setiap hari adalah hari ulangtahunku’. Mengingat bahwa setiap malam kita menemui ‘malam kematian’, dimana ruh akan ditarik selama beberapa waktu hingga pagi menjelang; lalu dikembalikan lagi. Setiap hari begitu. Maka, tidak patutkah kita bersyukur jika setiap pagi kita masih bisa bernapas dan merasakan segarnya udara pagi? Sungguh Maha Besar Allah.

Saya selalu melirik kembali ke dalam diri ini. Terkadang, secara tidak sadar, saya hampir selalu terperangkap dalam jebakan orang-orang hedonis yang selalu mengagungkan harta dan jabatan; orang-orang yang selalu mengedepankan kekayaan untuk sekadar pamer pada orang-orang yang bahkan mereka sendiri tidak kenal. Punya uang banyak, lalu membeli barang-barang yang tidak terlalu penting, lalu lupa untuk ber-shadaqah atau menggunakan hartanya untuk dijalan Tuhan yang memberikan uang itu. Dengan keadaan seperti itu, akhirnya saya menyadari bahwa selalu ‘melihat ke atas’ merupakan sumber bencana, yaitu selalu membandingkan diri ini dengan orang-orang yang memiliki lebih dari kita secara materiil, tidaklah ada gunanya; toh, semua itu akan lesap ketika liang kubur sudah memanggil-manggil, bukan? Keadaan seperti inilah, sepertinya, yang sedang merasuk ke dalam benak-benak orang-orang yang tidak kuat imannya. Mereka selalu merasa ‘kurang’ ketika melihat orang-orang di jalan dengan handphone atau gadgets canggih lain yang sangat memanjakan mata. Mereka tidak pernah sadar bahwa karunia terbesar bagi mereka adalah DIRI MEREKA SENDIRI.

Dengan kata lain, alangkah lebih baiknya bila kita, dalam keadaan khilaf, selalu ‘kembali’ untuk memikirkan fitrah kita sebagai manusia yang telah diciptakan Allah dengan sebegitu baik bentuknya. Secara tidak sadar, bentuk kebodohan-kebodohan kasat mata yang sekarang sedang membungihanguskan citra diri manusia untuk memiliki lebih dan lebih lagi, tidak pernah merasa puas untuk meraih sesuatu, secara pelan-pelan akan menghancurkan diri ini. Kita harus selalu ingat bahwa harta/materi akan habis kelak, namun keinginan (hawa) manusia tidak akan pernah terkikis; ia akan terus haus hingga kepuasannya terus dipupuk. Di sisi lain, kita juga harus sepenuhnya sadar bahwa Allah ย memang telah menetapkan kadar rezeki makhluk-Nya masing-masing dengan taraf yang berbeda-beda. ย Namun, banyak orang mensalahpersepsikan hal ini. Mereka mengira bahwa Allah ‘pilih kasih’ dengan hamba-hamba-Nya, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi pengeluh dan pembangkang. Naudzubillah.

Konsep “melihat ke atas” haruslah diubah dan dibangun kembali agar dapat ditafsirkan dengan definisi yang lebih logis dan masuk akal. Bukan ‘melihat ke atas’ pada materi, tetapi untuk mencontoh dan meneladani orang-orang yang telah sukses karena ikhtiar (usaha) dan perjuangannya yang luar biasa. Suatu hadits menyebutkan bahwa “manusia tidak boleh iri kepada siapapun atau apapun, kecuali pada orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan mampu mengamalkannya pada khalayak.”

Saudara-saudaraku, ketika segalanya terasa gelap, melihat orang-orang yang lebih sukses sementara kita terjebak dalam garis start yang tidak pernah bergerak, lihatlah ke bawah. Begitu besar pengorbanan orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita untuk sekadar mendapatkan remah-remah nasi. Mengais-ngais demi mengisi perut-perut di rumah yang kelaparan. Mengeluh bukanlah sifat islami, justru karena keberadaan orang-orang itu, kita diwajibkan untuk mengasihi sesama dan bersedekah. Dengan demikian, hidup terasa lebih tenang. Insya Allah. Profesor Albert Einstein juga pernah bilang kan, bahwa “orang-orang yang menyerah di tengah jalan tidak tahu bahwa mereka sesungguhnya berada satu titik di belakang garis kesuksesan.” Maka, jangan pernah mengeluh, kawan. Allah sudah mengatur rezeki hamba-hamba-Nya masing-masing.

Terakhir, saya menyimpulkan bahwa cermin terbaik bagi diri kita adalah diri kita sendiri. Tips ini merupakan satu jurus manjur yang selalu saya lakukan setiap hari: merenung. Merenung untuk melepaskan dari dunia sejenak, memikirkan untuk apa sebetulnya harta dan segalanya yang saya miliki di dunia? Yang pada akhirnya, saya tahu semua itu akan binasa. Cermin terbaik bagi diri adalah siapa pembanding kita. Apakah orang-orang yang di atas, atau yang di bawah? Teman-teman yang pilih ๐Ÿ˜‰

Meraih Hidup Tenang dan Bebas

Barakallah.
Wassalam.

Anak-anak Indonesia “Mati Mimpi”

Imagination is an important part of everybody’s life. With today’s kids, imagination is lost because kids play so many video games, and it’s bad for that. I see kids nowadays play a lot, and I was always outside playing Army, rolling around on the ground, playing with squirt guns and playing kickball. I think kids need to do that more often. – Josh Hutcherson (Actor), ketika ditanya pendapatnya tentang anak-anak pada jaman sekarang.

Perhatikan betapa bahagia wajah anak-anak ini. Mereka tertawa, ya mereka tertawa. Karena satu-satunya yang ada di pikiran mereka ya cuma ketawa dan seneng-seneng. Bukan buat bersedih. Kalopun sedih juga itu pas diomelin emak atau bapaknya, abis itu ketawa-ketiwi lagi kaya orang kesurupan. That’s what kids are. What they aim is to laugh all day, sing all the time, make fun of one another and other things. Tapi tenang, jangan nebak-nebak ya kalo foto diatas salah satunya adalah gue waktu kecil. Bukan.

Waktu kecil dulu, gue gak pernah berharap banyak dari video games. Di rumah, bokap beliin PlayStation (PS) karena ulang tahun abang gue yang paling tua. Gak jauh dari rumah, banyak disana-sini rental PS yang gampang banget kejangkau. Gue gak pernah tertarik untuk main game, even sampe sekarang. I don’t see anything interesting on that little black box plugged in with some sticks to play.

Dulu waktu jamannya masih komputer pentium 98/99, gue masih tertarik banget main Solitaire, sejenis game kartu kocok yang kalo lo sekali main pasti langsung ngerti. Sesambil mantengin layar komputer, gue sesekali ngelirik ke abang yang lagi asyiknya main dan gak lepas pandangan dari layar TV. Setiap hari pemandangan itu gak pernah berubah. Sampe akhirnya, ada salah satu temen abang yang minjem stick PS, karena keluarga gue adalah satu-satunya orang yang baru punya game macam itu. Kalo yang lain mungkin masih jamannya Tetris Pack atau Gameboy atau bahkan yang lain.

Abang gue langsung bela-belain pergi ke rental PS deket rumah. Sejurus gue samperin dan tanya,
“Kok main di rental? Kan kita punya PS?”
“Sticknya lagi dipinjem sama temen gua.” katanya singkat. Sambil lanjut menghadap ke layar TV.
“Yaudah kenapa lu ga nungguin di selesai main aja? Emang lama?”
“Udah tanggung. Save-an game gua bentar lagi juga udah mau tamat kok!”
Gue menghambur keluar dan pergi ke rumah.

Alhasil, bokap marah dan entah apalagi kejadiannya.

Sekarang PS 2 yang udah dari kapan tau itu entah kemana perginya. Entah disimpen atau kemana. Malah, adek gue justru ikut-ikutan kecanduan main PS. Dari Winning Eleven, PES, Grand Theft Auto, sampe Smack Down jadi bahan mainannya mereka berdua setiap pulang sekolah. Duh, miris ngeliatnya. Trus kapan ngerjain tugas sekolah dan ngerjain lain-lain? Dan malah sampe SEKARANG, laptop bahkan jadi korban. Entah ya, somehow teknologi kenapa jadi dimultifungsikan sekaligus disalahgunakan kaya gini ya? Satu sisi buat cari informasi karena fasilitas internet, dan gue ga ngerti gimana prosedurnya. Tapi belakangan ini gue liat mereka main PS udah di laptop! Semua stick dan perangkat lainnya terhubung ke laptop! Kacau. Yang ada, setiap mereka buka laptop, gue harus curi-curi waktu buat ngerjain tugas atau sekedar ngedit-ngedit dokumen buat karya tulis.

Walhasil, laptop gue jadi lemot dan cenderung lama setiap kali buka file atau sekadar nyetel lagu. See? Pembunuhan karakter dari game ternyata juga bisa merusak masa depan. Lewat laptop yang disalahgunakan inilah, semuanya jadi hancur berantakan.

Yang mau gue utarakan adalah kasus-kasus sama yang ternyata gak cuma kejadian sama abang dan adek gue.
Kaya yang udah gue bilang tadi. Imajinasi itu penting buat seorang anak kecil. When I was a kid, all I do is laugh, run, smile, catch butterflies, play around, and be anything I want to be. Imajinasi itu, ketika kita masih punya mimpi buat jadi rock star, superman, spiderman, atau bahkan raja neptunus adalah satu hal yang dirindukan. Imajinasi yang bikin kita tau bahwa anak-anak kecil bisa bermimpi besar. Gak ada batasnya.

Sekarang, di setiap sudut warnet/ruko game online di berbagai tempat didominasi oleh anak-anak. Gak sedikit yang cari-cari alasan untuk bolos sekolah cuma buat nongkrong dan main game di warnet selama berjam-jam. Kalo gak dikasih uang sama orangtua, bisa jadi nyolong. Tuhkan, udah ngelantur kemana-mana deh. Anak-anak Indonesia sekarang ngomongnya udah yang, sorry to say, brengsek dan segala macam hewan di kebun binatanglah. What is with world? Kemana mimpi anak-anak Indonesia yang udah dicandu lingkungan peradaban modern? Yang dipengaruhi pendar-pendar negatif dari media dan televisi?

It’s no use if I’m talking this repeatedly with the same exact issues, that would be trashy. Peran orangtua udah dibumihanguskan oleh era baru pengejawantahan karakteristik seorang anak. Sepenuhnya menyalahkan pemerintah juga bukan langkah yang tepat. Lingkungan yang rusak dan ketebalan iman seorang ruh yang ditiupkan dalam sebuah tubuh kecil yang memiliki mimpi telah menghancurkan segalanya.

Siapa yang rindu anak-anak yang dengan polosnya mengatakan, “Aku pengen jadi princess!” atau “Papa, beliin aku baju Spiderman bial aku bisa telbang” atau “Mamah, gendong aku deh biar aku terbang kaya Superman.”

Dimana anak-anak Indonesia?
Mimpinya terbakar abu era. Hangus dalam tangis sia. Membakar uang hasil keringat papa mama. Membunuh karakter bangsa dan agama. Yang harusnya putih dan tak pernah renta. Namun akhirnya hilang ditelan derita.

Bermimpilah setinggi langit. Raih bintang tertinggi di singgasana benakmu yang tak terhingga. Rebahkan segala pendapa harapan pemupus sia dari dampak negatif media tak berguna. Mari bermimpi! Bermimpilah besar.

Berlelah-lelah dan berjuanglah. Sesungguhnya manisnya hidup terasa setelah lelahnya berjuang.

Aku rindu mendengar mimpi anak-anak Indonesia.

Ah, Kata Siapa Jurusan Sastra Cuma Buat Cewek?

Jujur, gue tersinggung sih nggak, mau dibilang diem aja juga gak sepenuhnya demokratis, pas denger statement kalo jurusan sastra itu dominannya khusus untuk kaum cewek. Masa sih?

Hari itu gue lagi off dan di rumah seharian. Browsing dan dvd marathon sepanjang hari di dalem kamar. Gak lama, sodara-sodara jauh ย gue dateng. Mereka nanyain kabar dan disinilah cerita ini berlanjut. Bude Tuti nanya gue kuliah dimana dan ambil jurusan apa.

“Kamu kuliah dimana, Kak?”

“Di UNPAD, bude.” jawab gue sambil senyum.

“Oh, ambil jurusan apa?”

“Sastra inggris..”

Hoalah, kaya wadhon! Koe ambil sastra wong lanang kok ngambile sastra. Piye tho…
(Hoalah, kaya cewek! Kamu ambil sastra orang laki2 kok ngambilnya sastra. Gimana lho…)

Dengan senyum lagi gue bales pernyataan itu dan balik ke kamar. Galau sendiri.

Momen itu! Momen yang harusnya gue jawab, “emang kenapa kalo sastra?!” itu gue lewatkan. Gatau kenapa, pandangan orang-orang dewasa ini kok jadi makin sempit yah? Justru kalo malah pandangan gue sih, apapun jurusan atau bidang studi yang lo ambil, itu adalah garis hidup yang udah ditentukan, apa jurusan yang lo dapetin itu menentukan bakal jadi apa lo kedepannya.

Contohnya gue, gue ambil sastra inggris. Ya, dengan kehendak Tuhan kalopun misalnya gue concerned sama apa jurusan gue, pasti gue bakal jadi jurnalis, penulis atau apapun itu yang berhubungan sama sastra. O iya, dan denger-denger sih di kampus gue itu ada semacam pendalaman jurusan di semester tertentu, kaya Kediplomasian, Kewirausahaan, Kepariwisataan, dan macam lainnya. Nah, kalo udah ada pendalaman atau penekunan kaya gini sih itu beda ceritanya. Bisa-bisa lo jadi spesialis humas atau wartawan nantinya, padahal jurusannya di kesusastraan.

Trus kalo ternyata jurusan sastra atau Public Relations (PR) itu khusus buat cewek, apa cowok juga ngga boleh terjun ke dunia jurnalistik? Malah sosok public figure yang sekarang ada di benak gue dan bisa dijadikan untuk inspirasi adalah sosok cowok; kaya misalnya Chairil Anwar, Anwar Fuadi, atau Goenawan Mohammad. Dunia kesusastraan yang hubungannya dengan tulis-menulis sering disalahartikan sebagai dunia yang semata-mata buat cewek; misalnya nulis diary atau jurnal harian. Jadi banyak orang yang beranggapan bahwa kalo ada cowok masuk sastra itu justru agak melenceng, karena cowok itu pantesnya di mesin atau teknik. KATA SIAPA?

Tukang becak, ojek, pedagang kaki lima, tukang tahu gejrot bahkan pemadam kebakaran sekarang justru lebih didominasi sama kaum cewek kan? Kaya yang gue bilang tadi, who knows? Kita ngga pernah tau kita bakal jadi apa. Bisa aja hari ini gue jadi sastrawan, besok–dengan kehendak Tuhan–gue bisa aja jadi tukang reparasi komputer. Apapun jalannya, apapun caranya.

The bottom line is, no matter what gender you are, what racist you’re adressed as, everything we’re concerning about/studying about in particular has something to do with what we’re going to be in the future. You guys and I will never know or judge what we’re gonna become. Gue bersyukur gue bisa dapet jurusan sastra, karena emang mimpi gue disitu. Mimpi gue adalah bisa jadi jurnalis. Penulis yang bisa menyuarakan aspirasi gue sendiri dan rakyat tentang opini-opini terhadap suatu masalah. Karena dengan menjadi jembatan/penyalur ide–ditambah mengerjakannya dengan sepenuh hati + ikhlas–lo bakal tau manfaatnya nanti.

Gue masih tetap bersyukur bisa dapet jurusan di dunia tulis-menulis. Masalah apapun gender, ras, atau warna kulit itu bener-bener gak penting sama sekali. Malah itu bisa jadi diskriminasi. Ga ada yang lebih baik dibanding MENSYUKURI apa yang kita jalani sekarang, karena dengan BERSYUKUR, Tuhan akan memberikan lebih banyak rejeki kedepannya.

Salam.