Evaluasi Klub Bahasa

Berikut beberapa komentar mengenai cara mengajar saya di Departemen Klub Bahasa DKM Al-Mushlih FIB UNPAD dan juga komentar mengenai klub bahasanya sendiri..

“Mr. Himawan is,,, sedikit menyebalkan 🙂 tapi menyenangkan — lebih banyak menyenangkan deh — I can enjoy the class! Satu kalimat barusan mewakili 7 pertemuan klub — saya ga hadir 3 pertemuan soalnya. Banyak new vocab yang saya dapet selama klub. My friends are…berasal dari berbagai jurusan, yaa jadi punya temen baru. That’s all. Oops! Ketinggalan, semoga semester depan ada klub bahasa lagi. I wait for. Thank a lot.”

“I enjoy it learning here. My opinion about him and the language club. He is very cerdas, pembawaan materi asik. Not bored, have fun, make new friends. I have many experiences. Many value. Saran: confused. Why language club only satu semester sekali. Setahun 2 kali.”

“Since I join this club, I feel so extremely happy and enjoy it so much. I have many things here. Such as new friends — freshman and senior, and of course cool lessons from this club. To be honest,t Mr. Himawan is the best teacher I’ve ever known. But, sometimes it is rather annoying if he being late or asking personal thing or little ting harshly. But, at least thank you so much for being my tutor.”

“Selama mengikuti Klub Bahasa Inggris walaupun hanya datang 4 pertemuan saja saya merasa cukup bagus dari cara penyampaian, games, dan menjadikan peserta interaktif untuk secara berbicara bahasa Inggris. Menurut saya, metode pengajarannya tidak membuat saya takut or ngeri untuk berbicara, sehingga berani bicara. Saran: Mungkin bisa kalau peserta coba berbicara langsung dengan bulek.”

“I think selama saya mengikuti English Conversation banyak sekali ilmu yang saya dapat, feel enjoy maybe untuk ke depannya akan adalagi and lebih menarik lagi and saya ingin anggota Klub English percakapan yang sekarang tidak kenal sampai di sini mungkin untuk tidak memutuskan tali silaturahim anggota yang sekarang, ada yang main buat grup untuk kelas yang sekarang. Saya merasa enjoy juga dengan teman-teman yang ada di sini.”

“Himawan bagus kalo ngajar, bisa bikin ngerti dan ngga bikin bosen. Klub bahasanya juga kece, makasi ya udah adain les kaya gini. Di sini aku dapet temen kayak Latifah trus bisa ketemu temen yang ternyata satu daerah sama aku juga –> Teh Nimas dan Himawan. Kalo bisa buat ke depannya klub bahasa, jangan cuma setahun sekali dong, udah gitu cuma sebulan kalo bisa jedanya jangan terlalu lama gitu, trus pengajarnya udah pas banget tu kayak Himawan. Pertahankan dan tingkatkan ya 😉 Makasi klub Bahasa hihihi”

“Selama saya berada di Klub Bahasa saya lebih mudah mengerti cara berbicara setiap kalimat bahasa Inggris, dan lebih terangsang berbicara bahasa Inggris, tapi saya masih kurang mahir/bisa dalam kosakata. Jadi saran saya dalam klub bahasa dikasih cara agar lebih dilatih kosakata yang mudah.”

 

Salam.

Kata Siapa Mengajar Itu Sulit? Kata Siapa Mudah?

Barangsiapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan mereka apa yang belum mereka ketahui. – Ibnu Abbas R.A.

Menjadi guru itu merupakan hal yang gak terlalu sulit tapi gak terlalu mudah juga. Selama beberapa bulan belakangan ini, kegiatan saya menjadi guru bisa dibilang pengalaman yang punya banyak esensi. Gak cuma untuk saya aja, tapi juga untuk orang-orang di sekitar saya, insya Allah.

Saya, seperti yang udah ditulis di postingan sebelumnya, ditawari mengajar sebagai pembimbing Bahasa Inggris dengan fokus speaking di dua tempat sekaligus: Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD dan SMAN 1 Jatinangor sembari menikmati masa-masa sibuk di kampus. Gak cuma harus menikmati masa-masa sibuk di semester dua ini, tapi juga organisasi dan tugas, yang banyak menguras tenaga, waktu, dan…uang. Terutama yang terakhir, karena pengeluaran untuk acara MAKRAB Fakultas, Onederland, yang sudah terlaksana hari Rabu, 8 Mei kemarin, mengharuskan saya–sebagai koordinator dekorasi–mau gak mau harus keluar duit. Dan ini nyiksa…he he.

Dengan begitu, saya harus bagi-bagi waktu seefektif mungkin buat menyeimbangkan itu semua. Dan alhamdulillah, jadi guru itu, meskipun hanya guru “pembimbing”, benar-benar membuka mata saya. Pernah pas pertama kali saya  ngajar di FIK, masuk kelas, dan ngeliat kebanyakan muridnya itu perempuan semua, saya langsung agak terlonjak gitu. (Atau justru mungkin mereka yang agak kaget karena tau kalo pembimbingnya cowok, mengingat di FIK cowok itu jarang-jarang). Ada sekitar 20 orang di dalam kelas. Mereka masing-masing punya karakter dan keunikan masing-masing. Ada yang gampang nangkep, susah nangkep, ngeyel, dan bahkan justru ngelawan. Pas awal-awal, otomatis saya harus bisa mengondisikan situasi di kelas itu gimanapun caranya. Saya mikir keras gimana caranya biar mereka semua bisa nyatu dan gak canggung dalam menghadapi satu sama lain. Walhasil, saya pun buat game-game kecil yang mendorong mereka untuk diskusi. Dan ini berhasil!

Akhirnya, setelah saya perhatikan progress kedekatan masing-masing siswi saya selama beberapa kali pertemuan, ternyata ada perubahan dari diri mereka. Yang pas awal-awalnya cenderung diam dan pasif di kelas, sekarang jadi lebih aktif nanya atau lebih sering diskusi sama temen lain. Dan yang tadinya demen banget ngomentarin apa yang saya ajarin atau lawakan dadakan yang saya buat, sekarang jadi lebih kemayu dan gak asbun ‘asal bunyi’ lagi. And I’m grateful for that. Makanya, setiap pertemuan di kelas pasti selalu ada game. Ya game apa aja. Yang bisa improve vocabulary, reading skill, speaking skill, dan writing skill mereka. Karena menurut saya metode belajar yang cuma dicekoki sama teori aja dan tanpa praktikum, bisa dibilang hanya memenuhi 65% proses belajar yang efektif. Mungkin beda dengan teman-teman yang lain, tapi mungkin juga sama. Entahlah, cara orang belajar kan berbeda-beda.

Nah, dari sinilah muncul kesadaran dalam diri saya.

Lagi di kampus, mengalami hal yang sama: belajar. Bedanya, kalo di dalam kampus saya diajar, kalo di luar kampus saya mengajar. Dan keduanya menggunakan media dan perangkat yang sama: keempat skill yang sudah disebutkan tadi. Akhirnya, mata saya terbuka kalo ternyata ngajar itu…capek iya, tapi seneng juga. Gak terlalu mudah dan gak terlalu sulit. It all depends on how well you manage the class yourself.

Karena ngajar, saya jadi lebih tau gimana sulitnya perasaan seorang guru menyatukan seluruh kelas yang punya karakter beda-beda.
Karena ngajar, saya jadi lebih ngerti pent-up feelings yang seorang guru rasakan setiap kali ngeliat muridnya selalu asbun dan ngomentarin hal yang gak penting dari ucapannya sendiri.
Karena ngajar, saya jadi lebih tau ternyata persiapan yang matang, seperti mempersiapkan materi dari gak cuma satu bahan referensi aja dan teknik public speaking yang cakap, sangat dibutuhkan oleh seorang guru.
Karena ngajar, saya jadi lebih ngerti perasaan manusia. Apakah cuma si murid A yang ngerti, sementara yang B ngerutin alis pas saya lagi jelasin, terus tiba-tiba si C, D, dan E sibuk ngobrol dan ngerumpi sendiri? Saya pun jadi lebih peka sama mereka. Dan pada dasarnya juga, di dunia ini kita, pada hakikatnya, belajar dan diajar. Jadi, kehidupan sekolah/kampus itu bisa dibilang merupakan miniatur kecil dari sebuah kehidupan dunia. I don’t know.
Karena ngajar, saya jadi lebih bisa tau karakter temen-temen saya di kelas karena secara gak langsung, itu sama aja kayak saya mencoba memahami karakter murid-murid saya. He he.
Karena ngajar, saya bisa melihat visi utama saya sebagai manusia: mengamalkan apa yang udah saya punya.

Saya masih agak miris kalo ngeliat banyak headline di koran-koran nasional yang selalu menyebutkan bahwa guru-guru di SMA ini ngajarnya ‘gaji buta’. Istilahnya gitu. Maksudnya guru gaji buta itu mereka yang cuma dateng, ngasih tugas, abis itu keluar kelas dan ngopi-ngopi sambil ngerokok di pojokan ruang guru. Terus tanggung jawabnya itu dikemanakan?

Saya lebih miris kalo ngeliat ada guru yang masih suka ngutuk-ngutuk atau pake kata-kata kotor di dalam kelas. Ya oke it sounds cool buat beberapa orang, tapi ya please-lah. Jangan setiap kali pertemuan menggunakan kata-kata yang gak pantas didengar. Karena gimanapun, apa yang guru ucapkan pasti langsung nempel di benak murid-muridnya.

Tapi wallahualam. Saya pun berani bilang kalo saya adalah guru pembimbing yang masih amatiran. Tapi terus mencoba untuk terus menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Tetap amalkan ilmu. Punya ilmu tapi gak beramal? Jangan sampe 🙂
Mulai dari yang kecil-kecil, seperti menasihati dan mengajarkan dengan ikhlas, itu udah cukup buat bikin hati ini tenang kok.

Salam.