Babak Eliminasi Putra Putri Padjadjaran 2013

Hari ini merupakan hari yang gak bisa kebeli. Ada SESI PRESENTASI dan FASHION SHOW dari Putra Putri Padjadjaran 2013! Wohoo, this would be my umpteenth presentation session, but my very very first time in fashion show! Hari Jum’atnya, keluar dari  kelas Translating, gue langsung kepikiran, kira-kira slide gue kebanyakan gak yaa? Atau kira-kira nanti gue bakal bisa nerapin semua teknik-teknik berbicara yang pernah diajarin DJ Arie gak ya? Halabala. Gue harus optimis dan seburuk apa penampilan gue nanti di depan panggung, yang penting senyum, senyum, dan senyum. Ha ha ha.

Akhirnya, keesekona paginya, gue coba untuk dateng tepat waktu jam 07.30 di Auditorium Bale Santika karena dapet jarkoman dari Kang Kim, delegasi dari D3 FMIPA, dan sekaligus ketua angkatan PPP tahun ini, harus dateng tepat jam 07.30. Bahkan kalo bisa lebih awal. Gue dateng dan pas masuk ternyata belum ada siapa-siapa. Gue cuma ngeliat beberapa panitia yang lagi sibuk ngurusin operator dan in-focus. Ada musik kencang mengiringi. Dan ternyata gue (eh John maksudnya) dateng paling awal.

Daripada menghabiskan waktu di dalem tanpa melakukan apa-apa, gue mutusin untuk shalat duha terlebih dahulu. Gue doa gimanapun biar presentasi dipermudah, dan pas fashion show ga keserimpet atau kesandung. Duh! Ga kebayang deh haha. Setelah shalat, gue telfon bokap, nanya kabar beliau dan gimana keadaan rumah. Since, FYI, I haven’t called him for weeks, and I have no idea why he still doesn’t call me at the first place. Gue pun langsung ngerasa gak enak hati sama beliau karena gimanapun, harusnya gue yang nelfon duluan. Mungkin ini terjadi karena gue terlalu absorbed sama kehidupan kampus, tugas, dan lain-lain, yang bahkan, hari Minggu kayak gini aja, gue harus tetep keep up sama textbooks dan internet. Life’s sweet in its own way, sepakat?

Anyway, setelah itu gue balik ke dalam auditorium dan udah cukup banyak delegasi dan penonton. Salah gue juga sih hari Kamis gak sempat hadir dateng untuk Gladi Resik buat hari ini. Jadinya, kaget dan mau gak mau, gue harus latihan sendiri sambil nanya-nanya sama anak-anak yang dateng kemarin. Sekitar jam 9, kami pun disuruh kumpul di backstage, dan di-briefing oleh panitia. Kami di-plot untuk urutan presentasi dan fashion show. FIB (gue dan kak Sheila) dapet urutan ke-9 untuk presentasi dan urutan ke-15 untuk fashion show. Mhihiiw, masih lama waktunya, tapi juga makin deg-degan dibuatnya. Gue malah mikir gimana caranya biar semua ini bisa cepet selesai.

No eye contacts staring at me.

No failures.

Bomats. Gue pengen semuanya selesai! Aaaaaaaaaaaa.

Dag dig dug berkepanjangan jadinya kan.

Berlenggak-lenggok di atas catwalk dan disuruh pose selama sekian detik, menjual apa aja yang ada di tubuh kita, even itu cuma gesture, atau senyum, atau ekspresi, semua itu bikin gue mikir kalo, okaaay, jadi dunia fashion kayak gini. All I know, from my narrow-minded perspective about fashion, is that models walking down the catwalk on the TV ONLY WALK. Ternyata gak cuma itu. Gue baru ngerasa ternyata yang namanya “cuma jalan-jalan doang” itu ada hukum-hukumnya sendiri. Kayak, pas lagi jalan, lo harus ngeliat ke mana, dan tangan lo harus gimana, kaki lo dibuka selebar apa, dan bahu lo harus setegak apa. Semua itu ada maksudnya. Gila!

Gue juga belajar kalo ternyata dalam dunia fashion itu, gimana kita jalan itu menunjukkan siapa diri kita. Di sesi pelatihan yang ke-2, kang Diki Zulkarnain, model profesional, mengajarkan kami bagaimana caranya berjalan di atas “altar kucing” itu. Cara memperlakukan apa yang kita pake. Pantes gak sih kalo pas pose itu cuma sekadar senyum dan diem aja. Wah, banyak lah pokoknya yang bisa gue petik dari ajang ini.

Waktunya presentasi! This is the time. Gue mempresentasikan di bawah tema UNPAD SATU dengan topik kebudayaan. Judul yang gue angkat adalah “Paguyuban dan Komunitas sebagai Representatif Kesatuan.” Ada tiga juri di depan. Kang Diki, Kang Zul dari BEM KEMA UNPAD, dan pengganti kang DJ Arie. Gue jalan pelan-pelan menuju MC untuk ngambil microphone, dan pas mic udah dipegang, gue melempar pandangan ke arah penonton, ke arah tribun auditorium bale santika, dan…GILA! Segede inikah ruangannya? I never thought that the room was incredibly spatial! But I settled. Gue coba tenang, dan akhirnya mulai bicara.

Ini foto gue waktu presentasi, diambil oleh seorang panitia FORSI 2013:

Presentasi Himawan

Gue presentasi dengan menggunakan bahasa Inggris dengan aksen British. Tadinya, gak mau ngomong pake bahasa selain bahasa Indonesia, karena juga gak ada pengumuman dari panitia sebelumnya kalo presentasi harus pake bahasa ini atau bahasa itu. Tapi, pas ngeliat delegasi putri dari FIKOM yang juga pake bahasa Inggris tadi, yaudah…go on. Gue juga pake bahasa Inggris.

Overall, presentasinya berjalan mulus. Pertanyaan-pertanyaan dari dua orang juri juga bisa gue terima dan respon. Sekarang, tinggal menunggu fashion show.

Singkat cerita, gue gak nervous, tapi juga gak santai untuk berlenggak-lenggok di depan para penonton. Bersama kak Sheila, diiringi musik yang upbeat, nama gue akan dipanggil dan gue harus berjalan a la model-model panggung dengan “altar kucing”nya yang wah. And it worked pretty well! Gue berhasil buka jas dan menyelempangkannya di bahu selama, mungkin, kurang dari 10 detik, which is kind of cool. Sayangnya, gue belum dapet hasil dokumentasi dari panitia pas kami lagi di atas panggung. But I’m sure it will be posted anwhere sooner or later. Hiks..

Oke, setelah fashion show kelar, gue ijin sama panitia untuk ngajar conversation di FIB jam 4. Awalnya, kang Gege agak keberatan karena pengumuman 10 pasangan terbaik akan diumumkan sore ini juga, tapi akhirnya beliau menyetujui kepergian gue. Ha ha. Gue optimis-pesimis mengenai lanjut atau nggak. Anyway, gue juga gak terlalu mentingin lah gue maju atau nggak, yang gue cari itu pengalaman dan teman-teman barunya. Abis, kapan lagi, gue bisa nyatu sama anak-anak lain dari fakultas lain, yang bisa dibilang gak cuma hebat di bidang akademis, tapi juga di bidang nonakademis. But I kinda have to be pretty selective, too. The only difference would be that kalo gue maju, berarti gue harus nyiapin sesuatu untuk ditampilkan dalam sesi Talent Show. Juga, harus mulai banyak-banyak belajar untuk sesi Tanya Jawab dari para juri. It’s semifinal!

Gue juga sebelumnya udah sms kak Sheila kalo misalkan gue masuk untuk minta dikabarin, tapi sampe setelah Isya, gue gak dapet sms dari siapapun. Yaudah, gue inisiatif untuk buka twitter FORSI UNPAD 2013 dan ngeliat siapa tau udah diumumin semifinalisnya. Dan….alhamdulillah (juga astaghfirullah) gue masuk 20 besar!

Which means…gue harus nyiapin sesuatu untuk talent show. Hmm, bakal ngapain ya?

Hi hi. Tunggu aja minggu depan.

I’m looking forward to seeing you there, lads and lasses.

Salam 🙂

Advertisements

Pelatihan Sesi 1 Putra Putri Padjadjaran 2013

Kalian adalah duta dari  masing-masing fakultas kalian. Kalian adalah panutan. Maka, jadilah orang yang unik! Jadilah orang yang berbeda dengan mereka, jangan yang biasa-biasa saja! – DJ Arie, saat menyampaikan materi Public Speaking di Pelatihan Putra Putri Padjadjaran 2013.

Selamat malam,

Subhanallah! Hari ini melelahkan tapi seru. Yap, hari ini adalah hari pertama pelatihan Putra Putri Padjadjaran 2013. Acaranya diadakan di Aula Gedung 1 Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD. Mengingat acaranya dimulai pukul 8, aku segera membatalkan agenda jogging rutin yang biasa kulakukan tiap pagi. Hmm. Tak apalah, demi acara ini… Hehee. Seharusnya aku masuk bareng dengan Kak Sheila, karena semalam, sms dari panitianya, “Jangan lupa datang dengan pasangannya ya!” Tapi, karena aku memakan waktu lama dalam perjalanan menuju FKG, kak Sheila memutuskan untuk masuk duluan.

Ketika masuk dalam aula besar itu, sudah terlihat sekitar 30 orang duta dari masing-masing fakultas. Semuanya berpakaian serba putih-hitam dan sepatu pantovel. Tampak rapi dan klimis. Semua sepertinya sudah hadir. Aku langsung beranjak menempati kursi yang sudah ditempati Kak Sheila. Oh! tinggal menunggu dua pasang dari fakultas di Dipati Ukur, yang belum hadir: Ekonomi dan Hukum. Mungkin mengingat macet yang sulit dihindari dan kesediaan transportasi yang cukup terbatas pada pagi hari, jadi kami yang sudah di dalam ruangan harus menunggu lagi. Namun begitu, sebelum acaranya dimulai, masing-masing pasangan dari fakultasnya akan melakukan sesi foto terlebih dahulu. Sungguh bangga rasanya bagi saya bisa mewakili Fakultas Ilmu Budaya dengan ajang seperti ini.

Acara inti pun dimulai.

 

Materi pertama yaitu sesi sharing dan motivasi, dibawakan oleh kak Winda Sarasayu . Beliau merupakan mahasiswi S2 Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Sebelum beliau masuk, saya mendengarkan paparan Curriculum Vitae teh Winda oleh Kang Gege, sang MC. Sungguh menarik perhatian saya ketika melihat bahwa kak Winda baru berumur 21 tahun, ia sudah berada dalam jenjang Strata-2 dan pernah mendapatkan prestasi dengan mahasiswi dengan IPK tertinggi (3,81) di fakultasnya. Dalam hati, saya pun membayangkan bagaimana rupa asli kakak yang pernah memenangkan kontes pageant Mojang Pimilih Jawa Barat tahun 2011 ini.

Ternyata saya tidak keliru. Kak Winda tampil ke dalam aula dengan menggunakan gaun kebaya anggun berwarna merah dan rok panjang batik dengan motif yang begitu memikat hati. Pembawaannya yang ia iringi dengan senyum sebelum menyapa kami, menjadi kesan tersendiri bagi saya, dan yakin bahwa materi yang beliau sampaikan akan menjadi diskusi yang menarik.

Setelah beliau memaparkan sedikit tentang ajang kecantikan yang pernah beliau ikuti pada tahun 2011, kami para duta pun diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman kami dan/atau memberikan pertanyaan. Banyak dari para duta yang berbagi, yang menurutku paling menarik adalah cerita dari duta Fakultas Kedokteran, John, yang tampaknya begitu bersemangat, dan memang ceritanya sangat menyentuh, sekaligus memotivasi. Juga, yang cukup menarik hati adalah cerita dari Gibran, duta dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika ia divonis tidak bisa berbicara oleh dokter, dan akhirnya mencoba dan berjuang terus-menerus, hingga akhirnya ia berbicara lancar hingga sekarang.

Inti dari diskusi oleh Kak Winda pagi tadi adalah bahwa kita harus memiliki obsesi untuk penentu target kehidupan kita. “Kalau gak punya obsesi, yaudah gak usah hidup,” katanya. Dalem ya… he he he. Beliau, yang dikenal sebagai aktivis dan senat kampus, ternyata juga mendalami ilmu pencak silat! Woah! Gak kebayang dan gak terduga-duga. Rasanya sungguh sulit, jika tidak mustahil, untuk membayangkan kalau teteh secantik dan seanggun itu sudah mumpuni bertarung pencak silat. Sungguh nilai lebih yang tak terkira.

Sayang sekali, sekitar pukul 10, diskusi dengan kak Winda pun berakhir, setelah sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan beliau. Materi dilanjutkan dengan sesi ke-unpad-an, yaitu pengetahuan umum mengenai garis besar berdirinya, yang sedang terjadi, dan rencana ke depan di kampus UNPAD. Pematerinya adalah Kang Zul (kalau tidak keliru), salah seorang menteri di BEM KEMA UNPAD Kabinet Protagonis. Beliau memaparkan kampus Padjadjaran dengan cukup detil, yang diikuti dengan berbagai curhatan-curhatan para duta mengenai kondisi fakultas mereka masing-masing, yang menurut saya lebih ke jaring aspirasi. He he. Acara pun berakhir pada pukul 11.30.

Selanjutnya, kami dipersilakan oleh kang Gege untuk istirahat, sholat, dan makan siang. Aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu karena dari pagi belum sempat sarapan. Kebetulan, sebelum lebih lama aku berpikir panjang, konsumsi sudah datang! Hihihi. Allah Maha Baik. Langsung saja kusantap hidangan yang tersedia. Baru kulanjutkan sholat zuhur.

Kami diperintahkan untuk sudah harus berkumpul di aula pukul 12.30. Kali ini, ada materi public speaking yang disampaikan oleh kang Arie dari DJ Arie School. Awalnya, aku sulit percaya bahwa penyelenggara acara ini mampu menghadirkan DJ Arie School, mengingat bayanganku sekolah itu sangat prestisius sehingga hanya segelintir orang yang mampu mengundangnya dalam acara-acara tertentu. Tapi, justru pemateri dalam sesi kali ini adalah pemilik sekolah itunya langsung Wah! Sungguh tak terbeli pengalamannya.

Selama kurang lebih 3 jam, kami dijejali materi Public Speaking. Tidak hanya itu, kami juga belajar secara mendalam bagaimana mengatur jestur tubuh, tangan, mata, dan posisi kaki ketika sedang berdiri saat presentasi. Mengingat beberapa minggu ke depan, di babak eliminasi, kami para duta akan menjalani sesi presentasi dengan tema UNPAD Satu. Ngomong-ngomong, UNPAD Satu sendiri adalah sebuah jargon yang sekaligus adalah konsep program dari BEM KEMA UNPAD untuk meyatukan seluruh fakultas sebagai sebuah uniti. Tidak ada lagi pemisah antara D3 dan S1, semuanya akan menjadi satu, terangkul.

Secara keseluruhan, materi ini sangat-sangat menyenangkan. Kang Arie dengan atraktifnya membawa suasana ruangan dengan atmosfer yang begitu hangat dan ceria. Setelah makan siang, dan jam-jam tidur yang biasanya digunakan untuk istirahat, kami yang tadinya agak suntuk justru tergugah kembali untuk tetap melek dalam sesi ini. Sangat bermanfaat! Terima kasih kang Arie! 🙂

Acara akhirnya selesai pukul 16.00 tepat. Aku memutuskan untuk sholat ashar terlebih dahulu sebelum beranjak. Minggu depan, kami akan menjalani pelatihan catwalk dan materi inner beauty. Wah! Catwalk. Hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Tapi semoga pengalaman ini bisa menjadi sebuah pengalaman yang berharga untuk ke depannya. Amin.

Meskipun sudah agak lelah, aku memutuskan untuk “menengok” acara simulasi Pelatihan Pemilihan Umum (PPU) dari BPM FIB di Arboretum Utama UNPAD. Malamnya, aku dan beberapa rekan di BPM memutuskan untuk makan ke luar. Ah, sudah lama rasanya tak menghabiskan waktu di tempat ini, foodcourt Ciseke. Ah! Meskipun sudah terlampau sering makan di sini, tapi suasana kebersamaannya lah yang sebetulnya dicari, ditambah suasana ramai foodcourt Ciseke (yang memang terkenal dengan daerah anak kosan) membuat pertemuan singkat itu menjadi lebih hangat.

Sekian pengalamanku untuk pelatihan PPP 2013 kali ini. Ini baru pelatihan sesi pertama. Insya Allah akan ada cerita untuk sesi-sesi yang selanjutnya! 🙂

Salam.

Life Lately: “How Short Semester Keeps Me Alive”

Life has absorbed me so deep that I couldn’t even concentrate on one thing. Yap, alhamdulillah hari ini sudah masuk hari ke….lima bulan Ramadhan! And life still goes on. Gw bisa merasakan aura-aura bulan Ramadhan yang selalu bikin hati ini terenyuh. Tapi tahun ini, gw cuma punya sedikit kesempatan untuk bisa meluangkan waktu untuk menikmati setiap momen di bulan Ramadhan bareng keluarga. Mengingat gw ambil semester pendek dengan beberapa mata kuliah di semester 4 dan 6, mau gak mau pun harus merelakan momen-momen luang sambil baca textbooks dan bikin papersss (s-nya 3 saking banyaknya) he he.

Ya, I am taking short semester for the first time. Yang awalnya gue kira kalo gue ambil semester pendek, pasti waktu gue bakal kepake abis buat semester ini–yang harusnya bisa aja dipake untuk libur. Tapi pas ke sini-sini, gue mulai merasakan sesuatu yang gak pernah gue bayangin sebelumnya. Awalnya, gue kan gak mau ikut begini-ginian, mengingat nyokap udah wanti-wanti kalo bulan Ramadhan itu harus balik dan ngeluangin waktu full buat yang di Tangerang. Walhasil, setelah dapet beberapa rekomendasi dari senior, gue pun positif ambil Survey of American Literature, Translating Scientific Indonesian Texts, dan Further Studies in Prose, dengan estimasi biaya yang harus dipenuhi. Dan tau apa? Never has it come to my mind that I kind of like it. Gue antisipasi aja, soalnya kalo mata kuliah-mata kuliah itu gak diambil di semester ini, gue takut pas di semester nanti bakal keteteran. Seorang senior juga sempet bilang kalo semester 4 itu semester jahanam-nya Sasing lah apa lah segala macem wkwk. So, I did take the courses for not willing that to happen to me.

Dan tau apa? Gue justru merasa lebih free ngikutin semester ini. Terutama, kelas pertama Prose-nya Randy, which is, unexpectedly, a ridiculously interesting class, yang bikin gue makin betah berlama-lama di kelas. Secara lo di dalem kelas selama 4 jam cuma dengerin dosennya celoteh. And that’s kind of somewhat…unthinkable for some people, no? While I found it interesting. So, di kelas pertamanya, Randy nyuguhin kita satu film Stranger than Fiction (Will Ferrel, Emma Thompson) lalu membahas beberapa bagian penting dari filmnya untuk dijadikan bahan diskusi, ditambah kami membahas beberapa aspek dalam fiksi yang berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mengingat cerita film ini merupakan gambaran umum tentang fiksi itu kayak apa dan gimana dia bisa menciptakan atau, bahkan, mempengaruhi karakter-karakternya. It is just getting more interesting as I wondered how surprising Mr. Randy could be. Mengingat waktu semester 1 (HA!), kelas Labwork-nya random banget dan kita dibuat nunggu dalam berbagai hal, tapi pas semester dua, he grabbed my attention verily. Sumfeh. So that’s also why I’m loving studying prose even more by now. He he he.

American Literature jauh lebih menarik. Satu-satunya dan pertama kali alasan gue ambil kelas Sastra Amerika ini adalah karena dosennya Pak Ari. He he. No doubt. I mean, he shows his great appetence in teaching and expounding methods and, this time, does it again by clearly explaining what America or Americans looked like back then. I also, furthermore, adore his sharp sense of humor. Making papers, however, is no exception. Gue harus buat paper lagi mengenai teks tertentu, dan required texts mata kuliah ini JAUH lebih panjang dan kompleks dibandingkan texts waktu pas semester 1. Period.

Terjemahan Teks Ilmiah Indo-Inggris-nya Ibu Lia juga gak kalah seru. Ha ha gue masih inget waktu pertemuan pertama mata kuliah ini. Gue masuk, sama anak-anak angkatan 2010, 2009, atau bahkan 2008 lainnya, di ruangan C103. Hari itu, suara si ibu lagi habis total. Dan mau gak mau beliau harus bisik-bisik buat ngomong. Sepanjang kelas! Which is annoying, but at the same time funny as well. Mata kuliah ini cukup menantang buat gue karena ada beberapa teori-teori penerjemahan yang masih asing, kayak Calque, Loan Translation, Regressive, dan yang lainnya. But I hope that presently I could cope with the class and also Mrs. Lia very well along this semester.

Dan alhamdulillah! Nilai-nilai semester dua sudah keluar! I’ve got straight A’s at almost all subjects. Hanya tinggal dua nilai lagi yang belum masuk ke laporan penilaian. Gue gak nyangka bakal dapet nilai yang bagus-bagus. Well, I was kinda pessimistic on Phonetics and Phonology, and Translating General English Texts back then. Tapi ternyata…alhamdulillah…berbuah manis 🙂

Oke deh. Segitu dulu episode life lately-nya. Semoga kita semua bisa dipermudah dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini ya. Juga, semangat buat teman-teman yang ikut semester pendek juga, dan selamat menikmati “buah manis” yang akan kita petik di laporan nilai Semester 2. Amiiiin 🙂

Salam.

HMUN 2014, I Am Here!

Alhamdulillah. Hari Selasa lalu, 2 Juni 2013, Allah menjawab satu mimpi besarku untuk bertolak ke luar negeri: Amerika! Ya, saya sedang mengikuti program Harvard Model United Nations (HMUN), program tahunan yang memfasilitasi para delegasi dari masing-masing universitas negeri di belahan dunia untuk menghadiri simulasi sidang Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di Boston, Massachusetts, Amerika. Di sana, kami nanti akan membahas berbagai problematika yang sedang terjadi di dunia dan bagaimana resolusinya. Saya, bersama lima teman-teman lainnya dari gelombang pertama, berhasil lolos dalam dua tahap seleksi yang begitu ketat. Dua tahap seleksi yang menguras tenaga, otak, dan kefasihan dalam berdiploma. Satu lagi syarat yang memang dibutuhkan untuk mengikuti program ini adalah para calon delegasi wajib berbahasa Inggris. Inilah yang, menurut saya, membuat program ini menjadi program yang menawarkan kesempatan yang sangat jarang.

Di postingan kali ini, saya  mau coba share apa aja sih yang udah saya alami selama dua tahap seleksi yang menegangkan, sekaligus sangat menginspirasi ini.

 

The Threshold to MUN
Semua ini berawal dari saran seorang kerabat di kelas saya, Fauzia, yang nawarin untuk ikutan program ini. Awalnya, saya agak gak yakin sama sarannya, karena ngeliat para delegasi tahun lalu yang fotoya berupa spanduk dipajang mentereng di Gerbang Lama UNPAD bulan Februari 2013 lalu, itu udah bikin saya minder. He he. Tapi, gimanapun harus tetep optimis. Akhirnya, saya coba-coba cek website HMUN for UNPAD danmemang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi: harus membuat sebuah surat motivasi, esai singkat mengenai topik yang diberikan (waktu itu topiknya Perang Konflik di Suriah), dan sebuah Curriculum Vitae. Saya makin gak bisa mikir pas tau kalo ternyata deadline pengumpulan semua surat itu jatuh pada 22 Mei 2013, yang artinya 5 HARI LAGI!

Tanpa basi-basi, saya langsung buka Ms. Word dan browsing gimana caranya buat surat motivasi yang bener. Walhasil, setelah melakukan research kesana-kemari tentang topik yang akan saya bahas di esai nanti, saya pun berhasil mengumpulkan semua surat itu tepat waktu. Perasaan lega dan gembira bercampur jadi satu, karena harus ngerasain cari referensi kemana-mana dalam tempo singkat, buat struktur esai yang padan, dan harus revisi ulang agar jadi esai yang utuh. Saya bersyukur karena seenggaknya udah bener-bener bisa buat surat dan tulisan untuk sebuah program yang diakui.

Keesokan harinya, saya dapet e-mail dari Faculty Advisor-nya untuk hadir menjalani tahap pertama seleksi. Akhirnya, saya bertolaklah ke Dipati Ukur pas saat weekend, tugas kuliah menggunung, dan saat cucian lagi banyak-banyaknya. He he he. Dengan bismillah, saya bertolak ke sana jam 8 pagi, karena tau pasti bakal lama banget nunggu bus yang ke sana. Setelah hampir 45 menit menunggu bus jurusan Dipati Ukur-Jatinangor yang masih ngetem, saya kaget pas gak sengaja ketemu seorang teman di Sasing juga, Lukman, yang ternyata juga mau ikut seleksi! Akhirnya, yaudahlah kami sepakat, karena saking lamanya nunggu, untuk naik travel ke sana.

 

The First Stage
Sekitar delapan lingkaran kecil yang terdiri dari 6-10 orang sudah memenuhi Lorong Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNPAD pas saya dan Lukman tiba di Kampus UNPAD Dipati Ukur. Ternyata tinggal kami berdua yang telat! Ck ck. Setelah lapor sama seorang senior yang menggunakan jaket bertuliskan HARVARD kalo kami terlambat dan punya motif macet, saya akhirnya dimasukkan ke salah satu lingkaran kecil itu. Sementara Lukman di lingkaran lain.

Pas duduk, saya langsung disuruh memperkenalkan diri. Dalam bahasa Inggris, saya dituntut untuk menyebutkan latar belakang umum dan informasi lain yang perlu diketahui teman-teman lain di lingkaran itu. Saya inget waktu itu cuma pake kaos item, celana bahan warna item, dan sepatu kulit warna cokelat favorit saya. Simpel bin simpel. Terlepas dari itu, setelah masing-masing kami diberikan kesempatan untuk memberikan pidato singkat mengenai topik Suriah selama lima menit, kami pun berdiskusi dengan satu sama lain membahas tentang resolusinya. Karena saya bukan berasal dari latar belakang politik, saya mau gak mau harus ‘nyemplung’ ke dalam pikiran-pikiran politis orang-orang di sekitar saya ini dengan wajah tak berdosa. Mengingat yang ada di lingkaran itu, yang dari Fakultas Ilmu Budaya cuma saya, 97% sisanya dari FH atau FEB. Plak! Bakal kebanting gak, ya? Pikir saya awalnya. Tapi, lama-kelamaan pikiran itu pun saya buang jauh-jauh pas inget sebuah pepatah yang sangat umum didengar, “Gak ada yang gak mungkin.”

Gak sadar, saya pun tersenyum. Pasrahkan aja.

Setelah diskusi dan deliver speech masing-masing, saya diwawancara secara personal dengan seorang faculty advisor-nya. Saya ditanya mengenai kesibukan–organisasi atau kepanitiaan yang sedang diikuti–dan kira-kira gimana kalo saya diterima, saya bisa nggak ngatur jadwal dan waktunya? Mengingat selama berbulan-bulan ke depan, akan ada pelatihan intensif dan lain-lain, yang tentu akan menguras banyak waktu, uang, dan pikiran. Katanya gitu. Saya pun bilang kalo saya positif insya Allah bisa mengatur semua itu. Dan saya yakin pasti Allah mendengar apa yang saya ucapkan 🙂

Keesokan harinya, saya dikabari lewat e-mail bahwa saya lolos tahap pertama. Subhanallah. Saya, pas saat itu, gak terlalu excited karena ini masih tahap pertama. Saya kira bakal ada tahap-tahap selanjutnya yang bakal makan waktu, kayak tahapnya sampe berbelas-belas gitu. Jadi, saya mutusin untuk gak terlalu girang. Hmm. Abis itu, saya langsung tanya Lukman gimana pengumumannya. Ternyata, sayangnya, dia belum lolos. Oya, dan ini juga sebetulnya masih gelombang pertama. Belum nanti yang gelombang kedua. Wah, pikiran-pikiran aneh sering banget deh muncul waktu itu. He he. Tapi, tetep. Pasrah 🙂

 

The Second Stage
Gak lama setelah para future delegate diumumkan untuk tahap pertama, dari e-mail udah langsung dikabarin bahwa untuk menuju tahap kedua, kami wajib membuat sebuah Position Paper sesuai dengan negara mana yang kami wakili. Paper ini dibuat untuk membahas topik yang sekarang sedang terjadi, kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan efek yang sekarang, sama resolusinya gimana. Kali ini, topik utama yang diberikan adalah Nuclear Safety dan Atomic Radiation Effects. Berat ya. Di e-mail-nya juga, faculty advisor yang baik ini juga turut menyertakan study guide tentang sejarah singkat topik ini, yang juga sangat membantu saya memahami masalahnya lebih baik. Ya, at least, pas presentasi di depan nanti gak terlalu gagap mau ngomong apa. Hee.

Dua, tiga, empat kali saya  baca berulang kali study guide itu, tapi tetep masih belum dapet gagasan utamanya. Saya mewakili negara Italia. Mau gak mau, saya pun harus research topik yang bersangkutan dan hubungannya sama negara itu. Saya bertolak ke perpustakaan, internet, dan buku-buku bacaan untuk caritahu sebanyak-banyaknya tentang kemanan nuklir dan efek radiasi di dunia, dan voila! Jadilah Position Paper saya dalam tenggat waktu empat hari. Awalnya, gak terlalu yakin apakah saya memasukkan pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dijawab di paper atau nggak. Saya lebih mentingin koherensi waktu itu. He he. Tapi, tetep optimis deh.

 

Nerve-wracking, Mind-bending Mini-Caucus.
Saya tiba di Dipati Ukur (lagi) hari Sabtu, 1 Juni 2013 (yang juga kebetulan bentrok sama satu acara DKM Al-Mushlih FIB, Bahasa Bicara, di mana kebetulan saya jadi pengiring acaranya) jam 2 siang. Saya disuruh duduk menunggu sama calon delegasi lainnya di pendopo gedung C FEB. Sekitar 15 menit menunggu, nama saya dipanggil. Wawancara pun berlangsung. Saya disodorkan estimasi dana untuk tiket keberangkatan, visa, biaya penginapan hotel, jaket Harvard, dan tur keliling Amerika. Awalnya, saya kaget karena estimasi dana yang diajukan cukup banyak. Dan saya belum konfirmasi ke orang tua. Tapi, setelah negosiasi dan tanya beberapa informasi mengenai dana dan sponsor ke faculty advisor-nya, saya pun agak bisa bernapas lega.

Setelah itu, kami disuruh menunggu di sebuah ruangan besar yang agak remang. Kami akan menjalankan mini-caucus! Mini-caucus ini adalah simulasi sidang PBB benerannya. Ini merupakan hal yang paling berkesan buat saya, tapi juga menegangkan. Setelah menunggu selama 20 menit (sekitar pukul 3 sore) kami pun masuk ke salah satu ruang kuliah di gedung A FEB. Itu merupakan ruangan kuliah terbesar dan terkeren yang pernah saya  masukin! Beneran. Jadi tuh, bentuk ruangannya seukuran kayak ruangan bioskop mini. Kursi-kursinya ditata mencuat ke atas, menghadap ke panggung kecil di depan kelas, dan dibuat satu-satu. Lebih lagi, kursi ini bisa dilipat! Padahal itu terbuat dari kayu. Bener-bener gak ada yang lebih keren deh dari itu.

Setelah semua delegasi duduk, dan para faculty advisor mengikuti duduk di bagian belakang, mini-caucus pun dimulai. Aturan main simulasi sidang ini pun dibacakan, dan keadaan berubah jadi semakin tegang pas tau ternyata kita harus deliver speech selama waktu yang ditentukan oleh Chair (ketua)-nya. Beliau mengurutkan negara-negara mana yang akan dimasukkan ke dalam General Speakers List. List ini dibuat untuk mengetahui urutan delegasi mana yang duluan untuk mengutarakan speech-nya tentang topiknya secara umum. Saya dapet urutan ketiga.

Setelah lima negara dari delegasi menyampaikan speech-nya, harus ada tiga motions (topik) yang diajukan dari masing-masing delegasi. Apa aja. Tapi tetap berkenaan dengan topik nuklirnya. Dan setelah tiga motions ditampung, forum harus memilih motion mana yang akan dibahas. Dan ini yang menarik! Yang membuat ini menarik sekaligus menegangkan adalah bahwa kami harus membuat outline pidato secepat mungkin! Karena kalo pas Chair-nya manggil negara yang kita wakilin tapi kita gak maju, maka ada beberapa poin yang dikurangi. Dan saya gak mau itu terjadi. Ini negangin bangetlah!

Secara bersamaan, selain buat outline, mau gak mau kan saya harus mikirin bahasa dan frasa formal dalam dunia diplomasi, which is extremely challenging. Pada saat yang sama juga, saya harus mikirin grammar dan tenses yang digunakan. Moreover, you stand there, delivering your speech, while teens of eyes staring at you in indescribable ways. Believe me………it was……….as crazy as it is. But it was super fun though 🙂

Akhirnya, setelah sekitar 1 jam 30 menit menjalani mini-caucus, kami pun diberikan kesempatan untuk mengutarakan kesan dan perasaan-perasaan yang dialami tadi. It was nerve-wracking and mind-bending. Saya juga bilang bahwa ini bukan kompetisi, bukan mau nunjukkin siapa yang paling hebat atau fasih bahasa Inggrisnya atau paling dalem ilmu politiknya, tapi tentang gimana kita bisa berdiskusi bareng-bareng untuk menyelesaikan sebuah  masalah yang ruang lingkupnya sudah mencakup dunia global. So, no hard feelings, no pent-up feelings, no worries. We’ve all done our best, pals. 🙂

 

The Announcement
Perasaan saya, waktu pulang ke Jatinangor, campur aduk. Seneng, optimis, sedih, takut, deg-degan. Tapi semua itu jadi hilang pas lagunya Glenn Fredly yang “Malaikat Juga Tahu” terdengar mengiringi perjalanan pulang. He he. Dan saya pasrahkan aja semua hasilnya, kalo memang diterima berarti itu memang sudah takdirnya, kalo belum diterima, mungkin Allah punya rencana lain yang jauh lebih baik.

***

Saya masih ngablu dan ngawang-ngawang pas ada bunyi sms masuk jam 00.21.

Ada tiga sms. Saya langsung buka dan ada satu sms dari nomor yang gak saya kenal, yang bilang, “Congratulations! You’re selected as one of the delegations of Universitas Padjadjaran for HNMUN 2014!” Subhanallah. Saya gak bisa ngomong apa-apa dan langsung beralih ke dua sms yang lain, karena masih gak percaya. Dari dua orang kerabat, “Wan! Selamat ya lo ke Boston! :)” saya makin gak bisa ngomong apa-apa.

Tanpa terasa, tangan saya tiba-tiba gak bisa gerak dan tubuh saya bergetar hebat. Saya langsung ambil air wudhu dan shalat tahajud. Puji syukur. Puji syukur. Sesembari air mata ini turun. He he. Sungguh Allah Maha Mendengar. Subhanallah. Paginya, saya langsung kabari orang tua dan beberapa relatif.

***

Ya Allah, ridhoi aku untuk berpijak di belahan benua ciptaan-Mu.
Untuk menggali kebesaran-Mu dan menuntut ilmu hingga waktu yang tak menentu.
Permudah aku untuk bisa bertahan hingga Februari 2014.
Aku akan bertemu orang-orang baru, dari belahan dunia baru.
Jika memang ini jalan-Mu, berikan aku yang terbaik dan jadikan aku yang terbaik untuk terus bersandar memahami jalan-Mu.

Ibu dan Bapak. Teman-teman. Kerabat. Sahabat. Orang-orang asing yang sampai sekarang saya belum hafal namanya. Terima kasih banyak.

Boston, I’m coming!
Bismillahirrahmanirrahim.

Salam hangat,

Himawan Pradipta.