Hasrat Tak Dikenali

Travis by SharonStellarLight
“Travis” oleh Sharon Stellar (deviantart)

Malam itu aku seharusnya tidur. Baju belel yang biasa kujadikan sarung untuk penepis dingin belum juga tersentuh. Cokelat panas yang asapnya sudah tak meruap mulai protes ingin segera masuk perut, tapi kubiarkan dulu. Karena ada yang lebih haus untuk protes, yang belum pernah kurasakan sejak wali kelas SD-ku mengatakan bahwa kelas akan study tour akhir pekan nanti. Sesuatu yang mengubah asap cokelat panasku dan melukisnya menjadi langit. Sesuatu yang mematikan nalar, meluruhkan alasan, dan menjatuhkan harga diriku sebagai makhluk yang sempurna di antara makhluk lainnya.

Aku benar-benar harus tidur, tapi rasa kantuk dan jengah terlanjur kalah telak dengan rasa penasaran. Bukannya aku ini tidak punya rasa malu, tapi aku ingin pembuktian. Pembuktian atas pandanganku yang sempit dan sok tau tentang ruang temu viral. Foto yang kupasang (dan dia pasang) bisa saja membuat darah berdesir dan tangan untuk menyentuh, tapi dunia begitu membosankan. Kalau hanya menikmati layar dan apa yang terpampang di muka. Maka, aku pergi ke balkon lantai 2 hanya untuk menikmati udara segar malam, tapi sebenarnya untuk membunuh rasa gugup yang tak mau pergi.

Tanpa sadar, kupegang pagar yang membatasi balkon dan udara kosong di atas halaman dengan kedua tangan. Kutegakkan bahu sambil memastikan tak ada tulang punggung yang melenceng dari jalurnya. Kuyakinkan tubuhku untuk berdiri tegap dan tungkai kaki lurus menghujam bumi yang, seperti kalian juga, mungkin sedang bingung apa yang akan kulakukan. Lalu pelan-pelan, kuturunkan tubuhku sampai kedua tangan terlipat dan bermuara pada siku. Sampai kuyakin otot sudah menegang, baru kunaikkan lagi. Setelah 10 menit, aku berkata tanpa membuka bibir: “Aku siap.”

Kami bertemu di persimpangan jalan, berjabat tangan dan mulai mencoba memasuki dunia satu sama lain, tanpa harus merasa seperti orang asing. Kalau ada siapapun yang berani membayar paling mahal jabatan tangan pertama itu, aku takkan memberinya kesempatan. Ia terlalu indah untuk digantikan dengan materi lainnya. Cukup wajahnya saja yang bisa melukis langit pribadiku. Maka, kutawarkan ia minum setibanya sampai di tempatku. Tapi ia tolak mentah-mentah. Saat itu aku tau, ia tak mau aku jadi budaknya. Meski saat ini aku sudah diikatnya kuat-kuat, sampai tak berdaya.

Pertanyaan pertama yang kulontarkan padanya saat di kamar adalah: “kenapa kau ikut-ikut main beginian?” Alasanku adalah bukan karena aku hendak mengumpulkan informasi dari orang-orang yang sempat kupandang sebelah mata. Bukan juga untuk menghakiminya. Tapi karena aku tak ingin merasa sendiri.

Ia pun menjawab:

“Sejak kecil, ibu adalah orang yang paling sering menemaniku. Aku tak pernah bertemu ayah. Tak pernah tau rupanya, perawakannya, karakteristiknya. Aku bahkan tak pernah liat fotonya. Ibu tak pernah memberikanku kesempatan, dan bodohnya, aku juga tak ingin meminta. Aku merasa sosok ibu sudah cukup. Meski terkadang aku agak kesal dibuatnya, memintaku melakukan berbagai hal berulang-ulang. Membangunkanku shalat subuh saat waktunya dan melakukannya lagi bahkan saat aku sudah terjaga. Tapi itu tak jadi masalah karena itulah tugasnya sebagai seorang ibu.”

Untuk pertama kalinya sejak entah berapa lama, aku menjadi iba pada seorang laki-laki. Tak pernah kutemui laki-laki yang menghargai perasaannya dan merayakannya sebagai sebuah bagian penting yang harus ia jalani. Ditambah lagi, ia tak malu mengutarakan ini semua. Kebanyakan teman lelakiku enggan membicarakan hal pribadi dan malah sibuk bicarakan hal lain. Mungkin hal pribadi dianggap menyedihkan dan mengumbar-umbarnya hanya akan membuat orang lain melihatnya sebagai orang cengeng. Aku tak benar-benar setuju dengan itu.

Melihatnya di foto dan di realita membuat kepalaku pening. “Menarik” mungkin tak cukup tepat menggambarkan personalianya, tapi kurasa tak perlu lah kucari lebih jauh karena aku menikmati kepeningan mendefinisikannya. Sebelum sempat sadar, kubiarkan tubuh ini jatuh dalam tubuhnya saat ia rentangkan kedua tangan menghadapku. Dan dalam 5 – 6 detik itu, dadaku penuh dengan rasa bahagia. Itu pertama kali aku dipeluk orang asing tapi merasa ditimang ibunda: aman saja.

Sekelebat, aku seperti meluncur dalam lorong-lorong panjang yang berisik namun menenangkan. Aku menjadi Alice yang terlempar ke tanah mimpi saat ia sadar dirinya menjelma jadi makhluk lain. Aku seperti bertemu kucing Ceshire yang menggemaskan namun penuh tipu, Mad Hatter yang bijak dan moralis, atau Red Queen yang gila tahta sekaligus oportunis.

Tapi aku jadi sadar. Sepulangnya ia dari tempatku, ia tak berkata banyak. Aku juga tak mau cepat-cepat. Biarlah hari-hari lain di depan jadi saksi tukar informasi antara aku dan dia. Biarlah malam itu jadi pertanda bahwa kami memang harus bertemu lagi. Bukan hanya antara laki-laki dan laki-laki. Tetapi juga antara satu manusia dengan manusia lain. Dan ketika lampu motornya pergi menjauh dari pandanganku, aku mulai membaurkan diri dengan duniaku sebelumnya, sambil berpikir: “Apa yang baru saja terjadi?”

Lalu, seperti Alice, setibanya di dunia nyata, aku jadi makin enggan menghakimi.

Yang Terlewatkan di Komuter dari Stasiun UI

img_20170223_113740

23 Februari 2017. Sore itu komuter padat. Jarum panjang jam mengarah menuju angka 5. Semua orang, laki-laki, perempuan, anak-anak, menempelkan ranselnya di dada masing-masing, memeluk erat agar tak ada tangan nakal yang sudah terlalu lama tak pegang barang berharga. Beberapa orang tampak mengenakan penutup mulut dengan warna bervariasi. Ada yang choral, turquoise, hijau tosca, tapi kebanyakan warna hitam mutiara. Entah untuk menahan lubang hidung dari hawa sejuk pendingin ruangan atau menutup wajah agar tak jadi pusat perhatian orang-orang.

Beda cerita dengan yang duduk. Dua kabel tipis berwarna putih kusam yang entah sudah dimakan keringat saat lari pagi entah bentuknya tak keruan digulung seenaknya di dalam kocek, dijejalkan rapat-rapat ke telinga. Terlalu membosankan jika harus mendengarkan desing kereta selama berpuluh sekian menit. Mereka memilih untuk terjun ke dunia utopis yang dihinggapi sekawanan melodi pelepas suntuk, kadang dengan vokal, atau tanpa vokal. Tergantung selera. Kalau terlalu lama keasyikan, tak sadar kepala mereka akan mengangguk sesuai ritme drum dan gitar petikan yang dimainkan seindah bagaimana Dewa Budjana bermain gitar. Tapi ada juga yang jatuh tertidur.

img_20170223_113701

Di stasiun Tanah Minggu, akhirnya aku dapat tempat duduk. Belum sampai gerbong kereta meraung pertanda akan jalan, empat manusia duduk di hadapanku, membuat garis imajiner tanda batas “aku tak kenal kamu.” Dua perempuan di kananku asyik bercerita tentang perkawinannya. Betapa bosan tapi juga menarik kehidupan pernikahannya mereka ceritakan persis dengan gaya ibuku bercerita: penuh kritik dengan dahi mengernyit, tanda diskonfirmasi, tak setuju dengan perlakuan pihak lain kepadanya, sebelum kemudian mengatakan penuh persuasi betapa pihaknya lah yang paling benar. Satu perempuan mengkritik suaminya yang bersikeras bahwa ialah yang seharusnya membuatkan mie goreng untuk isi perut saat malam hari. “Padahal saya ngantuk banget, Bu. Dia malah asik main tab.”

Siapa yang sangka, tiket 16 ribu komuter pulang-pergi jadi pengingat mata kuliah feminisme kontemporer?

Di sisi lain, sepasang tua tampak nikmat dalam diamnya masing-masing. Seperti pasangan lain di masa senjanya, mereka jadi kebas untuk membuka mulut, sekadar memulai obrolan basa-basi, seolah bermusuhan. Padahal, mau mencintai seseorang tidak selalu harus bicara satu sama lain, bukan?

img_20170223_175510_1

Saat azan maghrib, penumpang mulai menjamur. Kini yang terlihat hanya sekumpulan kepala berwarna-warni yang saling membelakangi. Jam pulang kantor, kuliah, sekolah yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Di sini, semua kegilaan jadi masuk akal dan kerinduan mulai diberi penawar. Hiruk pikuk di gedung kantor kadang membutakan, dan tak pernah ada ruang untuk sendiri. Saat menunggu tiba di stasiun berikutnya, perasaan deg-degan bertemu dengan anak, saudara, kerabat, dan orang tersayang menjadi…masuk akal. Terjustifikasi saja.

Setibanya di stasiun tujuan, aku turun dengan hati lega. Perjalanan yang sangat sebentar itu tidaklah sebentar. Ada hidup para manusia yang menjadi lucu dan menarik jika disorot pelan-pelan. Ada derita di wajah mereka yang sengaja dirapikan di balik air muka, atau di balik masker yang menutup hingga ke kening, menahan cahaya tak masuk ke retina. Aku lega, karena aku tak sendirian.[]

Perempuan yang Meniti Jalan

img_20161113_134251

Kita duduk berhadapan. Tapi kau jadi yang pura-pura.
Kau tak bisa diam. Karena mulutmu sibuk bicarakan dirinya.
Sesekali kauusap kepalamu. Panas mengingat-ingat kenangan.
Dua kali kau pejamkan mata. Jengah membahas yang seharusnya ditelan saja.

Dari seberang meja, kuhamparkan seluruh raga.
Dengarkanmu yang tak henti-hentinya bersuka cita.
Kau menangis. Kuberikan bahu.
Tapi air mataku ikut turun. Karena kau mulai bersandar di bahunya.

Saat hujan turun. Ku tak pernah ambil pusing.
Atau matahari menerik. Aku pun lebih pilih diam.
Bulan menggelinyang. Kau bilang jidatmu pening.
Dan tenggelamkan aku hingga runyam.

Birahi memang tak pernah bisa bohong.
Ada gejolak nafsu di balik tameng wajahmu.
Tersimpan keping-keping jiwa yang rindu dalam bolong.
Tapi kau tak bisa utarakan itu. Karena kaupikir aku yang seharusnya maju.

Hai perempuan yang meniti jalan.
Inikah takdirmu? Untuk terus bergelimang dalam palsu.
Hatimu yang remuk seakan lepas menjadi bulan-bulanan.
Dalam titian putih beralaskan debu.

Suatu saat nanti, mungkin aku akan berdoa:
“Ya Tuhan, jadikan aku perempuan sehari saja,”
Agar kubisa masuk dalam kepalamu dan mengorek seisinya
Dan mencari inspirasimu, sebelum kembali menjadi pria seutuhnnya.

10 November: Hari Pahlawan, Hari Jadimu

b612_20160425_132418
Lokasi: Masjid Negara Kuala Lumpur, April 2016.

Ketika orang ramai bicarakan gawai terbaru, ia lebih pilih ponsel lamanya. Abang sibuk bisik-bisik soal drone paling canggih, atau layar paling lebar biar menonton film jadi lebih puas, ia cukup bilang: “ah yang penting bisa telpon dan kirim sms.”

Ketika ibu sibuk upload foto di instagram habis selesai dinas, ia sibuk mencibir. Meski begitu, ada yang tersirat dalam hatinya: “aku juga ingin ke sana.” Ia sepenuhnya sadar bahwa kesehatannya tak lagi seperti ia dulu. Kena panas sedikit saja sudah langsung pening. Ah, itu sih salah sendiri. Kenapa tak bawa topi dari rumah?

Hingga titik  ini, aku selalu termenung: kenapa aku dan bapak jarang sekali bisa bicara tentang apapun tanpa harus mengernyit atau menghakimi satu sama lain? Kapan kami bisa bercakap tanpa harus saling sikut dalam otak masing-masing? Kapan kami bisa jalan liburan ke luar tanpa harus pura-pura pasang senyum saat hati merasa dikebiri?

Apa karena saat bayi aku terlalu disayang oleh ibu, sehingga rasa ingin memilikiku jadi lebih besar kepadanya dibandingkan pada bapak? Apa fase-fase Oedipus Complex-ku terlampau lama untuk kualami? Entahlah. Yang kuyakin, aku tak sendiri. Pasti banyak anak lelaki di luar sana yang mungkin sudah sampai pada titik benci pada bapaknya sendiri. Atau yang tak pernah sekalipun melihat bapaknya seumur hidup.

Namun begitu, ini hari ulang tahunmu, Pak. Umurmu bertambah satu di dunia, dan berkurang satu di akhirat. Pasti ada maksudnya hari ini bertepatan dengan peringatan hari pahlawan.

Para pahlawan kemerdekaan Indonesia memang sudah mati, tapi yang tersisa masih hidup. Mereka yang hidup 60 tahun lalu mungkin sekarang sedang mengobrol dengan para hewan di bawah tanah, bosan karena terlalu sepi. Tapi mereka yang terus membersihkan nisan, mengondisikan ilalang yang dengan senonoh tumbuh di atas gundukan kubur, dan menata liang agar ruang gerakmu bisa lebih bebas: merekalah pahlawan yang hidup jaman ini.

Kau memang tak pernah berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Lagipula, kau belum hidup. Nafasmu masih ditahan oleh Allah dalam jejak atmosfer. Namamu pun belum sampai dilirik oleh malaikat yang hendak membawa ruhmu lewat tiupan bibir ilahi. Tapi, kau selalu ada untukku.

Kau memang tak tau bagaimana memulai percakapan tanpa terdengar canggung. Kau juga kadang menolak kuajak pergi ke luar hanya untuk jalan-jalan sore. Kau bahkan enggan makan satu meja bersama kami, yang membuat kami semakin enggan untuk makan bersamamu. Tapi, aku tak akan pernah  menolak kalau kau minta temani beli baju baru, atau minta buatkan mi goreng tambah nasi hangat. Jangankan baju, mi, batu, cincin. Buih pun mungkin akan kusarikan untukmu.

Maka, kali ini. Jangan menolak pemberianku. Aku ada karena kau pun ada. Tanpamu, mungkin kita akan saling jadi orang lain. Tapi, bagiku, mengenalmu sebagai seorang ayah dan tetap bisa memperlakukanmu sebagai orang lain, itu lebih baik. Dibandingkan tak memperlakukanmu sebagai siapa-siapa.

Dan dari sanalah, sisi pahlawanmu berasal.