“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)

Advertisements

Telanjang

Yoga by Eli Whitney
“Yoga” oleh Eli Whitney (deviantart)

Hidup dalam “dunia yang dilipat” memang menjadi tantangan yang berarti bagi kaum milenial. Mereka yang hidup di jaman serba cepat menuntut segala sesuatunya harus dibuat dan dibentuk untuk memenuhi hasrat mereka untuk dihibur. Apa yang terpampang di layar harus selalu disajikan menarik dan menggugah indera. Secara tak langsung, generasi Z dibuai dalam sebuah dunia baru yang penghuninya beranak pinak di dalam kepala mereka sendiri, dibuat bingung dalam bauran ilusi dan realita yang sepertinya juga sudah terlanjur malas berkenalan dengan satu sama lain. Tanpa sadar, mereka disetir untuk percaya pada gagasan yang menjunjung hasil daripada proses, yang mengabaikan perjalanan, kerikil yang terdapat di sana, terik panas yang mengganggu, dan hanya memuja-muja tujuan akhir.

Sampai pertengahan bulan April, aku memutuskan berhenti mengakses Instagram dan menghapusnya dari ponselku. Bukan karena tampilannya yang membosankan. Atau karena perasaan bahagia saat melihat kawan lama bekerja di perusahaan ternama. Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman seangkatan di kampus yang ibunya baru saja nyawanya dicabut. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang tak terlalu kenal berfoto bersama pacarnya yang perlente. Bukan juga karena lihat info lowongan pekerjaan atau sambilan menulis yang gajinya lebih dari cukup untuk ajak gebetan makan di Braga Culinary Night. Atau karena siaran langsungnya Pak Ridwan Kamil yang sempat-sempatnya sadar kamera saat rapat di dewan tinggi Bandung.

Bukan itu.

Teman-teman terdekatku sempat bertanya kenapa, tapi aku tak mau nyinyir dan banyak basa basi, jadi kubilang saja “capek”. Entah itu memang benar atau alasanku saja untuk menghindar dari lontaran pertanyaan lanjutan. Tapi yang jelas, untuk menjawab pertanyaan mereka, tak bisa kujawab dengan cepat. Pertanyaan itu bukanlah macam pertanyaan yang butuh tanggapan tiba-tiba dan spontan. Bagi sebagian mereka, mungkin pertanyaan itu seharusnya bisa dijawab dengan segera dan tak perlu banyak jawaban yang elaboratif atau sok filosofis. Mereka hanya mau mendengar jawaban singkat: “gara gara mantan”, “ga mau diuntit gebetan”, atau, yang agak kasihan, “followers gue kurang banyak.”

Tampaknya, bagi mereka, media sosial adalah poros hidupnya. Ia menjadi semacam orbit yang mengarungi galaksi kehidupan yang remeh-temeh, diperlakukan sebagai pasangan hidup ketika pasangan hidup di dunia nyata bahkan belum juga diketemukan. Ruang baca-dengar-lihat di dalam layar mereka menjadi bulan-bulanan yang mereka tertawakan sendiri, tangisi sendiri, dan mungkin jadi bahan meracap untuk diri sendiri. (Emang meracap untuk diri sendiri kali! Hehe). Sadar atau tidak, media sosial menjelma menjadi urat nadi yang bahkan melekat lebih erat dari tuhannya sendiri.

Aku lihat teman-temanku pasang foto di instagram. Cantik dan tampan semuanya. Dari kepsyen yang kadang bentuknya hanya stiker dan emoji, pinjam quote para ternama yang sudah meninggal, bikin-bikin kata mutiara sendiri pakai bahasa Inggris, sampai cerita pengalamannya sepanjang potongan novel yang ceritanya tempe. Itu juga persis yang aku lakukan saat awal-awal punya akun instagram: inginnya cari foto paling bona fide (dari wajah, sudut kamera, pencahayaan, warna, bahkan sampai porsi badan paling pas yang harus masuk bingkai kamera). Bahkan kalau bisa ajak teman yang punya kamera berlensa canggih untuk jalan-jalan bareng, yang tujuan akhirnya adalah dapat foto yang sempurna! Tubuhnya jelas, latarnya buram. Sambil senyum kandid atau pura-pura ngobrol dengan partner di dalam foto.

Ta-da!

Aku resmi jadi penghuni dunia digital.

Perlahan aku sadar: tempat ini bukan untukku. Yang namanya “media sosial” bagiku harusnya mencerminkan nilai-nilai dalam masyarakat yang perlu dijaga untuk menghormati dan mengasihi orang lain, serta menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri sendiri. Pasang foto kegiatan sosial dan cerita panjang lebar soal betapa beruntungnya aku bisa ikut serta dalam kegiatan itu, memang menyenangkan. Tapi ketika melihat foto orang lain dengan kegiatan yang lebih bergengsi, nalar kotorku mulai bermain. Sesekali kuingatkan diri untuk menahan nafsu, tapi apa jadinya kalau semua yang kulihat adalah kesenangan “mewah” yang sebenarnya pura-pura?

Pada titik itu, aku disetir untuk menjadi orang yang iri, mudah kesal, dan bahkan enteng menghakimi. Aku disetir untuk jadi orang yang dibiasakan melakukan perbandingan dan mengabaikan penyamaan. Aku dilatih menjadi hakim yang ulung, yang berani menjatuhkan vonis tanpa pertimbangan matang. Jadi orang yang abai dengan perasaan orang lain dan hanya mau ingin dilihat dan dipuja-puja.

Dengan kata lain, aku menjadi orang lain yang bahkan dulu sempat kubenci sendiri.

Mengerikan, bukan?

Itulah alasan aku tak ingin berikan alasan panjang lebar padamu, kawan. Karena aku ragu kaupun akan mendengarnya. Maka biarkan aku mengoceh sendirian di sini. Aku sayang dengan semua teman-temanku yang “masih” berkutat dengan media sosial dan berharap pula sayang dengan pilihanku sendiri yang “sudah” meninggalkannya. Aku sedih melihat temanku yang berkata nyinyir di statusnya hanya untuk menjatuhkan atau mengejek temannya sendiri secara halus. Sempat dengan kata-kata yang lebih kasar dari nama situs telkomsel yang diretas baru-baru ini, atau bahkan dengan kalimat-kalimat halus yang menenangkan tapi membakar diam-diam. Aku sedih melihat mereka merasa “dibenarkan” dengan jumlah like, share, atau komentar yang mereka dapatkan, terlepas dari apa itu konten statusnya.

Aku sedih melihat orang yang marah di media sosial karena kritiknya terhadap sesuatu menjadi “benar” karena orang-orang lain juga ikutan marah. Aku sedih melihat mereka membenci sesuatu karena hal itu tidak sejalan dengan jalur pikir mereka. Aku makin sedih melihat teman-temanku sendiri merendahkan kawan lamanya yang tak lagi berhubungan dengannya, melabelinya dengan istilah-istilah alien yang menyakitkan, dan kadang menggunakan bahasa asing hanya untuk menyamarkan kemarahan atau mengangkat martabat sendiri.

Aku sedih karena mereka merasa benar, saat orang lain dalam orbit “sosial”nya juga membenarkan.

Sebagai penutup, seorang guru sempat berkata padaku: “menulis itu seperti menelanjangi diri.” Dan menulis di sana aku artikan tidak hanya secara harfiyah tetapi juga kiasan (memasang foto, menampilkan emoji, mengunggah video, dan semacamnya). Dan makanya menulis itu sulit, katanya lagi. Semakin banyak hal-hal yang dituangkan dalam kata-kata, semakin lucutlah pakaian yang sedang dikenakan. Semakin detil penggambaran yang dipampang, semakin tanggal benang-benang yang sudah rapi terajut. Semakin banyak hal-hal yang kita sampaikan, semakin terlihat pula sisi diri kita dan orang macam apa kita sebenarnya.

Kalau memang telanjang di “media sosial” lebih menyenangkan bagi mereka, maka izinkan aku telanjang di dunia nyataku sendiri. Izinkan aku bernapas di luar kepala, beranak-pinak di sana, dan mengajakmu melakukan hal yang sama.[]

Lagu “Indonesia Raya”: Kita di Mana?

indonesia2braya1
sumber: 4.bp.blogspot

Entah apa yang dipikirkan para peserta undangan kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Pada hari itu, lagu yang sekarang kita kenal sebagai lagu “Indonesia Raya”, diperdengarkan secara publik. Jelas, dengan lirik yang padat dan membakar semangat, lagu ini langsung memukau banyak pendengarnya. Para pemuda dan pemudi Indonesia begitu bangga dan terpesona, merasakan getar semangat kebangsaan yang terpercik dalam setiap kata-katanya. Sampai akhirnya saat ini, lagu itu kemudian konsisten menjadi lagu kebangsaan Indonesia, belum ada yang berani menggantikannya.

Selama 21 tahun resmi bernapas bebas di Indonesia, saya selalu merasa bangga saat momen ulang tahun negara Indonesia dirayakan. Tanggal 17 Agustus selalu menjadi saat-saat mendebarkan, setidaknya bagi orang-orang di rumah. Kami akan berkumpul di ruang keluarga dan menonton upacara kenaikan bendera merah putih di stasiun tivi yang menawarkan sudut kamera paling bagus. Kalau bendera sudah merangkak naik, sambil marching band memainkan lagu “Indonesia Raya”, kami menghindari banyak bercakap, membiarkan kekhusyukan itu masuk ke dalam relung hati kami.

Sampai setidaknya dua hari yang lalu.

Singkat cerita, saya diundang mengikuti konferensi internasional ke-10 tentang hubungan Indonesia dan Malaysia di Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti of Malaya. Di hari kedua, yang juga hari terakhir, seselesainya panel sesi pertama, seorang profesor dari Universitas Lancang Kuning mengambil alih posisi pembawa acara dan mengumumkan bahwa saat coffee break nanti, semua orang Indonesia diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Akhirnya, kami semua turun ke lobi. Beberapa orang tampak belum mau mengambil kopi dan camilannya karena menunggu momen menyanyi lagu kebangsaan, sementara saya sudah habis dua piring cupcake dan segelas lemon tea. Ya namanya sudah keburu lapar mau bilang apa? Hehe.

Selang berapa menit setelah itu, kami semua diminta berdiri. Suasana menjadi agak mengharukan karena Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaannya sementara saya sedang tak berada di sana. (Ditambah juga dengan selebrasi kemenangan Tontowi dan Liliana di ajang Olimpiade Rio 2016. Selamat!) Wah, pasti Indonesia sedang berpesta pora. Tapi, di lobi itu, semuanya tak sama lagi.

Tepat saat menyanyikan lagu kebangsaan, di lirik “di sanalah aku berdiri” saya jadi tepekur sendiri. Kalau posisinya saya sedang berada di Malaysia, mengatakan “di sana” sebagai rujukan untuk Indonesia, sepertinya lebih pas. Dibandingkan saat saya di Indonesia, dan mengatakan “di sana.” Jadi, selama ini saya berdiri di mana? Di “sini” atau di “sana”? Hayo. Jadi makin bingung deh.

Yang ingin saya katakan adalah entah apa yang Almarhum Wage Rudolf Supratman pikirkan pada tahun 1928, sehingga kata-kata “sana” muncul dan bukannya “sini.” Sehingga, kesan yang timbul dari kata itu menunjukkan bahwa lagu ini memang harusnya dinyanyikan bukan di Indonesia. Ini juga mungkin yang menjadi alasan Tontowi tampak begitu haru saat menyanyikan lagu itu sambil memberi hormat pada sang saka karena memang itulah momen yang tepat untuk menyanyikannya.

Maka dari itu, kembali lagi: apa ya yang sebenarnya dipikirkan oleh para tamu undangan kongres Pemuda II tahun 1928 itu? Ya, mungkin ada yang juga bertanya-tanya soal liriknya. Atau mungkin ada juga yang ikut-ikutan nyanyi saja. Atau mungkin, sudah kepikiran makanan apa saja yang dihidangkan di meja prasmanan.

Anda yang mana?

(juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/lagu-indonesia-raya-kita-di-mana_57b70d6c90fdfd9d42ea0dba)

NEC HIMSI 2016: Final Cerpen Bahasa Inggris di Binus University

Hari ini…random. Seneng, haru, ga nyangka. Tapi lebih banyaknya seneng sih. Well, gue presentasi tentang cerpen gue di Binus University! Di acara National English Competition anak-anak Hima Sastra Inggrisnya gituu. Karena gue menetap di Jatinangor dan acara finalnya di Kebon Jeruk, jadi gue rela-relain deh balik dulu ke Tangerang. Sebenernya gue bisa aja sih presentasi via skype, tapi esensi ikutan lombanya ga kerasa deh *sok iye lu Wan* wkwkwk. Yah itung itung ngobatin kangen sama nyokap bokap deh. 🙂

Semuanya dimulai dengan kisah pengemudi taksi kami yang tiba-tiba curhat soal istri barunya. Hahah sumpah lah ini random banget. Jadi pas gue sama nyokap masuk ke dalem mobil, ya nyokap gue basa-basi. Trus tiba-tiba pak pengemudinya langsung cerita gitu. Hahaha. Gue cuma bisa merhatiin percakapan mereka di kursi penumpang belakang. Kurang lebih dia cerita bahwa istrinya yang orang Sunda itu rada males masak. Trus jadilah dia sekarang langganan bubur yang pake gerobak di depan kompleks gue. Kesian sih sebenernya. Tapi nyokap gue cuma bisa menyabarkan dia. Allah pasti akan membalas dengan yang lebih baik, Pak 🙂

Akhirnya kami sampe di Binus University. Karena itu pertama kali gue ke kampus elit itu, gue terperangah wkwk dan mikir “buset ini kampus apa mol?” Soalnya bentuk bangunannya lebih bagus dari mal terdekat dari kampus gue hahaha. Sempet kami agak bingung nyari ruang auditorium kampus Anggrek karena gedungnya banyak banget. Untunglah setelah nanya sana-sini kami sampe ke auditorium ala-ala bioskop blitz megaplex gituuu. Gue sebenernya lebih terperangah (oke kata ini sepertinya akan terus muncul yah) sama interior bangunannya.

Binus 1-min

B612_20160528_084733

Dan gue baru taulah hari Sabtu kampus ini masuk kuliah haha. Masih ya. Jadi inget SMA dulu. Huft.

Tempat gue akan presentasi adalah di lantai 4, jadi gue punya banyak kesempatan untuk liat-liat ke bawah dan foto-foto. Salah satu spot yang paling gue suka di gedung ini adalah lobi bawahnya. Jadi bentuknya kayak kantin gitu, tapi lebih cocok buat diskusi ato ngerjain tugas.

Lobi Binus-min

Pas gue dateng semua mahasiswa lagi berhamburan, dan sebagai anak Unpad di nangor, gue berasa lagi dateng ke Unpad Dipati Ukur. Feeling-nya beda coi masuk situ. Anak-anaknya pakaiannya kece, belum tampangnya, belum bodinya, belum rambutnya, belum segalanya. Dan kebanyakan kulitnya bersih semua gitu. *langsung liat kulit sendiri* *trus galau sendiri* hahaha astaghfirullah!

Jam 9 acara inti dimulai. Total finalis lomba itu ada 20 orang. Kategorinya SMA dan Universitas. Sebagian ada yang presentasi lewat skype, dan sebagian yang lain naik ke atas panggung. Secara keseluruhan, gue gak nyangka anak-anak SMA jaman sekarang bahasa Inggrisnya udah bagus bagus banget. Ya gatau sih ya mungkin waktu gue SMA gue belom pernah ngeliat anak SMA lain ngomong bahasa Inggris. Peserta yang dari SMA hampir semuanya dari SMK Penabur. Well, no wonder lah ya. Di kelasnya mungkin mereka lebih sering interaksi pake bahasa Inggris dibandingkan pake bahasa Indonesia.

Jadi cerita pendek gue judulnya How Dzigbode Lost His Pet Cow and Died with It; intinya adalah tentang bocah laki-laki Afrika yang lagi nyari sapi peliharannya sebelum hari Qurban tiba. Dan Qurban di situ maksudnya bukan hari Idul Adha kayak yang kita pahami di Indonesia. Di Ghana, di waktu-waktu tertentu, ada tradisi ini di mana mereka harus membunuh sejumlah sapi untuk menghormati para roh atau leluhur atau orang terdekat mereka yang baru aja meninggal. Nah, karakter utamanya, Dzigbode, lebih suka ngomong sama hewan dibandingkan sama manusia. Dia juga gak terlalu suka ngumpul sama temen-temen sebayanya. Ditambah, kalo misalnya Dzigbode pulang ke rumah, ibu sama bapaknya selalu mukul dia karena dia dianggap “penyihir” dan karenanya “bawa sial” di keluarganya. Sampe pada akhirnya, Dzigbode tau bahwa sapi peliharaan kesayangannya “dikirim” ke tempat pembantaian hewan oleh bapaknya sendiri. Endingnya? Well, baca sendiri yah cerpennya wkwk.

Selama lima menit, gue harus ngejelasin detil cerita pendek gue. Dari isu yang mau diangkat di cerita itu, latar belakang ide cerita, gaya penulisan, sampe sedikit petunjuk-petunjuk (kayak pemilihan kata, dialog, atau lainnya) di ceritanya yang berhubungan dengan tema utamanya, yaitu “Escaping Reality.” Nah, ada kejadian yang agak disayangkan sebenernya. Jadi kan gue pake PPT gitu kan (dan finalis yang pake PPT bisa diitung jari) dan waktu gue habis di slide keempat. Padahal slide terakhir itu yang paling penting hahaha. Yaudahlah ya.

Jurinya ada dua. Cewek cowok. Juri yang cewek itu dosen sasing di Binus, namanya Paramitha. Yang cowok penulis novel, namanya Reza (kayanya sih dari Binus juga). Komentar mereka berdua secara umum adalah mereka “tertarik sama judul gue” dan pemilihan kata-kata yang gue pake di cerpennya. Gue juga ngejelasin sih bahwa cerpen gue ini sangat dekat dengan animisme. Ada beberapa tanda di ceritanya yang menunjukkan bahwa benda-benda mati itu gue perlakukan seolah-olah hidup, contohnya: “the moon took charge of the sky; her soothing aura accompanied Dzigbode walk home” atau juga “the sun careened”. Mereka berdua suka sama judul gue wkwk. Gue makin seneng pas Ms. Paramitha bilang bahwa “[she] likes everything in [my] story.” Yeay! 🙂

Selesai 20 orang tampil, ternyata pemenangnya gak langsung diumumin. Jadi abis acara presentasi itu ada seminar lagi tentang kepenulisan. Pengen sih gue ikutan. Tapi dari pagi gue belom makan, dan kalo mau makan ga boleh di dalem auditorium. Trus gue males balik lagi ke lantai 4-nya hahaha. Jadi yaudahlah sekalian balik.

Di perjalanan pulang, gue gak berharap banyak sih. Soalnya ada tadi satu peserta dari UI, namanya Aria Gita, yang menurut gue paling bagus dari semuanya. Beda sama gue, dia gak pake PPT, jadi dia impromtu ngomong di depan. Gue suka sama penjelasan dia yang hidup dan begitu humoris. Di cerpennya, dia ngangkat isu mispersepsi orang-orang terhadap penyakit jiwa selama ini. Gue penasaran banget mau baca cerpennya, judulnya The Hollow, The Broken. Dan komentar Kak Reza pertama kali adalah “wow”, yang bikin semua orang di ruangan itu juga….wow! Cewek ini pasti pemenangnya, gue membatin. Kenapa sih yang paling bagus harus ditaro terakhir? Bikin minder aja sumpah. Wkwk. Kan di jalan pulang jadi kepikiran mulu.

Auditorium-min

Sebelum balik ke Ciledug, gue nyempetin foto-foto dulu bentar wkwk.

1464412657542

1464412708519

Sorenya, gue langsung tidur dan gak peduli apa yang terjadi. Gue gak mau ngeliat rekaman vidio gue presentasi karena pasti gue mengumpat diri sendiri keras-keras hahahaha. Yaudah. Akhirnya gue tungguin tuh sms abis salat maghrib. Ada pengumuman gak dari panitia. Ternyata belom. Gue cek website NEC HIMSI, kabar terbarunya cuma daftar nama finalis hari ini. Berarti mereka masih sibuk kali.

Eh trus yaudah, sambil nunggu isya, gue nonton vidio presentasi orang sebelum akhirnya hape gue bunyi, dan ada sms:

“Pemenang lomba cerpen berbahasa Inggris NEC HIMSI 2016:
SMA:
1. Dharlene (SMK Penabur)
2. Tabitha (SMK Penabur)

Universitas:
1. Aria Gita (Universitas Indonesia)
2. Himawan Pradipta (Universitas Padjadjaran)
Selama yaaa!”

Alhamdulillah dah wkwk. Gue ga nyangka sumpah. Tadinya gue kira anak UI dua duanya yang menang, karena mereka berdua fasih banget ngejelasin cerita mereka, while gue…..sampah wkwk.

Oke deh. Segitu dulu. Bye!