Jarak dan Keluarga: Refleksi Momen Makan Bersama

“Sesekali, kita perlu berada di tempat yang jauh untuk tau betapa berartinya hal-hal kecil.” – Ian Frazier, penulis dan komedian Amerika.

Sepiring kecil sayur kangkung, seloyang mini rendang khas Banjarmasin, segumpal ikan teri kering, dan secuil sambal terasi, adalah yang tampak pertama kali saat saya membuka tudung saji meja makan rumah. Baunya yang semerbak membuat perut yang terisi udara pendingin bus Primajasa sejak lima jam lalu, membuat kepingin melahap sekepul nasi. Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Tangerang, saya selalu bertanya-tanya: masak apa ya Ibu nanti? Benar saja, siang itu, saya tak dibuat kecewa. Melihatku begitu lahap, tak lama setelah itu, Bapak pun bergabung.

Meski begitu, kami tak banyak bicara. Hanya tukar basa-basi seputar seberapa macet di tol, apakah saya sudah sarapan, atau kendaraan apa yang kugunakan untuk menyambung perjalanan tadi. Sisanya disimpan saja. Bapak mungkin menganggap saya terlalu lelah untuk bercerita panjang lebar, soal bagaimana kuliahku atau apa yang baru kulewati: menyenangkan atau menyedihkan kah? Sempat kuberpikir bukannya aku yang sedang lelah, tapi justru Bapak yang tak mau tau tentang itu semua. Ditambah, aku terlalu malas untuk memulai.

Momen liburan kuliah adalah momen yang selalu berjalan begitu, apalagi saat makan tiba. Karena sudah nyaman sendiri, ya makannya juga sendiri-sendiri saja. Kalau bukan bulan Ramadhan, jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk makan di satu meja. Dengan rumah kami yang kecil untuk lima orang dewasa, masing-masing punya titik tersendiri untuk bercengkerama dengan makanannya. Di satu sisi, saya senang karena bisa berada di rumah bersama mereka. Tak ada perasaan yang bisa menggambarkan lebih baik dibandingkan berada dalam satu ruangan bersama keluarga. Di sisi lain, saya bingung sendiri. Mengapa bisa begini? Saya tepekur sendiri, mungkin ini semua disebabkan jarak yang memisahkan kami sementara waktu, dan untuk memulainya kembali adalah sebuah tantangan.

Bagaimana tidak, saya di Bandung, Ibu di kantor hingga sore, abang saya Adit kuliah seharian, hanya adik saya Maya yang menetap di rumah bersama Bapak, tapi itu juga sangat minim interaksi. Sehingga, sekalinya bertemu, kami hanya bersapa seperlunya. Film-film yang pernah ditonton atau acara lucu di televisi pun menjadi penyelamat atas kecanggungan itu. Kami baru bisa lebih luwes dengan satu sama lain saat seseorang, misalnya, tiba-tiba tertawa, membukakan ruang untuk membicarakan adegan tertentu dalam film itu, dan setelahnya kami baru bisa berbicara yang lain.

309664_2041855492557_1901448235_n
Keluarga saat lebaran 2010 di Pontianak

Inilah keluargaku dan sepotong cerita di baliknya. Awalnya saya menganggap bahwa ini adalah keluarga yang “terganggu” atau “disfungsional”, namun itu akan kedengaran sangat meremehkan. Maka, setiap kali saya pulang ke rumah dan duduk sambil berhadapan dengan piring berisi makanan, saya selalu mencoba mengajak mereka untuk makan bersama. Terlepas dari tanggapan mereka yang hanya berupa “iya duluan” atau “nanti, tanggung”, saya sadar bahwa mereka juga mungkin ingin memiliki agenda bersama untuk makan di rumah. Tapi karena saya mengajaknya tiba-tiba, sementara mereka seharusnya melakukan hal lain dan bukannya makan, momennya jadi tak pernah ketemu satu sama lain.

Saat sedang makan sendiri, saya menyempatkan diri melirik mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Di satu titik, pernah tingkat kekesalan saya memuncak karena memikirkan betapa sedikitnya waktu yang kami habiskan bersama, dan saya ingin sekali berceletuk: “ayo dong makan bareng di sini”, tapi saya pikir lagi, buat apa? Toh, saya sendiri juga sudah nyaman dengan kecanggungan itu, dan bukankah situasi akan jadi lebih canggung kalau saya benar-benar berkata itu? Jadi saya urungkan saja dan menikmati momen itu sebaik-baiknya. Saya akhirnya bertanya pada diri sendiri: apakah hanya keluarga ini yang seperti ini? Canggung dan diam-diaman begini. Mungkini tidak. Saya perluas cakupan lihat saya ke daerah lain di Indonesia, tak usah jauh-jauh dulu. Di kampung dekat rumah, ada lebih banyak keluarga yang anggota keluarganya tak pernah pulang-pulang karena kerja. Atau mereka yang kehilangan seseorang yang tersayang, sehingga melihat kursi kosong di meja makan pun sudah menderita.

Yang ingin saya katakan dari cerita ini adalah bahwa saya tak punya barang sedikit pun untuk dikeluhkan. Anggota keluarga masih lengkap, meja makan selalu terhidang makanan enak, dan kami masih bisa menikmati kebersamaan di momen-momen tertentu. Mungkin ada sedikit kekecewaan yang timbul dalam hati, terlebih saat tanggapan mereka atas ajakan makan bareng saya tak digubris, tapi akan jadi lebih mengecewakan jika saya tak melakukan apa-apa.

Tulisan ini, dengan begitu, adalah pengingat bagi saya pribadi, ketika saya sedang jauh dari mereka, makan di kamar kos tanpa ada mereka di sisi saya, dan hanya bisa melihat wajah mereka di layar laptop. Ini akan menjadi pemicu bagi saya bahwa saya masih memiliki harapan, sesuatu yang layak diperjuangkan. Jarak dalam keluargaku justru menjadi kata kunci yang membuat kami bersama, yang membuat kami merindukan satu sama lain. Karena tanpanya, saya tak punya momen untuk dinanti-nantikan saat kami terpisah.

Salam.

Juga dipublikasikan di sini.

Advertisements

Lomba Debat UMN & Cerita Dibaliknya

Assalamualaikum! Akhirnya kesampean juga bisa nulis sesuatu tentang lomba debat kemaren hehe. So here it goes.

IMG_20160530_081857-min

Semuanya berawal dari ke-random-an Hakim yang tiba tiba ngajak gue ikutan lomba debat lagi. Well, ya ini emang kali keduanya kami akan ikutan lomba debat lagi setelah MTQMN XIV di UI tanggal 8 Oktober tahun 2015. Ya jelas yang taun ini sama taun lalu beda. Waktu itu gue kan emang niat sendiri mo ikutan dan mo ngebanggain Unpad beneran ceritanya, eh beneran kan ada jalannya hahaha. Lah taun ini? Ku dah bener-bener mau vakum debat-debatan tau gaa. Cape setengah idup ikut begituan tuh 😦

Gue udah lelah ketika berdiri di atas podium, dengan mosi yang gak benar-benar lo kuasai, semua mata memandang ke wajah lo yang sotoy dan seolah punya banyak hal yang perlu diomongin padahal ga ada isinya, dan mata adjudicator seolah ngomong “see you in hell, byotch!” hahaha. Mati lah awa. Anyway…

Balik lagi ke Hakim.

Kondisi sekarang (maksudnya taun ini) adalah gue udah mau fokus skripsi (sebenernya ini excuse gue aja sih haha padahal aslinya mah tu skripsi ga pernah gue buka) dan gue harus baca buku ini dan itu untuk menunjang Bab 2 gue (oke ini kebohongan terbesar sepanjang taun 2016). Sayangnya, Hakim bukan penyerah. Dia terus ngeyakinin gue bahwa ini adalah kesempatan terakhir kami (dia aja kalee) untuk menangin lomba debat sebelum dia lulus. Well, dia bilangnya sih motivasi, gue bilangnya ngambis hahaha. Who knows ritee.

Gue pun mendistraksi dia dengan coba minta ajak Haykal, rekan debat setia dia dari fikom juga, tapi katanya akan lagi “kerja” pas hari lomba. Ya udah. Gue deh pelampiasannya. Itung-itung, yaudahlah ya, udah lama juga ga denger Hakim ngomong dengan fasih di depan podium, ditambah ini akan jadi kesempatan gue untuk bisa ngukur kemampuan gue sendiri (setelah selama ini dengan diminta jadi ajudikator): apa kemampuan gue debat jadi semakin terasah apa makin sampah? Hahaha. Let’s see.

Bareng Abigail Allegra, seterusnya dipanggil Abil, maba Humas 2015, jadilah kami bertiga siap bertarung di bawah nama Boven Digoel! Setelah nama tim dipostulasikan *tsah*, gue gak peduli itu lomba akan digelar di mana, dan akan pake bahasa apa. Gue hanya fokus bahwa at least gue bisa “turun” lagi. (Sedih bat lu wan)

 

Insiden Go-Jek yang Bawa Gue Keliling BSD

Sebelum lanjut, gue mo cerita singkat soal insiden gojek yang bawa gue keliling bintaro, bsd, dan alam sutra. Oke, for a start, plis jangan judge fakta bahwa gue baru pertama kali pake gojek minggu lalu. Dan baru donlot aplikasinya minggu minggu sebelumnya. Yaelah, lagian kan ga semua orang perlu naik gojek kaaan? Gue aja kalo mau ke bandung pake damri cukup kok ato travel haha. Abil dengan enaknya panggil gue “manusia gua” karena belom pernah pake gojek dan ga tau, ehm, Mi Samyang? (bener ga pengejaannya?). Kzl!

Yaudah. Janjinya adalah, karena lombanya di Universitas Multimedia Nusantara, yang terletak di BSD, dan karena rumah gue gak jauh dari BSD, akhirnya gue memutuskan untuk pisah dengan mereka berdua, sementara mereka langsung dari Nangor. Pas udah sampe di BSD, mereka nunggu di McD sektor 6 gitu, dan gue gak pernah tau bahwa di sektor 6 ada McD. Akhirnya gue pastiin dong ke Abil patokan ke tempat itu di mana, dan dia bilang di depan Agathon or something with Thon in the hind letters.

Sayangnya, di kolom “destination” gojek yang mau gue pesen tuh ga ada McD sektor 6, jadi gue pencet aja McD BSD trus gue tambahin “note”: depan Agathon. Oke gue gatau sih itu langkah bodoh atau bodoh banget, tapi yang jelas gue optimis pas tau akhirnya tukang gojeknya beneran dateng secepat kilat! Wihiiiii *hambur-hambur pernak-pernik*

Gue naik, pake helm, dan itu malem-malem jam 10an. Kondisinya dingin dan gue cuma pake baju lapis satu. Dengan jiwa Rossi, pengemudi gojeknya ngebut ga keruan di jalanan BSD yang lebar dan jarang ada transportasi malem itu, which means…angin yang menerpa badan gue kan kenceng banget bos! Ga kira-kira deh sumpah tu orang. Untung si pengemudinya gak denger gue ngumpat ke kuping dia, soalnya  kemakan sama suara angin hahaha. *ketawa setan*

Berkali-kali Hakim sama Abil nelfonin gue. Nanyain di mana. Tapi gue cuma bisa bilang “ke arah McD” dengan sotoi dan seolah bahwa gue udah dibawa muter-muter tukang gojek keliling Bintaro! Mereka mungkin kesel dan akhirnya berenti nanya “mcd manaaa?” dan akhirnya mereka pasrah ga mau nelfonin lagi. Biarkan Allah yang menunjukkan jalan buat gue, mungkin batin mereka.

Oke, singkatnya, malem itu kami bertiga bisa sampe di McD sektor 6 yang ternyata gak jauh dari tempat awal gue mesen gojek tadi, pas udah jam 11 lewatan. Kondisinya semua orang udah capek, ngantuk, dan bawaannya udah pengen ngeliat kasur aja. Tapi, of course, kami harus brainstorming ideas sekali lagi untuk besok! Bismillah!

 

Hari Penentuan

Seperti kampus Binus yang di postingan lalu gue gambarkan, kampus UMN ini sama megahnya, mewahnya, dan kecenya, tapi gak untuk orang-orangnya he he he. Tetep kecean anak-anak binus sih wkwk (karena keliatan lebih bersih aja haha). Kami bertiga masuk ke auditorium di lantai 9. Dan ada sejumlah tim lain yang udah duduk juga. Itu jam 8 pagi. Kondisinya kami belum sarapan dan belum ber-harapan. #maksa

IMG_20160530_094708-min

Mosi pertama adalah tentang infrastruktur dan pembangunan. Bahwa dewan ini setuju proyek pembangunan pemerintah harus melalui persetujuan masyarakat. Kami dapet pro, dan kalah. Mosi kedua adalah tentang Arus Pelangi. Bahwa Jokowi harus mendukung Arus Pelangi sebagai bentuk perlindungan kaum LGBT terhadap kekerasan dan diskriminasi. Kami bertiga udah positif dan optimis di ronde kedua ini, tapi ternyata, out of the blue, pas semuanya selesai, si ajudikatornya bilang bahwa ini adalah “silent round” dan dengan entengnya keluar ruangan dengan senyuman, mendahului kami semua. Well, gue cuma bisa coba tabah. Beban hidup gue udah lebih berat dari ini semua.

Mosi ketiga adalah tentang TPP. Untunglah ga keluar mosi tentang FIFA, karena bisa dipastikan gue mati darah di podium kalo sampe mosi itu keluar. Tapi tetep aja, Boven Digoel kalah telak dengan posisi kontra. Secara singkat, kami gak berhasil melaju ke babak semi final karena posisi kami ada di urutan 10, 2 posisi lagi dari kelompok semi final dong! Tapi ya udahlah. Mungkin ini emang jalan terbaik buat karir gue di debat taun ini he he he. Fokus skripsi, Wan! Peringatan beneran ini mah. 😦

Case Building
Abil lagi serius bangun argumen

Salah satu kendala yang mungkin gue hadapi saat debat adalah 1) most of our competitors are Chinese. Dan lo taulah, not to be racist, Chinese are better in any aspect of life. 2) lombanya ternyata pake bahasa Indonesia dong! Beneranlah. Gue awalnya agak skeptis gitu kan bisa maju dan ngomong di podium dengan bahasa Indonesia pake EYD yang baik dan benar, dan mencoba mengingat-ngingat kembali struktur bahasa Indonesia yang bagus tuh kek gimana. eeeh ternyata pas liat kelompok lain, mereka banyak banget yang zig-zag bahasa Inggris-bahasa Indonesia. Kzl lagi kan.

Gatau kenapa yah, kalo debat pake bahasa Inggris tuh, mau lo ngerti atau engga mosinya, semua kata-kata dalam kepala lo tuh rasanya bisa muntah! Kalo pake bahasa Indonesia, ada sesuatu yang bikin gue justru ragu ragu whether it is effective in a sentence or not.

DEBAT UMN 5-min
Foto ini diambil setelah sesi penyisihan debat beres, tepatnya pas gue ragu-ragu mau lompat dari atas sini ato engga haha cnd

 

Mencoba Legowo

Keluar dari lantai 10 gedung kampus UMN itu, kami bertiga langsung cari musholla buat meredam semua kekesalan. Tiba-tiba pas kalah langsung keinget Allah gituu wkwkwk.

Setelah itu, gue, Hakim, Abil, Sinta (pacarnya Hakim), Andrew (temennya Sinta), dan Eki (temennya Hakim) cabut ke Summarecon Mal Serpong untuk cari udara segar. Kami makan di Eastern Hawker dan duduk sambil menikmati pertunjukkan musik dari band yang terdiri atas bapak-bapak bersuara keci. Beberapa dari kami nyisha, ada yang sibuk dengan henponnya sendiri, ada yang ngobrolin organisasi kampus, dan ada yang…ngobat………

…….nyamuk, yaitu gue dan Abil seorang. Karena ternyata Eki bawa temennya juga yang kayanya pacarnya dia juga. Hikz.

1464652896821
Hakim – Abil – Gue

1464652890584

Setelahnya, karena gabut, kami bertiga balik ke penginapan dan nonton The Forest dalam gelap. Yah, setidaknya semua kekalahan terbayarlah ya dengan cukup ngeliat Natalie Dormer. Huhuhu.

Oke deh segitu dulu. Tar kalo gue ikutan lomba lagi gue posting insyaAllah hehe. Mungkin diposting, mungkin engga.

See ya, lads and lasses!

IMG_20160531_084205-min
Pemandangan dari lantai atas penginapan
IMG_20160531_084141-min
Eagle’s View dari balkon atas penginapan

Eh ngomong-ngomong, selamat menjalankan ibadah puasa! 🙂

NEC HIMSI 2016: Final Cerpen Bahasa Inggris di Binus University

Hari ini…random. Seneng, haru, ga nyangka. Tapi lebih banyaknya seneng sih. Well, gue presentasi tentang cerpen gue di Binus University! Di acara National English Competition anak-anak Hima Sastra Inggrisnya gituu. Karena gue menetap di Jatinangor dan acara finalnya di Kebon Jeruk, jadi gue rela-relain deh balik dulu ke Tangerang. Sebenernya gue bisa aja sih presentasi via skype, tapi esensi ikutan lombanya ga kerasa deh *sok iye lu Wan* wkwkwk. Yah itung itung ngobatin kangen sama nyokap bokap deh. 🙂

Semuanya dimulai dengan kisah pengemudi taksi kami yang tiba-tiba curhat soal istri barunya. Hahah sumpah lah ini random banget. Jadi pas gue sama nyokap masuk ke dalem mobil, ya nyokap gue basa-basi. Trus tiba-tiba pak pengemudinya langsung cerita gitu. Hahaha. Gue cuma bisa merhatiin percakapan mereka di kursi penumpang belakang. Kurang lebih dia cerita bahwa istrinya yang orang Sunda itu rada males masak. Trus jadilah dia sekarang langganan bubur yang pake gerobak di depan kompleks gue. Kesian sih sebenernya. Tapi nyokap gue cuma bisa menyabarkan dia. Allah pasti akan membalas dengan yang lebih baik, Pak 🙂

Akhirnya kami sampe di Binus University. Karena itu pertama kali gue ke kampus elit itu, gue terperangah wkwk dan mikir “buset ini kampus apa mol?” Soalnya bentuk bangunannya lebih bagus dari mal terdekat dari kampus gue hahaha. Sempet kami agak bingung nyari ruang auditorium kampus Anggrek karena gedungnya banyak banget. Untunglah setelah nanya sana-sini kami sampe ke auditorium ala-ala bioskop blitz megaplex gituuu. Gue sebenernya lebih terperangah (oke kata ini sepertinya akan terus muncul yah) sama interior bangunannya.

Binus 1-min

B612_20160528_084733

Dan gue baru taulah hari Sabtu kampus ini masuk kuliah haha. Masih ya. Jadi inget SMA dulu. Huft.

Tempat gue akan presentasi adalah di lantai 4, jadi gue punya banyak kesempatan untuk liat-liat ke bawah dan foto-foto. Salah satu spot yang paling gue suka di gedung ini adalah lobi bawahnya. Jadi bentuknya kayak kantin gitu, tapi lebih cocok buat diskusi ato ngerjain tugas.

Lobi Binus-min

Pas gue dateng semua mahasiswa lagi berhamburan, dan sebagai anak Unpad di nangor, gue berasa lagi dateng ke Unpad Dipati Ukur. Feeling-nya beda coi masuk situ. Anak-anaknya pakaiannya kece, belum tampangnya, belum bodinya, belum rambutnya, belum segalanya. Dan kebanyakan kulitnya bersih semua gitu. *langsung liat kulit sendiri* *trus galau sendiri* hahaha astaghfirullah!

Jam 9 acara inti dimulai. Total finalis lomba itu ada 20 orang. Kategorinya SMA dan Universitas. Sebagian ada yang presentasi lewat skype, dan sebagian yang lain naik ke atas panggung. Secara keseluruhan, gue gak nyangka anak-anak SMA jaman sekarang bahasa Inggrisnya udah bagus bagus banget. Ya gatau sih ya mungkin waktu gue SMA gue belom pernah ngeliat anak SMA lain ngomong bahasa Inggris. Peserta yang dari SMA hampir semuanya dari SMK Penabur. Well, no wonder lah ya. Di kelasnya mungkin mereka lebih sering interaksi pake bahasa Inggris dibandingkan pake bahasa Indonesia.

Jadi cerita pendek gue judulnya How Dzigbode Lost His Pet Cow and Died with It; intinya adalah tentang bocah laki-laki Afrika yang lagi nyari sapi peliharannya sebelum hari Qurban tiba. Dan Qurban di situ maksudnya bukan hari Idul Adha kayak yang kita pahami di Indonesia. Di Ghana, di waktu-waktu tertentu, ada tradisi ini di mana mereka harus membunuh sejumlah sapi untuk menghormati para roh atau leluhur atau orang terdekat mereka yang baru aja meninggal. Nah, karakter utamanya, Dzigbode, lebih suka ngomong sama hewan dibandingkan sama manusia. Dia juga gak terlalu suka ngumpul sama temen-temen sebayanya. Ditambah, kalo misalnya Dzigbode pulang ke rumah, ibu sama bapaknya selalu mukul dia karena dia dianggap “penyihir” dan karenanya “bawa sial” di keluarganya. Sampe pada akhirnya, Dzigbode tau bahwa sapi peliharaan kesayangannya “dikirim” ke tempat pembantaian hewan oleh bapaknya sendiri. Endingnya? Well, baca sendiri yah cerpennya wkwk.

Selama lima menit, gue harus ngejelasin detil cerita pendek gue. Dari isu yang mau diangkat di cerita itu, latar belakang ide cerita, gaya penulisan, sampe sedikit petunjuk-petunjuk (kayak pemilihan kata, dialog, atau lainnya) di ceritanya yang berhubungan dengan tema utamanya, yaitu “Escaping Reality.” Nah, ada kejadian yang agak disayangkan sebenernya. Jadi kan gue pake PPT gitu kan (dan finalis yang pake PPT bisa diitung jari) dan waktu gue habis di slide keempat. Padahal slide terakhir itu yang paling penting hahaha. Yaudahlah ya.

Jurinya ada dua. Cewek cowok. Juri yang cewek itu dosen sasing di Binus, namanya Paramitha. Yang cowok penulis novel, namanya Reza (kayanya sih dari Binus juga). Komentar mereka berdua secara umum adalah mereka “tertarik sama judul gue” dan pemilihan kata-kata yang gue pake di cerpennya. Gue juga ngejelasin sih bahwa cerpen gue ini sangat dekat dengan animisme. Ada beberapa tanda di ceritanya yang menunjukkan bahwa benda-benda mati itu gue perlakukan seolah-olah hidup, contohnya: “the moon took charge of the sky; her soothing aura accompanied Dzigbode walk home” atau juga “the sun careened”. Mereka berdua suka sama judul gue wkwk. Gue makin seneng pas Ms. Paramitha bilang bahwa “[she] likes everything in [my] story.” Yeay! 🙂

Selesai 20 orang tampil, ternyata pemenangnya gak langsung diumumin. Jadi abis acara presentasi itu ada seminar lagi tentang kepenulisan. Pengen sih gue ikutan. Tapi dari pagi gue belom makan, dan kalo mau makan ga boleh di dalem auditorium. Trus gue males balik lagi ke lantai 4-nya hahaha. Jadi yaudahlah sekalian balik.

Di perjalanan pulang, gue gak berharap banyak sih. Soalnya ada tadi satu peserta dari UI, namanya Aria Gita, yang menurut gue paling bagus dari semuanya. Beda sama gue, dia gak pake PPT, jadi dia impromtu ngomong di depan. Gue suka sama penjelasan dia yang hidup dan begitu humoris. Di cerpennya, dia ngangkat isu mispersepsi orang-orang terhadap penyakit jiwa selama ini. Gue penasaran banget mau baca cerpennya, judulnya The Hollow, The Broken. Dan komentar Kak Reza pertama kali adalah “wow”, yang bikin semua orang di ruangan itu juga….wow! Cewek ini pasti pemenangnya, gue membatin. Kenapa sih yang paling bagus harus ditaro terakhir? Bikin minder aja sumpah. Wkwk. Kan di jalan pulang jadi kepikiran mulu.

Auditorium-min

Sebelum balik ke Ciledug, gue nyempetin foto-foto dulu bentar wkwk.

1464412657542

1464412708519

Sorenya, gue langsung tidur dan gak peduli apa yang terjadi. Gue gak mau ngeliat rekaman vidio gue presentasi karena pasti gue mengumpat diri sendiri keras-keras hahahaha. Yaudah. Akhirnya gue tungguin tuh sms abis salat maghrib. Ada pengumuman gak dari panitia. Ternyata belom. Gue cek website NEC HIMSI, kabar terbarunya cuma daftar nama finalis hari ini. Berarti mereka masih sibuk kali.

Eh trus yaudah, sambil nunggu isya, gue nonton vidio presentasi orang sebelum akhirnya hape gue bunyi, dan ada sms:

“Pemenang lomba cerpen berbahasa Inggris NEC HIMSI 2016:
SMA:
1. Dharlene (SMK Penabur)
2. Tabitha (SMK Penabur)

Universitas:
1. Aria Gita (Universitas Indonesia)
2. Himawan Pradipta (Universitas Padjadjaran)
Selama yaaa!”

Alhamdulillah dah wkwk. Gue ga nyangka sumpah. Tadinya gue kira anak UI dua duanya yang menang, karena mereka berdua fasih banget ngejelasin cerita mereka, while gue…..sampah wkwk.

Oke deh. Segitu dulu. Bye!

Kursi Panas SUJS

Ini cerita tentang Seminar Usulan Judul Skripsi (SUJS) Sastra gue. It’s not a publicly readable writing I believe. I just think that I might have to write it down so that it wouldn’t trouble me anymore, and so I can move on to another phase in my life. Sapa tau suatu saat gue udah sukses (amin) dan baca-baca tulisan ini lagi trus tiba-tiba nangis dan sedih aja karena sadar betapa begonya gue waktu itu (dan sekarang juga). He.

Gue dapet urutan ke-15 di hari pertama, dan udah hampir jam 4 sore, which means…gue adalah orang terakhir yang presentasi. Itu adalah kondisi di mana semua orang, gak dosen gak mahasiswa, udah pada bete, stres, dan pengen cepet-cepet balik dan keluar dari segala jenis kepenatan di alam semesta.

Awalnya gue agak bisa bernapas lega karena sebelumnya Justine harusnya maju duluan. Tapi entah kenapa tiba-tiba pas udah duduk di depan dan lagi nyiapin materi presentasinya, dia balik lagi ke kursi penonton dan gue denger Pak Ari manggil, “Himawan!” Masyaolooh. Mungkin karena ada kendala di infokusnya ato laptopnya yah, jadinya gue langsung sesak pas masih nyari sisa-sisa oksigen di ruang itu.

Dari awal, emang gue gak punya stance yang jelas tentang skripsi gue. Pertama kali ngebaca Kim dan Jungle Book series, satu-satunya hal yang kepikiran dalam otak adalah coming-of-age karakter utamanya. Tapi setelah baca-baca lagi, I realized that there are some things waaaaay more complex than just that. Ada hubungan yang menarik antara Inggris, Irlandia, dan India dalam karya-karya itu, and I thought that that could be a good premise to start off for my skripsi.

Gue gak akan membahas apa-apa aja spesifiknya yang akan dibahas dalam skripsi gue ntar. Poinnya adalah, by the time my turn for presentation comes, I simply have litle to talk about. Dosen-dosen bilang bahwa apa yang akan gue bahas udah pernah dibahas extensively sama orang lain, dan gue harus caritau apa hal baru yang akan gue tawarkan untuk skripsi gue nanti.

Walhasil, since I blanked and made so many digressive arguments which Pak Ari then stated that he “totally ha[d] no idea what [I was] talking about”, gue akhirnya akan membahas perjalanan tokoh utama di novelnya untuk menemukan dirinya. Dosen-dosen bilang, bahasan gue akan jadi biasa-biasa aja kalo gitu–“mediocre at its best.” So, my title for skripsi is officially “Aktualisasi Diri dan Identitas Personal dalam Tiga Karya Fiksi Rudyard Kipling.”

Pas dikasih tawaran judul itu, honestly, there are some part of me that cracks, karena self-actualization itu akan jadi bahasan di bab 2. Tapi ya, sudahlah. This might be what I deserve and earn…

…for which I hope I could be grateful.