“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)

Film “Human”: Sentakan Masif dalam Tidur Panjang

Seorang gadis kecil dari Catalonia, Spanyol duduk tenang menatap kamera. Tanpa ragu, ia mulai membuka mulut dan membagikan pengalaman paling sulit selama ia hidup: kehilangan ayahanda tercinta. Di awal, ia tampak berusaha keras untuk tidak menangis, tapi akhirnya air matanya tumpah juga. Terkhusus saat ia mengingat apa yang ayahnya dulu biasa lakukan semasih hayat dikandung badan.

Layar berubah. Sekarang, terlihat bocah laki-laki dari Portugis yang teringat saat ia dijual oleh ibunya sendiri demi mempertahankan hidup keluarganya. Titik paling menohok mungkin saat ia “dijanjikan akan dipukul” atau bahkan dibunuh kalau tidak mau menuruti perintah orangtuanya. Namun, dari pengalamannya sebelumnya, ia akhirnya berani angkat bicara: “saya tak takut, Ma!” dan, kalau memang ibunya harus melakukan itu, ia tetap, lanjutnya dengan wajah bijaksana, “tidak akan merasa takut.”

Di saat itulah, napas saya berhenti. Butuh beberapa detik bagi saya untuk memproses itu semua sebelum layar menampilkan narasumber lain dengan cerita-cerita menyedihkan yang lain. Untunglah penonton diberikan kesempatan untuk meresapi dan membiarkan air mata membanjiri pipi, dengan visualisasi menakjubkan berupa montase yang menampilkan tidak hanya aktivitas sehari-hari manusia dan upacara adat, tetapi juga lanskap luas di daerah tertentu yang sangat memanjakan mata.

mv5bmtq5mdc1njc4mv5bml5banbnxkftztgwodazmzkwnze-_v1_
Upacara Castellers di Vilafranca del Penedes, Catalonia, Spanyol (sumber: imdb)
mv5bmtg4nzc3mda3nl5bml5banbnxkftztgwnzazmzkwnze-_v1_
Salar de Uyuni di dataran tinggi Bolivia, Provinsi Daniel Campos, Potosi, Bolivia (sumber: imdb)

Montase-montase ini menandai pergantian topik dengan narasumber yang berbeda. Topik-topik seperti keluarga, cinta, kehilangan, keadilan jender, kemiskinan, imigrasi, dan kemiskinan, memenuhi sepanjang film yang berdurasi 190 menit ini dengan senyum bahagia, tangis, tertawa miris, kernyitan dahi dan juga gejolak amarah, tak hanya dari narasumber tapi juga penonton.

Film dokumenter besutan Yann Arthus-Bertrand ini berfokus pada cerita-cerita manusia “biasa” yang luar biasa dengan total 2000 orang dari 60 negara. Menggunakan enam bahasa, yaitu Inggris, Rusia, Spanyol, Portugis, Arab, dan Perancis, orang-orang yang diwawancarai ini diberikan kebebasan menceritakan pengalaman mereka sejujur-jujurnya, dan Bertrand memperdengarkan jawaban mereka dengan layar hitam dan tanpa musik pengiring. Sepanjang film, kamera hanya menyorot wajah penuh para narasumber, seolah-olah mereka sedang bercerita langsung ke penonton.

mv5bmtc1njc5mjmxn15bml5banbnxkftztgwmzezmzkwnze-_v1_
Pemuda Afghanistan yang harus kabur dari negaranya sendiri karena tidak tahan akan perang yang hingga saat ini belum berakhir. (sumber: imdb)

Bertrand menolak memasukkan nama para narasumber dalam film dengan alasan agar para penonton mampu melihat pengalaman mereka bukan dari suku, ras, atau bangsa mana mereka berasal, tapi melihat sebagai manusia pada umumnya. Agar mampu melihat manusia sebagai spesies yang bernapas di bawah langit yang sama, melihat matahari yang sama, dan istirahat di bawah bulan yang sama.

Cerita lain yang benar-benar menyentuh saya hingga ke jantung hati, selain dua cerita di atas, adalah seorang ayah di Perancis yang diberikan anak laki-laki cacat bernama Aloysha. Ia sempat bingung mengapa Tuhan menitipkan seorang anak yang tidak sempurna fisiknya bagi keluarga yang “sehat, bahagia, dan sejahtera.” Barulah beberapa tahun kemudian, ia akhirnya menyadari bahwa Tuhan menitipkan Aloysha padanya agar ia belajar bahwa “Tuhan itu ada,” di antara dedaunan, angin, dan bintang-bintang.

Momen yang agak mengejutkan, kalau tidak menakutkan, adalah ketika seorang perempuan India berteriak-teriak soal kemiskinan dan kesengsaraan yang selama ini menghinggapi hidupnya. Ia merasa bahwa pemerintah tidak melakukan apa-apa selain  duduk dan mengeruk tenaga mereka untuk keuntungan mereka sendiri. Orang-orang pemerintah, lanjutnya, tidak lain hanyalah “pencuri yang bermalas-malasan di balik meja dan hanya menatap kertas-kertas sampah di atasnya.” Mereka yang disebut pekerja adalah mereka yang bangun pagi hari dan benar-benar bekerja, di ladang sawah, di tanah kosong, di gubuk padi, atau di kebun jagung.

Bagi saya pribadi, menonton film Human ini seperti melihat proyeksi diri sendiri di balik bayang-bayang rasa takut, pesimisme, dan keputusasaan akan banyak hal. Dunia yang saya lihat saat ini adalah dunia yang penuh dengan kemewahan, materialisme, dan konsumerisme yang berlebihan. Orang-orang berlomba memajang diri di media sosial untuk menunjukkan pada orang lain sambil seolah berkata “saya lebih baik dari kamu tauk!”

Jelas munafik jika saya bilang bahwa saya tak pernah melakukan hal serupa. Tapi, di sisi lain, terdapat kehampaan yang terintip dalam hati saya yang penuh dengan gairah ketenaran itu, dan itu menghancurkan saya dari dalam, secara pelan-pelan. Dalam “dunia yang dilipat” seperti sekarang ini, manusia satu melihat dan memperlakukan yang lain tidak sebagai manusia atau spesies dari famili yang sama. Tetapi sebagai rival yang sifatnya semu dan hanya berada di permukaan. Itu juga mungkin yang menyebabkan saya menjadi cepat sekali untuk menghakimi orang lain dengan sekejap mata. Tanpa tedeng aling-aling, kita diperosokkan ke dalam dunia di mana persaingan superfisial menjadi arena cari muka.

Maka, ini adalah teruntuk teman-teman yang sama-sama ingin mulai bangun dari tidurnya, ingin merasakan hentakan masif terhadap fantasi yang terlampau tinggi, ingin tau bahwa di belahan dunia lain, ada manusia lain yang berasal dari famili atau genus yang sama dengan kita, yang sedang memimpikan apa yang kita miliki saat ini. Yaitu mereka yang mencoba tersenyum dalam getir pahit milenia yang kita olok-olok, ludahi, atau bahkan tak mau sekadar kita lirik. Dan, yaitu mereka yang, terlepas dari sisi dunia yang kejam, jahat, dan tak berperimanusia, masih ada sisi dunia lain yang pengertian, membuka tangan, dan patut diberikan anggukan setuju.[]

Antara Gelap dan Terang: Ketakutan dalam Film _Lights Out_

lo-00228
Martin (Gabriel Bateman) dan Becca (Teresa Palmer) dalam Lights Out (2016) | sumber: cdn3

Menurut saya, film horor yang baik adalah film yang mampu menampakkan sifat buruk manusia atau hal-hal yang perlahan menggerogoti sifat baik manusia melalui cara-cara yang subtil. Tak hanya menampilkan hantu-hantu berwajah mengerikan, ditambah suara musik pengiring yang membuat jantung nyaris copot, tapi juga mampu menyampaikan ide bahwa sisi gelap manusia dan sifat-sifat yang dibawanya (marah, dengki, benci, dendam, berkabung dan lainnya), sama juga dengan sifat-sifat baiknya, memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan alam semesta. Film-film seperti Babadook, Shelley, dan The Witch langsung menjadi favorit saya karena alasan tersebut, tapi kali ini sebuah film terbaru karya David Sandberg Lights Out langsung masuk ke dalam daftar film horor terbaik yang pernah saya tonton sepanjang tahun 2016.

Hidup di Amerika Serikat, bergaji cukup untuk menghidupi diri sendiri dan anak, bertempat tinggal nyaman, anak bersekolah di institusi di ibukota, memang menjadi impian sebagian orang. Namun begitu, kesibukan yang tak diseimbangkan dengan kondisi mental yang juga perlu perhatian justru bisa mengarah pada tekanan. Setidaknya itu yang terjadi pada Sophie, karakter yang diperankan Maria Bello. “Hantu” yang sering muncul di sepanjang film kali ini berbentuk bayangan perempuan hitam yang disebut-sebut sebagai Diana, karib Sophie semasa kecil. Jika The Conjuring 2 punya Valak atau The Witch dengan The Black Goat, Lights Out punya Diana. Tulisan ini, dengan begitu, secara subjektif akan membahas mengapa Diana muncul sesuai dengan apa yang sedikit banyak ditampilkan di dalam film.

Dari awal, penonton tidak diberikan keterangan yang jelas terkait apa yang terjadi dengan Sophie pada masa lalu. Yang jelas, anak-anaknya, Becca dan Martin, sesekali menyatakan bahwa ia “gila”. Tanda-tanda lain yang bisa diambil adalah ia pernah masuk rumah sakit jiwa bersama Diana bertahun-tahun silam, namun penyebab mengapa ia bisa sampai titik itu, tidak dipaparkan secara jelas. Salah satu argumen berangkat dari botol-botol pil kecil berwarna tangerine yang ditemukan anaknya Becca di kamar mandi. Ini cukup menjelaskan bahwa Sophie sedang melewati masa-masa sulit berdamai dengan beban dalam pikirannya. Ditambah lagi, fakta bahwa ia sering “berbicara sendiri” di kamarnya menjadi penanda bahwa pikirannya sedang tidak sehat.

Juga terlihat dalam sebuah adegan di mana ia memberikan secarik kertas pada Becca bertuliskan “I NEED HELP,” dan tak lama setelah itu baju hangat yang digunakannya tampak ditarik oleh sesuatu dari dalam yang membuatnya harus menutup pintu cepat-cepat dan kembali dalam kegelapan. Ini merupakan adegan yang menurut saya krusial pada kondisi psikologi Sophie sebagai seseorang yang berada di bawah tekanan berat. Penonton yang sudah terlanjur dibuat takut oleh mood adegan itu mungkin hanya bisa mengintip dari balik jari, khawatir ada penampakan yang muncul tiba-tiba. Penonton yang agak jeli mungkin akan melihat ini sebagai sebuah momen kepasrahan, di mana Sophie tampak tak berkutik di hadapan Diana yang membawanya masuk ke dalam kamar gelap. Di titik ini, jika kita lihat fenomena ini dengan perspektif yang lebih luas, Sophie bisa jadi wakil atas mereka yang hidup dalam kesendirian dan kungkungan rasa takutnya sendiri. Ia adalah persona yang menggambarkan betapa mengerikannya hidup dalam jeratan pikiran negatif yang terlanjur membenalu.

Kata “takut” akhirnya menjadi poin penting dalam film ini (seperti yang dikatakan trailer-nya bahwa “Anda sudah seharusnya takut dengan kegelapan”). Berawal dari suaminya, petugas perempuan di kantor suaminya, Becca, Martin, hingga Bret, ketakutan yang berakar dari mendengar cerita tentang “kegilaan” Sophie, ditambah saat berada di dalam rumah besar yang minim cahaya, jelas-jelas menjadi pemicu Diana untuk hadir. Dengan kata lain, karakter pendukung yang berusaha membantu Sophie menemukan siapa dirinya dan membebaskannya dari rasa takutnya sendiri, menjadi incaran sebuah bahaya luar biasa yang bisa melukai mereka, bahkan secara fisik. Namun begitu, berbeda dengan Sophie, mereka mampu menghadapi kegelisahan dan cemas yang menimpa mereka dengan cepat.

Dari film ini, dengan begitu, saya belajar bahwa rasa takut dapat bermanifestasi menjadi berbagai bentuk yang mungkin tak pernah kita sadari. Kegelapan, misalnya, adalah bentuk lain dari takut dan kecemasan. Ia juga mewakili adanya bahaya dan teror yang akan muncul karena itu adalah kondisi di mana cahaya sedang tidak hadir. Sementara itu, cahaya adalah lambang kebebasan, keterbukaan, dan keberanian. Seperti yang dikatakan Martin pada Sophie, “hal paling berani yang pernah kita lakukan adalah menghadapi rasa takut kita sendiri.” Masalahnya adalah dengan apa kita akan menghadapinya? Apakah dengan “menyalakan lampu”, yaitu menanamkan kekuatan dalam qalbu bahwa ada entitas yang jauh lebih besar dari diri ini, atau, seperti yang Sophie lakukan di akhir film, menembak kepala sendiri karena tak tau dan tak mau tau cara menghadapi rasa takutnya sendiri?

Dari tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk tidak lagi melihat film horor, atau mungkin film pada umumnya, sebelah mata saja. Simbol, perumpamaan (imagery), dan kode-kode visual lain yang muncul di dalamnya adalah strategi untuk membangun sensitivitas kita terhadap hal-hal yang sering kita abaikan. Dari National Institue of Mental Health, hampir 40 juta orang di Amerika Serikat mengalami “mental ilness” yang berkisar dari umur 18 ke atas setiap tahunnya. Kesibukan dunia yang begitu mematahkan leher jaman ini, dengan demikian, terkadang membuat kita abai dengan hal-hal lain yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang atau dengar dengan telinga terbuka, yang sebetulnya membawa kita kembali pada diri kita sebagai seorang manusia, yang membutuhkan kekuatan jauh lebih besar di luar tubuh ini. Film, dengan begitu, menjadi salah satu penyambung antara kita dengan entitas itu, dan Lights Out, bisa dibilang, telah berhasil melakukannya.

Sumber:

https://www.adaa.org/about-adaa/press-room/facts-statistics

Simbol-Simbol dalam Film Rumah Dara

d34b38c92f93fa23fbb04fe7e347162d-d30jbfh1
Poster Rumah Dara

Satu film horor Indonesia yang bikin gue berhasil gak napas (dan hampir jantungan!) selama satu setengah jam adalah Rumah Dara, atau yang judul internasionalnya Macabre, yang dirilis tahun 2009. Awalnya gue agak skeptis untuk nonton film horor Indonesia, apalagi setelah beberapa tahun yang lalu diajak nonton Mati di Ranjang (Tiran) yang pemainnya Dewi Persik. Selepasnya, gue bersumpah sama diri sendiri gak akan pernah mau nonton film horor Indonesia. Tapi, yang satu ini bener-bener bikin keyakinan gue runtuh. Film besutan The Mo Brothers dengan pemain Shareefa Danish, Julie Estelle, Arifin Putra, Imelda Tharine, dan Ario Bayu, ini adalah, kalo gak salah, film slasher pertama di Indonesia. Tapi tenang aja, gue ga akan bahas ulang plot cerita filmnya kayak apa, seperti yang sudah banyak orang lakukan.

Gue akan bahas simbol-simbol yang ada di film ini, yang berperan penting dalam pengembangan jalan cerita, beberapa di antaranya ditampilkan melalui objek-objek tertentu, kayak kalung Dara, kepala rusa bertanduk yang dipajang, sampai satu sudut kamera yang sangat penting. Siapa yang tau? Ternyata semua itu punya peranan penting sebagai basis filosofi filmnya itu sendiri. Seperti belasan kepala rusa yang dipajang di sepanjang dinding rumah Dara bisa diasumsiin sebagai sumber roh yang disembah Dara dan keluarganya, yang darinya juga Dara, Maya, dan Adam dapet “kekuatan” masing-masing. Atau juga, simbol Ourovoros Ophis yang muncul pas satu polisi muter film tentang Dara dan anak-anaknya, ternyata adalah simbol keabadian. Nah, penasaran lebih lengkapnya kayak apa? Simak terus, yap!

Eh tapi, gue mau ingetin dulu bahwa ini semua adalah interpretasi gue. Hehe. Sebagai penikmat film dan mahasiswa sastra, gak salah dong kalau nafsir sana sini? Hihi. Tapi tenang aja, gue udah cari beberapa bacaan di internet tentang film ini dan simbol-simbol terkait yang muncul di filmnya (niat banget ya?). Dan gue akan cantumkan sumber bacaan di bawah tulisan ini, jadi kalian juga bisa cek sendiri kalo ragu-ragu 🙂

  1. Kalung

Oke, simbol pertama yang bikin gue masih penasaran sampe sekarang adalah kalungnya Dara. Objek ini muncul pertama kali pas adegan makan malam. Ladya bilang ke Dara bahwa kalungnya bagus dan nanya apa artinya bentuk kalung itu. Dan dengan simpel dan tanpa berkedip, Dara menjawab bahwa kalung itu adalah “pemberian turun-temurun keluarganya”. Dari jawabannya, penonton yang jeli mungkin akan menganggap kalo kalung itu adalah sesuatu yang penting bagi Dara, dan mungkin anggota keluarga yang lainnya.

RUMAH DARA 9
Kalung Dara – Makan Malam

Gimana enggak? Kalo ada barang yang diwarisin secara turun-temurun pasti kan barang itu adalah sesuatu yang berharga dan harus dilestarikan. Dan pasti Dara punya motif tertentu untuk terus menggunakan kalung itu.

Setelah itu, film mulai melaju. Keanehan-keanehan di rumah mulai muncul, dan para tamunya mulai gelisah. Satu persatu orang-orang mulai dibunuh, setelah diikat, disekap, dan, ehm, hampir diperkosa. Dan di sepanjang film, terlepas dari baju apa yang Dara pake, pasti kalung itu selalu nempel, gak pernah terlihat gak ada. Nah, dari sinilah asumsi gue muncul.

RUMAH DARA 5
Dara terus pake kalung, di adegan lain

Fakta bahwa Dara selalu pake kalung “turun-temurun” itu dan selalu dipakai terus menyimbolkan bahwa keluarga Dara bisa dibilang penganut animisme. Animisme secara umum adalah kepercayaan yang berasumsi bahwa alam memiliki jiwa dan kesadarannya sendiri. Nah, alam di sini berarti mencakup seluruh makhluk yang bukan manusia: hewan, tumbuhan, bahkan benda-benda. Dalam artikelnya, Alan G. Hefner dan Virgilio Guimaraes berpendapat bahwa animisme juga bisa berarti pembentukan manifestasi roh yang berupa medium. “Bukan tabu lagi bahwa medium tersebut dapat berfungsi untuk mengantarkan roh. Ini juga terjadi ketika medium dipasang di bawah tekanan untuk menghendaki fenomena spiritual.”

Lanjutnya lagi, seorang antropolog dari Inggris, Sir Edward Burnett Tylor, dalam bukunya Primitive Culture (1871) berteori bahwa “orang-orang jaman dulu menyadari sejumlah objek tak hidup karena objek-objek tersebut memiliki karakteristik tertentu atau bersikap dalam cara yang tidak biasa, yang secara misterius membuat mereka tampak hidup.”

Bentar dulu. Kalo emang kalung itu sebagai “medium” dari roh yang disembah sama keluarga Dara, terus “roh”nya yang sebenarnya apa dong?

2. Kepala Rusa Bertanduk

Inilah simbol kedua. Roh yang disebut-sebut di simbol pertama di atas adalah kepala rusa bertanduk. Sejak Ladya dan temen-temennya ngeliat-liat rumah Dara, terlihat ada satu dinding yang dipajang kepala rusa bertanduk, dengan ukuran yang macam-macam dan mungkin jenis kelamin yang macam-macam pula. Simbol ini penting karena pada adegan itu, kamera sempat menangkap gambar close-up dinding ini, setelah sebelumnya mengambil gambar dengan sudut medium shot.

RUMAH DARA 1
Ladya dan Kepala Rusa Bertanduk

Argumen lain adalah bahwa di awal film, ada montage yang menampilkan Dara dan anak-anak kecil di meja makan. Di dindingnya, terdapat juga kepala rusa bertanduk. Sayangnya, di bagian itu, wajah perempuan yang lebih besar gak diliatin, tapi kemungkinan besar sih Dara, tapi itu kan baru mungkin. Nah, gue mulai yakin bahwa itu Dara pas polisi yang dateng ke rumahnya nonton sebuah film lama dari proyektor di ruang tengah. Barulah keliatan jelas bahwa perempuan itu adalah Dara, meskipun adegannya lagi gak di meja makan sih. Tapi muka anak-anaknya sama, yang berarti bahwa perempuan yang di awal montage itu adalah perempuan yang sama juga.

RUMAH DARA
Montage di awal film

3. Bahasa Tubuh

Ini mungkin yang cukup mengganggu sepanjang film. Yap! Apalagi kalo bukan cara ngomong keluarga Dara yang agak formal, baik dari intonasi maupun dari struktur kalimatnya. Kayaknya agak klise yah ngebayangin ada orang yang “biasa-biasa” ngobrol sama kita dengan bahasa tinggi? Ya tapi itu semua dibuat untuk memberi kesan dramatis atau hororis. Entahlah.

Selain nada bicara, kalo kalian perhatiin, di sepanjang film, karakter-karakter yang tinggal di rumah Dara hampir jarang berkedip. Entah itu kalo lagi ngomong, atau lagi ngedengerin orang. Ada beberapa adegan sih yang mereka berkedip banyak, tapi cuma satu itu aja. Sisanya, matanya kebuka lebar-lebar, kadang dengan senyuman kecil yang ditarik pelit, membuat muka Dara terlihat kayak hantu beneran.

RUMAH DARA 10
Ngeri: Shareefa Danish sebagai Dara
RUMAH DARA 2
Jarang Berkedip: Arifin Putra sebagai Adam dan Imelda Tharine sebagai Maya

Sebenernya gak hanya dua itu. Ada satu bahasa tubuh lagi yang bisa jadi petunjuk bahwa keluarga Dara gak hanya kanibal dan psikopat, tapi juga penganut roh-roh antik yang kita nggak tau pasti apa itu. Yaitu: cara berjalan.

Baik Dara, Maya, maupun Adam, semua cara jalannya sama: kalem, tenang, dan seolah-olah agak berat, kayak keseret. Ya jelaslah! Kalo mereka “hidup” pada jaman itu, mungkin usia mereka udah ratusan tahun. Kok bisa? Nah, dalam satu adegan di mana seorang polisi lagi ngecek-ngecek rumahnya Dara, dia ngeliat ada tumpukan foto Dara dan anak-anaknya. Gue langsung kaget pas liat pas polisi itu membalikkan fotonya, dan mulai deh ketawan kapan foto itu dibuat. Di bawah tulisan “Maya” dan “Adam” dengan gaya tulisan sambung old-fashioned, tertera “1917”. Dan di bawah tulisan “Dara”, tertera “1889.” Nah loh. Pantesan aja suara Dara agak berat, iyalah, nenek-nenek berumur 120 tahun! Hiiiiii. Ngeri ga lo?

4. Ourovoros Ophis

Weits, apaan nih? Yap. Gue juga belum pernah denger frasa ini sebelumnya. Ourovoros adalah simbol bergambar naga atau ular yang memakan ekornya sendiri. Dan simbol ini muncul di film lama yang ada di rumah Dara. Menurut laman-laman internet yang gue cari, simbol ini menandakan infinity atau keabadian. Biasanya, bentuknya melingkar, dan “digunakan sebagai perwakilan konsep-konsep besar, seperti waktu, keberlanjutan hidup, kelengkapan, pengulangan sejarah, kemapanan alam, dan kelahiran kembalinya Bumi.”

592fc3cfea1f5844294fd95f17d357c7
Ourovoros Ophis
RUMAH DARA 11
Simbol yang muncul dalam film

See? Simbol yang dijadikan “maskot”nya Dara dalam “proyek”nya ini ternyata cukup jadi bukti kuat bahwa keluarga Dara adalah penganut kepercayaan para nenek moyang antik yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang pada jaman di mana ia tinggal saat ini. Dengan simbol ini, keluarga Dara dibuat percaya bahwa gak peduli udah berapa kali mereka mati, mereka akan tetap hidup. Nah, mungkin gak sih kalo pas tamu-tamunya Maya dateng ke rumahnya, Dara dan keluarganya itu udah pernah ngundang tamu-tamu lain, dan pernah ditusuk atau dicoba dibunuh oleh tamunya, tapi tetap hidup.

Bisa keliatan di adegan pas Adam dibakar Ladya. Penonton udah kebayang betapa hancurnya tubuh dan wajah Adam pas dia dilahap api. Dan pas udah yakin kalo Adam mati, Adam masih tetap hidup, dengan kondisi kulit yang lembab karena api. Setelah itu baru pas Ladya memenggal kepalanya, dan, yah, sayangnya, gak ada keterangan lagi apakah Adam masih bisa hidup atau memang udah benar-benar mati. Begitu juga dengan Maya, yang setelah ditembak di wajah oleh Syarif, gak terlihat lagi ada Maya di adegan selanjutnya. Tapi, bukan berarti dia terus mati kan?

Ada lagi satu adegan yang menimbulkan pertanyaan, yang menurut gue juga jadi punchline-nya Dara tentang “rahasia”nya.

RUMAH DARA 14

Nah, dalem adegan ini, Dara udah mulai gila dan gak jaim lagi seperti di awal-awal film. Konteksnya dia lagi ngomong sama Ladya, dan tiba-tiba bilang ini. “Mereka ingin kamu, karena mereka ingin hidup lebih lama,” setelah ditanya Ladya kenapa dia melakukan ini semua dan gak bisa membiarkan mereka pergi dari rumahnya. Sebuah pertanyaan jelas muncul: mereka itu siapa?

Dalam artikel lain, para “animis menyajikan pengorbanan, doa, tarian, dan jenis pengabdian lainnya untuk para roh dengan harapan diturunkan rahmat untuk sejumlah aspek kehidupan (tanaman, kesehatan, kesuburan, dan lainnya) atau untuk perlindungan dari mara bahaya.”

Sebelum ditutup, gue mau bahas satu frame penting dalam film ini yang juga berperan sebagai petunjuk atas rahasia keluarga Dara.

RUMAH DARA 4
Dara bertanduk

Selama beberapa detik, kamera menyorot wajah Dara dengan latar belakang salah satu kepala rusa bertanduk yang dipajang di ruang tengah rumahnya. Pada saat yang bersamaan, frame-nya terlihat mencekam tapi juga sinematografis. Banyak pesan yang terkandung di sana. Satu di antaranya adalah bahwa penyejajaran kepala Dara dengan kepala rusa di belakangnya, sehingga membuat kepalanya bertanduk, menyiratkan bahwa posisi manusia dan hewan sama dalam sudut pandangnya. Ini berbanding lurus dengan animisme yang “menganggap bahwa semua elemen di dunia ini adalah satu, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hewan-manusia, lelaki-perempuan, semuanya sejajar di hadapan digdaya alam.”

Meskipun pada adegan akhir-akhir film, Ladya terlihat mencekik Dara dengan kalung saktinya, dan penonton percaya betul bahwa perempuan gila itu sudah mati, seperti seharusnya, Dara tetap hidup. Sama halnya pas dia ditabrak pohon setelah adu jambak dengan Ladya di mobil, tangannya tetap bergerak. Dengan kata lain, dia tidak pernah benar-benar mati.

RUMAH DARA 7
Jari Dara bergerak

Well, itulah tadi analisis (cieh) sederhana gue terhadap simbol-simbol yang ada di film Rumah Dara. Buat kalian yang udah nonton, ya semoga pas nonton lagi, bisa kebantu dengan informasi ini. Kalo yang belom nonton, akses ke film ini mudah banget kok, di Youtube juga udah tersedia film versi lengkapnya.

Baiklah. Selamat menonton (lagi!)

Referensi

Animism. http://www.themystica.com/mystica/articles/a/animism.htm

Animism: The New Advent. http://www.newadvent.org/cathen/01526a.htm

Compelling Truth: What Do Animists Believe? What Is Animism? http://www.themystica.com/mystica/articles/a/animism.htm

Ouroboros: Symbolic Representation of Coming Full Circle http://www.crystalinks.com/ouroboros.html

Wikipedia: Slasher Films. https://en.wikipedia.org/wiki/Slasher_film

Yahoo! Answers: What Does the Symbol of a Snake Eating Its Own Tail Mean? https://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20060802154316AAqbqN2

Youtube. Rumah Dara: Darah (Macabre) (Subtitle English). https://www.youtube.com/watch?v=K1S4WcB3hw4