Amang-amang Angkot and I

“Being me, it will not be white.
But it will be a part of you, instructor.
You are white–
yet a part of me, as I am a part of you.
As I learn from you,
I guess you ulearn from me…”

  • “Theme for English B” by Langston Hughes

It was 16.53. I was sitting in the driver’s seat of angkot “Cileunyi-Jatinangor” when my patience began to fizzle. Not only did I have to struggle to secretly cover my nose from the unavoidable smoke of the amang-amang driver, but also I had been waiting for almost 30 minutes! In an angkot! My destination was to Dunkin Donuts, and it was located a bit far from the main gate of my uni, so angkot was my preference instead of foot.

The next 7 minutes, right before my mind forced me to get out and walk instead, this thought came across me. And that was where everything changed.

I heard the amang driver shouted “nangor” or “jatos” a couple of times with an exaggerated voice. I saw him lol his head out of the window and did what he had to do. Some times, other drivers staying by (also perhaps waiting for their turn) approached him and talked gibberish, not realizing that I had wasted more of my time as watching they two talk.

A random uneasy feeling invaded me, and I began to fiddle with my smartphone, re-re-reviewing a collection of my photos to avoid looking like some kind of loser or like a weirdo or something. Until the passengers sitting on the back-side of the car, perhaps fed up, decided to go offboard and choose another more available vehicle. I grew impatient as he turned off the car engine.

Five or seven minutes later, the car started to bulk up. As one and then another passenger seemed to walk toward the angkot, I smiled nonchalantly, but the wait was just horrible. I got angrier as the amang cried out the same word over and over again, as loudly as possible, feeling as though he people he shouted at would pay him any mind. But they, of course, just did not.

However, the more he shouted, the more I somehow became sympathetic to him. At the umpteenth shoutings, I could feel his disappointment not only on not being attended, but also on how much optimism he had exerted through his shoutings. I suddenly imagined his worriness, as he returned home and met his family, and didn’t put his best effort into his occupation.

On the other hand, what I never thought of was the fact that the amang driver does not just experience it once in his life. Being an angkot driver, who had to “narik” and withdraw as many people as possible, regarding the long distance that the angkot will go through, every day, every night, in fact he must experience that, no matter what. That same disappointment; that same pent-up feelings, that same worriness and anxiety. Meanwhile, I was judging all those things in just 7 minutes or so, which was nothing more compared to his struggle and his battle.

I then, questioned myself: who is, or should be, more impatient? Me or him?

Now that I already know the question, I must pose one last thing: I have nothing, indeed, to complain.

Advertisements

Sekolah di Luar Negeri: Kultur Pengaminan dalam Masyarakat Indonesia

Minggu pertama Mei 2016, Line News Digest atau sekarang LINE TODAY merilis artikel tentang betapa “sederhananya” kehidupan artis cantik dan penyanyi Maudy Ayunda yang sedang berkuliah di Oxford University. Pas saya cek Youtube, ternyata ada beberapa vidio lain dari channel Maudy sendiri yang isinya adalah pengalamannya berkuliah di salah satu universitas tertua di dunia itu.

Maudy Ayunda
Vidio-vidio unggahan Maudy Ayunda (dok.pri)

Gak bohong ini sih. Dengan konten-konten yang menarik, sinematografi yang ciamik, musik yang menggelitik (ini maksa yah biar berima aja), ditambah bisa melihat si “Rena” dewasa yang cantik, jumlah penontonnya sudah dalam kisaran ratusan ribu. And it is all great. No wonder about that. But the problem does not lie there. It starts, in fact, somewhere else.

Ketika saya cek Facebook, beberapa anak SMA, entah itu teman-teman adik saya atau mereka yang pernah saya bimbing mengerjakan soal Bahasa Inggris untuk UN atau SNMPTN di SMA-SMA di Jatinangor dan Rancaekek, mereka menulis status yang menyatakan bahwa betapa kerennya si  Maudy ini. “Banyak modal,” kata salah satu dari mereka, beberapa yang lain bilang: “perfeck banget!”

Belum selesai, komentar-komentar yang muncul juga beragam. Ada yang setuju, ada yang merasa biasa saja, ada juga yang keliatannya kalimatnya biasa-biasa tapi sebenarnya mengimplikasikan bahwa dia suka.

Saya pun langsung berpikir: these guys only see what they see on the surface. Dengan entengnya, mereka bisa buat komentar-komentar dengan kalimat yang bahkan belum jadi kalimat. Yang saya takutkan adalah anak-anak yang sedang dalam masa peralihan antara UN dan SBMPTN (atau SMA dan kuliah) akan beranggapan bahwa berkuliah di luar negeri itu adalah pencapaian yang gak bisa terbeli dengan harga berapapun.

Mereka mungkin luput bahwa, katakanlah, Maudy memang datang dari keluarga yang lebih dari berada, terlepas dari intelektualitas Maudy sebagai seorang mahasiswi. The same thing goes with, for example, Gita Gutawa atau Vidi Aldiano, atau artis-artis lainnya yang berkesempatan sekolah ke luar negeri. Namun, saya tidak akan mempermasalahkan fakta bahwa mereka cukup beruntung karena mampu secara finansial. No, we all know that they are rich even before we knew they were.

Yang akan saya  bahas di tulisan ini adalah, dari satu contoh kasus di atas, terdapat semacam pengaminan dalam kultur dan pola pikir masyarakat Indonesia yang kemudian membuat mereka luput 1) bahwa ada proses menyakitkan dan tidak mengenakkan hati di sepanjang perjalanan sebelum mencapai sukses itu dan bahwa, untuk kasus yang agak ekstrem, 2) melumrahkan anggapan bahwa pendidikan di Indonesia itu belum seberapa dibandingkan pendidikan di luar negeri, di negara apapun itu. Saya mungkin salah, tapi bukan berarti kedua hal di atas tidak mungkin terjadi. Kembali lagi, bahwa ada pengaminan bahwa luar negeri dijadikan semacam kiblat untuk keberhasilan studi seseorang. Ada juga pengaminan bahwa siapapun yang bisa berkuliah di luar negeri, maka ia kemudian dianggap unggul secara intelektual dan, kalau merujuk ke salah satu komentar di facebook tadi, “sukses dunia akhirat.”

Kasus ini sebenarnya juga terjadi pada saya. Sewaktu di semester 1 kuliah, saya dan beberapa kawan sempat terpesona ketika hari perkenalan dosen-dosen tiba. Di layar perak, mereka menampilkan biodata singkat dosen dan tempat dulu mereka menempuh studi. Ada satu dosen yang berkuliah di satu universitas di luar negeri, dan saya jujur tak tau di mana itu (yang jelas di Amerika Serikat). Namun demikian, tetap saja, collective memories dalam otak saya menganggap bahwa universitas tertentu di luar negeri itu, di manapun dia, itu keren dan “wah.” Setelah hari itu selesai, sempat terbersit dalam pikiran saya bahwa “ya saya mah cuma di universitas ini” dan terus-menerus mengasihani diri sendiri. Ternyata, setelah saya cek akreditasi universitas dosen tadi, ternyata biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak ada yang perlu dibanggakan, tapi juga bukan untuk diremehkan. Namun, karena kultur pengaminan tadi yang mulai (atau sudah) berkembang dalam paradigma saya, universitas itu, dan dosen tertentu itu, tetap saya lihat sebagai panutan.

Kultur pengaminan ini sebenarnya sudah mulai melekat dalam benak masyarakat Indonesia sejak, setidaknya setelah saya menginjak bangku SMA, terbitnya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Negeri Lima Menara-nya (beserta dua novel lanjutannya) A. Fuadi. Di novel-novel itu, beberapa karakternya digambarkan sukses dalam studinya dengan (akhirnya) mampu bersekolah di luar negeri. Alif di New York sebagai wartawan VOA, satu temannya lagi (saya lupa namanya) di Turki, Ikal di Sorbonne University, dan Arai di London. Semua pembaca pasti kalau tidak tergerak hatinya pasti terharu melihat perjuangan semua karakter itu melewati rintangan dan hambatan untuk mencapai tujuan belajarnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Tak ada sama sekali itu. Justru perjuangan mereka mesti diapresiasi setinggi-tingginya.

Namun demikian, pemberian apresiasi itu  juga menjadi kerumitan tersendiri. Para pembaca (dan penonton vidio-vidio Maudy Ayunda) dikhawatirkan bukan lagi tergerak atau mungkin terharu dengan perjuangan mereka bisa berkuliah di sejumlah universitas ternama dunia. Persepsi mereka telah disetir bahwa pendidikan di  luar negeri sudah menjadi maskot, menjadi kampiun bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul, terus siapa yang bisa menebak bahwa, dengan pandangan seperti itu, ada kemungkinan bahwa mereka menganggap remeh pendidikan di Indonesia?

Argumen saya, kemudian, adalah bahwa kultur pengaminan semcam ini mesti dihentikan secepat mungkin. Meskipun saya tidak menutup kemungkinan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih banyak celah yang bisa ditinjau ulang dan direvisi, saya yakin tidak ada upaya yang sia-sia untuk mengatakan bahwa “pendidikan di Indonesia juga bisa sama juaranya dengan pendidikan di luar negeri.” Masalah lain pun muncul: mengapa kita mesti menjadikan patokan itu dengan luar negeri? Atau segala sesuatu yang berbau luar negeri dijadikan cult atau semacam patokan yang “baik” bagi negara yang “bukan luar negeri.”

Semua ini bisa dimulai dengan melihat dari banyak sudut pandang, dengan melihat sisi lain dari apa yang terjadi, dan mencari implikasi dari sekadar “pernyataan.” Saya rasa sudah bukan jamannya lagi untuk membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain, khususnya dalam hal yang Indonesia belum lakukan atau sudah lakukan tapi tidak maksimal hasil akhirnya. Masyarakat yang masih terjebak dalam paradigma bahwa “luar negeri adalah segalanya” mesti ditegur dengan cara apapun untuk tidak masuk dalam keterlanjuran itu.

Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/kultur-masyarakat-indonesia-yang-mengamini-superioritas-studi-di-luar-negeri_57356c9d26b0bd2512d3eedd

In Memoriam: Musholla FIB Unpad

myhome

Just last Saturday this mid-May I decided to sleep over at campus, only to entertain myself from the hilly-billy of my skripsi. I brought anything necessary; I filled my stomach and got ready to surf. One of other destinations I had planned to visit was Musholla FIB Unpad. Not only is it warm at night, but also no one barely came there after college time ends. That is why that becomes the most comfortable place to stay over night or just chill out.

Shortly, I slept there and everything seemed okay. Until the next day, I returned to my kos-kosan and found this photo in Line’s Official Account of DKM Al-Mushlih FIB Unpad. At first, I was shocked because I never really thought this would happen. I mean, the building was constructed 2 years ago (if I’m not mistaken), and we were convinced that it would last, at least 5 years. But who knows?

This afternoon, I came to see it on my own, and it was right. In the front door, a label saying “Sementara tidak digunakan karena atap roboh,” kept my eyes and felt a little heart-broken. However, I already had my ablution and prayed there anyway. It stroke me that as I did the takbir, I felt a bit worried and kept questioning: “What if all of a sudden a part of the roof fell down and hit me right on the head?”

My prayer got distracted for a little while.

In a flash, my mind ran into a thousand pictures or memories. Although it only went, like, I don’t know, four-five seconds, but the spur of that moment punched me in the chest.

But one that I recalled most vividly is that of two years ago, particularly when I was still joining an organization called BPM (or Student Council) and the musholla was just a concept in a piece of paper and a topic at late-night supper discussion. Back then, most of the time of our meetings, we talked to each other about the construction of a new musholla, knowing that the old musholla was 1) not big enough for both male and female students; 2) the space for ablution was no better; and 3) it was initially constructed to hold Shalat Jumat, so that the staff or students having an event in Friday do not have to go down to Mesjid Raya Unpad.

What an idea, right?

I thought it was a great plan too. But, then again, a plan is just a plan. When the musholla was opened for the first time, each party involved gathered and they were smiling and happy, thinking that “this is a new day!”

But, eventually, Allah is what decides in our hands.

From that point, I learned that I must not get too self-satisfied for what I have achieved, earned, or gotten. The options are only two: if it does not lead you to mere happiness, it does to disappointment. No matter how solidly I have planned along the way, but if it is not good for me and not suitable for me at the moment, then it’s time to give it away, let it be, and move on.

“Love your lover mildly, who knows that one day (s)he becomes your enemy, and hate those who you hate mildly as well, who knows one day (s)he becomes your lover.” (Hadits Riwayat Turmizi)

Kursi Panas SUJS

Ini cerita tentang Seminar Usulan Judul Skripsi (SUJS) Sastra gue. It’s not a publicly readable writing I believe. I just think that I might have to write it down so that it wouldn’t trouble me anymore, and so I can move on to another phase in my life. Sapa tau suatu saat gue udah sukses (amin) dan baca-baca tulisan ini lagi trus tiba-tiba nangis dan sedih aja karena sadar betapa begonya gue waktu itu (dan sekarang juga). He.

Gue dapet urutan ke-15 di hari pertama, dan udah hampir jam 4 sore, which means…gue adalah orang terakhir yang presentasi. Itu adalah kondisi di mana semua orang, gak dosen gak mahasiswa, udah pada bete, stres, dan pengen cepet-cepet balik dan keluar dari segala jenis kepenatan di alam semesta.

Awalnya gue agak bisa bernapas lega karena sebelumnya Justine harusnya maju duluan. Tapi entah kenapa tiba-tiba pas udah duduk di depan dan lagi nyiapin materi presentasinya, dia balik lagi ke kursi penonton dan gue denger Pak Ari manggil, “Himawan!” Masyaolooh. Mungkin karena ada kendala di infokusnya ato laptopnya yah, jadinya gue langsung sesak pas masih nyari sisa-sisa oksigen di ruang itu.

Dari awal, emang gue gak punya stance yang jelas tentang skripsi gue. Pertama kali ngebaca Kim dan Jungle Book series, satu-satunya hal yang kepikiran dalam otak adalah coming-of-age karakter utamanya. Tapi setelah baca-baca lagi, I realized that there are some things waaaaay more complex than just that. Ada hubungan yang menarik antara Inggris, Irlandia, dan India dalam karya-karya itu, and I thought that that could be a good premise to start off for my skripsi.

Gue gak akan membahas apa-apa aja spesifiknya yang akan dibahas dalam skripsi gue ntar. Poinnya adalah, by the time my turn for presentation comes, I simply have litle to talk about. Dosen-dosen bilang bahwa apa yang akan gue bahas udah pernah dibahas extensively sama orang lain, dan gue harus caritau apa hal baru yang akan gue tawarkan untuk skripsi gue nanti.

Walhasil, since I blanked and made so many digressive arguments which Pak Ari then stated that he “totally ha[d] no idea what [I was] talking about”, gue akhirnya akan membahas perjalanan tokoh utama di novelnya untuk menemukan dirinya. Dosen-dosen bilang, bahasan gue akan jadi biasa-biasa aja kalo gitu–“mediocre at its best.” So, my title for skripsi is officially “Aktualisasi Diri dan Identitas Personal dalam Tiga Karya Fiksi Rudyard Kipling.”

Pas dikasih tawaran judul itu, honestly, there are some part of me that cracks, karena self-actualization itu akan jadi bahasan di bab 2. Tapi ya, sudahlah. This might be what I deserve and earn…

…for which I hope I could be grateful.