“Critical Eleven”: Gambaran ‘Gelap’ Pasangan Kelas Menengah Berkarir di Indonesia

teaser-CRITICAL-ELEVEN-e1493888792235
Adinia Wirasti dan Reza Rahadian sebagai Anya dan Ale (sumber: 21cineplex)

Di satu titik dalam masa-masa sekolahku, saat pemikiranku masih naif dan bahan bacaanku belum kaya, aku sempat berpikir bahwa aku takkan mau menikah. Gagasan pernikahan rasanya terlalu maju, jauh, dan mengerikan bagiku yang saat itu masih berpacaran (atau tepatnya pacar-pacaran). Berbagai pertanyaan dan kritik atas banyak hal terus kulancarkan agar menghindari komitmen: “Apa rasanya hidup berdua dengan seseorang yang kita yakini kita cintai selama bertahun-tahun?”

Hidup sama ibunda tercintaku saja di rumah kadang sudah membuatku jengah, entah karena berebut remote control TV atau tak bicara satu sama lain karena aku sedang malas diajak menemaninya ke rumah sepupu. Bagaimana kalau nanti aku pulang ke rumah sementara yang menyambutku malah bibi asisten rumah tangga karena istri sedang lembur? Bagaimana kalau punya anak kecil umur 7 tahun yang doyannya mengoyak-ngoyak karpet ruang tengah? Phew. Berat. Mengingat-ingat itu beberapa tahun silam membuatku jadi gelisah sendiri sekarang, ditambah saat mengetahui bahwa beberapa karib terdekatku juga berpikiran serupa.

Tahun 2013, sebuah artikel mengatakan bahwa di Amerika, institusi pernikahan sudah dianggap remeh, khususnya bagi kaum kelas menengah, yang menganggap dirinya mandiri secara karir dan finansial. Mereka berpikir bahwa pernikahan hanya membawa lebih banyak rugi dibandingkan untung. Lambat laun, pemikiran ini diterima sebagai sebuah stereotip yang berkembang sampai akhirnya voila! Survei Komunitas Amerika  tahun 2012 mengklaim bahwa 23% laki-laki di Amerika dan 17% wanita memutuskan untuk tidak menikah.

Tahun 2008, Corinne Maier meluncurkan buku berjudul No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children, di mana ia memaparkan sederetan alasan para pasangan tak seharusnya memiliki anak. 2 tahun kemudian, aku mendengar bahwa Indonesia sedang ramai tren keluarga tak beranak (childless family) atau pasangan tanpa anak (child-free couple). Pertanyaan yang muncul adalah: benarkah saat itu, dan mungkin saat ini, orang-orang kelas menengah memilih untuk menikah, memuaskan hasrat seksual, dan menjalani tetek-bengek rumah tangga tanpa kehadiran buah hati? Apakah dengan terus bertambahnya generasi Z, katakan, 10 tahun mendatang perkawinan menjadi sebuah institusi yang tak lebih sakral dibandingkan, misalnya, merayakan pergantian tahun?

Pekan lalu, aku diajak menonton film Critical Eleven, dan aku lega sekali. Bukan karena ekspektasiku yang tinggi terbayar lunas dengan akting mumpuni dari Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tapi karena film ini melemparku kembali ke masa-masa di mana aku masih berpandangan naif soal pernikahan. Ale dan Anya, dua sosok modern kelas menengah yang karirnya sudah kokoh, ditempatkan pada situasi yang rumit. Tak bisa dibantah, keduanya menjelma perwakilan para pasangan kelas menengah berkarir yang baru menikah dan, bisa dibilang, tengah meraba-raba langkah apa yang mesti diambil untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Siapa yang sangka, gagasan kesuksesan lewat pekerjaan yang menyita tenaga-pikiran-waktu, dengan sekejap dipukul mundur saat cinta mempertemukan keduanya di perjalanan ke Sidney.

Meski tak ada indikasi waktu sudah berapa lama mereka menikah saat pindah ke New York, penonton bisa tau bahwa kehidupan rumah tangga mereka mungkin lebih indah dari kisah cinta Katie dan Hubbell di film The Way We Were. Dari awal film, tampak jelas sekali Anya adalah perempuan abad ke-20 yang pandai mengurus diri. Sisi “elite” dirinya tampak lebih jelas saat ia mengobrol dalam bahasa Inggris dengan sahabat-sahabatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi Ale. Inilah yang kemudian ditonjolkan kuat-kuat di film ini: modernitas.

Beberapa film terakhir yang juga mengangkat kehidupan rumah tangga pasangan kelas menengah berkarir adalah “7/24” (MNC Pictures, dibintangi Dian Sastrowardoyo & Lukman Sardi). Namun demikian, konteks yang diberikan adalah mereka sudah memiliki anak dan peristiwa yang terjadi saat keduanya mencuri-curi waktu untuk tetap bekerja saat seharusnya beristirahat. Critical Eleven, di sisi lain, menawarkan lebih dari itu. Ia menjelajahi rangkaian-rangkaian emosi terpendam yang dialami Ale dan Anya, hingga pada akhirnya menggiring keduanya pada rahasia gelap yang tak bisa diucapkan melalui sebatas kata. Sebagai pasangan baru menikah dan menantikan kehadiran anak pertama, mereka merasa perlu menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran Aiden.

Namun, masalah muncul, yang juga menjadi titik keberangkatan cerita, saat Aiden gugur dalam kandungan. Adegan-adegan yang menampilkan kesedihan Ale dan Anya di tengah film ditampilkan melalui montase-montase panjang yang ditambah alunan violin yang menyesakkan dada. Tak sadar, sepasang air mata juga turun membasahi pipiku. Tapi, sekarang, aku menyadari, kesedihan yang dialami pasangan itu tidak bisa dilihat sebagai kesedihan semata, tetapi sebuah kegagalan besar.

Bagi mereka, gagal memiliki anak juga berarti gagal menapak satu langkah kecil dalam mind map kesuksesan yang telah mereka rancang. Terbiasa dengan kata-kata “berhasil”, pengakuan sosial yang tinggi, dan reputasi baik di tempat kerja, mereka justru menjadi ciut saat kegagalan menghampiri. Dengan kata lain, mereka mengalami krisis paruh baya yang mungkin juga dirasakan oleh pasangan kelas menengah berkarir lainnya di Indonesia, dan ini bukan kegagalan yang main-main. Dalam benak perempuan seperti Anya, ia pasti akan bertanya: apa jadinya jika keluarga Risjad tau masalah pribadi mereka?

Inilah titik yang paling ditakuti para pasangan baru menikah kelas menengah yang berkarir. Isu sesungguhnya yang diangkat dari cerita Critical Eleven adalah bukan fakta bahwa Anya mengalami keguguran. Tetapi pilihan-pilihan yang harus dibuat Anya untuk mendefinisikan dirinya antara “istri” dan “wanita karir”. Saat Anya jatuh ditabrak sepeda, ia menganggap semuanya baik-baik saja, tapi tidak bagi Ale. Saat Anya diajak pulang ke Jakarta, ia memutarbalikkan argumen Ale bahwa ia sedang “hamil” dan bukan “sakit”. Lalu, tiba puncaknya ketika adegan makan malam, Ale mengklaim bahwa kematian Aidan adalah sebab Anya, yang membuatnya berang dan pelit bicara.

Ini semua adalah pilihan sulit yang harus dihadapi Anya, tidak hanya sebagai seorang istri, tetapi juga sebagai perempuan karir. Hidupnya seperti berada di bawah kendali penuh suaminya, dan ia tak ingin berada dalam kekangan itu. Itulah mengapa bagiku, adegan Anya menenggelamkan diri ke kolam renang dan muncul ke permukaan sambil menangis, menjadi sangat metaforis dan penting dalam film ini.

Di akhir film, Ale dan Anya bersatu kembali dan memiliki anak bernama Ansel, yang dapat dilihat sebagai simbol harapan. Adegan penutup yang memperlihatkan kumpul-kumpul keluarga memang tampak klise untuk film drama romantis, tapi tidak bagi film ini. Ia tak hanya berhasil mengembalikan suasana hati penonton setelah dicekoki dengan materi yang “berat-berat”, tetapi juga memberikan peringatan halus bagi penonton untuk dibawa pulang atau dibuang ke tempat sampah, yaitu bahwa bagi sebagian orang, beradaptasi membutuhkan proses yang panjang dan kadang-kadang rumit.

Seperti kata Anya, beradaptasi butuh “menata perasaan-perasaan yang muncul dan tenggelam”, sampai akhirnya ia bisa menata keberadaannya sendiri di New York, atau di manapun para pasangan, yang sudah atau belum menikah, kelas menengah lain yang sedang membaca ini.[]

(Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/critical-eleven-gambaran-gelap-pasangan-kelas-menengah-berkarir-di-indonesia_591ba7b97fafbd520bbc1031)

Advertisements

Cerita Magang di Sekretariat Negara RI

September berakhir. Periode magang gue di Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia juga ikut berakhir. Akan bohong kalau bilang gue gak dapet pengalaman, cerita, dan mungkin derita selama sebulan ini. Wkwk. Tulisan reflektif singkat ini adalah pengingat bahwa at least gue udah tau sedikit banyak rasanya jadi PNS gimana, dan berada di sekitar istana negara, lengkap dengan sentinel bersenjata di pintu masuk dan anjing-anjing pelacak dari Paspampres tiap pagi. Tapi yang paling penting, ini adalah tentang gimana rasanya jadi seorang pekerja, yang rela bangun pagi-pagi dari Senin sampai Jumat, dan mendambakan weekend.

 

Kok Bisa Magang, Wan?

Pas bulan Juli 2016, kalo gak salah mau masuk bulan puasa, jurusan gue, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unpad, ngeluarin surat undangan gitu buat mahasiswa. Isinya adalah tawaran magang di sekretariat negara (setneg), yang periodenya selama sebulan. Di titik itu, gue kondisinya abis banget lolos seminar (jadi kayak prasidang skripsi) dan fokus menyusun strategi untuk ngerjain skripsi di semester depan.

Tentu aja gue langsung tertarik dong, dan mengirimkan CV ke kantor prodi. Dua minggu setelahnya, ada telfon dari Biro Penerjemahan dan Naskah di Setneg, yang bilang bahwa gue diterima magang di sana. Jujur waktu itu ga terlalu seneng atau sedih, karena berbagai faktor. Bokap gue bilang bahwa pas magang nanti, “[gue] akan cuma jadi babu!” wkwk. Kerjaannya disuruh-suruh, motokopi kertas, terus ngangkatin barang, kadang kadang malah beliin makan siang pegawai senior. Hahaha. Miris bener ya Allah. Ya namanya juga bocah kencur, belom tau apa-apa soal dunia permagangan, jadinya gak bisa banyak komentar dan ngerespons.

Tanpa basa-basi, gue akhirnya langsung kontakan sama Dini Rahmatiar, rekan magang, dia anak sasing juga seangkatan sama gue. Dengan perasaan takut, khawatir, dan was-was yang sama, at least gue ngerasa gue ga sendirian. Haha. Untungnya, kekhawatiran itu pupus seketika pas gue bisa ketemu Dini di kantor untuk pertama kalinya. Dan dari sinilah perjalanan kami bermula. *musik pembuka Insidious*

 

Hari Pertama

Hari pertama adalah bencana. Bermodalkan duit seadanya dan muka yang pas-pasan (kalo ini mah gausah ditanya Wan), gue naik bus A44 dari perapatan Ciledug. Cuma Rp 10.000 coi! Kapan lagi naik bus semurah itu ke Jakarta Pusat? Yaudah. Gue inget banget pake baju batik lengan panjang, celana bahan, dan pantofel. Sumpah udah kek mo pegi kondangan. Dan di dalem bus cuma gua yang bajunya serapi itu. Yang lain ibu-ibu gitu pake daster sama kerudung asal pake gitu yang panjang, sambil bawa tas-tas gede dipangkuin. Yah, wajarlah. Emang tujuan bus itu juga mau ke Blok M sih.

Singkat cerita, gue sampe di kantor pertama kalinya jam 8 pagi, setengah jam lebih telat dari jam masuk seharusnya. Untung ya, gak ada hal aneh-aneh yang terjadi. Bayangan gue sampe sampe langsung disemprot gitu sama bos: “Kamu nih, baru juga magang udah belagu. Pulang kamu! Saya ga mau liat muka kamu lagi.”

Yak, mungkin gue aja kali yang kebanyakan nonton drama.

Sesampainya di kantor, Pak Syarif langsung nyambut kami dan ngenalin kami ke semua pegawai di sana. Wiii semuanya ramah-ramah banget. Ada yang masih muda, banyakan udah kepala tiga.

Sampe jam makan siang, belom ada pekerjaan yang dikasih ke kami. Walhasil, gue sama Dini makan siang dulu di kantin BRI bareng sama anak-anak magang lain dari Universitas Islam Al-Azhar Jakarta. Semuanya cewek. Jadi gua paling ganteng 🙂 Hahaha.

img_20160921_085618

 

Rutinitas Pagi 30 Menit-an

Di hari ke lima magang kalo ga salah, gue dan Dini udah mulai bisa beradaptasi dengan kondisi setneg. Kami udah mulai ngebolang di kantor, dari gedung 1 sampe 3. Dan di dalemnya ada apa aja. Dan gue mulai sadar bahwa di depan gedung tempat gue, gedung 3, tepatnya di Asisten Deputi Bidang Naskah dan Terjemahan, itu ada jogging track gitu. Jadi di tempat penukaran kartu identitas, tepat di sebelahnya ada taman luas, terus kalo jalan terus ada air mancur. Nah, yaudah deh. Sejak hari kelima itu sampe akhir hari magang, gue selalu nyempetin diri untuk joging bentaran.

Ini bisa gue lakukan soalnya bis jemputan dari Ciledug kan nyampe kantor jam 6.30 pagi (bayangin dong gue harus bangun jam berapa wkwk), dan itu sejam lebih awal dari waktu masuknya. Tentu gue punya waktu kosong sejam untuk leha-leha kan. Bisa sih gue browsing browsing apa gitu (karena internetnya cepet!), tapi kan bete juga kalo seharian depan layar mulu. Yang ada minus kacamata gue bisa nambah. Yaudah, dari rumah, semalemnya, gue masukin baju kantor plus celana, dan udah siap pake setelah olahraga dari rumah. Agak ribet sih emang, tapi ya demi kepuasan pribadi, apa aja siap dilakuin dong. Hehehe.

img_20160926_073350

img_20160914_063549

 

Kantin “Nutella” dan Jogging Mellow

Ini juga adalah hal favorit lain yang gue suka di sini: makan pagi! Jadi sebelum mandi abis joging, gue biasa beli sarapan dulu di kantinnya. Gue kira di sini ga ada kantinnya gitu, bener-bener gedung buat kerja wkwk. Ternyata gue keliru.

Kantinnya cukup luas dan menu makanannya enak-enak. Sayangnya…agak mahal. Buat ukuran gue yah, yang itungannya masih mahasiswa haha. Kalo buat bapak bapak ber-eselon ini sih sepertinya ga akan keberatan mau ngeluarin uang berapa aja. Bayangin nih roti abon yang gedenya kayak roti sandwich Sari Roti (bukan promosi) rasa keju krim aja harganya 6 ribu. Tapi yaudahlah.

Karena roti abon itu mahal (meskipun enak), akhirnya menu satu-satunya pagi itu adalah bakpau hijau dengan cokelat nutella cair! Parah. Lo ga akan ngebayangin ada roti seenak itu di Jakarta wkwk. Apalagi kalo dateng ke kantin pagi-pagi pas belom ada orang, udah deh, tu satu loyang bapau gue embat semua wkwk. Dan harga satu rotinya cuma Rp 1.500. Nah! Ini baru setara sama kocek gue. Ini baru emansipasi! *ngepalin tangan di dada*

Pansiwan.

img_20160916_065420

img_20160927_063741

kantin-setneg

Ada yang lucu. Jadi tiap hari Jumat kan ada senam gitu di halaman utama setneg. Sampe jam 8 atau setengah 9 gitu. Jadi pas gua dateng jam 6.30, biasanya udah kedengeran tuh lagu-lagu lawas gitu dari speker yang ditaro di air mancur utama. Yang gue ga abis pikir, ternyata senamnya itu pake lagu lagu lawas. Haha. Terakhir tuh pas Jumat kemaren, mereka nyetel lagu Broery yang “Widuri”. Omg wkwk. Gua penasaran kan lagi di dalem kantin kedengeran, terus pas gue keluar, gerakannya lagi slow motion gitu ibu ibu semua hahaha. Sumpah lah pecah bgt. Gue mau nahan ketawa tapi ga enak karena gua takut ditembak ama tentara yang lagi makan juga di meja sebelah gue. Jadilah gue buang muka aja sambil ngintip-ngintip dari jauh.

img_20160916_070916

img_20160930_064701

 

Jalan-Jalan keliling Jakarta

Minggu kedua adalah minggu eksplorasi. Tingkat kesotoyan gue sama Dini mulai meningkat ke level yang lebih absurd. Lebih ke ngebet sih sebenernya, mumpung lagi di daerah ibukota kan, jalan-jalan keliling Jakarta adalah pilihan pertama kami. Sebenernya Dini mah udah muak jalan jalan di sini karena rumahnya deket di Palmerah wkwk. Gue sih yang lebih ngebet sebenernya karena gua jauh dari pusat kota Jakarta. Tadinya kami bingung mau naik apa, karena duit gue hari itu cuma cukup buat makan siang sama naik gojek pulang. Untunglah Dini punya kartu transport buat Trans Jakarta. Jadi, nothing to worry about. Wk..

bus-tour-mawan-dini

 

bunderan-hi-mawan-duduk-1

Ternyata, perjalanan dadakan ini gak terjadi hanya sekali. Tapi…entah udah berapa kali. Dua kali deh kalo ga salah. Yang terakhir itu kami jalan ke Istiqlal sama Gereja Katedral. Gue selama ini kan cuma bisa ngeliat cuplikan orang salat idul fitri atau idul adha di Masjid Istiqlal doang. Dan kesan pertama gue terhadap tempat itu adalah megah banget gitu. Kayak Hagia Sophia di Turki. Langit-langitnya tinggi dan tempat salatnya lapang. Ga jauh dari mesjid itu, ternyata seberangnya ada Gereja, dan pas gue liat dari luar kayanya kece tuh buat foto-foto. Yaudahlah jadi deh ke sana juga.

istiqlal-mawan-2

katedral-mawan-5

 

Perpustakaan

Sebagai orang yang suka baca, gue selalu cari tempat yang asik buat baca dan duduk lama-lama. Untunglah, ruangan gue deket banget sama perpustakaannya setkab. Tiap hari, koran-korannya selalu diperbarui. Buku-bukunya kebanyakan tentang pembangunan, pemerintahan, dan marketing gitu. Tapi itu bukan berarti ga ada karya fiksinya. Gue suka banget kalo misalnya kerjaan udah beres, trus sambil nunggu zuhur 30 menitan gue baca-baca buku apa aja. Ruangannya yang kecil dan adem bikin siapapun yang masuk ke perpus bisa betah berlama-lama di sini. Bahkan, beberapa kali gue sering liat ada pegawai yang diem diem tidur di sofa panjangnya. Ups, ketawan kan. Wkwk.

img_20160930_072333

 

Lari ke Monas!

Jadi, pas minggu kedua, karena sering ngeliat gue masuk ruangan pake sepatu joging dan celana training, beberapa pegawai ada yang iseng nanya, “Himawan lari ke Monas?” dan dengan polosnya gue bilang enggak. Karena gue sama sekali ga kepikiran bisa lari sampe Monas. Dan kalo gua liat liat lagi, ternyata emang setneg itu deket banget coi sama Monas wwkwk. Ya Allah Wan. Selama ini mata gue dibutakan sama kekuatan syaitonirojim kali ya. Padahal barang setinggi seputih gitu di depan mata kaga bisa keliatan juga wkwkw.

Yaudah, akhirnya, setelah berhasil menyempatkan waktu dan keberanian untuk keluar setneg tanpa pake kartu identitas (karena gue nuker kartu identitas abis joging biasanya), gue berhasil sampe ke Monas. Gue ga nyangka akses masuknya segampang itu. Gue kira masuk situ bayar berapaa gitu atau kayak harus nunjukkin id card apaa gitu, ternyata kaga haha. Yaudah gue masuk dengan sotoinya, dan menguasai jogging track dengan seketika. Pansi wk.

monas-mawan-pose

Terakhir gue ke sini itu pas SD dan itu pas studi tour gitu. Gue inget kalo misalnya cape abis main layangan (karena waktu itu satu satunya aktivitas yang bisa dilakukan selain piknik adalah main layangan–JADILAH GUE SI ANAK ALAY) langsung gue minta bokap beli kerak telor wkwk. Sekarang, semuanya sudah sirna, ditelan masa 😦

Walhasil, mau ga mau deh, selesai jogging waktu itu, gue harus ke kantin dan beli roti abon yang mahal itu. Karena, jam 8an bapau nutella-nya udah abis.

 

Pesan-Pesan

Terakhir, gue seneng banget bisa diberikan kesempatan magang di Sekretariat Negara. Banyak banget pengalaman menerjemahkan yang gue dapatkan, khususnya dari Bu Ayu dan Bu Lulu. Sempet juga sih gue nyatetin pidato presiden dan pers per katanya, dan ini ternyata gak semudah yang dibayangkan. Kadang ada kata-kata yang gue suka miss dengernya, hingga kasetnya harus diputer ulang.

Gue jadi inget mata kuliah Labwork: Inferring and Responding waktu semester 4 yang diampu Bu Sally Andika. Di matkul itu, kami harus mentranskripsikan setiap kata yang kami denger lewat kaset atau lagu. Dan ini tuh susah lho coi wkwk. Mungkin karena pake bahasa Inggris ya. Awalnya, pas lagi kuliah itu, gue sempet mikir: “ni gua belajar ginian buat apa ya?” hahaha. Nyatetin perkataan orang, trus menafsirkan apa yang kita denger. Dan ternyata, skill itu bener bener kepake pas gue lagi magang di sini. Dan gue baru sadar, bahwa apa yang gue lakukan ini bukanlah hal yang kecil, tapi penting. Karena ini menyangkut perkataan Presiden dan citranya sebagai pemimpin negara, yang setiap katanya penting dan perlu dipertanggungjawabkan.

Gue juga belajar bahwa ternyata menjadi seorang PNS yang jadwal kerjanya penuh Senin sampe Jumat, dari jam 6 sampe 6 lagi, itu mungkin gak begitu menyenangkan buat sebagian orang. Ini mungkin penilaian gue yang sangat sangat subjektif, karena gue baru merasakan ini hanya sebulan, beda kayak para pegawai senior yang mungkin udah berbelas-belas tahun kerja di sana. Gue jadi belajar bahwa ketika balik ke rumah pas maghrib, gue ngerasain rindu sama rumah tiba-tiba, karena pisah sama rumah selama 12 jam. Dan rasa rindu inilah yang bikin gue selalu pengen membuat quality time sama orang-orang di rumah, gimanapun caranya. Entah sekadar dengan nonton TV bareng, gak perlu ngobrol, tapi cukup berada di situ juga udah cukup untuk mengobati rasa kangen selama di kantor hehe. Yah mellow dah.

Terakhir, gue juga belajar tentang pengorbanan nyokap gue. Beliau adalah PNS juga tapi beda kementerian. Tiap hari beliau harus mengalami siklus hidup yang kurang lebih sama kayak gue. Yang lebih dahsyat adalah, beliau harus bangun jauh lebih pagi dari semua orang untuk beres-beres rumah, nyiapin bekal buat semua orang, dan pulang dengan kondisi di bawah tudung saji makanan udah harus siap. Damn, man. Gue jadi belajar bahwa being a mother is one hell of a job, and that is what makes my mom a real woman. Benar-benar menyediakan diri di rumah selagi di rumah dan kerja saat di kantor. What an amazing human being, no? I’ve never thought I could multitask that way EVER.

Tambahan dikit juga, gue juga belajar bahwa di dunia kerja, serius boleh, tapi komunikasi yang, kalo minjem bahasa bokap gue, “sumeh” dalam bahasa Jawa atau ramah dan mungkin sedikit humor sama pegawai senior atau rekan kerja lainnya, bisa jadi nilai plus yang bener-bener diliat. Bener deh, gak rugi gue ikutan organisasi di semester awal kuliah, karena di sana gue belajar gimana caranya bekerja dalam tim untuk nyelesein satu program yang deadlinenya udah deket, tapi hambatan gak berhenti-henti dateng. Sementara, kita dituntut perfect dan gak boleh salah dalam bekerja. Even a single misplaced period or comma di satu kalimat aja bisa fatal akibatnya dan jadi bahan evaluasi abis-abisan.

Gue berharap bahwa, pengalaman magang ini gak hanya bisa memicu diri gue untuk senantiasa jadi orang yang fokus pada detil dan mengharapkan perfeksionis, tapi juga jadi orang yang semakin yakin bahwa proses yang panjang, susah, dan berliku adalah bagian dari perjalanan rumit sebelum menuju kesuksesan.

Salam magang!

Himawan.

 

 

 

Lagu “Indonesia Raya”: Kita di Mana?

indonesia2braya1
sumber: 4.bp.blogspot

Entah apa yang dipikirkan para peserta undangan kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Pada hari itu, lagu yang sekarang kita kenal sebagai lagu “Indonesia Raya”, diperdengarkan secara publik. Jelas, dengan lirik yang padat dan membakar semangat, lagu ini langsung memukau banyak pendengarnya. Para pemuda dan pemudi Indonesia begitu bangga dan terpesona, merasakan getar semangat kebangsaan yang terpercik dalam setiap kata-katanya. Sampai akhirnya saat ini, lagu itu kemudian konsisten menjadi lagu kebangsaan Indonesia, belum ada yang berani menggantikannya.

Selama 21 tahun resmi bernapas bebas di Indonesia, saya selalu merasa bangga saat momen ulang tahun negara Indonesia dirayakan. Tanggal 17 Agustus selalu menjadi saat-saat mendebarkan, setidaknya bagi orang-orang di rumah. Kami akan berkumpul di ruang keluarga dan menonton upacara kenaikan bendera merah putih di stasiun tivi yang menawarkan sudut kamera paling bagus. Kalau bendera sudah merangkak naik, sambil marching band memainkan lagu “Indonesia Raya”, kami menghindari banyak bercakap, membiarkan kekhusyukan itu masuk ke dalam relung hati kami.

Sampai setidaknya dua hari yang lalu.

Singkat cerita, saya diundang mengikuti konferensi internasional ke-10 tentang hubungan Indonesia dan Malaysia di Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti of Malaya. Di hari kedua, yang juga hari terakhir, seselesainya panel sesi pertama, seorang profesor dari Universitas Lancang Kuning mengambil alih posisi pembawa acara dan mengumumkan bahwa saat coffee break nanti, semua orang Indonesia diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Akhirnya, kami semua turun ke lobi. Beberapa orang tampak belum mau mengambil kopi dan camilannya karena menunggu momen menyanyi lagu kebangsaan, sementara saya sudah habis dua piring cupcake dan segelas lemon tea. Ya namanya sudah keburu lapar mau bilang apa? Hehe.

Selang berapa menit setelah itu, kami semua diminta berdiri. Suasana menjadi agak mengharukan karena Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaannya sementara saya sedang tak berada di sana. (Ditambah juga dengan selebrasi kemenangan Tontowi dan Liliana di ajang Olimpiade Rio 2016. Selamat!) Wah, pasti Indonesia sedang berpesta pora. Tapi, di lobi itu, semuanya tak sama lagi.

Tepat saat menyanyikan lagu kebangsaan, di lirik “di sanalah aku berdiri” saya jadi tepekur sendiri. Kalau posisinya saya sedang berada di Malaysia, mengatakan “di sana” sebagai rujukan untuk Indonesia, sepertinya lebih pas. Dibandingkan saat saya di Indonesia, dan mengatakan “di sana.” Jadi, selama ini saya berdiri di mana? Di “sini” atau di “sana”? Hayo. Jadi makin bingung deh.

Yang ingin saya katakan adalah entah apa yang Almarhum Wage Rudolf Supratman pikirkan pada tahun 1928, sehingga kata-kata “sana” muncul dan bukannya “sini.” Sehingga, kesan yang timbul dari kata itu menunjukkan bahwa lagu ini memang harusnya dinyanyikan bukan di Indonesia. Ini juga mungkin yang menjadi alasan Tontowi tampak begitu haru saat menyanyikan lagu itu sambil memberi hormat pada sang saka karena memang itulah momen yang tepat untuk menyanyikannya.

Maka dari itu, kembali lagi: apa ya yang sebenarnya dipikirkan oleh para tamu undangan kongres Pemuda II tahun 1928 itu? Ya, mungkin ada yang juga bertanya-tanya soal liriknya. Atau mungkin ada juga yang ikut-ikutan nyanyi saja. Atau mungkin, sudah kepikiran makanan apa saja yang dihidangkan di meja prasmanan.

Anda yang mana?

(juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/lagu-indonesia-raya-kita-di-mana_57b70d6c90fdfd9d42ea0dba)

Nurul Imam: The Lone Survivor

It was May 2013. Reza and I were discussing various international issues for the upcoming debate competition in UIN Sunan Gunung Djati Bandung, while Imam was just being idle listening to our chit-chats next to us. I barely knew both of them because they just got enrolled the previous year. However, it did not take a long time for us to get along with each other.

The library that afternoon was a bit quiet, and Imam was not feeling well. I kept asking him whether he should lay down or take a gulp of mineral, but he said he was just fine. No one is fine when they say they are, right? So I though he was suggesting to himself, while I knew deep down, he was not. As the competition day was getting closer, only little did we rehearse, but I had nothing to lose.

In a nutshell, we got the second best winner, losing over Telkom University Bandung. The day was long, just like a typical debate competition day I’ve joined before, and the chance of feeling chipped away was twice as likely to occur. However, Imam filled the rest of that arduous day with his sheer jokes, while Reza directly occupied himself by fiddling with his smartphone alone. By then, I saw that Imam would never see his friends knocked down by a heavy situation.

Until finally, he was the one who got knocked down.

In the middle of 2014, he started to skip classes, and I became not the only one noticing. People began to throw comments on Imam avoiding their friends because of some “error” that he did in his freshman year, but I didn’t want to jump to conclusions, so I confronted him already. Everytime I sat him down, we mostly exchanged stories, particularly our daily activities or what kept ourselves busy at the moment, never a subject that would let him down, so I didn’t. Our last talk concerned about him working part-time in a chemistry laboratory, making medicines and stuff. I just listened, and listened, sometimes with a short “oh” or a sharp nod of confirmation.

Until one time, I met him at a library wearing a kind of long scarf around his head. I was excited because it was our first time catching up with each other after that talk. He showed me a video of a person having an operation of a sinus infection. It was truly…disgusting. On screen, the camera, edged on the tip of the needle or the equipment to draw the “meat” inside the nose, was inserted into that person’s nostril, slithering through a flock of thin mucus before it clicked on some wet gel-like stuff and dragged it outwards. I did not understand him showing me that video; one thing I knew was he seemed to have difficulty breathing properly.

The next days, he disappeared completely. After a number of my occupied days, he texted me, asking me to talk to his professors on certain subjects that semester and made them compensate him being ill. I thought OK and did it immediately.

Few months before he passed away, he LINE-d me, asking me to come by to his house in Rancaekek. I kept making promises that I would indeed do that, but I never did. However, I had no regrets because I knew he would always welcome me whenever I wanted to visit.

I would imagine him standing on the front door with his cheerio smile and directing me to the TV room, right before introducing me to his loving mom and beautiful sisters (or nieces?). He would offer me fruits, as he had offered me many other things before, and conversated with me without noticing the time pass by.

Imam never spoke to me about his mistake, as other people with whom we share friends told me, but we all make mistakes. We err. And we can blame only ourselves. Imam, in fact, has taught me that we shall not shape our characteristics depending on the judgments from other people, and that self-pity destroys us.

I will always remember his sense of humor, and how he “femininely” gestured as he blew jokes here and there, which made him even funnier. I will also remember his optimistic nature. That he would be a prominent linguist. That he would bring along his parents to Mecca one day. That he would be a better person in the world and the afterworld.

My best prayers lurk within you, Mam. You were a big speck of dust, dancing in the storm.

apturea