KPI dan LGBT: Wabah Takut yang Mengancam

www_myacceptance_org_by_parkera-d49nafw

Saat membaca ulang tulisan Ibu Julia Suryakusuma di Jakarta Post saya jadi kepikiran: benarkah kaum LGBT telah menjadi sosok komunis baru di era pascarevolusi? Dan tampaknya, kaum LGBT sudah bukan lagi “tikus rumah” yang membuat Ibu Julia, dan mungkin siapapun, berteriak ketakutan, tapi dalam kasus yang lebih ekstrem, bisa seperti Iran yang wajib “dihapuskan dari peta.”

Kengerian ini seolah sedemikian kuat dan menjalar, persis seperti kanker yang belum terdeteksi. Dari gembar-gembor media yang menampilkan berita terkait isu LGBT (Saipul Jamil dan Indra Bekti), hingga puncaknya saat KPI melarang sedaftar hal yang tidak boleh ditampilkan oleh “pembawa acara, talent, atau pengisi acara lainnya” di layar kaca. Belum selesai, masih ingat kasus yang stiker LGBT di aplikasi Line juga tak boleh  beredar? Atau tepatnya, tidak jadi beredar. Kemudian kita disogok dengan iming-iming “supaya anak-anak generasi penerus tak jadi korban.” Ya ampun, maksudnya? Tak jadi banci?

Masalahnya, siapa yang bisa menjamin kalau kemudian tayangan di TV yang menampilkan para penghibur melakukan hal berbau kebanci-bancian, anak-anak tidak akan, bisa dibilang, ikut-ikutan jadi banci? Dalam curhatannya di Kompasiana, Ibu Emmy Rhomianty sudah menjabarkan secara singkat terkait pengaruh televisi terhadap perkembangan psikis anak. Ia mengatakan bahwa televisi mampu memberikan physical aggression secara tak langsung yang dapat berdampak pada psikologi anak ke depannya. Apa akibatnya? Anak tersebut kemudian akan mengalami “fase konsumtif,” di mana gambar-gambar yang sudah terekam di benaknya, akan terus melekat, terlepas dari hadir atau tidaknya gambar yang sudah ia lihat saat itu juga.

Dengan kata lain, meskipun tampilan kebanci-bancian di media akan dihapuskan, ini bukan berarti anak-anak tidak akan menghadirkan kembali tampilan tersebut di benaknya dengan berbagai cara, dan ini tidak mesti dilakukan dengan menonton televisi. Hayo, lebih ngeri mana?

Tapi, sebetulnya uneg-uneg saya bukan ke arah sana. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa keputusan KPI tersebut juga sangat berkemungkinan berdampak pada bidang ilmu tertentu yang, baik secara langsung maupun tidak, mengeksplorasi ilmu-ilmu dan penelitian terkait LGBT, seperti misalnya Fakultas Sastra, atau kalau dalam kasus saya, Fakultas Ilmu Budaya.

Lihat saja,  berapa banyak penelitian, skripsi, atau ilmu di bidang sastra yang mengeksplorasi seksualitas. Sebagai pendukung argumen mahasiswa sastra dalam penelitiannya, tentu argumen atau teori orang-orang (yang kebanyakan) radikal atau melenceng dari konformitas sebagai bentuk kritik terhadap situasi dan kondisi yang dihidupinya saat itu, akan sangat mungkin digunakan. Apa jadinya jika akan membahas novel Jane Eyre tanpa mendekatinya dengan melibatkan argumen dari, misalnya, Judith Butler atau Simone de Beauvoir? Bagaimana dengan Wide Sargasso Sea? Tentu karya-karya itu hadir bukan hanya untuk jadi pembunuh bosan di kala lengang. Terselip agenda politik tertentu yang ingin dilanggengkan penulisnya dengan menuangkan pemikiran dan ideologinya dalam kata-kata dengan struktur yang tidak kalah kompleksnya.

Bagaimana dengan teks seperti The Madwoman In The Attic karya Sandra Gilbert dan Susan Gubar, yang sampai sekarang terus dipampang di referensi tulisan-tulisan kritik sastra seluruh dunia? Lha terus para peneliti susastra yang menggunakan teks itu sebagai salah satu sumber rujukan mereka, bagaimana kabarnya? Apa mereka harus ganti topik penelitian? Atau sekalian saja, pemerintah melarang mahasiswa sastra menulis skripsi atau penelitian yang ada hubungannya dengan “kebanci-bancian” dalam pemahaman mereka. Dan ngomong banci juga bisa bahaya banget kalo gak sesuai pada tempatnya, lho bapak-bapak!

Waktu kecil saya sempet nonton acara sitkom di TV dan salah satu pengisi acaranya sering melontarkan istilah “banci monster” ke pengisi acara lain. Sebegitu seringnya ia mengucapkan itu saya jadi ingat frasa itu ke mana-mana. Sampai akhirnya di pasar swalayan, saya yakin melihat apa yang saya yakini sebagai banci, lengkap dengan tampilannya yang heboh, lalu tanpa ragu saya panggil dia banci. Bukannya marah, orang itu tertawa. Dia bilang ke ibu saya, “ah gapapa Bu, udah biasa.” Di sisi lain, ada orang yang akan sangat tersinggung dengan panggilan itu karena mungkin dengan menjadi banci ia hanya bisa mencari nafkah, dan tak sedikit orang yang sebenarnya di luar tampak “baik-baik saja” tapi sebenarnya ia bekerja sampingan sebagai seorang, maaf, banci. Jadi, itu juga  mesti ditinjau ulang.

Bicara tentang banci, Bu Suci Handayani Harjono juga sempat mengutarakan kegelisahannya dengan keputusan KPI. Ia mengajukan pertanyaan: kalau memang laki-laki tak boleh tampil dengan pembawaan perempuan di media, bagaimana dengan Didik Ninik Thowok? Terus bagaimana dengan Srimulat? Tokoh Arjuna? Lalu, juga, Almarhum Tessy? Yang selama hidupnya dikenal karena kiprahnya dalam dunia seni peran (terkhusus di televisi). Apa yang terjadi jika saat Srimulat sedang jadi tontonan paling tunggu di primetime hours beberapa tahun yang lalu, kemudian orang-orang KPI tiba-tiba menyerbu dan teriak “ganyang Srimulat! Ganyang bancinya!”

Pertanyaan baru menjadi muncul: terus kenapa sekarang? Kenapa baru saat ini KPI heboh membuat sensasi dengan menyebar surat tanda tidak sukanya dengan tayangan “kebanci-bancian” di televisi? Apa karena masalah komunitas gay yang diam-diam bergerilya di kampus-kampus? Lha, bukannya isu ini sudah lama membenam di Indonesia? Menurut laman okezone, gerakan LGBT di Indonesia adalah gerakan yang terbesar dan tertua di Asia. Nahlo. Saya juga, ngomong-ngomong, kenal dengan satu-dua teman yang gay, dan beberapa tahun lalu tidak terlalu menampakkan diri, tapi sekarang, karena merasa komunitas, harga diri, dan akhirnya identitasnya diguncang, ia jadi terang-terangan membuka diri (coming out) sebagai penyuka sesama jenis.

Meskipun begitu, bukan berarti bahwa dengan orang-orang KPI melarang tampilan banci di televisi, kemudian mereka juga tidak bisa melarang pertunjukkan seni di panggung-panggung publik (yang tidak (berkesempatan) tayang di televisi) yang menampilkan “banci”. Bukan berarti pula bahwa Fakultas Sastra juga bisa saja ditutup karena alasan “banyak banci” atau “banyak teks yang pro-banci”. Ini sama saja dengan mematikan generasi, menggerus imajinasi orang-orang yang sudah lebih dulu berkontribusi dan angkat bicara soal ini bertahun-tahun silam. Bisa dibilang, salah satu bidang paling penting dalam kajian budaya berpotensi dibumihanguskan, dan itu dilakukan hanya dengan secarik kertas.

Sebagai penutup, saya mengutip Barthes:

Criticism is a construction of the intelligibility of our own time.

Tanpanya, dalam beberapa tahun setelah isu LGBT ini selesai (kalau memang akan pernah selesai), manusia akan terus ikut-ikutan apa yang dikiranya perlu diikuti, padahal sebenarnya mesti ditinggalkan jauh-jauh. Mereka akan mengikuti jalan yang “lebih sering dilewati” dibandingkan dengan yang “less traveled.”

Mari berdoa saja agar tidak menyesal karena telah mengambil jalan yang salah atau, buruk-buruknya, nyasar di tengah jalan 🙂

 

Advertisements

Mati Lampu!

smoke_trails_candle__by_georgeamies-d759429
“Smoke Trails Candle” oleh George Amies (deviantart)

Saya inget, tahun 2014 rumah di Ciledug kena banjir, dan setiap malam, lampunya sering banget mati. Maklumlah, soalnya tinggi airnya bisa hampir kena kabel listrik. Walhasil, kami sekeluarga harus nunggu sampe pagi lagi. Dan kalo listrik udah hidup, aktivitas kami juga ikut hidup.

Belakangan, di Jatinangor tempat saya kuliah sering banget lampunya mati. Khususnya sejam setelah jadwal salat Asar, dan buat yang gak punya lilin, atau lupa ngecas gadget, yah, yaudah, mati bosen deh. Hehe. Tapi untungnya, matinya cuma dua sampe tiga jam. Sekitar jam 8 lampunya nyala lagi.

Sempet suatu  malam, pas mati lampu, saya keinget keadaan waktu banjir di rumah beberapa tahun yang lalu. Pas saya masih duduk di bangku SD, begitu juga kakak dan adik saya. Karena gak ada kegiatan, kami suka ngumpul di meja makan sambil mainin lilin. Entah yang hebat-hebatan main bayangan di dinding. Yang bentuk bayangannya paling rumit atau paling mirip sama hewan tertentu, pasti bakal ngerasa keren. Atau sok-sokan nempelin jari di pangkal sumbu lilin. Siapa yang paling sering jarinya melewati lilin, juga ngerasa yang paling keren. Haha.

Pas lagi asyik kumpul bertiga, Bapak saya tiba-tiba nimbrung. Beliau selalu punya cerita yang bikin kami gak bisa ke mana-mana, saking menariknya. Malam itu, beliau nanya ke kami: “kalian tau gak kenapa bayangan lilin itu warnanya hitam?”

Seperti reaksi umumnya bocah kalo ditanya, kami cuma bisa geleng-geleng gak niat. Bapak saya bilang, “karena itu melambangkan dosa kita.” Cahaya di lilin itu seperti Tuhan, sumber kebenaran. Dan dinding, atau apa saja yang jadi landasan bayangan objeknya, adalah tempat di mana dosa kita terlihat. Beliau terus mengangkat tangannya dan membuka jemarinya.

“Lihat nih.” Semakin dekat tangan kita dengan dinding, semakin mantap bayangannya terbentuk; hitamnya padat dan pekat, hampir gak beraura. Tapi kalo tangan kita dekatnya sama lilin, bayangan di dinding akan bias. Halo menyebar di mana-mana dan sekilat bayangan kita akan berbaur dengan dinding, karena cahayanya terdispersi.

Sekarang, semakin saya besar, tiap kali mati lampu, saya suka tepekur sendiri. Dari obrolan yang mungkin dulu saya anggep remeh, tapi pas dipikirkan lagi, ternyata…dahsyat! Ditambah lagi, kalo misalnya pulang ke rumah di Ciledug, dan mati lampu, kumpul mah kumpul, tapi udah gak main bayang-bayangan lagi, atau nempel-nempelin jari ke lilin.

Tapi…update status! 🙂

Liburan Kawah Putih & Dusun Bambu

Liburan minggu kelima di Tangerang, akhirnya gue bisa bener-bener pergi ke luar. Nebeng bareng rombongan temen-temen nyokap, akhirnya bisa stay off sejenak dari kehidupan di rumah yang mulai ngebosenin hehe. Jadi ceritanya, anaknya temen nyokap ada yang menikah di Bandung, jadilah akhirnya gue diajak. Tanpa ragu, nyokap juga ngajak Maya. Hm, sepertinya emang doi udah ngerti banget kalo gue ga akan bisa blend in bareng orang-orang tua. He he.

Oke deh. Dua hari kemaren bener-bener seru, in the best sense. Gue pergi ke Kawah Putih dan Dusun Bambu, yang, anyway, belum pernah gue denger sebelumnya. Mungkin pernah kali ya, tapi waktu gue kecil banget dulu, jadi udah ga inget apa-apa lagi sekarang. Main ke bandung terakhir itu pas gue ke alun-alun Bandung, itu juga waktu masih lapangan semen, belom jadi lapangan bola kayak sekarang haha. Kata nyokap gue Kawah Putih itu daerah pegunungan gitu, terus ada kayak bekas lava hasil gunung meletus, tapi udah beku karena berpuluh-puluh tahun “dibuka” dan dibiarin gitu aja, jadinya sekarang airnya biru bening. Oke cukup yah kuliah geologinya. HA.

Hari pertama, hari pernikahan. Ada insiden lucu yang bener-bener bikin gue gak bisa lupa sampe sekarang. Nah, kalo lo ke pernikahan pasti dong lo pake batik panjang, celana bahan, dan pantofel kan? Well, dresscode itu somehow udah jadi patokan gue kalo ke kondangan, at least pas gue kuliah, karena lo gatau seberapa nerakanya gue terlihat dalam balutan batik lengan pendek. Dan hal itu gue lakukan terakhir pas gue SMP, yang jelas-jelas belom kenal penampilan kayak apa. Ew! Wkwk. Nah, yaudah tuh. Gue udah pake batik lengan panjang klasik, celana bahan, dan…(gue masih ga percaya sampe sekarang) lupa bawa pantofel! Walhasil, gue mesti rela-relain membuat diri sendiri dipermalukan dengan pake sepatu main yang warnanya kuning-kuning ga jelas gitu.

20160123_125235

Nah, kurang lebih begini nih tampilannya hahaha. Ya ampun! Neraka bat. Tapi untunglah ada Maya yang selalu di samping gue, jadi mau jalan di lapangan seluas apapun, sebanyak orang apapun, gue punya tameng 🙂 Tapi tetep aja diliatin orang juga. Yah, gue berharap aja, sepulangnya gue dari kondangan di gedung di bilangan Buah Batu itu, orang-orang yang ngeliat gue bisa ngira gaya gue tren baru. He he. Yaaa, none the less, terlepas dari OOTD yang OOT kaya begitu, gue masih bisa berusaha terlihat kece laaaah. HE.

Gue minta nyokap cepet-cepet menyelesaikan agenda ramah tamah dan cipika-cipikanya sama geng SMAnya dulu, yang ternyata kumpul semua di kondangan itu. Jadilaaaah gue harus cari tempat tersendiri untuk menyembunyikan apa yang ada di kaki gue itu.

Nah, masih di hari pertama. Perjalanan lanjut ke Kawah Putih. Dengan menggunakan mobil (dan duduk di belakang, yang lagi-lagi neraka), akhirnya gue sampe di Gunung Patuha dengan muka ijo (baca: mau muntah!). Gimana engga? Jalan ke atas gunungnya aja berasa kayak track roller coaster di Dufan yang paling gede dipanjangin jadi lima kalinya trus digabungin sama Tornado jadi satu! Mampus deh tuh rasanya. Hadeu…Tapi sesampenya di sana, dan langsung sholat, pusing gue langsung ilang. Subhanallaaah. Rejeki anak soleh.

Seumur-umur idup gue, sekalinya ngerasain dingin banget itu pas lagi ujian kenaikan sabuk pas masih ikut silat Padjadjaran Cimande di sebuah gunung, lupa namanya. Jam empat pagi lo harus nyebrang sungai yang dari kejauhan gue bisa ngeliat sisa-sisa es di airnya, dan gue harus nyebur bersamanya, ke dalamnya, dan membiarkan sensasi dingin menjalar masuk ke kulit. (terus kok jadi dramatis najis gitu? -_-). Nah, pas baru ke Kawah Putih inilah, gue bisa merasakan dingin yang sama pas gue lagi ujian kenaikan sabuk silat itu! Etapi ga boleh ngeluh ah. Soalnya gue tiba-tiba keinget film The Revenant yang baru beberapa hari lalu gue tonton. Di situ karakternya Leonardo kedinginan setengah mampus. Hehehe. Masih anget Waan kawah putih mah.

20160123_164915
Yang ini beneran kedinginan
20160123_171541
yang ini sok-fierce-sambil-membeku

Sayangnya, pas kami ke sana. Kabutnya lagi turun. Mungkin karena udah kesorean kali yah, sekitar jam 4. Kalo siang, mungkin pemandangannya akan bagus banget. Saking bagus dan jernihnya kawah, mungkin gue akan berenang di sana. Sebelum akhirnya mati melepuh dan kulit gue mendidih. Yah, meskipun perjalanan pulang gue harus nahan muntah karena rute yang dilewatin sama kaya rute pergi, gue harus tetep tegar, di hadapan orang-orang tua ini.

Tujuan selanjutnya adalah ke Bambu Dusun (atau Dusun Bambu? entah), yaitu hari selanjutnya. Selama dua jam lebih perjalanan, tempat masuknya udah rame banget. Dan…sama dinginnya. Enaknya, kalo di sini lebih banyak wahana yang bisa dimasuki, dan lebih crowded. At least, beneran keliatan liburan di public places. Jadi kalo difoto beneran keliatan liburannya getooo. Haha.

20160124_133431

Sayangnya, pas sampe, tempatnya lagi ujan, jadi semua gadget harus disimpen rapet-rapet dalam baju atau tas. Dan baru reda beberapa menit setelahnya.

20160124_134339

20160124_135225

20160124_135533
sama Emak

Ada satu wahana yang gue pengen banget mainin, namanya Papanahan. Jadi kayak main panah-panah gitu. Semenjak nonton The Hunger Games, trus belakangan ngikutin Game of Thrones, gue jadi ngebet pengen bisa manah dan naik kuda. Tapi sayangnya, lagi-lagi, udah terlalu sore. Yaudah apa mau di kata. Mungkin suatu saat nanti gue bisa main ke sini lagi dan nyobain main wahana yang belum pernah gue coba.

Oke deh. Segitu dulu aja. Ntar kalo jalan-jalan lagi mungkin diposting lagi.

Salam, Mawan.

Diam

silence_by_l310-d4asg73

Rasanya aku sudah terkulai lemas. Mendengar orang-orang berkata bahwa diam berarti emas. Pernahlah mereka menyaksikan berapa banyak ayah di rumah-rumah lawas, yang ekonominya merangkak lebih lambat dibandingkan bayi-bayi mereka yang bisa tertawa lepas. Dan yang sekat atapnya doyong seperti kulit mereka yang memelas. Ah, rasanya tak perlulah kujauh-jauh menjelas.

…karena aku sudah punya satu.

Anggota keluarga bisa membaca, bahwa ia sedang tak enak hati. Disimpannya “rasa panas” di sana selama berpuluh-puluh tahun. Di kursi itu. Sejumlah masalah yang tak boleh kami tau, rapi menjadi rahasia pribadinya dengan ibu. Hanya satu-dua yang tak sengaja tersingkap, lewat dialog-dialog mereka yang bernada tinggi di waktu malam ketika kami sedang tinggi. Lalu, kami akan diam-diam mencuri kata-kata kunci. Agar bisa ikut mencari solusi. Setidaknya untuk diri kami sendiri.

Seolah sudah jadi maklum. Bahwa ia tak suka dengan kami. Dalam diamnya, aku membaca dua sisi. Bijak dan Benci. Benak juga hatinya terbakar rasa cemburu. Gerah akan keadaan yang membuatnya menjadi orang lain yang tak lagi dulu. Dalam diamnya, kini kulihat kesombongan. Yang meregak panas hingga ke ubun di bawah uban yang menyegan.

Semua bibir terkatup. Mengunci rapat-rapat peluh dalam mulut. Dalam meja makan yang sekarang tak berpenghuni. Ruang tivi yang tak lagi disambangi. Satu di ujung bumi, satu di ujung ardi. Tak bersuara. Tak bergerak, “menunggu mati.”

Kata orang bijak, “bicaralah jika kau bangga dengan diammu.”

Tapi dia tak pernah bicara. Dan kami pun mulai memaklumi…

…bahwa diam tanpa sebab adalah musuh jiwa yang menggerogoti.