NEC HIMSI 2016: Final Cerpen Bahasa Inggris di Binus University

Hari ini…random. Seneng, haru, ga nyangka. Tapi lebih banyaknya seneng sih. Well, gue presentasi tentang cerpen gue di Binus University! Di acara National English Competition anak-anak Hima Sastra Inggrisnya gituu. Karena gue menetap di Jatinangor dan acara finalnya di Kebon Jeruk, jadi gue rela-relain deh balik dulu ke Tangerang. Sebenernya gue bisa aja sih presentasi via skype, tapi esensi ikutan lombanya ga kerasa deh *sok iye lu Wan* wkwkwk. Yah itung itung ngobatin kangen sama nyokap bokap deh. ūüôā

Semuanya dimulai dengan kisah pengemudi taksi kami yang tiba-tiba curhat soal istri barunya. Hahah sumpah lah ini random banget. Jadi pas gue sama nyokap masuk ke dalem mobil, ya nyokap gue basa-basi. Trus tiba-tiba pak pengemudinya langsung cerita gitu. Hahaha. Gue cuma bisa merhatiin percakapan mereka di kursi penumpang belakang. Kurang lebih dia cerita bahwa istrinya yang orang Sunda itu rada males masak. Trus jadilah dia sekarang langganan bubur yang pake gerobak di depan kompleks gue. Kesian sih sebenernya. Tapi nyokap gue cuma bisa menyabarkan dia. Allah pasti akan membalas dengan¬†yang lebih baik, Pak ūüôā

Akhirnya kami sampe di Binus University. Karena itu pertama kali gue ke kampus elit itu, gue terperangah wkwk dan mikir “buset ini kampus apa mol?” Soalnya bentuk bangunannya lebih bagus dari mal terdekat dari kampus gue hahaha. Sempet kami agak bingung nyari ruang auditorium kampus Anggrek karena gedungnya banyak banget. Untunglah setelah nanya sana-sini kami sampe ke auditorium ala-ala bioskop blitz¬†megaplex gituuu. Gue sebenernya lebih terperangah (oke kata ini sepertinya akan terus muncul yah) sama interior bangunannya.

Binus 1-min

B612_20160528_084733

Dan gue baru taulah hari Sabtu kampus ini masuk kuliah haha. Masih ya. Jadi inget SMA dulu. Huft.

Tempat gue akan presentasi adalah di lantai 4, jadi gue punya banyak kesempatan untuk liat-liat ke bawah dan foto-foto. Salah satu spot yang paling gue suka di gedung ini adalah lobi bawahnya. Jadi bentuknya kayak kantin gitu, tapi lebih cocok buat diskusi ato ngerjain tugas.

Lobi Binus-min

Pas gue dateng semua mahasiswa lagi berhamburan, dan sebagai anak Unpad di nangor, gue berasa lagi dateng ke Unpad Dipati Ukur. Feeling-nya beda coi masuk situ. Anak-anaknya pakaiannya kece, belum tampangnya, belum bodinya, belum rambutnya, belum segalanya. Dan kebanyakan kulitnya bersih semua gitu. *langsung liat kulit sendiri* *trus galau sendiri* hahaha astaghfirullah!

Jam 9 acara inti dimulai. Total finalis lomba itu ada 20 orang. Kategorinya SMA dan Universitas. Sebagian ada yang presentasi lewat skype, dan sebagian yang lain naik ke atas panggung. Secara keseluruhan, gue gak nyangka anak-anak SMA jaman sekarang bahasa Inggrisnya udah bagus bagus banget. Ya gatau sih ya mungkin waktu gue SMA gue belom pernah ngeliat anak SMA lain ngomong bahasa Inggris. Peserta yang dari SMA hampir semuanya dari SMK Penabur. Well, no wonder lah ya. Di kelasnya mungkin mereka lebih sering interaksi pake bahasa Inggris dibandingkan pake bahasa Indonesia.

Jadi cerita pendek gue judulnya How Dzigbode Lost His Pet Cow and Died with It; intinya adalah tentang bocah laki-laki Afrika yang lagi nyari sapi peliharannya sebelum hari Qurban tiba. Dan Qurban di situ maksudnya bukan hari Idul Adha kayak yang kita pahami di Indonesia. Di Ghana, di waktu-waktu tertentu, ada tradisi ini di mana mereka harus membunuh sejumlah sapi untuk menghormati para roh atau leluhur atau orang terdekat mereka yang baru aja meninggal. Nah, karakter utamanya, Dzigbode, lebih suka ngomong sama hewan dibandingkan sama manusia. Dia juga gak terlalu suka ngumpul sama temen-temen sebayanya. Ditambah, kalo misalnya Dzigbode pulang ke rumah, ibu sama bapaknya selalu mukul dia karena dia dianggap “penyihir” dan karenanya “bawa sial” di keluarganya. Sampe pada akhirnya, Dzigbode tau bahwa sapi peliharaan kesayangannya “dikirim” ke tempat pembantaian hewan oleh bapaknya sendiri. Endingnya? Well, baca sendiri yah cerpennya wkwk.

Selama lima menit, gue harus ngejelasin detil cerita pendek gue. Dari isu yang mau diangkat di cerita itu, latar belakang ide cerita, gaya penulisan, sampe sedikit¬†petunjuk-petunjuk (kayak pemilihan kata, dialog, atau lainnya) di ceritanya yang berhubungan dengan tema utamanya, yaitu “Escaping Reality.” Nah, ada kejadian yang agak disayangkan sebenernya. Jadi kan gue pake PPT gitu kan (dan finalis yang pake PPT bisa diitung jari) dan waktu gue habis di slide keempat. Padahal slide terakhir itu yang paling penting hahaha. Yaudahlah ya.

Jurinya ada dua. Cewek cowok. Juri yang cewek itu dosen sasing di Binus, namanya Paramitha. Yang cowok penulis novel, namanya Reza (kayanya sih dari Binus juga). Komentar mereka berdua secara umum adalah mereka “tertarik sama judul gue” dan pemilihan kata-kata yang gue pake di cerpennya. Gue juga ngejelasin sih bahwa cerpen gue ini sangat dekat dengan animisme. Ada beberapa tanda di ceritanya yang menunjukkan bahwa benda-benda mati itu gue perlakukan seolah-olah hidup, contohnya: “the moon took charge of the sky; her soothing aura accompanied Dzigbode walk home” atau juga “the sun careened”. Mereka berdua suka sama judul gue wkwk. Gue makin seneng pas Ms. Paramitha bilang bahwa “[she] likes everything in [my] story.” Yeay! ūüôā

Selesai 20 orang tampil, ternyata pemenangnya gak langsung diumumin. Jadi abis acara presentasi itu ada seminar lagi tentang kepenulisan. Pengen sih gue ikutan. Tapi dari pagi gue belom makan, dan kalo mau makan ga boleh di dalem auditorium. Trus gue males balik lagi ke lantai 4-nya hahaha. Jadi yaudahlah sekalian balik.

Di perjalanan pulang, gue gak berharap banyak sih. Soalnya ada tadi satu peserta dari UI, namanya Aria Gita, yang menurut gue paling bagus dari semuanya. Beda sama gue, dia gak pake PPT, jadi dia impromtu ngomong di depan. Gue suka sama penjelasan dia yang hidup dan begitu humoris. Di cerpennya, dia ngangkat isu mispersepsi orang-orang terhadap penyakit jiwa selama ini. Gue penasaran banget mau baca cerpennya, judulnya The Hollow, The Broken. Dan komentar Kak Reza pertama kali adalah “wow”,¬†yang bikin semua orang di ruangan itu juga….wow! Cewek ini pasti pemenangnya, gue membatin. Kenapa sih yang paling bagus harus ditaro terakhir? Bikin minder aja sumpah. Wkwk. Kan di jalan pulang jadi kepikiran mulu.

Auditorium-min

Sebelum balik ke Ciledug, gue nyempetin foto-foto dulu bentar wkwk.

1464412657542

1464412708519

Sorenya, gue langsung tidur dan gak peduli apa yang terjadi. Gue gak mau ngeliat rekaman vidio gue presentasi karena pasti gue mengumpat diri sendiri keras-keras hahahaha. Yaudah. Akhirnya gue tungguin tuh sms abis salat maghrib. Ada pengumuman gak dari panitia. Ternyata belom. Gue cek website NEC HIMSI, kabar terbarunya cuma daftar nama finalis hari ini. Berarti mereka masih sibuk kali.

Eh trus yaudah, sambil nunggu isya, gue nonton vidio presentasi orang sebelum akhirnya hape gue bunyi, dan ada sms:

“Pemenang lomba cerpen berbahasa Inggris NEC HIMSI 2016:
SMA:
1. Dharlene (SMK Penabur)
2. Tabitha (SMK Penabur)

Universitas:
1. Aria Gita (Universitas Indonesia)
2. Himawan Pradipta (Universitas Padjadjaran)
Selama yaaa!”

Alhamdulillah dah wkwk. Gue ga nyangka sumpah. Tadinya gue kira anak UI dua duanya yang menang, karena mereka berdua fasih banget ngejelasin cerita mereka, while gue…..sampah wkwk.

Oke deh. Segitu dulu. Bye!

Advertisements

Reading Lights: Bandung Bookstore You’re Looking For

When a person gets a million dollar in his pocket, he’d probably save up 50% and spend¬†the other half to buy top-notch cars or a la mode¬†gadgets. I don’t know, maybe even something more luxurious than those. But me? I’d buy¬†books!

One dream out of hundreds that I have listed this year has truly come true! Finally. Velda and I recently visited a book store right on Siliwangi Street, near Taman Cikapundung. It is called itself Reading Lights. This was an unplanned agenda, because we were actually planning for a seminar at Unpad Dipati Ukur, only we were early a week before, so.

Anyway, from Dipati Ukur, you may just take a one-way angkot with the direction of Cicaheum-Ciroyom. I am not very sure about that one, but basically the car is green-colored with sunset-kind-of-orange long stripes on its body. You’ll spend 10 minutes to get to the place, and if you really are a lover of books, you won’t regret a single second of sudden traffic, a singular appearance of Silver Men, or the off-tune songs from the child crooner from the streets.

I’m not a type of person who judges a book from its cover, but when we first arrived, well, I was not very impressed by the facade. It looked like an ordinary coffee shop or an indifferent hang-out place in the suburbans of Dago or Braga. But I had high expectation already since Velda told me before that not only could I read, sit, and eat there, but also not to, ehm, buy the books (no matter how many pages we’ve torn apart). Weehee!

At 10 o’clock, we shoved the main entrance as the serviceman was sweeping the lobby floor, and just right then we knew that we were the first visitors that day. First-timer, first-comer, babe! The teteh-teteh behind the counter, occupied¬†fiddling on¬†her tab (I assume she was finishing her umpteenth-level of Candy Crush) and munching her chocolate pie for brunch, seemed surprised as we sidled in and beckoned at us: “Welcome, byootches!” I was totally kidding. She was so kind and had nice eyes, though.

I placed my backpack on the one-and-only chaise longue, which resembled more like my bed at my kos-kosan (now we know how economical you are, Wan!). It was so fluffy I could’ve fallen asleep there. I suddenly became Agnes in Despicable Me as she saw a pasty¬†unicorn doll in a Dufan-like park: “It was so fluffy I’m gonna die!”

IMG_20160305_102414

The best thing about this sofa is that it is located directly beside the main windows, so I can either get sufficient light as I read, or, the best case, imagine that I would get a perfect-angled shot if a stranger outside saw me reading and in case wanted take a photograph of me, which was highly unlikely and highly stupidly confident of me to think over.

I was exulted I walked the room ear-to-ear only to take pictures as many as possible.

IMG_20160305_102446

The setting of the room is designed drawing-room like. If you have probably just read Jane Austen’s or Charlotte Bronte’s novel, the room where the characters dine or have a “familial” conversation will be, more or less, look like that! In the size of room like this, the number of chairs and tables are enough for, like, what, 20 people? But thank God there weren’t so many people there.

In every corner of the room, glued tightly to the walls, were a pile of bookshelves with a varying stories consisting¬†of¬†magazines (the lowest) and¬†thick fiction books (the highest). In every shelfstory, there is a label with a name of genres of fiction: romance, comedy, thriller/mystery, and science fiction. They also have National Geographics, and, believe it or not, its¬†monthly package, compiled carefully on their own categories: animals, space life, biodiversity, travelling, forestry, etc. All of them are in English. So, your reading interests are, all in all, set up in a single¬†closeted cupboard; you’ll just have to open it.

IMG_20160305_102457

On the other side of the wall, a mountain of magazines of fashion, food, movies, culture, religion, and music will imprison your eyes right when you step in! They’re all still covered in plastics and labelled, mostly, “Rp 20.000” on the back cover. They’re for sale of course. It’s a book store, cheapo!

IMG_20160305_105456

Clearly, you can’t just do something without something for your teeth to work out, right? Here it comes: snack timeeee!¬†Even if you’re a last-year¬†student of literature, when you have to delve into and wander around the complicated mind-boggling thoughts of Roland Barthes, Northrop Frye, or Immanuel Kant for your skripsi, you’ll just have to eat along to wash your throat afresh. To me, reading books is parallel to watching movies. Without popcorn, you’ll just lose the essence of watching in cinema. No snack, no work. Ha!

What makes Reading Sights¬†even more fascinating is that we can order food! Well, mostly drinks and beverages, though. (They only put food as “additional choice” on the menu. Maybe it’s to lessen the servicewoman’s burdens). None the less, a plethora of drinks, complete with their seasonings and ingredients, like chocolate lava, banana-iced chocolate, cream-vanilla latte, and so on, are available to replenish your brain cells while processing words.

IMG_20160305_115131

I picked up three nonfiction books, which eventually, after a long-period of mind-struggling inside of me not to buy it (because I have to read MORE for my skripsi!), I did buy, one of which is on the last picture. The book was worth Rp 45.000, but the quality is stalwart: the words are solid-looking and, what’s cooler, it uses hard cover and plastic-blanketed!

IMG_20160305_115147
Velda charging her gadget

Lastly, they also have a private musholla and large toilet (so you can do, ehm, you know). No! I was talking about¬†pooping or taking ablution…after doing something else. Ha ha. Some times, when I read, I forget the time. I might even forget that I wear my watch! But there is a mosque pretty far from the place, and the azaan might still be clearly heard. If you’re so absorped by the books (or maybe the sofa) so ¬†long that you’re too lazy to wake up and walk a long way, you just have to go upstairs and find what you look for.

All in all, Reading Lights is the best place for you, geeks, to explore your learning environment, so you don’t have to isolate yourself from the orbiting distractions in your kos-kosan. Worry not! They will play you some good music in the background, like, you-guessed-it, Counting Crows or, for you ambient-musicholic, Yiruma.

See you around, geekos!

Simbol-Simbol dalam Film Rumah Dara

d34b38c92f93fa23fbb04fe7e347162d-d30jbfh1
Poster Rumah Dara

Satu film horor Indonesia yang bikin gue berhasil gak napas (dan hampir jantungan!) selama satu setengah jam adalah Rumah Dara, atau yang judul internasionalnya Macabre, yang dirilis tahun 2009. Awalnya gue agak skeptis untuk nonton film horor Indonesia, apalagi setelah beberapa tahun yang lalu diajak nonton Mati di Ranjang (Tiran) yang pemainnya Dewi Persik. Selepasnya, gue bersumpah sama diri sendiri gak akan pernah mau nonton film horor Indonesia. Tapi, yang satu ini bener-bener bikin keyakinan gue runtuh. Film besutan The Mo Brothers dengan pemain Shareefa Danish, Julie Estelle, Arifin Putra, Imelda Tharine, dan Ario Bayu, ini adalah, kalo gak salah, film slasher pertama di Indonesia. Tapi tenang aja, gue ga akan bahas ulang plot cerita filmnya kayak apa, seperti yang sudah banyak orang lakukan.

Gue akan bahas simbol-simbol yang ada di film ini, yang berperan penting dalam pengembangan jalan cerita, beberapa di antaranya ditampilkan melalui objek-objek tertentu, kayak kalung Dara, kepala rusa bertanduk yang dipajang, sampai satu sudut kamera yang sangat penting. Siapa yang tau? Ternyata semua itu punya peranan penting sebagai basis filosofi filmnya itu sendiri. Seperti¬†belasan kepala rusa yang dipajang di sepanjang dinding rumah Dara bisa diasumsiin sebagai sumber roh yang disembah Dara dan keluarganya, yang darinya juga Dara, Maya, dan Adam dapet¬†“kekuatan” masing-masing. Atau juga, simbol Ourovoros Ophis yang muncul pas satu polisi muter film tentang Dara dan anak-anaknya, ternyata adalah simbol keabadian. Nah, penasaran lebih lengkapnya kayak apa? Simak terus, yap!

Eh tapi, gue mau ingetin dulu bahwa ini semua adalah interpretasi gue. Hehe. Sebagai penikmat film dan mahasiswa sastra, gak salah dong kalau nafsir sana sini? Hihi. Tapi tenang aja, gue udah cari beberapa bacaan di internet tentang film ini dan simbol-simbol terkait yang muncul di filmnya (niat banget ya?). Dan gue akan cantumkan sumber bacaan di bawah tulisan ini, jadi kalian juga bisa cek sendiri kalo ragu-ragu ūüôā

  1. Kalung

Oke, simbol pertama yang bikin gue masih penasaran sampe sekarang adalah kalungnya Dara. Objek ini muncul pertama kali pas adegan makan malam. Ladya bilang ke Dara bahwa kalungnya bagus dan nanya apa artinya bentuk kalung itu. Dan dengan simpel dan tanpa berkedip, Dara menjawab bahwa kalung itu adalah “pemberian turun-temurun keluarganya”. Dari jawabannya, penonton yang¬†jeli mungkin akan menganggap kalo kalung itu adalah sesuatu yang penting bagi Dara, dan mungkin anggota keluarga yang lainnya.

RUMAH DARA 9
Kalung Dara – Makan Malam

Gimana enggak? Kalo ada barang yang diwarisin secara turun-temurun pasti kan barang itu adalah sesuatu yang berharga dan harus dilestarikan. Dan pasti Dara punya motif tertentu untuk terus menggunakan kalung itu.

Setelah itu, film mulai melaju. Keanehan-keanehan di rumah mulai muncul, dan para tamunya mulai gelisah. Satu persatu orang-orang mulai dibunuh, setelah diikat, disekap, dan, ehm, hampir diperkosa. Dan di sepanjang film, terlepas dari baju apa yang Dara pake, pasti kalung itu selalu nempel, gak pernah terlihat gak ada. Nah, dari sinilah asumsi gue muncul.

RUMAH DARA 5
Dara terus pake kalung, di adegan lain

Fakta bahwa Dara selalu pake kalung “turun-temurun” itu dan selalu dipakai terus menyimbolkan¬†bahwa keluarga Dara bisa dibilang¬†penganut animisme. Animisme secara umum adalah kepercayaan yang berasumsi bahwa alam memiliki jiwa dan kesadarannya sendiri. Nah, alam di sini berarti mencakup seluruh makhluk yang bukan manusia: hewan, tumbuhan, bahkan benda-benda. Dalam artikelnya, Alan G. Hefner dan Virgilio Guimaraes berpendapat bahwa animisme juga bisa berarti pembentukan manifestasi roh yang berupa medium. “Bukan tabu lagi bahwa medium tersebut dapat berfungsi untuk mengantarkan roh. Ini juga terjadi ketika medium dipasang¬†di bawah tekanan untuk menghendaki fenomena spiritual.”

Lanjutnya lagi, seorang antropolog dari Inggris, Sir Edward Burnett Tylor, dalam bukunya Primitive Culture (1871) berteori bahwa “orang-orang jaman dulu menyadari sejumlah objek tak hidup karena objek-objek tersebut memiliki karakteristik tertentu atau bersikap dalam cara yang tidak biasa, yang secara misterius membuat mereka tampak hidup.”

Bentar dulu. Kalo emang kalung itu sebagai “medium” dari roh yang disembah sama keluarga Dara, terus “roh”nya yang sebenarnya apa dong?

2. Kepala Rusa Bertanduk

Inilah simbol kedua. Roh yang disebut-sebut di simbol pertama di atas adalah kepala rusa bertanduk. Sejak Ladya dan temen-temennya ngeliat-liat rumah Dara, terlihat ada satu dinding yang dipajang kepala rusa bertanduk, dengan ukuran yang macam-macam dan mungkin jenis kelamin yang macam-macam pula. Simbol ini penting karena pada adegan itu, kamera sempat menangkap gambar close-up dinding ini, setelah sebelumnya mengambil gambar dengan sudut medium shot.

RUMAH DARA 1
Ladya dan Kepala Rusa Bertanduk

Argumen lain adalah bahwa di awal film, ada montage yang menampilkan Dara dan anak-anak kecil di meja makan. Di dindingnya, terdapat juga kepala rusa bertanduk. Sayangnya, di bagian itu, wajah perempuan yang lebih besar gak diliatin, tapi kemungkinan besar sih Dara, tapi itu kan baru mungkin. Nah, gue mulai yakin bahwa itu Dara pas polisi yang dateng ke rumahnya nonton sebuah film lama dari proyektor di ruang tengah. Barulah keliatan jelas bahwa perempuan itu adalah Dara, meskipun adegannya lagi gak di meja makan sih. Tapi muka anak-anaknya sama, yang berarti bahwa perempuan yang di awal montage itu adalah perempuan yang sama juga.

RUMAH DARA
Montage di awal film

3. Bahasa Tubuh

Ini mungkin yang cukup mengganggu sepanjang film. Yap! Apalagi kalo bukan cara ngomong keluarga Dara yang agak formal, baik dari intonasi maupun dari struktur kalimatnya. Kayaknya agak klise yah ngebayangin ada orang yang “biasa-biasa” ngobrol sama kita dengan bahasa tinggi? Ya tapi itu semua dibuat untuk memberi kesan dramatis atau hororis. Entahlah.

Selain nada bicara, kalo kalian perhatiin, di sepanjang film, karakter-karakter yang tinggal di rumah Dara hampir jarang berkedip. Entah itu kalo lagi ngomong, atau lagi ngedengerin orang. Ada beberapa adegan sih yang mereka berkedip banyak, tapi cuma satu itu aja. Sisanya, matanya kebuka lebar-lebar, kadang dengan senyuman kecil yang ditarik pelit, membuat muka Dara terlihat kayak hantu beneran.

RUMAH DARA 10
Ngeri: Shareefa Danish sebagai Dara
RUMAH DARA 2
Jarang Berkedip: Arifin Putra sebagai Adam dan Imelda Tharine sebagai Maya

Sebenernya gak hanya dua itu. Ada satu bahasa tubuh lagi yang bisa jadi petunjuk bahwa keluarga Dara gak hanya kanibal dan psikopat, tapi juga penganut roh-roh antik yang kita nggak tau pasti apa itu. Yaitu: cara berjalan.

Baik Dara, Maya, maupun Adam, semua cara jalannya sama: kalem, tenang, dan seolah-olah agak berat, kayak keseret. Ya jelaslah! Kalo mereka “hidup” pada jaman itu, mungkin usia mereka udah ratusan tahun. Kok bisa? Nah, dalam satu adegan di mana seorang¬†polisi lagi ngecek-ngecek rumahnya Dara, dia ngeliat ada tumpukan foto Dara dan anak-anaknya. Gue langsung kaget pas liat pas polisi itu membalikkan fotonya, dan mulai deh ketawan kapan foto itu dibuat. Di bawah tulisan “Maya” dan “Adam” dengan gaya tulisan sambung old-fashioned, tertera “1917”. Dan di bawah tulisan “Dara”, tertera “1889.” Nah loh. Pantesan aja suara Dara agak berat, iyalah, nenek-nenek berumur 120 tahun! Hiiiiii. Ngeri ga lo?

4. Ourovoros Ophis

Weits, apaan nih? Yap. Gue juga belum pernah denger frasa ini sebelumnya. Ourovoros adalah simbol bergambar naga atau ular yang memakan ekornya sendiri. Dan simbol ini muncul di film lama yang ada di rumah Dara. Menurut laman-laman internet yang gue cari, simbol ini menandakan infinity atau keabadian. Biasanya, bentuknya melingkar, dan “digunakan sebagai perwakilan konsep-konsep besar, seperti¬†waktu, keberlanjutan hidup, kelengkapan, pengulangan sejarah, kemapanan alam, dan kelahiran kembalinya Bumi.”

592fc3cfea1f5844294fd95f17d357c7
Ourovoros Ophis
RUMAH DARA 11
Simbol yang muncul dalam film

See? Simbol yang dijadikan “maskot”nya Dara dalam “proyek”nya ini ternyata cukup jadi bukti kuat bahwa keluarga Dara adalah penganut kepercayaan para nenek moyang antik yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang pada jaman di mana ia tinggal saat ini. Dengan simbol ini, keluarga Dara dibuat percaya bahwa gak peduli udah berapa kali mereka mati, mereka akan tetap hidup. Nah, mungkin gak sih kalo pas tamu-tamunya Maya dateng ke rumahnya, Dara dan keluarganya itu udah pernah ngundang tamu-tamu lain, dan pernah ditusuk atau dicoba dibunuh oleh tamunya, tapi tetap hidup.

Bisa keliatan di adegan pas Adam dibakar Ladya. Penonton udah kebayang betapa hancurnya tubuh dan wajah Adam pas dia dilahap api. Dan pas udah yakin kalo Adam mati, Adam masih tetap hidup, dengan kondisi kulit yang lembab karena api. Setelah itu baru pas Ladya memenggal kepalanya, dan, yah, sayangnya, gak ada keterangan lagi apakah Adam masih bisa hidup atau memang udah benar-benar mati. Begitu juga dengan Maya, yang setelah ditembak di wajah oleh Syarif, gak terlihat lagi ada Maya di adegan selanjutnya. Tapi, bukan berarti dia terus mati kan?

Ada lagi satu adegan yang menimbulkan pertanyaan, yang menurut gue juga jadi punchline-nya Dara tentang “rahasia”nya.

RUMAH DARA 14

Nah, dalem adegan ini, Dara udah mulai gila dan gak jaim lagi seperti di awal-awal film. Konteksnya dia lagi ngomong sama Ladya, dan tiba-tiba bilang ini. “Mereka ingin kamu, karena mereka ingin hidup lebih lama,” setelah ditanya Ladya kenapa dia melakukan ini semua dan gak bisa membiarkan mereka pergi dari rumahnya. Sebuah pertanyaan jelas muncul: mereka itu siapa?

Dalam artikel lain, para “animis menyajikan pengorbanan, doa, tarian, dan jenis pengabdian lainnya untuk para roh dengan harapan diturunkan rahmat untuk sejumlah aspek kehidupan (tanaman, kesehatan, kesuburan, dan lainnya) atau untuk perlindungan dari mara bahaya.”

Sebelum ditutup, gue mau bahas satu frame penting dalam film ini yang juga berperan sebagai petunjuk atas rahasia keluarga Dara.

RUMAH DARA 4
Dara bertanduk

Selama beberapa detik, kamera menyorot wajah Dara dengan latar belakang salah satu kepala rusa bertanduk yang dipajang di ruang tengah rumahnya. Pada saat yang bersamaan, frame-nya terlihat mencekam tapi juga sinematografis. Banyak pesan yang terkandung di sana. Satu di antaranya adalah bahwa penyejajaran kepala Dara dengan kepala rusa di belakangnya, sehingga membuat kepalanya bertanduk, menyiratkan bahwa posisi manusia dan hewan sama dalam sudut pandangnya. Ini berbanding lurus dengan animisme yang “menganggap bahwa semua elemen di dunia ini adalah satu, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hewan-manusia, lelaki-perempuan, semuanya sejajar di hadapan¬†digdaya alam.”

Meskipun pada adegan akhir-akhir film, Ladya terlihat mencekik Dara dengan kalung saktinya, dan penonton percaya betul bahwa perempuan gila itu sudah mati, seperti seharusnya, Dara tetap hidup. Sama halnya pas dia ditabrak pohon setelah adu jambak dengan Ladya di mobil, tangannya tetap bergerak. Dengan kata lain, dia tidak pernah benar-benar mati.

RUMAH DARA 7
Jari Dara bergerak

Well, itulah tadi analisis (cieh) sederhana gue terhadap simbol-simbol yang ada di film Rumah Dara. Buat kalian yang udah nonton, ya semoga pas nonton lagi, bisa kebantu dengan informasi ini. Kalo yang belom nonton, akses ke film ini mudah banget kok, di Youtube juga udah tersedia film versi lengkapnya.

Baiklah. Selamat menonton (lagi!)

Referensi

Animism. http://www.themystica.com/mystica/articles/a/animism.htm

Animism: The New Advent. http://www.newadvent.org/cathen/01526a.htm

Compelling Truth: What Do Animists Believe? What Is Animism? http://www.themystica.com/mystica/articles/a/animism.htm

Ouroboros: Symbolic Representation of Coming Full Circle http://www.crystalinks.com/ouroboros.html

Wikipedia: Slasher Films. https://en.wikipedia.org/wiki/Slasher_film

Yahoo! Answers: What Does the Symbol of a Snake Eating Its Own Tail Mean? https://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20060802154316AAqbqN2

Youtube. Rumah Dara: Darah (Macabre) (Subtitle English). https://www.youtube.com/watch?v=K1S4WcB3hw4

Jakarta Bising

light_attack_by_adrielchrist-d2p6fym
“Going Home” oleh Adriel Christian (deviantart)

Seperti biasa, Jakarta petang itu ramai. Orang di jalan hingar bingar, dan aku hanya bisa bungkam di kursi ini. Sebelahku perempuan tua yang kakinya bahkan sudah tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Aku pun tak tega melihat lurus ke arah matanya, jadi kupandangi saja tongkatnya. Seharian itu aku tak tidur. Siang berhasil melesap masuk kulitku, menyisakan tak sedikitpun enerji untuk mengangkat kepala. Haduh, mobil besar ini belum bergerak juga, tapi lupa kuingatkan diri untuk membeli headphone baru, agar tak bosan saat menunggu, jadi kudengarkan saja ludahku sendiri.

Ibu sedang menerima telepon dari saudarinya di Kalimantan sana, bertukar kabar keadaan masing-masing. Sesaat¬†kudapati air mukanya berubah. Nada suaranya melemah, tatapannya melengah. “Kenapa, Bu?” tanyaku dalam hati. Singkat jelasnya, adik kandungnya baru dapat musibah, “kena pemutusan hubungan kerja,” katanya. Tanpa mendongak, ia menutup perbincangannya dengan menahan titik air yang berkubang di ekor mata. Kasihan memang omku itu. Baru saja ditinggal mati anak kesayangannya yang akan melanjutkan kuliah, Ihsan, lima-enam tahun silam, kini ia ditimpa kabar PHK. Apa itu yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga?

Agak susah rasanya bilang bahwa itu musibah, atau timpaan, seolah hidup berakhir di sana. Menjadi tak bijak kalau berasumsi cepat-cepat begitu kalau Allah saja Maha Mencinta. Siapa tau pekerjaan yang didapatinya itu akan membuatnya jauh dari Tuhannya. Ya sudahlah, aku tak mau soktau, nanti kalian jadi gerah.

Sayang, ibuku sudah gerah duluan. Sesekali ia melenguh kasihan, bicara sendiri. Belum sampai kudengar hela nafasnya, bunyi harmonika tetiba terngiang. Ada pengamen! Momen favoritku dalam perjalanan. Ia main dua lagu Chrisye dan satu lagu Naff. Duh! Bagaimana bisa suara sebagus itu, dengan kemampuan bermain alat musik sebaik itu, berakhir di hallway bus-bus kota besar seperti ini?

Setelah petikan gitar terakhir terdengar, paruh baya yang kuceritakan tadi bangkit dengan payah, dan merangkak menuju pintu keluar. Ada yang ikut bangkit, ada yang duduk saja. Ada yang penasaran, ada yang bahkan pura-pura tak tau ia ada.

Bus Jakarta akan tetap begini. Ada yang duduk saja, ada yang ingin bicara. Ada yang meladeni, ada juga yang tak tau diri. Mereka pergi ke arah yang sama, tapi supir bus memberikan pilihan. Turun di kilometer 3, 8, atau 25?

Siapa sangka paruh baya yang “tak ada apa-apanya” ternyata baru pulang ke Jakarta, bertemu anak-anaknya untuk pertama kali? Siapa yang sangka, bapak tua kusut yang kau acuhkan sejak duduk di sebelahnya, baru pertama kali naik transportasi darat? Siapa sangka, gadis bermasker yang hanya tampak mata dan batang hidungnya, berdiri tak jauh darimu, sebenarnya tak mau pulang karena menghindar dari ayah dan ibunya yang sedang bertengkar di rumah? Siapa yang duga, Pak Supir, yang tak pernah kauucapkan sekadar “makasih Pak” saat ia menurunkanmu di tujuan, rela menunda pulang untuk bercengkerama dengan sanak saudaranya di rumahnya yang sederhana?

Begitu juga dengan si pengamen, yang kepadanya kau pelit setengah mati untuk beri koin barang dua ratus rupiah saja, rutin setoran pada adiknya sendiri untuk beli nasi bungkus dan disantap bersama di bawah halte kosong?

Maka, saat kuturun, biarlah aku bertepuk tangan.