Yang Terlewatkan di Komuter dari Stasiun UI

img_20170223_113740

23 Februari 2017. Sore itu komuter padat. Jarum panjang jam mengarah menuju angka 5. Semua orang, laki-laki, perempuan, anak-anak, menempelkan ranselnya di dada masing-masing, memeluk erat agar tak ada tangan nakal yang sudah terlalu lama tak pegang barang berharga. Beberapa orang tampak mengenakan penutup mulut dengan warna bervariasi. Ada yang choral, turquoise, hijau tosca, tapi kebanyakan warna hitam mutiara. Entah untuk menahan lubang hidung dari hawa sejuk pendingin ruangan atau menutup wajah agar tak jadi pusat perhatian orang-orang.

Beda cerita dengan yang duduk. Dua kabel tipis berwarna putih kusam yang entah sudah dimakan keringat saat lari pagi entah bentuknya tak keruan digulung seenaknya di dalam kocek, dijejalkan rapat-rapat ke telinga. Terlalu membosankan jika harus mendengarkan desing kereta selama berpuluh sekian menit. Mereka memilih untuk terjun ke dunia utopis yang dihinggapi sekawanan melodi pelepas suntuk, kadang dengan vokal, atau tanpa vokal. Tergantung selera. Kalau terlalu lama keasyikan, tak sadar kepala mereka akan mengangguk sesuai ritme drum dan gitar petikan yang dimainkan seindah bagaimana Dewa Budjana bermain gitar. Tapi ada juga yang jatuh tertidur.

img_20170223_113701

Di stasiun Tanah Minggu, akhirnya aku dapat tempat duduk. Belum sampai gerbong kereta meraung pertanda akan jalan, empat manusia duduk di hadapanku, membuat garis imajiner tanda batas “aku tak kenal kamu.” Dua perempuan di kananku asyik bercerita tentang perkawinannya. Betapa bosan tapi juga menarik kehidupan pernikahannya mereka ceritakan persis dengan gaya ibuku bercerita: penuh kritik dengan dahi mengernyit, tanda diskonfirmasi, tak setuju dengan perlakuan pihak lain kepadanya, sebelum kemudian mengatakan penuh persuasi betapa pihaknya lah yang paling benar. Satu perempuan mengkritik suaminya yang bersikeras bahwa ialah yang seharusnya membuatkan mie goreng untuk isi perut saat malam hari. “Padahal saya ngantuk banget, Bu. Dia malah asik main tab.”

Siapa yang sangka, tiket 16 ribu komuter pulang-pergi jadi pengingat mata kuliah feminisme kontemporer?

Di sisi lain, sepasang tua tampak nikmat dalam diamnya masing-masing. Seperti pasangan lain di masa senjanya, mereka jadi kebas untuk membuka mulut, sekadar memulai obrolan basa-basi, seolah bermusuhan. Padahal, mau mencintai seseorang tidak selalu harus bicara satu sama lain, bukan?

img_20170223_175510_1

Saat azan maghrib, penumpang mulai menjamur. Kini yang terlihat hanya sekumpulan kepala berwarna-warni yang saling membelakangi. Jam pulang kantor, kuliah, sekolah yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Di sini, semua kegilaan jadi masuk akal dan kerinduan mulai diberi penawar. Hiruk pikuk di gedung kantor kadang membutakan, dan tak pernah ada ruang untuk sendiri. Saat menunggu tiba di stasiun berikutnya, perasaan deg-degan bertemu dengan anak, saudara, kerabat, dan orang tersayang menjadi…masuk akal. Terjustifikasi saja.

Setibanya di stasiun tujuan, aku turun dengan hati lega. Perjalanan yang sangat sebentar itu tidaklah sebentar. Ada hidup para manusia yang menjadi lucu dan menarik jika disorot pelan-pelan. Ada derita di wajah mereka yang sengaja dirapikan di balik air muka, atau di balik masker yang menutup hingga ke kening, menahan cahaya tak masuk ke retina. Aku lega, karena aku tak sendirian.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s