Masa Depan dan Satu Hal yang Belum Selesai

arrival-1
Cuplikan film Arrival (sumber: filmstage)

Enak ga sih dikasih kemampuan tau apa yang akan terjadi? Kalo saya ditanya mau gak sebentar aja ngintip masa depan, saya akan mikir beribu kali. Teman saya terusnya pernah nyeletuk: “tapi kan enak Wan, kalo lu tau masa depan lu, lu jadi tau sekarang lu harus nyiapin apa.” Wah, enak gimana. Kalo misalnya saya tau kapan, jam berapa, dan di mana di akan meninggal dunia, apa itu bisa disebut enak? Atau misalnya, sepuluh taun lagi, pas saya udah berkeluarga, terus saya bisa punya penglihatan anaknya akan kecelakaan hari Senin, 24 Oktober 2027 di jalan depan sekolahnya, enak di sebelah mananya tuh kira-kira?

Alasan saya tiba-tiba mau nulis ini adalah karena dua film di awal tahun 2017 ini yang baru saya tonton, yaitu Arrival dan drama korea Goblin. Di akhir film Arrival, saya tercengang setengah mati. Tercengangnya karena sepanjang film, saya merasa tertipu dengan serentetan “kilas balik” Dr. Banks, karakter utamanya, yang ternyata semuanya adalah penglihatannya di masa depan. Bahwa dia akan punya anak perempuan, yang pada akhirnya meninggal dunia karena “penyakit yang sangat langka.” Ditambah bahwa suaminya, yang ternyata adalah rekan kerjanya si ilmuwan Ian, pergi meninggalkannya.

Sementara itu, di episode sekian Goblin, adegan di mana Ji Eun Tak naik bus untuk wawancara kampusnya, dan Kim Shin punya penglihatan bahwa bus itu akan kecelakaan, membuat hati saya miris. Yang ingin saya sorot adalah bukan betapa beruntungnya Eun Tak atas penglihatan Kim Shin, tapi betapa murungnya Kim Shin (dan juga Grim Reaper) saat tau bahwa kartu nama manusia yang segera mati adalah Eun Tak.

lee-dong-wook-1
Lee Dong Wook sebagai Pencabut Nyawa di drama Goblin (sumber: soompi)

Tapi, kan Grim Reaper adalah malaikat, dan dia tau bahwa ketika kartu nama ada di genggamannya, Tuhan (atau di dramanya dirujuk sebagai “Dewa”) tau itu takdir manusia itu untuk bertemu ajalnya. Kira-kira malaikat pencabut nyawa sekalipun, yang udah tau nyawa siapa yang akan dicabutnya, sesayang dan sedekat apapun si malaikat sama orang itu, bakalan ngerasa sedih dan berat gak ya ketika mempertemukan orang itu dengan ajalnya sendiri?

Tapi ya sudah. Balik lagi ke pernyataan temen saya yang asal bunyi tapi masuk akal juga kalau dipikir-pikir.

“Kalau tau masa depan bukannya jadi lebih siap sekarang mau nyiapin apa?”

Saya mikir, justru kalo bukannya udah tau apa yang akan terjadi sama kita, kita ga harus berbuat apa-apa? Toh, segala sesuatu yang ada dalam penglihatan kita kan bakal terjadi juga no matter what.

“Eh tar dulu Wan. Belom tentu. Bisa aja misalnya lu udah tau lu bakal mati karena penyakit apa gitu. Trus gara gara lu tau itu, lu jadi rajin olahraga, makan lu teratur, tidur lu berpola. Gaya hidup lu rubah.”

Saya diam.

“Jadi,” dia melanjutkan, “lu bakalan pasrah aja gitu?”

○ ○ ○ ○ ○

Di kelas, saya pernah mendengar profesor saya bilang: waktu itu ilusi, sama seperti uang. Awalnya saya gak paham betul. Tapi kemudian ia melanjutkan, “masa depan itu, sama halnya masa lalu, gak ada.” Yang ada adalah jam, menit, dan detik yang sekarang kita lihat. Untuk saya, berarti konsep waktu yang saya pahami adalah pukul 20.57 detik ke-35. Sekarang detik ke-38. Sekarang ke-42. Dan seterusnya. Empat atau empat puluh detik yang saya lihat atau sudah berlalu, sudah hilang.

Di akhir kelas, ia menutup: “try living out your life without really knowing anything.” Coba hidup tanpa harus merasa tau segalanya; itu akan membebaskanmu dari kekangan dunia. Coba lihat hidup sebagai sebuah kejutan, yang kalo kamu udah tau kejutannya apa, ga akan seru lagi. Perasaan gak sabarnya jadi hilang dan momen-momen penantian yang seharusnya dialami jadi tertunda. Ritme dan tatanan yang sudah diatur untukmu di awal jadi kacau dan berantakan, tapi bukan berarti ritme hidupmu selanjutnya jadi ikut-ikutan kacau.

Kalau mengutip Deok Hwa dari Goblin, “takdir adalah pertanyaan yang saya kasih cuma-cuma ke manusia, merekalah yang harus cari tau sendiri jawabannya.” Sebelum akhirnya Dr. Banks dari Arrival melontarkan pertanyaan: “kalau kamu tau ritme hidupmu dari awal hingga akhir, apa kamu ingin mengubah segala sesuatunya?”

Jawabannya ada di depan mata kita masing-masing…

atau mungkin di belakang. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s