Kencana Waktu: Sekeping Refleksi

SONY DSC
“Time” oleh megson (deviantart)

Pada suatu siang yang muram, Bapak pernah bilang: semua orang punya jamnya sendiri-sendiri. Dalam hati saya bertanya, “jam” maksudnya jam tangan? Jam dinding?

Melihat saya bingung, beliau melanjutkan cerita. Bayangkan, katanya, ada sebuah lomba, di mana dua orang harus pergi ke suatu tempat yang sama dari titik berangkat yang sama, sebutlah Fulan dan Falun.

Mereka sama-sama berjalan kaki tapi ditempatkan di dua lokasi yang berbeda. Panitia memperkirakan bahwa waktu tempuh yang akan dihabiskan untuk berjalan adalah satu jam, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, perkiraan ini tidak diberitaukan ke peserta. Mereka hanya diminta “berjalan sampai tujuan” dengan tidak bisa melihat satu sama lain.

Sebenarnya, bisik Bapak, itu bukan lomba. Tapi ujian.

Setelah waktu mencapai satu jam penuh, Fulan tiba di tempat tujuan lebih dulu. Ia tak menyangka menjadi orang yang pertama sampai. Ia segera meminta air dan menenggaknya banyak-banyak untuk membunuh hausnya selama di perjalanan tadi. Setelahnya, ia beristirahat dan duduk menunggu Falun tiba.

Sekitar lima belas menit setelahnya, Falun menyusul. Meski wajahnya tampak lelah, ia tampak bahagia. Panitia melihat ada yang berbeda dengan wajah Falun. Ia mlihat Falun sedang duduk dan langsung bergabung dengannya sambil berkata: “udah dari tadi sampe ya, Lan?” Fulan merasa terganggu karena ia tidak suka diperlakukan sok ramah begitu. Akhirnya, ia hanya mengangguk.

Sambil keduanya beristirahat, panitia pun menghampiri untuk memberitau siapa pemenangnya. Fulan tentu amat yakin bahwa ialah pemenang lomba itu. Ia pun menegakkan duduknya dan berhenti minum. Sementara itu, Falun tetap bersandar dan mendengarkan apa yang akan disampaikan panitia.

Ketua panitia membuka mulut: “baiklah, setelah kita semua melihat dan menyaksikan kedua peserta lomba jalan ini, kami memutuskan bahwa pemenangnya adalah…”

Fulan menarik napas.

“Kalian berdua!”

Fulan tak percaya. “Bagaimana bisa?” pertanyaannya terulang dalam benaknya. Tak mungkin. Hampir sama dengan Fulan, saya jadi penasaran. Apa yang membuat Falun jadi ikut-ikutan menang?

Bapak pun melanjutkan. Ternyata, alasan Falun terlambat 15 menit dari perkiraan panitia adalah di perjalanan, ia “diganggu” oleh seorang nenek yang duduk terdiam di pinggir jalan menggendong seorang bayi. Ia mendekati nenek itu dan bertanya apakah ia dan bayi itu sudah makan, dan ternyata mereka belum makan seharian. Falun mengeluarkan uang lima ribu hasil kembalian sarapannya dan meletakkannya di kotak sepatu kecil di depan nenek itu.

Belum sampai Falun bertanya hal lain, nenek itu mengingatkannya: “terima kasih, Nak. Tapi ingat, ada yang sedang menunggumu di ujung jalan ini. Jangan buang-buang waktumu.”

Beberapa menit kemudian, ia melihat seorang perempuan cantik berjalan dengan dompet dikepit di lengannya. Tanpa sadar, gerungan motor terdengar dan menerobosnya dari belakang. Ia pun kaget. Namun, yang lebih membuatnya kaget adalah pengendara motor itu menjambret dompet perempuan di depannya. Teriakan terdengar di seluruh sudut jalanan. “Maliiiiing!”

Falun segera berlari kencang, dan meskipun sempat tertinggal, ia berhasil menyelamatkan dompet perempuan itu. Perempuan itu langsung menghampirinya dan mengucapkan terima kasih. Sontak, ia sadar bahwa ia tak pernah melihat perempuan secantik itu seumur hidupnya. Falun pun tergerak untuk berkenalan dan bercakap-cakap dengannya. Yah, hitung-hitung biar ada teman ngobrol. Lagian, bukankah memang perempuan itu berjalan searah dengannya?

Tapi, sebelum ia bertanya lebih jauh dan mencoba berkenalan dengan perempuan itu, si perempuan mengingatkan: “Terima kasih, Mas. Tapi ingat, ada yang sedang menunggu kamu di ujung jalan ini.” Ia pun melanjutkan perjalanan, dan meskipun berat, tetap pergi jauh meninggalkan perempuan cantik itu.

Ia terus melangkah sampai ke ujung jalan. Dadanya penuh karena bahagia. Bahagia bahwa ia diberikan kesempatan untuk melihat makhuk Tuhan yang begitu indah. Bahagia bahwa terlepas dari terik matahari yang menyengat kulit dan rasa lelah yang tak kunjung pergi, ia bisa berfantasi sebentar dari hikuk-pikuk realitas yang begitu kering.

Pada akhirnya, Fulan menang karena ia fokus pada tujuannya dengan sebenar-benarnya.  Ia mengikuti instruksi yang diberikan padanya bahwa ia harus berjalan saja. Masih ingat di awal bahwa di perlombaan itu, masing-masing Fulan dan Falun tidak bisa melihat satu sama lain?

Bukan tidak mungkin, toh, di jalur yang dilalui Fulan juga ada pengemis dan perempuan cantik yang dijambret? Tapi Fulan sengaja tidak melakukan apapun untuk membantu mereka atau sekadar mengajak mereka mengobrol. Pikirannya benar-benar tertuju pada ujung jalan. Itulah mengapa ia tiba sesuai dengan perkiraan waktu tempuhnya.

Sementara itu, serangkaian kejadian yang dialami Falun juga yang membuatnya menjadi seorang pemenang. Meskipun ia tiba lebih lama daripada Fulan, bukan berarti ia gagal. Toh, dari awal perlombaan, panitia tidak memberitau perkiraan waktu yang bisa ditempuh kedua peserta. Itulah mengapa Falun tidak begitu memusingkan berapa lama ia akan tiba di ujung jalan itu. Justru, ia bersyukur. Bahwa dari perjalanan satu jamnya itu, ia bisa melihat sisi lain dari kehidupan.

Seorang nenek dan bayinya menggambarkan kemalangan yang bisa saja terjadi kepadanya, dan karenanya menerbitkan rasa simpati dengan setidaknya mengobrol atau memberikan bantuan. Sementara itu, perempuan cantik yang dijambret membuatnya tersadar bahwa kejahatan pasti akan menimpanya pada saat yang sudah ditentukan.

***

Dari cerita di atas, saya melihat kembali ke ruang tempat percakapan. Bapak bilang semua orang punya kencana waktunya sendiri. Bukan hanya semua orang, sebenarnya. Tapi semua hal.

Piring pecah karena memang sudah ajalnya. Ban motor meletus karena memang ajalnya sudah tiba. Ponsel hilang karena ia harusnya hilang. Tidak ada yang “kebetulan”.

Begitu juga manusia. Seseorang tiba di suatu tempat dalam waktu sejam, karena memang itu waktu dia. Berbeda dengan waktu seseorang yang lain, di belahan dunia yang lain.

Untuk itu, tak ada seorangpun yang benar-benar bisa bangga. Untuk bilang “saya duluan” bukan berarti ia jadi lebih baik. Bisa saja ada yang diam-diam berkata “saya belakangan” tapi, seperti Falun, ia sudah melihat banyak hal dan belajar banyak hal pula.

Siang itu, di depan tivi, saya tepekur..

..sampai sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s