Kuliah: Dari Mana? Mau Kemana?

“Wan, ntar abis kelar kuliah mau ke mana?” tanya seorang teman di tengah-tengah perjalanan menuju kosan.

“Hmm…” ada beberapa detik jeda, dan saya tiba-tiba bingung setengah mati memikirkan jawabannya.

Teman saya itu lalu melihat saya dan bilang, “masa lu gatau jawabannya?”

Detik itu, sesuatu dalam diri saya, entah apapun itu, seperti pecah/remuk/ambruk, dan bunyi pecahannya bisa terdengar hingga ke relung telinga paling dalam.

Sejak saat itu saya sadar, saya tak tau habis kuliah mau ke mana. Atau tepatnya tak benar-benar tau.

lead_960
sumber: The Atlantic

Saya pun teringat masa-masa SMA dulu (penekanan di kata dulu). Pagi hari setelah malam prom, pikiran yang pertama kali terlintas adalah: “asik habis ini kuliah!” dan serentetan bayangan tentang betapa nikmatnya kuliah selalu terngiang sepanjang hari. Goodbye highschool, welcome college! Saya tak pernah merasa selega itu karena 1) akhirnya bebas dari kehidupan persekolahmenengahan dan 2) tak sabar untuk punya tempat tinggal sendiri, lepas dari orang tua tapi juga, pada saat yang sama, jauh dari mereka. Gagasan brilian dalam benak saya tentang “kemandirian” atau “kemapanan” sudah bertengger di depan mata. Saya tak tau bahwa semua itu adalah tipuan. Ilusi. Fantasi nyata. Meskipun begitu, saya senang akan satu hal: setidaknya saya tau bahwa saya punya tujuan selepas SMA.

Situasi jadi jauh berbeda ketika dunia perkuliahan mulai mendominasi fantasi saya. Saya dicekoki dengan gagasan bahwa berkuliah adalah jembatan menuju karir yang cemerlang di masa depan. Sehabis sidang skripsi, lalu cari kerja di perusahaan idaman, dapat uang banyak, lalu wisuda, kalau sudah cukup uang mungkin lanjut sekolah master, menikah, dan mati dengan senyum bahagia. Dengan gagasan ini, saya pun fokus belajar untuk mendapatkan nilai terbaik yang saya mampu, sesuai dengan usaha saya. Namun demikian, saya terus belajar dengan secercah keraguan dalam hati. Ada sesuatu yang mengganggu batin saya selagi menjalani perkuliahan, saya sendiri tak tau apa. Mungkin minder? Tapi minder karena apa? Perlahan, saya mulai menyadari bahwa rasa ragu itu berubah menjadi ketakutan yang bising. Rasa takut yang terus membisiki saya sebelum tidur. Yang hadir saat saya bangun tidur dan timbul lagi dalam buku yang saya baca, atau musik yang saya dengar, atau wajah teman-teman yang saya temui, seolah berkata sinis pada saya: “habis ini mo kemana lo?”

Itu mungkin kenapa saya jadi mulai malas pulang ke rumah. Khususnya saat semester lima dan seterusnya. Sehabis makan malam, kami sekeluarga akan duduk sebentar di depan tivi. Tak harus bicara banyak. Tapi berada dalam kebersamaan. Tak peduli apa yang masing-masing orang lakukan. Kalau sudah dirasa tepat, Bapak akan mulai membicarakan orang lain seumuran saya yang sudah lulus dan kini sudah bekerja di perusahaan A dan perusahaan B, dan melanjutkan bahwa betapa nyamannya orangtua dia. Lebih parahnya lagi, kadang ia membanding-bandingkan pekerjaan orang satu dengan yang lainnya. Ia akan bicara, “ngapain lah kerja anu, buang-buang waktu” dan “mending kerja anu, bikin orang kreatip, berpikir di luar kotak.” Saya hanya bisa diam di pojok ruangan, tak benar-benar paham arah pembicaraannya apa.

Makan malam bukan lagi jadi momentum bercengkerama dan tukar cerita. Tapi jadi arena pergulatan tempat banding cerita: siapa yang lebih unggul, siapa yang gugur. Sekilat saya berpikir kami para budak, duduk di bawah singgasana raja, yang kalau tidak mau menyiapkan makan malam dan membereskan setelahnya, dipukuli sampai mati. Tapi, saya bukan budak. Maka, saya lebih memilih pura-pura mendengarkan celotehannya dan kembali ke kamar. Di atas kasur, sebelum saya akan kembali ke kampus dan melanjutkan hiruk pikuk perkuliahan, di mana saya bisa menghidupi fantasi saya, saya akan tertegun menatap langit-langit kamar rendah: apakah tujuan berkuliah hanya untuk itu?

Kalau memang tujuan berkuliah pada akhirnya adalah untuk mencari pekerjaan, mendapatkan uang yang banyak, berlomba-lomba pamer posisi dengan orang lain, adu senyum palsu paling lama di momen reunian dan kemudian mencibirnya habis-habisan di perjalanan pulang, lantas apa bedanya saya dengan orang-orang yang tidak menghabiskan empat-lima tahunnya di pendidikan tinggi dan lebih memilih  karir lain selain di universitas? Saya benar-benar melihat tekanan itu, khususnya sekarang, saat duduk di bangku kuliah semester tua. Semua teman saya seolah mengorientasikan hidupnya berlomba-lomba untuk membuat orang lain tersanjung, membuat mereka berpikir bahwa “saya patut dibilang lulusan universitas.” Saya tidak mengatakan itu adalah hal yang salah karena memang begitulah masyarakat kita berpikir dan beroperasi.

Saya pun berpikir bahwa saya tak ada bedanya dengan sapi perah yang hidungnya dicucuk pelat baja untuk kemudian dieksploitasi susunya untuk konsumsi berkepanjangan. Kampus adalah tempat untuk mencari peluang dalam ancaman. Tempat melempar ide dan istilah akademik yang tak harus tau artinya saat itu, tapi baru tahu lima atau tujuh tahun mendatang. Tempat belajar bahwa segala sesuatu butuh pengorbanan, dan tak semua dapat diraih dalam sekejap mata. Tempat belajar bahwa meski semua sudah direncanakan dengan matang, semua itu dapat berakhir gagal total. Dan mungkin yang paling penting, ia adalah tempat bahwa tak semua pertanyaan memiliki jawaban, dan tak harus punya.

Saya punya mimpi. Setelah ini ingin ke sana, ingin ke situ. Ingin jadi ini, ingin jadi itu. Semua sudah saya rancang, saya berikan struktur dan tatanan. Ke depan ingin jadi apa. Ingin menikahi siapa. Ingin belajar apa. Ingin membawa orangtua saya berlayar ke mana. Ingin punya anak berapa. Ingin pensiun umur berapa. Rumah saya tingkatnya berapa.

Tapi itu fantasi. Itu belum terjadi.

Dan fantasi tempatnya bukan di bumi. Ia terbaring di suatu tempat antara bumi dan langit yang jauh. Tapi, siapa juga yang bilang hidup dalam fantasi tidak seru? Yang mengerikan adalah kalau sudah terjebak di dalamnya terlalu lama. Lalu, apa yang terjadi kalau semua mimpi saya hancur berantakan seperti debu yang mengorbit Jupiter? Kacau. Chaos. Crash.

Saya percaya bahwa mimpi perlu. “Prospek” ke depan perlu dilakukan. Tapi saya juga percaya bahwa ketidaktahuan juga krusial. Hari esok seolah menyeramkan, membebani, dan mengikuti saya, bertengger di pundak seperti sosok tuyul yang sudah loyal pada majikannya. Maka, biarkan saya tidak tahu. Karena mungkin itulah hal yang paling tepat yang saya lakukan untuk sementara waktu, selagi saya membenahi diri dan menangani teror dosen pembimbing untuk revisi skripsi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s