Perempuan yang Meniti Jalan

img_20161113_134251

Kita duduk berhadapan. Tapi kau jadi yang pura-pura.
Kau tak bisa diam. Karena mulutmu sibuk bicarakan dirinya.
Sesekali kauusap kepalamu. Panas mengingat-ingat kenangan.
Dua kali kau pejamkan mata. Jengah membahas yang seharusnya ditelan saja.

Dari seberang meja, kuhamparkan seluruh raga.
Dengarkanmu yang tak henti-hentinya bersuka cita.
Kau menangis. Kuberikan bahu.
Tapi air mataku ikut turun. Karena kau mulai bersandar di bahunya.

Saat hujan turun. Ku tak pernah ambil pusing.
Atau matahari menerik. Aku pun lebih pilih diam.
Bulan menggelinyang. Kau bilang jidatmu pening.
Dan tenggelamkan aku hingga runyam.

Birahi memang tak pernah bisa bohong.
Ada gejolak nafsu di balik tameng wajahmu.
Tersimpan keping-keping jiwa yang rindu dalam bolong.
Tapi kau tak bisa utarakan itu. Karena kaupikir aku yang seharusnya maju.

Hai perempuan yang meniti jalan.
Inikah takdirmu? Untuk terus bergelimang dalam palsu.
Hatimu yang remuk seakan lepas menjadi bulan-bulanan.
Dalam titian putih beralaskan debu.

Suatu saat nanti, mungkin aku akan berdoa:
“Ya Tuhan, jadikan aku perempuan sehari saja,”
Agar kubisa masuk dalam kepalamu dan mengorek seisinya
Dan mencari inspirasimu, sebelum kembali menjadi pria seutuhnnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s