10 November: Hari Pahlawan, Hari Jadimu

b612_20160425_132418
Lokasi: Masjid Negara Kuala Lumpur, April 2016.

Ketika orang ramai bicarakan gawai terbaru, ia lebih pilih ponsel lamanya. Abang sibuk bisik-bisik soal drone paling canggih, atau layar paling lebar biar menonton film jadi lebih puas, ia cukup bilang: “ah yang penting bisa telpon dan kirim sms.”

Ketika ibu sibuk upload foto di instagram habis selesai dinas, ia sibuk mencibir. Meski begitu, ada yang tersirat dalam hatinya: “aku juga ingin ke sana.” Ia sepenuhnya sadar bahwa kesehatannya tak lagi seperti ia dulu. Kena panas sedikit saja sudah langsung pening. Ah, itu sih salah sendiri. Kenapa tak bawa topi dari rumah?

Hingga titik  ini, aku selalu termenung: kenapa aku dan bapak jarang sekali bisa bicara tentang apapun tanpa harus mengernyit atau menghakimi satu sama lain? Kapan kami bisa bercakap tanpa harus saling sikut dalam otak masing-masing? Kapan kami bisa jalan liburan ke luar tanpa harus pura-pura pasang senyum saat hati merasa dikebiri?

Apa karena saat bayi aku terlalu disayang oleh ibu, sehingga rasa ingin memilikiku jadi lebih besar kepadanya dibandingkan pada bapak? Apa fase-fase Oedipus Complex-ku terlampau lama untuk kualami? Entahlah. Yang kuyakin, aku tak sendiri. Pasti banyak anak lelaki di luar sana yang mungkin sudah sampai pada titik benci pada bapaknya sendiri. Atau yang tak pernah sekalipun melihat bapaknya seumur hidup.

Namun begitu, ini hari ulang tahunmu, Pak. Umurmu bertambah satu di dunia, dan berkurang satu di akhirat. Pasti ada maksudnya hari ini bertepatan dengan peringatan hari pahlawan.

Para pahlawan kemerdekaan Indonesia memang sudah mati, tapi yang tersisa masih hidup. Mereka yang hidup 60 tahun lalu mungkin sekarang sedang mengobrol dengan para hewan di bawah tanah, bosan karena terlalu sepi. Tapi mereka yang terus membersihkan nisan, mengondisikan ilalang yang dengan senonoh tumbuh di atas gundukan kubur, dan menata liang agar ruang gerakmu bisa lebih bebas: merekalah pahlawan yang hidup jaman ini.

Kau memang tak pernah berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Lagipula, kau belum hidup. Nafasmu masih ditahan oleh Allah dalam jejak atmosfer. Namamu pun belum sampai dilirik oleh malaikat yang hendak membawa ruhmu lewat tiupan bibir ilahi. Tapi, kau selalu ada untukku.

Kau memang tak tau bagaimana memulai percakapan tanpa terdengar canggung. Kau juga kadang menolak kuajak pergi ke luar hanya untuk jalan-jalan sore. Kau bahkan enggan makan satu meja bersama kami, yang membuat kami semakin enggan untuk makan bersamamu. Tapi, aku tak akan pernah  menolak kalau kau minta temani beli baju baru, atau minta buatkan mi goreng tambah nasi hangat. Jangankan baju, mi, batu, cincin. Buih pun mungkin akan kusarikan untukmu.

Maka, kali ini. Jangan menolak pemberianku. Aku ada karena kau pun ada. Tanpamu, mungkin kita akan saling jadi orang lain. Tapi, bagiku, mengenalmu sebagai seorang ayah dan tetap bisa memperlakukanmu sebagai orang lain, itu lebih baik. Dibandingkan tak memperlakukanmu sebagai siapa-siapa.

Dan dari sanalah, sisi pahlawanmu berasal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s