Jarak dan Keluarga: Refleksi Momen Makan Bersama

“Sesekali, kita perlu berada di tempat yang jauh untuk tau betapa berartinya hal-hal kecil.” – Ian Frazier, penulis dan komedian Amerika.

Sepiring kecil sayur kangkung, seloyang mini rendang khas Banjarmasin, segumpal ikan teri kering, dan secuil sambal terasi, adalah yang tampak pertama kali saat saya membuka tudung saji meja makan rumah. Baunya yang semerbak membuat perut yang terisi udara pendingin bus Primajasa sejak lima jam lalu, membuat kepingin melahap sekepul nasi. Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Tangerang, saya selalu bertanya-tanya: masak apa ya Ibu nanti? Benar saja, siang itu, saya tak dibuat kecewa. Melihatku begitu lahap, tak lama setelah itu, Bapak pun bergabung.

Meski begitu, kami tak banyak bicara. Hanya tukar basa-basi seputar seberapa macet di tol, apakah saya sudah sarapan, atau kendaraan apa yang kugunakan untuk menyambung perjalanan tadi. Sisanya disimpan saja. Bapak mungkin menganggap saya terlalu lelah untuk bercerita panjang lebar, soal bagaimana kuliahku atau apa yang baru kulewati: menyenangkan atau menyedihkan kah? Sempat kuberpikir bukannya aku yang sedang lelah, tapi justru Bapak yang tak mau tau tentang itu semua. Ditambah, aku terlalu malas untuk memulai.

Momen liburan kuliah adalah momen yang selalu berjalan begitu, apalagi saat makan tiba. Karena sudah nyaman sendiri, ya makannya juga sendiri-sendiri saja. Kalau bukan bulan Ramadhan, jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk makan di satu meja. Dengan rumah kami yang kecil untuk lima orang dewasa, masing-masing punya titik tersendiri untuk bercengkerama dengan makanannya. Di satu sisi, saya senang karena bisa berada di rumah bersama mereka. Tak ada perasaan yang bisa menggambarkan lebih baik dibandingkan berada dalam satu ruangan bersama keluarga. Di sisi lain, saya bingung sendiri. Mengapa bisa begini? Saya tepekur sendiri, mungkin ini semua disebabkan jarak yang memisahkan kami sementara waktu, dan untuk memulainya kembali adalah sebuah tantangan.

Bagaimana tidak, saya di Bandung, Ibu di kantor hingga sore, abang saya Adit kuliah seharian, hanya adik saya Maya yang menetap di rumah bersama Bapak, tapi itu juga sangat minim interaksi. Sehingga, sekalinya bertemu, kami hanya bersapa seperlunya. Film-film yang pernah ditonton atau acara lucu di televisi pun menjadi penyelamat atas kecanggungan itu. Kami baru bisa lebih luwes dengan satu sama lain saat seseorang, misalnya, tiba-tiba tertawa, membukakan ruang untuk membicarakan adegan tertentu dalam film itu, dan setelahnya kami baru bisa berbicara yang lain.

309664_2041855492557_1901448235_n
Keluarga saat lebaran 2010 di Pontianak

Inilah keluargaku dan sepotong cerita di baliknya. Awalnya saya menganggap bahwa ini adalah keluarga yang “terganggu” atau “disfungsional”, namun itu akan kedengaran sangat meremehkan. Maka, setiap kali saya pulang ke rumah dan duduk sambil berhadapan dengan piring berisi makanan, saya selalu mencoba mengajak mereka untuk makan bersama. Terlepas dari tanggapan mereka yang hanya berupa “iya duluan” atau “nanti, tanggung”, saya sadar bahwa mereka juga mungkin ingin memiliki agenda bersama untuk makan di rumah. Tapi karena saya mengajaknya tiba-tiba, sementara mereka seharusnya melakukan hal lain dan bukannya makan, momennya jadi tak pernah ketemu satu sama lain.

Saat sedang makan sendiri, saya menyempatkan diri melirik mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Di satu titik, pernah tingkat kekesalan saya memuncak karena memikirkan betapa sedikitnya waktu yang kami habiskan bersama, dan saya ingin sekali berceletuk: “ayo dong makan bareng di sini”, tapi saya pikir lagi, buat apa? Toh, saya sendiri juga sudah nyaman dengan kecanggungan itu, dan bukankah situasi akan jadi lebih canggung kalau saya benar-benar berkata itu? Jadi saya urungkan saja dan menikmati momen itu sebaik-baiknya. Saya akhirnya bertanya pada diri sendiri: apakah hanya keluarga ini yang seperti ini? Canggung dan diam-diaman begini. Mungkini tidak. Saya perluas cakupan lihat saya ke daerah lain di Indonesia, tak usah jauh-jauh dulu. Di kampung dekat rumah, ada lebih banyak keluarga yang anggota keluarganya tak pernah pulang-pulang karena kerja. Atau mereka yang kehilangan seseorang yang tersayang, sehingga melihat kursi kosong di meja makan pun sudah menderita.

Yang ingin saya katakan dari cerita ini adalah bahwa saya tak punya barang sedikit pun untuk dikeluhkan. Anggota keluarga masih lengkap, meja makan selalu terhidang makanan enak, dan kami masih bisa menikmati kebersamaan di momen-momen tertentu. Mungkin ada sedikit kekecewaan yang timbul dalam hati, terlebih saat tanggapan mereka atas ajakan makan bareng saya tak digubris, tapi akan jadi lebih mengecewakan jika saya tak melakukan apa-apa.

Tulisan ini, dengan begitu, adalah pengingat bagi saya pribadi, ketika saya sedang jauh dari mereka, makan di kamar kos tanpa ada mereka di sisi saya, dan hanya bisa melihat wajah mereka di layar laptop. Ini akan menjadi pemicu bagi saya bahwa saya masih memiliki harapan, sesuatu yang layak diperjuangkan. Jarak dalam keluargaku justru menjadi kata kunci yang membuat kami bersama, yang membuat kami merindukan satu sama lain. Karena tanpanya, saya tak punya momen untuk dinanti-nantikan saat kami terpisah.

Salam.

Juga dipublikasikan di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s