Antara Gelap dan Terang: Ketakutan dalam Film _Lights Out_

lo-00228
Martin (Gabriel Bateman) dan Becca (Teresa Palmer) dalam Lights Out (2016) | sumber: cdn3

Menurut saya, film horor yang baik adalah film yang mampu menampakkan sifat buruk manusia atau hal-hal yang perlahan menggerogoti sifat baik manusia melalui cara-cara yang subtil. Tak hanya menampilkan hantu-hantu berwajah mengerikan, ditambah suara musik pengiring yang membuat jantung nyaris copot, tapi juga mampu menyampaikan ide bahwa sisi gelap manusia dan sifat-sifat yang dibawanya (marah, dengki, benci, dendam, berkabung dan lainnya), sama juga dengan sifat-sifat baiknya, memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan alam semesta. Film-film seperti Babadook, Shelley, dan The Witch langsung menjadi favorit saya karena alasan tersebut, tapi kali ini sebuah film terbaru karya David Sandberg Lights Out langsung masuk ke dalam daftar film horor terbaik yang pernah saya tonton sepanjang tahun 2016.

Hidup di Amerika Serikat, bergaji cukup untuk menghidupi diri sendiri dan anak, bertempat tinggal nyaman, anak bersekolah di institusi di ibukota, memang menjadi impian sebagian orang. Namun begitu, kesibukan yang tak diseimbangkan dengan kondisi mental yang juga perlu perhatian justru bisa mengarah pada tekanan. Setidaknya itu yang terjadi pada Sophie, karakter yang diperankan Maria Bello. “Hantu” yang sering muncul di sepanjang film kali ini berbentuk bayangan perempuan hitam yang disebut-sebut sebagai Diana, karib Sophie semasa kecil. Jika The Conjuring 2 punya Valak atau The Witch dengan The Black Goat, Lights Out punya Diana. Tulisan ini, dengan begitu, secara subjektif akan membahas mengapa Diana muncul sesuai dengan apa yang sedikit banyak ditampilkan di dalam film.

Dari awal, penonton tidak diberikan keterangan yang jelas terkait apa yang terjadi dengan Sophie pada masa lalu. Yang jelas, anak-anaknya, Becca dan Martin, sesekali menyatakan bahwa ia “gila”. Tanda-tanda lain yang bisa diambil adalah ia pernah masuk rumah sakit jiwa bersama Diana bertahun-tahun silam, namun penyebab mengapa ia bisa sampai titik itu, tidak dipaparkan secara jelas. Salah satu argumen berangkat dari botol-botol pil kecil berwarna tangerine yang ditemukan anaknya Becca di kamar mandi. Ini cukup menjelaskan bahwa Sophie sedang melewati masa-masa sulit berdamai dengan beban dalam pikirannya. Ditambah lagi, fakta bahwa ia sering “berbicara sendiri” di kamarnya menjadi penanda bahwa pikirannya sedang tidak sehat.

Juga terlihat dalam sebuah adegan di mana ia memberikan secarik kertas pada Becca bertuliskan “I NEED HELP,” dan tak lama setelah itu baju hangat yang digunakannya tampak ditarik oleh sesuatu dari dalam yang membuatnya harus menutup pintu cepat-cepat dan kembali dalam kegelapan. Ini merupakan adegan yang menurut saya krusial pada kondisi psikologi Sophie sebagai seseorang yang berada di bawah tekanan berat. Penonton yang sudah terlanjur dibuat takut oleh mood adegan itu mungkin hanya bisa mengintip dari balik jari, khawatir ada penampakan yang muncul tiba-tiba. Penonton yang agak jeli mungkin akan melihat ini sebagai sebuah momen kepasrahan, di mana Sophie tampak tak berkutik di hadapan Diana yang membawanya masuk ke dalam kamar gelap. Di titik ini, jika kita lihat fenomena ini dengan perspektif yang lebih luas, Sophie bisa jadi wakil atas mereka yang hidup dalam kesendirian dan kungkungan rasa takutnya sendiri. Ia adalah persona yang menggambarkan betapa mengerikannya hidup dalam jeratan pikiran negatif yang terlanjur membenalu.

Kata “takut” akhirnya menjadi poin penting dalam film ini (seperti yang dikatakan trailer-nya bahwa “Anda sudah seharusnya takut dengan kegelapan”). Berawal dari suaminya, petugas perempuan di kantor suaminya, Becca, Martin, hingga Bret, ketakutan yang berakar dari mendengar cerita tentang “kegilaan” Sophie, ditambah saat berada di dalam rumah besar yang minim cahaya, jelas-jelas menjadi pemicu Diana untuk hadir. Dengan kata lain, karakter pendukung yang berusaha membantu Sophie menemukan siapa dirinya dan membebaskannya dari rasa takutnya sendiri, menjadi incaran sebuah bahaya luar biasa yang bisa melukai mereka, bahkan secara fisik. Namun begitu, berbeda dengan Sophie, mereka mampu menghadapi kegelisahan dan cemas yang menimpa mereka dengan cepat.

Dari film ini, dengan begitu, saya belajar bahwa rasa takut dapat bermanifestasi menjadi berbagai bentuk yang mungkin tak pernah kita sadari. Kegelapan, misalnya, adalah bentuk lain dari takut dan kecemasan. Ia juga mewakili adanya bahaya dan teror yang akan muncul karena itu adalah kondisi di mana cahaya sedang tidak hadir. Sementara itu, cahaya adalah lambang kebebasan, keterbukaan, dan keberanian. Seperti yang dikatakan Martin pada Sophie, “hal paling berani yang pernah kita lakukan adalah menghadapi rasa takut kita sendiri.” Masalahnya adalah dengan apa kita akan menghadapinya? Apakah dengan “menyalakan lampu”, yaitu menanamkan kekuatan dalam qalbu bahwa ada entitas yang jauh lebih besar dari diri ini, atau, seperti yang Sophie lakukan di akhir film, menembak kepala sendiri karena tak tau dan tak mau tau cara menghadapi rasa takutnya sendiri?

Dari tulisan ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca untuk tidak lagi melihat film horor, atau mungkin film pada umumnya, sebelah mata saja. Simbol, perumpamaan (imagery), dan kode-kode visual lain yang muncul di dalamnya adalah strategi untuk membangun sensitivitas kita terhadap hal-hal yang sering kita abaikan. Dari National Institue of Mental Health, hampir 40 juta orang di Amerika Serikat mengalami “mental ilness” yang berkisar dari umur 18 ke atas setiap tahunnya. Kesibukan dunia yang begitu mematahkan leher jaman ini, dengan demikian, terkadang membuat kita abai dengan hal-hal lain yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang atau dengar dengan telinga terbuka, yang sebetulnya membawa kita kembali pada diri kita sebagai seorang manusia, yang membutuhkan kekuatan jauh lebih besar di luar tubuh ini. Film, dengan begitu, menjadi salah satu penyambung antara kita dengan entitas itu, dan Lights Out, bisa dibilang, telah berhasil melakukannya.

Sumber:

https://www.adaa.org/about-adaa/press-room/facts-statistics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s