Lampung: “Nontonin” Makan, Preman, & Keindahan Sederhananya

“Bukankah bumi itu luas, sehingga kamu dapat berjalan di bumi itu?” – Q.S. Annisa: 97.

Ngebaca ayat di atas gue jadi bersyukur sendiri bisa dikasih kesempatan main ke Lampung minggu ini. Nyokap dapet tugas dinas lagi, dan kali ini episodenya ada di kota yang katanya founding father-nya para begal ini. Ada beberapa hal yang mau gue bagi di postingan ini, mumpung masih seger ingatannya hehe.

Awal dateng gue agak kaget di bandaranya, soalnya bangunan depannya kayak lagi direnovasi gitu loh. Jadi, banyak crane dan truk-truk gitu. Yang sebenarnya agak disayangkan sih soalnya niatan gue pertama kali itu yang akan jadi objek foto adalah bandaranya. Tapi gapapalah. Semoga perjalanan dua hari ke depan bisa membayarnya.

Destinasi pertama adalah Pulau Pahawang. Ini adalah pertama kalinya gue mendaratkan kaki di sini. Selama 45 menit kami harus naik kapal kecil dulu menuju pulaunya. Di perjalanan, anginnya kenceng banget sampe-sampe air laut sering banget menerpa kami *cieh*. Alhasil, kami harus menyelamatkan gak hanya diri sendiri tapi juga perlengkapan elektronik di dalem tas. Agak lucu sih sebenernya ketika tau kami tiba di pulaunya dengan keadaan basah kuyup. Hahaha. Akhirnya, di fotonya jadi begini:

P7210034-min
Bukan Baywatch

1469104856814

P7210020-min

Tapi yang penting, pemandangan pasir timbul ini bener-bener memanjakan mata! Ga rugi deh.

Nontonin Makan

Anyway

Besoknya baru deh gue ngekor nyokap nugas. Lokasinya di Lampung Selatan dan perlu ke sana sekitar sejaman. Rencananya hari itu adalah tim beliau mau ngeliat-liat hutan mangrove yang ditanam sendiri, tepat di sebelum muara sungai di Kalianda. Sebelumnya, kami diundang makan dulu sama orang lokal yang akan nganter kami ke lokasi mangrove, Pak Samsuddin namanya.

Ada yang menarik di sini. Gak lama setelah aneka makanan laut, nasi, dan air kobokan dihidangkan, Pak Samsuddin ngeliatin kami makan sambil duduk di pojokan ruangan itu. Dalem pikiran gue, ah mungkin dia bentar lagi gabung sama kami, tapi pas piring gue udah hampir setengah abis, dia tetep melongo gitu ngeliatin kita. Kadang-kadang kalo ngeliat ada makanan yang kurang, dia pergi ke belakang dan ngebawain satu loyang gede yang isinya nasi atau makanan lauk tambahan lainnya.

Ternyata gue gak sendirian. Om David, kepala dinas di Lampung Selatan, akhirnya nanya. “Kenapa gak makan, Pak?” Dan jawaban dia langsung menyentuh gue. Haha. Dia bilang bahwa emang udah budaya orang Lampung untuk menjamu tamunya sepenuh hati. Kalo dalam Pak Samsuddin, itulah cara “menghormati” para tamu: dengan menunggu para tamu menyantap makanan dan memperhatikan apa ada yang kurang untuk terusnya diambilkan dari dapur. Kalo misalnya dia ikutan makan, lanjutnya, itu sama aja dia memperlakukan dirinya sebagai seorang tamu, dan gak ada artinya tamu yang sebenarnya datang hari itu, karena posisi mereka sama. Mereka gak mau itu terjadi.

Walhasil, setelah kenyang makan ikan pindang baung (gue ga yakin pengejaannya gitu) kami langsung pergi naik kapal motor ke lokasi mangrove. Ini juga pengalaman yang menyenangkan banget. Posisi gue sama air itu udah kayak sejajar gitu loh karena saking kecilnya itu  kapal. Airnya agak keruh gitu kan, sayang banget, jadi gue gak bisa potrat-potret banyak di kapal.

1469193968657 (1)

1469193974621

Dengan jelas, Om David (sebelah gue itu) ngasitau apa aja yang udah dilakukan di area itu. Gue juga baru tau loh ternyata tanaman tembakau itu bukan hanya berfungsi untuk mencegah abrasi (apa erosi?) di pantai aja kayak yang gue pernah pelajari di SD haha, tapi juga bisa berguna di sektor industri, kerajinan tangan, dan bahkan kuliner, selain sektor wisata. Buktinya, pas sampe di rumah Pak Samsuddin, dia langsung nunjukkin keranjang yang dibuat dari batang-batang mangrove dan mulut gelas kap minuman berasa (Ale-Ale contohnya). Dia bikin keranjang yang menurut gue layak jual banget. Dan sebelum pulang, beliau juga menghidangkan kue panjang berbentuk stik gitu yang dibuat dari mangrove. Entah sarinya atau bagian tertentunya, tapi yang jelas makanan itu cukup lah untuk ganjal perut hehe.

Premanisme

Di perjalanan pulang, supir kami (orang dari dinas kehutanan Lampung) Om Burhan banyak cerita. Salah satu ceritanya adalah bahwa Lampung ini terkenal banget sama premanismenya. Meskipun gak semua preman-preman ini menyebar di seluruh Lampung, ceritanya cukup bikin merinding. Gue ga akan fokus terlalu detil di sini tapi intinya daerah Lampung Barat itu banyak banget pelaku begalnya. Motif mereka biasanya adalah pengen nyuri motor. Ditambah jalan-jalan Lampung Barat yang sepi orang dan minim cahaya kalo malem, pelaku begal bisa semakin liar. Itulah kenapa lebih baik berpergian pake mobil kalo main ke Lampung Barat, apalagi kalo keadaan udah gelap dan gak ada orang di sekitar.

Itu kurang lebih juga mungkin berhubungan sama fakta bahwa mayoritas penduduk Lampung adalah orang-orang Bali, Makassar, dan Surabaya. Bali kan dekat sama Madura. Dan Madura itu terkenal dengan paham bahwa kalau ada yang menginjak-injak martabat mereka, mereka bisa membalasnya dengan cara-cara yang kejam. Dari sanalah mungkin budaya begal ini ditumbuhkan, ditambah faktor ekonomi yang gak mendukung dan faktor-faktor lainnya. Om Burhan juga bilang bahwa sempet ada orang lokal Lampung yang dateng ke kantor kehutanan kedinasan di Lampung Barat sambil bawa-bawa golok. Mereka minta tanggung jawab karena “udah dilecehkan” sama masyarakat tetangga lainnya atau kalau kasusnya udah ekstrem, sempet minta uang untuk hal-hal yang membutuhkan kerja mereka ke orang kantor. Serem juga yah.

 

Keindahan Sederhana

Secara umum, dua hari di Lampung bener-bener bikin gue membuka mata. Pulang ke hotel dengan keadaan dingin-dingin diterpa angin laut emang gak enak, tapi pas sampe ke pulau dan ngeliat bujuran pasir putih menyembul dari atas air, bener-bener mematahkan semua keluhan di perjalanan yang gue pendem diam-diam.

IMG_20160721_133332
Pemandangan dari jendela kamar hotel
P7210091-min
Ini pas malem

Cuaca Lampung yang anget-anget maknyus bikin kota ini jadi kenangan tersendiri buat gue, karena gak terlalu beda sama cuaca rumah hehehe. Menurut gue, Lampung Timur punya potensi wisata yang sangat tinggi. Apalagi dari sisi areal mangrove-nya. Lo harus ke sana pake sampan kecil dan ngeliat pohon-pohon tinggi di kiri-kanan itu bakalan ngejual banget, dan inilah justru yang harus dipromosikan, jadi mau melepas penat gak harus selalu ke luar negeri kan? Inilah keindahan sederhana kota Bandar Lampung. Meskipun bulu kuduk gue agak meremang setelah dikasih cerita-cerita begal dan teroris dan hal-hal “buruk” lainnya, dan bikin gue jadi agak khawatir kalo mau ke Lampung lagi sendirian, gue harap kekhawatiran itu sepadan dengan apa yang ditawarkan sama daerah unik di penghujung pulau Sumatera ini.

 

Remah-remah Kenangan

P7210019-min
perjalanan yang “becek” menuju Pahawang
1469193978442
di persemaian permanen Lampung Timur
IMG_20160721_100129
di Kantor Pusat Kehutanan Lampung
P7210085-min
novel sebelum tidur

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s