Hari-hari Paska Lebaran

Pulang dari Pontianak serasa lega sekaligus sedih. Lega karena tak perlu lagi jadi “beban” di rumah Om Teguh tapi juga sedih karena pas tiba di rumah langsung ingat semua yang remeh-remeh di sana: suara Lutfi memanggil, suara Mas Ima minta pinjam laptop Mas Adit, atau suara Mbah “Wan, minyak kampakku mana, Wan!” saat aku sedang terlelap tidur.

Benar memang. Semua yang membekas itu berawal dari hal-hal kecil. Bukan hal-hal yang besar atau sok-sok dibesarkan. Semua ada di sudut pandang. Prosesi wisuda, misalnya, tidak akan jadi berkesan kalau dilihat dari titik formalitasnya. Bahwa ia adalah upacara sakral bagi para pembelajar universitas setelah berhasil mengesampingkan bosan dan malas mengerjakan tugas akhir. Betapa membosankan, bukan?

Beda cerita ketika prosesi itu dimaknai dengan lebih pelan. Dari memasuki aula tempat wisuda. Tak ada yang akan lebih menarik menyaksikan wajah ratusan mahasiswa lainnya. Senyumnya, air wajahnya, bahasa tubuhnya, musik pengiringnya. Itu semua akan tampak berarti jika hanya kita mau melihatnya lebih pelan, tidak sekadar duduk, dengar pidato, lalu foto-foto.

Di rumah, aku mencoba melakukan itu. Hanya Bapak yang tak ada, karena ia akan ikut Halal Bihalal di Pontianak tanggal 18 Juli mendatang. Pesawat agak goyang sebelum mendarat di Soetta, jadi mau bersih-bersih kamar juga rasanya tak niat. Inginnya langsung pasang kasur dan rebahan sampai besok. Hari-hari tanpa Bapak untuk sementara rasanya biasa bagiku karena biasa menghabiskan waktu tanpa Bapak, setidaknya selama empat tahun belakangan di Jatinangor.

Selasa malam, Ibu mengajak kami semua main ke rumah Bude Upik, salah satu anggota keluarga yang paling dekat dengan kami di Tangerang. Hanya sebentar saja. Kebanyakan Ibu yang mengobrol dengan Bude Upik tentang rencana Maya kuliah di mana. Ada Mas Tito dan kawannya dari UI, tapi kami tak ngobrol sama sekali karena canggung. Aku jadi kesal sendiri. Ini persis sama yang terjadi denganku saat di Pontianak. Katanya lebaran tapi  malah canggung saat bertemu dengan saudara sendiri.

Aku rasa para orangtua tak mengerti situasi kami para anak. Bertahun-tahun tak bertemu dan (sengaja) tak sambung komunikasi, lalu saat bersua disuruh duduk atau nonton tivi bersama, sebelum nanti berpisah lagi dan menganggap tak pernah ada percakapan seperti itu. Lucu jadinya kalau dipikir-pikir.

Ngomong-ngomong, Maya bertambah usia ke-18 tanggal 13 kemarin. Teman-temannya main ke rumah, bawakan pizza dan donat. Baguslah, jadi tak perlu pergi keluar cari makan. Tapi rasanya percuma. Habis puasa, berat badanku segitu-gitu saja, bentuknya tak jauh beda: tetap ringkih dan kurus. Tapi ya sudahlah. Mungkin ini kurus yang baik bagiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s