Mudik #6: Kisah Umar dan Girl Band

Jumat, 8 Juli 2016

Kisah-kisah para nabi dan sahabatnya memang selalu menarik perhatian. Entah itu benar terjadi atau tidak, tak ada yang benar-benar peduli. Yang dicari hanyalah pesan-pesan tersembunyi dari sikap, tutur, dan nasihat mereka pada orang lain di kisah itu yang pelit kata tapi padat makna. Siang ini aku mendapat kisah baru saat mendengarkan khutbah Jumat. Sang khatib menyampaikan cerita tentang dialog antara Umar bin Khatthab dan Ubay bin Qoyyab. Ubay bertanya kepada Umar apa yang akan ia lakukan jika menemukan sebujur jalan yang penuh duri dan Umar harus berjalan di atasnya. Umar menjawab bahwa ia “harus ekstra hati-hati.”

Sang khatib kemudian mengatakan bahwa itulah gambaran bulan Syawal. Yang secara harfiah artinya naik atau meningkat. Ujian orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan sebenarnya bukan terdapat di bulan Ramadhan itu, melainkan di bulan-bulan setelahnya. Dengan kata lain, mereka yang “menjadi orang bertakwa” adalah yang menjaga fitrahnya. Tak hanya saat bulan Ramadhan saja masjid-masjid mesti dimakmurkan, atau Al-Quran dibaca, tetapi bulan-bulan setelahnya. Kalau tidak ada yang mengamalkan, maka belum sempurnalah ibadahnya di bulan Ramadhan.

Jarang sekali ada isi khutbah yang begitu runut dan enak diikuti. Kebanyakan yang kudatangi isi khutbahnya cenderung repetitif, hanya redaksional dan gaya penyampaian si penceramahnya saja yang dimain-mainkan sendiri. Beruntung benar aku.

Seusainya, kami sekeluarga diundang makan pecel di rumah Om Budi. Sambil makan, sebagian ada yang mengobrol sendiri, sebagian ada yang mendengar yang lain mengobrol sambil sesekali ikut tertawa agar tidak terlihat terlalu canggung. Selesai makan, kami bercanda tentang Mbah. Ia sedang tidur, dan Maya bilang bahwa Mbah “sedang mimpi ke Korea Selatan,” menjadi anggota girl band dengan mbah-mbah lainnya. Suasana begitu hangat, dipenuhi tawa dan istighfar kalau candaan kami sudah dirasa kelewat batas.

Sebelum shalat ashar, aku, Ega, dan Maya melihat-lihat rumah Mas Kris yang sedang dibangun di belakang rumah Om Budhi. Bentuknya masih mentah. Tampak kayu menjulang ke sana ke sini tanpa dilindungi atap, sehingga kami menghindari berlama-lama karena cuaca panas. Dalam keadaan kenyang dan mengantuk, aku berniat langsung pergi ke kamar, menikmati pendingin ruangan, dan membiarkan diri tidur bersamanya, tapi Tante Lies mengajakku ngobrol, jadilah aku harus mendengarkan dulu.

Sebenarnya ia yang lebih banyak bicara dan aku diam menyimak, jadi agak kurang pantas kalau disebut “ngobrol.” Ia bicara tentang proyeknya dulu saat ia di usaha industri, di mana ia memberdayakan sejumlah orang di Kayong memanfaatkan barang-barang mentah menjadi pengolah berbagai makanan jadi seperti naget, bakso, dan kerupuk. Inti dari pembicaraan dia adalah bahwa “tak ada hasil yang didapatkan dengan cara instan.” Semuanya harus melalui proses yang panjang, rumit, dan menyakitkan. Mendengar ceritanya, lama-lama ia justru jadi agak self-satisfied tapi secara positif. Ia bilang bahwa ia sudah memiliki rejeki cukup dan wajib menurutnya untuk mengalokasikan sekian persen dan kemudian diinfakkan ke saudara-saudaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s