Mudik #5: Lebaran

Sepulang salat ied di halaman Masjid Ash-Shalihin di Jalan Urai Bawadi, aku melihat seorang anak kecil diam-diam membaca koran bekas alas orang shalat sebelumnya. Ia temani ibu dan bapaknya yang sedang berjualan sesuatu di mulut gerbang kompleks, sementara aku dan keluarga terus melaju ke Purnama, rumah nenekku, ibu dari ibuku.

Di sana, ibu dari ibuku, semua orang tertawa. Agak berbeda dengan keadaan di rumah Mbah, ibu dari bapakku, semua orang tertawa dan gembira, khususnya Budi, Raka, dan para om yang terbiasa hidup dalam gelak tawa. Mereka tak lihat ada sebagian lain di sana yang sembunyi di balik kursi meja makan, Dani dan adik-adiknya. Mereka kehilangan ibunya yang kena kanker lima atau enam tahun lalu. Tiba-tiba di tengah kebisingan itu, aku diam saja, mencoba merasakan pathos mereka.

1467782422266
bersama keluarga besar Nenek

Sebelumnya, di rumah Mbah, kami berfoto bersama dan bertukar cerita lucu. Khususnya bersama Eta, sepupuku yang lebih tua dua tahun dariku, karena ia takut saat menonton The Boy semalam sebelumnya. Kami mengguyoninya bahwa ia akan jadi hantu dalam film sekuelnya, The Girl. Sayangnya, tak semua anggota keluarga hadir, jadi kami hanya berfoto bersama yang datang. Saat-saat bermaafan jadi haru. Itu mungkin maaf-maafan paling tulus yang pernah kulalui bersama Bapak dan Ibu. Entahlah, mungkin ini karena waktu membiarkanku berdewasa sejenak.

1467782411397

Pukul 9 pagi, orang-orang mulai berdatangan. Lebaran adalah momentum yang paradoks, menurutku. Kau di sana tapi tak juga. Kau bertemu dengan  saudara sedarah, tapi saling sapa pun ogah. Mau tak mau akhirnya hanya jabat tangan sambil tukar senyum begitu-begitu saja. Namun begitu, yang jelas semua jadi benar karena kau ada bersama mereka, dibandingkan tidak berada di mana-mana.B612_20160706_063515

B612_20160706_064232

B612_20160706_064303

Hari itu aku belajar satu hal: lebaran tak selalu menjadi momen yang bahagia. Bagi sebagian orang, ia justru saatnya berkabung. Mengingat-ingat kembali memori yang dilalui bersama keluarga yang sudah pergi. Aan Mansyur pernah mengatakan bahwa ia benci melihat orang-orang yang bahagia. Mereka pura-pura tersenyum hanya ingin terlihat sosial, berbeda dengan mereka yang diselimuti kesedihan. Ia lebih senang bersama mereka, yang tau rasanya pahit dan getir kehidupan, tapi tak mau membohongi perasaannya sendiri. Karena yang paling sedih dan mengalami naik-turun kehidupan paling sering, biasanya mereka pula yang paling indah senyumnya.

Mungkin aku harus setuju dengan Aan Mansyur kali ini. Kali lain tidak.

Selamat lebaran!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s