Mudik #4: Takbir, Mercon, dan Kenangan

Selasa, 5 Juli 2016

Pagi-pagi aku agak jengkel, karena Bapak tak tau waktu kapan melihat waktu luang dan waktu leha-leha. Aku sedang menonton acara lucu di TV bersama para sepupu karena benakku belum terkumpul setelah bangun pagi. Niat ingin “mengumpulkan nyawa” tapi sudah disuruh sapu halaman dengan nada yang tidak enak. Benar saja: bapak tak ingin melihatku santai-santai di hari menuju lebaran.

Siangnya aku membunuh waktu melanjutkan Hujan-nya Tere Liye. Penulis yang awalnya kukira perempuan dan menulis cerita-cerita cinta tempe: cerita yang hanya berfokus pada kisah cinta remaja laki-laki dan perempuan di sekolah dengan dialognya yang cheesy. Ternyata aku keliru. Baru sampai bab 7, aku sudah ingin melanjutkan membaca. Mungkin nanti akan kutulis opiniku tentang novelnya, tapi tidak sekarang.

Lepas zuhur kami menonton Zootopia bersama-sama. Dongeng para hewan yang kemanusia-manusiaan, menyentil kita sebagai manusia untuk justru berkaca dari mereka. Inilah film animasi terbaik menurutku, yang mampu memperlihatkan betapa cacatnya kehidupan manusia. Manusia dalam bungkusan bulu dan kuping panjang atau taring runcing. Dalam kelas, strata, tatanan, dan hierarki kuasa yang tak pernah ada ujungnya, manusia hidup bersama sejahtera. Ada mereka yang menjadi “kelinci bodoh” dan ada pula yang menjadi “rubah licik.” Namun, pada akhirnya mereka semua kembali ke tempatnya masing-masing, tak peduli seberapa banyak teman yang mereka buat.

IMG_20160705_155307

B612_20160705_160204

IMG_20160705_155327

IMG_20160705_155320

IMG_20160705_155740

Selepas sore, yang kami habiskan dengan bermain UNO dan Hantu, takbir berkumandang. Masjid satu dan masjid lainnya beradu kuat mana takbir yang paling kencang dan jelas. Tak ada tarawih, malam ini tiba-tiba sepi. Bersama dengan dentum suara petasan (atau dalam bahasa Melayu “mercon”) dan takbir, aku menangis sendiri. Ingatanku terlempar pada seorang saudara jauh dari Nangapinoh, daerah terpencil di Kalimantan Barat. Saat mendapati pijaran kembang api mementas di langit, aku melihat wajahnya. Dan teringat pada kisah tragisnya saat ia meninggal dunia lima atau enam tahun yang lalu.

Umurku sama dengannya. Kalaupun beda, paling hanya selisih sekian bulan. Perawakanku tak jauh beda dengannya: mata memelas, bibir penuh, tak terlalu tinggi, dan kulit legam. Ia meninggal karena (maaf) terlindas truk dari rumah ke sekolahnya “hanya” untuk mengambil buku tugasnya yang tertinggal. Kalau dari memori Ibuku, saat itu adalah kali-kali pertama ia bisa naik motor. Aku jadi sedih. Membayangkan wajah ibundanya, Tante Emi, dan ayahnya, Om Fauzi, yang harus memecah tangisnya saat mayatnya disemayamkan. “Ia padahal ingin melanjutkan cita-citanya jadi dokter,” kata Ibuku lagi. Tapi ya bagaimana lagi. Al-Quran surat Al-Mulk ayat 2 pun selalu mengingatkan: mati dan hidupmu sudah diatur, maka lepaskanlah. Begitupun yang dituturkan Buddha saat masa-masa emasnya: “kau hanya kehilangan atas apa yang kau merasa miliki.” Lengkapnya: you only lose what you cling to.

Betapa pahit saat mengingat-ngingat lagi apa yang terjadi pada almarhum Ihsan. Semoga arwahmu tenang, San.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s