Mudik #3: Tarawih Terakhir

Senin, 4 Juli 2016

Tiba-tiba aku terharu saat imam salat tarawih tadi menyampaikan salam terbaiknya pada sang rasul. Betapa diri ini merasa kecil dan insignifikan di bawah sebuah kubah masjid, meski tingginya hanya beberapa kali tinggi tubuhku sendiri. Ritual ini mengingatkanku pada Masjidil Haram. Tiap hari, saat shalat wajib akan tiba, semua manusia berbondong pergi ke sana. Tak peduli sedang apa mereka sebelumnya. Jika azan sudah didengarkan, semua pergi mengambil air suci.

Namun, suara serak Pakde Kasto yang agak mengganggu. Usia beliau yang menginjak kepala lima atau enam mungkin, membuat suara beliau juga ikut-ikutan tak lagi muda. Aku kemudian jadi bingung sendiri. Kenapa dari sekian banyak pemuda yang katanya sempat belajar mengaji di masjid itu, tak ada satupun yang berani menjadi imam. Atau mungkin, memang para orang tua yang terlanjur termakan gengsi. Kalau sudah bicara gengsi, dunia akan tertelan dirinya sendiri cepat atau lambat. Tak ada yang berani memulai. Ya sudah, biar para senior yang menentukan nasib semuanya.

Apakah ini rindu? Perasaan itu muncul lagi malam tadi. Perasaan yang belum pernah kurasakan sejak terakhir kali aku merasakannya. Yaitu, rasa tenang luar biasa, bersyukur, dan pasrah dalam genggaman-Nya, menempatkan diriku dalam posisi nol, sehingga tak ada yang perlu kukhawatirkan. Itu kurasakan baru tadi. Ke mana saja aku selama ini?

Apa karena aku jarang mengisi malam-malamku dengan tahajud karena tidur larut hanya untuk mengecek berita terbaru selebriti yang bahkan tak pernah peduli denganku? Apa karena silaturahmiku buruk dengan kawan lama? Apa mungkin karena aku sudah membuat Allah cemburu habis-habisan? Hingga lidahku kelu saat membuka Al-Quran dan mengangkat tangan kala takbir? Istighfarlah batinku. Memang benar. Ini adalah rindu.

Ngomong-ngomong, aku sebenarnya tak ingin menulis yang sok-sok kontemplatif seperti yang di atas. Tapi ya sudah. Siapa tau suatu saat nanti aku kembali ke tulisan ini dan menyadari betapa benar apa yang kutulis ini.

Besok adalah puasa terakhir, yang berarti malam ini juga tarawih terakhir. Seperti biasa, ritual harian keluarga di Pontianak adalah bersih-bersih rumah. Aku membantu memasang gorden dan mengelapkan kaca luar dan dalam. Yah, hitung-hitung ada kerjaan dan tak begitu banyak diam-diam.

Siangnya, aku dan para sepupu menonton film The Forest bersama-sama. Film horor yang dibintangi Natalie Dormer dan Taylor Kinney, yang agak memutar otak dan memicu adrenalin. Kami teriak saat hantu-hantu menampakkan diri. (Sebenarnya lebih karena suara dari speker yang terlampau keras!)

B612_20160704_104825

B612_20160704_110642

B612_20160704_100551

Ini sudah jam 23.00 dan sepupuku masih sibuk mengobrol ngalor ngidul saat Bapak dan Om Teguh menikmati keheningan bermain catur dan Mbah memanaskan sup ayam. Aku? Sepertinya akan baca buku saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s