Mudik #2: Buka Puasa Keluarga Besar

Ahad, 3 Juli 2016

Pagi cantik sekali saat aku keluar rumah. Jalan Urai Bawadi belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk berkutat di alam mimpi. Ini pagi pertama aku di Pontianak. Subuh sudah mulai dan aku ketinggalan satu rakaat. Tapi tak apa. Yang penting bisa mengikuti ceramah singkat seusainya.

B612_20160703_064322

Ceramah itu menarik. Guru mengaji di masjid As-Salihin mengingatkan kami semua tentang betapa berbedanya semangat orang-orang yang ada di bulan Ramadhan, khususnya ketika salat tiba. Ia juga mengingatkan pahala shalat sunnah qabliyah subuh dan wajib berjamaah yang memiliki keutamaan “lebih dari dunia dan seisinya.” Lalu, ia bercerita tentang betapa membedakannya orang yang semangat salat subuh dan orang yang semangat salat-salat lainnya. “Anak kecil juga bisa salat maghrib,” katanya. Dengan nada tak menggurui, ia menasihati kami bahwa salat subuh dan isyalah yang harusnya waktu-waktu masjid paling ramai.

Sepulangnya, aku bosan dan membaca buku sejarah Britania Raya. Aku baru tau ternyata Britania itu terbagi menjadi empat wilayah: Wales, Skotlandia, Inggris, dan Irlandia Utara. Kukira ia hanya Inggris seorang. The Long-lasting Empire. Begitu menggugah membaca kebudayaan Celts dan asal mula aktivitas minum teh yang biasa dilakukan orang Inggris pada umumnya.

Siangnya, aku dan Maya bermain ke rumah Tante Lies, adik Bapakku. Rumah yang sederhana namun nyaman sekali. Di sela-sela mengobrol ngalor ngidul, ia lebih banyak mendominasi pembicaraan. Ia juga menunjukkan foto-fotonya sewaktu berlibur ke Nusa Dua Bali bersama Mister Jack yang ia sebut “pacarnya.” Tapi aku tau ia hanya bercanda.

Sehabis ashar, rumah Om Teguh mulai ramai. Ya, hari itu ada acara buka puasa bersama, sekaligus kumpul dengan keluarga besar Sukinem. Di tengah-tengah agenda berbuka, kami semua dikagetkan dengan sepupuku Bila yang menyanyikan Happy Birthday untuk Lutfi. Ternyata ia berulangtahun yang ke-10! Make a wish!

Aku agak keliyengan saat melayani para tamu, mengantar takjil, mengoper botol minuman, dan menuangkan es batu ke gelas-gelas, terlebih karena aku sedang pilek, dan bawaannya ingin baring saja.

Sayangnya, di Pontianak sinyal Smartfren agak susah jadi agak ribet kalau mau sekadar sapa dengan teman di LINE atau mengunggah foto-foto bagus ke Instagram. Namun, untunglah, smartphone Ibuku dan Mas Adit agak canggih, dan kami yang hapenya kurang canggih bisa melakukan tethering. Life saved!

Malamnya, semua sepupu berkumpul. Daripada bengong-bengong, aku mengusulkan bermain kartu saja. Dengan serunya kami main UNO dan tepok nyamuk dengan muka penuh bedak. Seru sekali. Lutfi-lah si biangnya. The birthday boy. Ia suka sekali menari-menari tak jelas dan menyanyi lagu dangdut: “Ibu mengandung / lima belas tahun.” Kami semua terpingkal dibuatnya.

Hari ini berakhir manis, semanis hari-hari sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s