Mudik #1: Tiba di Pontianak

Sabtu, 2 Juli 2016

Hari terakhir liburan di Tangerang saat bulan Ramadhan. Katanya “pulang” tapi merasa bukan di rumah. Entahlah mungkin karena aku tak berteman dengan tetangga. Akhirnya, diam-diam saja di rumah sambil main internet dan membunuh waktu membaca buku-bukunya Mudji Sutrisno. Untung ada keyboard, jadi bisa ngulik-ngulik lagu klasik untuk kesenangan sendiri. Terakhir aku belajar Claire de Lune-nya Debussy; melodinya begitu cantik dan menenangkan.

Semalam, Bapak mengajakku ngobrol hal-hal yang berat-berat, namun mengasyikkan. Kami bicara tentang agama, perbuatan sehari-hari, dan hukumnya dalam Islam. Yang aku suka dari pembicaraan kami adalah betapa Bapak sudah belajar begitu banyak hal selagi aku tak ada. Ia banyak mengakses video di internet dan memelajarinya dengan aktif. Memang benar kata para pepatah, belajar tak memandang usia. “Merekalah yang tak mau belajar yang akan beranjak tua.” Aku jadi tepekur sendiri.

Sekitar jam 12 malam hari Jumat, aku sibuk berkemas. Kami semua sebenarnya. Nanti pagi kami pergi ke Pontianak untuk pulang kampung. Bandara tak seramai yang kukira. Baguslah. Soalnya lihat berita bandara dan semua pelabuhan akan dilauti manusia empat hari sebelum lebaran. Tapi ternyata tidak demikian. Sempat kulihat Pasha Ungu keluar dari Toilet saat kami sedang masuk ke bandara untuk check-in, tapi anggota keluarga yang lain tak perhatikan. Beda sekali wajahnya di televisi dan aslinya. Semua artis tampak lebih berkarisma saat bertemu langsung.

B612_20160702_113408

B612_20160702_151635

Pesawat lepas landas jam 13.00. Ruang tunggu tadi agak ramai dan aku mengisi waktu melanjutkan membaca Ide-Ide Pencerahan. Satu bagian dalam bukunya sangat menarik perhatianku; sebenarnya seluruh bukunya sangat menggugah. Ia menulis tentang tantangan budaya jaman sekarang yang melihat seni bukan sebagai bagian transendental manusia untuk mengaktualisasikan dirinya, tetapi sebagai sebongkah artefak, yang sudah harus disimpan saja di repositori. Seni, lanjutnya, harusnya menjadi acuan bahwa peradaban bermula dari sana, dan di sanalah sumber tindak-tanduk manusia.

Pembacaanku terhenti saat ada pengumuman segera naik ke pesawat. Bapak, Mas Adit, dan aku agak khawatir karena Ibu dan Maya masih shalat zuhur di musholla ruang tunggu. Kami mengira mereka akan terlambat, tapi ternyata tidak. Pesawat syukurnya berjalan dengan mulus dan mendarat pukul 15.00. Om Teguh, adiknya Bapak, dan anaknya, Lutfi, sudah menunggu kami di depan. Pontianak tetap tidak berubah; hangat dan menyenangkan. Selalu ada bebau yang khas saat tiba di sini. Selalu menghasilkan perasan déjà vu.

B612_20160702_151755

B612_20160703_064112

Tiba di rumah Om Teguh, aku agak jetlag. Inginnya tubuh dibaringkan saja sampai buka puasa. Semua orang ternyata ada di sana, menyambuti kami sambil bertukar “apa kabar” dan saling membuat komentar tentang betapa tingginya sudah tubuh kami dibandingkan dua tahun lalu—waktu terakhir kami ke sini. Sebuka puasa, tubuhku agak enakan, setelah menghirup teh manis hangat yang dibuat Tante Widya dan Mbah. Tubuhku lebih segar seusai shalat tarawih. Malamnya, aku dan Maya menonton film Hello, My Name is Doris, film drama komedi yang diperankan oleh Sally Field. Film yang mengingatkanku tentang kenyataan yang menyakitkan. Bahwa tak semua harapan yang kita buat terwujud sesuai dengan skenario terbaik. Terkadang, justru skenario terburuk adalah apa yang kita butuhkan.

Di luar, semua orang berkumpul, mengobrol. Hitung-hitung sebagai obrolan sambutan. Aku memilih untuk segera tidur karena mata sudah mengantuk, berharap seminggu ke depan di Pontianak bisa menjadi seminggu yang indah. Entah akan diberikan skenario terbaik atau terburuk. Yang jelas, aku harus memainkan peranku sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s