Perang dan Persimpangan

image_6461
“War” (Pindex)

Di kelas puisi minggu ini, kami membahas tiga sajak Archibald Macleish, Thomas Hardy, dan Carl Sandburg. Ketiganya membahas perang dan kerumitannya, namun masing-masing dengan sikap yang berbeda. Ada yang sinis, menolak mengerti, menanti secerca harapan, dan bahkan tak peduli sama sekali. Di atas air, mungkin sajak-sajak semacam ini terdengar membosankan (setidaknya begitu yang kurasakan saat membacanya pertama kali), padahal, tenggelam di bawahnya, terkubur banyak hal menarik yang bisa terus digali dan ditafsir, yang nantinya meninggalkan torehan menohok dalam kenangan.

Membaca secara dalam sajak-sajak peperangan membawa saya dalam sebuah lorong panjang yang dibangun oleh milyaran imaji. Satu di antara imaji itu menampilkan proyeksi manusia-manusia yang sedang sembunyi di balik batu pertahanan. Gambar lain memperlihatkan anak-anak kecil dan para perempuan yang sedang merengek menunggu ayah dan suaminya pulang ke rumah dengan keadaan utuh. Dalam gugus imaji lain, butir-butir peluru sedang menari dalam gerakan pelan, menembus rusuk dan limpa para tentara yang tengah berjuang melindungi diri sendiri. Mereka muda, berani, percaya diri, ambil belati, lalu siap ditembak mati.

Pergi ke medan perang bukan keputusan yang sulit atau menyulitkan, namun bukan juga sesuatu yang bisa membuat siapapun mengangguk iya. Para lelaki muda yang sudah siap menggenggam senjata itu tak punya pilihan banyak: terlanjur pergi atau kembali tak diakui. Hodge pergi dalam lamunan: apa yang akan kulihat nanti? Gurun Karoo? Gunung Merapi? Sayap Malaikat Jibril? Sayangnya, ia tak lihat apa-apa. Hanya pucat dan basa.

Mungkin Tolkien ada benarnya juga. Ia bilang “tak semuanya yang berpergian tersesat.” Tapi mungkin juga ia keliru. Miris kubilang bahwa Hodge mungkin tak masuk dalam “tak semua” di kalimatnya. Seperti Chairil, ia “terbuang” di dalam “kopje-crest“, dibekap “veldt” yang mencekiknya dari dalam, sampai ia mati di bawah kuburnya sendiri.

Hodge sudah mati, tapi semangatnya tidak pernah. Kerabatnya di Wessex mungkin masih membicarakannya. Namanya mungkin sengaja atau tidak terucap dalam obrolan-obrolan remeh di meja makan malam dan warung kopi murah. Tentara muda yang mati, tak tau apa-apa, dan hilang disesap bumi, dimakan tetumbuhan, Hodge masih bergelayutan di loteng kamar pembunuhnya, membuat berisik agarnya tak mampu tidur nyenyak.

Namun begitu, yang namanya manusia tetap saja lupa. Nyawa tak lagi dilihat suci, tak lagi sakral. Ada “nilai dan ideologi” lain yang melampauinya, dan permasalahannya tidak itu saja. Kata Macleish, mereka yang mati dalam perang mesti “didengar” dalam liang-liang mereka, bagi kita yang masih hidup. Menjadi pelajaran bahwa bumi adalah teman jauh kita, dan cepat atau lambat, kita akan menjabat tangannya.

Aku jadi ingat satu kutipan dari Song Joong-Ki dalam Descendants of the Sun. Ia bilang: tentara hidup dalam kain kafan. Di manapun ia mati, maka di situlah tempat kuburnya. Kalau prinsip itu dipegang kuat-kuat, maka tentara manapun akan mati dengan terhormat. Dalam berbagai lapis, para tentara muda, manusia-manusia yang sedang bersedih itu, akan “tumbuh menjadi semacam pohon Selatan” dan bersamanya pula terkonstruksi “konstelasi bintang” yang “terlampau berkilau” selamanya.

Ini bukan tentang mereka. Mereka sudah berperang dalam artian yang sebenarnya. Tapi kita? Yang hidup dan bernapas lega, tak dikelilingi ranjau darat tetiba atau “bom udara yang mengerikan”:

Apa kita sedang siap siaga untuk melawan atau diam-diam merajut “silver string nest” di dinding dan mengunci diri?

2 thoughts on “Perang dan Persimpangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s