Sekolah di Luar Negeri: Kultur Pengaminan dalam Masyarakat Indonesia

Minggu pertama Mei 2016, Line News Digest atau sekarang LINE TODAY merilis artikel tentang betapa “sederhananya” kehidupan artis cantik dan penyanyi Maudy Ayunda yang sedang berkuliah di Oxford University. Pas saya cek Youtube, ternyata ada beberapa vidio lain dari channel Maudy sendiri yang isinya adalah pengalamannya berkuliah di salah satu universitas tertua di dunia itu.

Maudy Ayunda
Vidio-vidio unggahan Maudy Ayunda (dok.pri)

Gak bohong ini sih. Dengan konten-konten yang menarik, sinematografi yang ciamik, musik yang menggelitik (ini maksa yah biar berima aja), ditambah bisa melihat si “Rena” dewasa yang cantik, jumlah penontonnya sudah dalam kisaran ratusan ribu. And it is all great. No wonder about that. But the problem does not lie there. It starts, in fact, somewhere else.

Ketika saya cek Facebook, beberapa anak SMA, entah itu teman-teman adik saya atau mereka yang pernah saya bimbing mengerjakan soal Bahasa Inggris untuk UN atau SNMPTN di SMA-SMA di Jatinangor dan Rancaekek, mereka menulis status yang menyatakan bahwa betapa kerennya si  Maudy ini. “Banyak modal,” kata salah satu dari mereka, beberapa yang lain bilang: “perfeck banget!”

Belum selesai, komentar-komentar yang muncul juga beragam. Ada yang setuju, ada yang merasa biasa saja, ada juga yang keliatannya kalimatnya biasa-biasa tapi sebenarnya mengimplikasikan bahwa dia suka.

Saya pun langsung berpikir: these guys only see what they see on the surface. Dengan entengnya, mereka bisa buat komentar-komentar dengan kalimat yang bahkan belum jadi kalimat. Yang saya takutkan adalah anak-anak yang sedang dalam masa peralihan antara UN dan SBMPTN (atau SMA dan kuliah) akan beranggapan bahwa berkuliah di luar negeri itu adalah pencapaian yang gak bisa terbeli dengan harga berapapun.

Mereka mungkin luput bahwa, katakanlah, Maudy memang datang dari keluarga yang lebih dari berada, terlepas dari intelektualitas Maudy sebagai seorang mahasiswi. The same thing goes with, for example, Gita Gutawa atau Vidi Aldiano, atau artis-artis lainnya yang berkesempatan sekolah ke luar negeri. Namun, saya tidak akan mempermasalahkan fakta bahwa mereka cukup beruntung karena mampu secara finansial. No, we all know that they are rich even before we knew they were.

Yang akan saya  bahas di tulisan ini adalah, dari satu contoh kasus di atas, terdapat semacam pengaminan dalam kultur dan pola pikir masyarakat Indonesia yang kemudian membuat mereka luput 1) bahwa ada proses menyakitkan dan tidak mengenakkan hati di sepanjang perjalanan sebelum mencapai sukses itu dan bahwa, untuk kasus yang agak ekstrem, 2) melumrahkan anggapan bahwa pendidikan di Indonesia itu belum seberapa dibandingkan pendidikan di luar negeri, di negara apapun itu. Saya mungkin salah, tapi bukan berarti kedua hal di atas tidak mungkin terjadi. Kembali lagi, bahwa ada pengaminan bahwa luar negeri dijadikan semacam kiblat untuk keberhasilan studi seseorang. Ada juga pengaminan bahwa siapapun yang bisa berkuliah di luar negeri, maka ia kemudian dianggap unggul secara intelektual dan, kalau merujuk ke salah satu komentar di facebook tadi, “sukses dunia akhirat.”

Kasus ini sebenarnya juga terjadi pada saya. Sewaktu di semester 1 kuliah, saya dan beberapa kawan sempat terpesona ketika hari perkenalan dosen-dosen tiba. Di layar perak, mereka menampilkan biodata singkat dosen dan tempat dulu mereka menempuh studi. Ada satu dosen yang berkuliah di satu universitas di luar negeri, dan saya jujur tak tau di mana itu (yang jelas di Amerika Serikat). Namun demikian, tetap saja, collective memories dalam otak saya menganggap bahwa universitas tertentu di luar negeri itu, di manapun dia, itu keren dan “wah.” Setelah hari itu selesai, sempat terbersit dalam pikiran saya bahwa “ya saya mah cuma di universitas ini” dan terus-menerus mengasihani diri sendiri. Ternyata, setelah saya cek akreditasi universitas dosen tadi, ternyata biasa-biasa saja sebenarnya. Tidak ada yang perlu dibanggakan, tapi juga bukan untuk diremehkan. Namun, karena kultur pengaminan tadi yang mulai (atau sudah) berkembang dalam paradigma saya, universitas itu, dan dosen tertentu itu, tetap saya lihat sebagai panutan.

Kultur pengaminan ini sebenarnya sudah mulai melekat dalam benak masyarakat Indonesia sejak, setidaknya setelah saya menginjak bangku SMA, terbitnya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Negeri Lima Menara-nya (beserta dua novel lanjutannya) A. Fuadi. Di novel-novel itu, beberapa karakternya digambarkan sukses dalam studinya dengan (akhirnya) mampu bersekolah di luar negeri. Alif di New York sebagai wartawan VOA, satu temannya lagi (saya lupa namanya) di Turki, Ikal di Sorbonne University, dan Arai di London. Semua pembaca pasti kalau tidak tergerak hatinya pasti terharu melihat perjuangan semua karakter itu melewati rintangan dan hambatan untuk mencapai tujuan belajarnya. Tidak ada yang salah dengan itu. Tak ada sama sekali itu. Justru perjuangan mereka mesti diapresiasi setinggi-tingginya.

Namun demikian, pemberian apresiasi itu  juga menjadi kerumitan tersendiri. Para pembaca (dan penonton vidio-vidio Maudy Ayunda) dikhawatirkan bukan lagi tergerak atau mungkin terharu dengan perjuangan mereka bisa berkuliah di sejumlah universitas ternama dunia. Persepsi mereka telah disetir bahwa pendidikan di  luar negeri sudah menjadi maskot, menjadi kampiun bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Lalu, pertanyaan selanjutnya muncul, terus siapa yang bisa menebak bahwa, dengan pandangan seperti itu, ada kemungkinan bahwa mereka menganggap remeh pendidikan di Indonesia?

Argumen saya, kemudian, adalah bahwa kultur pengaminan semcam ini mesti dihentikan secepat mungkin. Meskipun saya tidak menutup kemungkinan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih banyak celah yang bisa ditinjau ulang dan direvisi, saya yakin tidak ada upaya yang sia-sia untuk mengatakan bahwa “pendidikan di Indonesia juga bisa sama juaranya dengan pendidikan di luar negeri.” Masalah lain pun muncul: mengapa kita mesti menjadikan patokan itu dengan luar negeri? Atau segala sesuatu yang berbau luar negeri dijadikan cult atau semacam patokan yang “baik” bagi negara yang “bukan luar negeri.”

Semua ini bisa dimulai dengan melihat dari banyak sudut pandang, dengan melihat sisi lain dari apa yang terjadi, dan mencari implikasi dari sekadar “pernyataan.” Saya rasa sudah bukan jamannya lagi untuk membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain, khususnya dalam hal yang Indonesia belum lakukan atau sudah lakukan tapi tidak maksimal hasil akhirnya. Masyarakat yang masih terjebak dalam paradigma bahwa “luar negeri adalah segalanya” mesti ditegur dengan cara apapun untuk tidak masuk dalam keterlanjuran itu.

Juga dipublikasikan di http://www.kompasiana.com/radipt/kultur-masyarakat-indonesia-yang-mengamini-superioritas-studi-di-luar-negeri_57356c9d26b0bd2512d3eedd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s