Sam-I-Am

150429-news-green-eggs-ham

Minggu ini di kelas drama kami membahas sebuah cerita klasik dari Dr. Seuss berjudul Green Eggs and Ham. Ceritanya berfokus pada Sam-I-Am yang menawarkan telur hijau dan daging kepada narator yang sepanjang cerita tidak disebutkan namanya. Sejak awal, narator terus menolak memakannya, terlepas dari Sam yang menawarkan di tempat yang beragam dan “teman makan” yang beragam pula. Yang menarik adalah si narator terus membuat komentar dan pernyataan bahwa ia tidak (akan) suka memakan hidangan yang ditawarkan Sam. Sampai akhirnya, di akhir cerita, ia pun mencicipinya dan mengakui bahwa ia menyukainya.

Satu pertanyaan yang muncul setelah saya beres membacanya adalah: mengapa narator begitu tak sukanya dengan hidangan Sam padahal ia belum mencobanya? Apa jadinya kalau yang menawarkan orang (atau sesuatu) lain dan bukan Sam?

Kebingungan itu membuat saya mengaitkannya dengan banyak hal. Salah satunya adalah masalah suka atau tidak suka dengan sesuatu yang padahal belum pernah saya alami atau indrai, tapi sudah terlanjur membuat penghakiman (judgment) dan menjadikannya sebagai tameng untuk hidup tenteram di baliknya.

Banyak dari kita yang terlanjur termakan berita di media hanya karena masyarakat percaya bahwa itu adalah berita yang baik atau buruk. Sama halnya dengan terlanjur benci dengan orang tertentu atau bahkan sejawat sendiri hanya karena orang lain sudah mematenkan penghakiman terhadapnya. Kalau mengutip Marni dalam serial Girls-nya Lena Dunham, “[we] follow suit” sampai-sampai kita tak sadar bahwa kita sudah membuat penghakiman dari diri kita sendiri dengan percaya judgment orang lain.

Yang lebih lucunya, kalau pada satu titik, kita sudah melihat sendiri, menyaksikan sendiri, apa yang orang lain katakan, dan bukan terus-terusan mendengarnya, kita kemudian jadi berubah pikiran semudah membalikkan telapak tangan, dan bertindak seolah semua penghakiman yang kita buat tentang sesuatu atau seseorang, tidak pernah ada atau dibuat oleh kita sebelumnya. The question remains: is it okay, after all those assumptions we have made, that we change our minds?

Di akhir cerita, Sam tampak baik-baik saja melihat si narator pada akhirnya memakan tawarannya dan “like them here, like them there, and like them anywhere” yang berarti ia akan memakannya di mana saja, kapan saja, seolah-olah ingin menyampaikan pesan: biarkan orang lain berkata apa, berceloteh apa, berargumen apa, asal bisa menghidangkan sesuatu yang ia sendiri suka dan nikmati.

Jadi, seperti yang Sam lakukan, tersenyum saja lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s