Mati Lampu!

smoke_trails_candle__by_georgeamies-d759429
“Smoke Trails Candle” oleh George Amies (deviantart)

Saya inget, tahun 2014 rumah di Ciledug kena banjir, dan setiap malam, lampunya sering banget mati. Maklumlah, soalnya tinggi airnya bisa hampir kena kabel listrik. Walhasil, kami sekeluarga harus nunggu sampe pagi lagi. Dan kalo listrik udah hidup, aktivitas kami juga ikut hidup.

Belakangan, di Jatinangor tempat saya kuliah sering banget lampunya mati. Khususnya sejam setelah jadwal salat Asar, dan buat yang gak punya lilin, atau lupa ngecas gadget, yah, yaudah, mati bosen deh. Hehe. Tapi untungnya, matinya cuma dua sampe tiga jam. Sekitar jam 8 lampunya nyala lagi.

Sempet suatu  malam, pas mati lampu, saya keinget keadaan waktu banjir di rumah beberapa tahun yang lalu. Pas saya masih duduk di bangku SD, begitu juga kakak dan adik saya. Karena gak ada kegiatan, kami suka ngumpul di meja makan sambil mainin lilin. Entah yang hebat-hebatan main bayangan di dinding. Yang bentuk bayangannya paling rumit atau paling mirip sama hewan tertentu, pasti bakal ngerasa keren. Atau sok-sokan nempelin jari di pangkal sumbu lilin. Siapa yang paling sering jarinya melewati lilin, juga ngerasa yang paling keren. Haha.

Pas lagi asyik kumpul bertiga, Bapak saya tiba-tiba nimbrung. Beliau selalu punya cerita yang bikin kami gak bisa ke mana-mana, saking menariknya. Malam itu, beliau nanya ke kami: “kalian tau gak kenapa bayangan lilin itu warnanya hitam?”

Seperti reaksi umumnya bocah kalo ditanya, kami cuma bisa geleng-geleng gak niat. Bapak saya bilang, “karena itu melambangkan dosa kita.” Cahaya di lilin itu seperti Tuhan, sumber kebenaran. Dan dinding, atau apa saja yang jadi landasan bayangan objeknya, adalah tempat di mana dosa kita terlihat. Beliau terus mengangkat tangannya dan membuka jemarinya.

“Lihat nih.” Semakin dekat tangan kita dengan dinding, semakin mantap bayangannya terbentuk; hitamnya padat dan pekat, hampir gak beraura. Tapi kalo tangan kita dekatnya sama lilin, bayangan di dinding akan bias. Halo menyebar di mana-mana dan sekilat bayangan kita akan berbaur dengan dinding, karena cahayanya terdispersi.

Sekarang, semakin saya besar, tiap kali mati lampu, saya suka tepekur sendiri. Dari obrolan yang mungkin dulu saya anggep remeh, tapi pas dipikirkan lagi, ternyata…dahsyat! Ditambah lagi, kalo misalnya pulang ke rumah di Ciledug, dan mati lampu, kumpul mah kumpul, tapi udah gak main bayang-bayangan lagi, atau nempel-nempelin jari ke lilin.

Tapi…update status!🙂

One thought on “Mati Lampu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s