Sandiwara

Sejauh ini, belum ada buku filosofi-relijius yang lebih enak dibaca dan dipahami selain Syekh Siti Jenar-nya Achmad Chodjim. Gue nemu buku ini pas lagi beres-beres rumah, dan siapa yang tau, buku ini nyempil gitu aja di rak buku lama bokap. Anyway, ada satu subbab yang selalu membekas di benak gue, judulnya “Sandiwara”. Di sana, dia menarik garis besar cara pandang orang-orang Islam Jawa tentang hidup beragama: manunggaling kawula kalawan Gusti, yang secara umum berarti menyatunya manusia dan Tuhan.

Tapi sebelum ke sana, dia mengutip Siti Jenar bahwa manusia sebetulnya hidup di alam kematian. Apa yang mereka pikir hidup saat ini sebenarnya bersifat mati karena mereka memiliki jasad, mayit atau physique. Dan salah satu arti mayyit dalam bahasa arab adalah bangkai. Bangkai di sini gak bisa diartikan sebagai sesuatu yang udah mati, busuk, atau terurai bakteri; singkatnya, gak bisa diartikan secara harfiah. Di lapisan makna ke sekian, bangkai bisa diartikan sebagai sesuatu yang pasif atau, dalam bahasanya Siti Jenar, “dorman” (dalam kondisi tertidur).

Inilah yang sejalan dengan apa yang Al-Quran bilang bahwa kebanyakan manusia itu tertidur. Dikasih mata tapi gak liat, dikasih telinga tapi ga denger, dikasih otak tapi ga mikir. Di surat lain, Al-Quran juga bilang bahwa kehidupan ini “sandiwara dan permainan.” Dalam ungkapan lain, manusia hidup dalam sebuah skenario, memainkan peranan tertentu, yang satu dan lainnya gak mungkin sama, di bawah komando sutradara Allah azza wa Jalla.

Sebuah pertanyaan pun muncul: terus kalo kita “tidur” apa itu berarti “mati”? Apakah kalo “tidur” betulan, yang sampe bisa “mimpi” itu termasuk kategori “tidur” yang dalam artian “hidup”? Hayolo. Pusingdah.

Lucu rasanya kalo inget diri sendiri, suka pamer foto di media sosial atau suka ngomong yang engga-engga sama temen, cuma untuk narik perhatian mereka. Apalah artinya badan ini dipamer-pamerin kalo di dalemnya aja masih ada kotoran? Yagasih?

Siti Jenar melanjutkan lagi bahwa kalo udah tau dunia ini sandiwara, gak ada gunanya ngerebut peran orang lain. Kalo peran kita orang miskin, ya deal with it. Kalo perannya dikasih jadi tukang bubur, ya gausah komplen. Yang penting sekarang adalah gimana caranya nih dapet perhatian Sang Sutradara, “Sang Khalik”. Iya dong. Gimana engga. Lo lagi main drama, lo pemainnya, naskah udah di tangan, make-up udah siap, ya sekarang tugasnya tinggal gimana caranya lo dapet apresiasi Sang Sutradara dan bikin dia seneng, sebelum akhirnya nyenengin penontonnya pas tampil.

Orang miskin yang satu gak akan mungkin punya kesempatan yang sama dengan orang miskin yang lainnya. Ada yang miskin males, tapi ada juga yang rajin. Kalo si miskin yang satu pengen jadi miskin yang lain, ya perannya jadi baur dong. Penonton bakal susah ngikutin jalur ceritanya kalo tokohnya aja rebut-rebutan.

Jadi, tampillah sebaik-baiknya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s