Jakarta Bising

light_attack_by_adrielchrist-d2p6fym
“Going Home” oleh Adriel Christian (deviantart)

Seperti biasa, Jakarta petang itu ramai. Orang di jalan hingar bingar, dan aku hanya bisa bungkam di kursi ini. Sebelahku perempuan tua yang kakinya bahkan sudah tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Aku pun tak tega melihat lurus ke arah matanya, jadi kupandangi saja tongkatnya. Seharian itu aku tak tidur. Siang berhasil melesap masuk kulitku, menyisakan tak sedikitpun enerji untuk mengangkat kepala. Haduh, mobil besar ini belum bergerak juga, tapi lupa kuingatkan diri untuk membeli headphone baru, agar tak bosan saat menunggu, jadi kudengarkan saja ludahku sendiri.

Ibu sedang menerima telepon dari saudarinya di Kalimantan sana, bertukar kabar keadaan masing-masing. Sesaat kudapati air mukanya berubah. Nada suaranya melemah, tatapannya melengah. “Kenapa, Bu?” tanyaku dalam hati. Singkat jelasnya, adik kandungnya baru dapat musibah, “kena pemutusan hubungan kerja,” katanya. Tanpa mendongak, ia menutup perbincangannya dengan menahan titik air yang berkubang di ekor mata. Kasihan memang omku itu. Baru saja ditinggal mati anak kesayangannya yang akan melanjutkan kuliah, Ihsan, lima-enam tahun silam, kini ia ditimpa kabar PHK. Apa itu yang namanya sudah jatuh tertimpa tangga?

Agak susah rasanya bilang bahwa itu musibah, atau timpaan, seolah hidup berakhir di sana. Menjadi tak bijak kalau berasumsi cepat-cepat begitu kalau Allah saja Maha Mencinta. Siapa tau pekerjaan yang didapatinya itu akan membuatnya jauh dari Tuhannya. Ya sudahlah, aku tak mau soktau, nanti kalian jadi gerah.

Sayang, ibuku sudah gerah duluan. Sesekali ia melenguh kasihan, bicara sendiri. Belum sampai kudengar hela nafasnya, bunyi harmonika tetiba terngiang. Ada pengamen! Momen favoritku dalam perjalanan. Ia main dua lagu Chrisye dan satu lagu Naff. Duh! Bagaimana bisa suara sebagus itu, dengan kemampuan bermain alat musik sebaik itu, berakhir di hallway bus-bus kota besar seperti ini?

Setelah petikan gitar terakhir terdengar, paruh baya yang kuceritakan tadi bangkit dengan payah, dan merangkak menuju pintu keluar. Ada yang ikut bangkit, ada yang duduk saja. Ada yang penasaran, ada yang bahkan pura-pura tak tau ia ada.

Bus Jakarta akan tetap begini. Ada yang duduk saja, ada yang ingin bicara. Ada yang meladeni, ada juga yang tak tau diri. Mereka pergi ke arah yang sama, tapi supir bus memberikan pilihan. Turun di kilometer 3, 8, atau 25?

Siapa sangka paruh baya yang “tak ada apa-apanya” ternyata baru pulang ke Jakarta, bertemu anak-anaknya untuk pertama kali? Siapa yang sangka, bapak tua kusut yang kau acuhkan sejak duduk di sebelahnya, baru pertama kali naik transportasi darat? Siapa sangka, gadis bermasker yang hanya tampak mata dan batang hidungnya, berdiri tak jauh darimu, sebenarnya tak mau pulang karena menghindar dari ayah dan ibunya yang sedang bertengkar di rumah? Siapa yang duga, Pak Supir, yang tak pernah kauucapkan sekadar “makasih Pak” saat ia menurunkanmu di tujuan, rela menunda pulang untuk bercengkerama dengan sanak saudaranya di rumahnya yang sederhana?

Begitu juga dengan si pengamen, yang kepadanya kau pelit setengah mati untuk beri koin barang dua ratus rupiah saja, rutin setoran pada adiknya sendiri untuk beli nasi bungkus dan disantap bersama di bawah halte kosong?

Maka, saat kuturun, biarlah aku bertepuk tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s