Untuk Y

empty_inside___by_emeliea-d4257z6
“Empty Inside” oleh Emelia (sumber: deviantart)

Perempuan. Katanya, kau ini perhiasan duniawi: molek dan moles. Kata cempiang kulit putih, kau berasal dari kerajaan kerang. Bahkan ada yang bilang kau satu keturunan dengan kambing dan biri-biri! Seolah begitu mudah memasangkan bulu-bulu sewarna susu sebagai pelindungmu, semudah menghias wajahmu dengan serbuk beludru bekas potongan sepersepuluh mentari yang tersipu pagi tadi. Akhirnya, satu-satu mulai terpasang pada tungkaimu, torsomu, dan tajongmu. Rapi dan tak ada cacat. Kau sempurna! Penggembalamu bahagia, kau pun begitu.

Tapi suatu masa, hari menjadi gelap. Karena orang-orang dari kota akan membeli satu dari kawananmu. Mana tau kaulah yang jadi pilihannya? Pertama-tama, tubuhmu akan dilihatnya. Kalau bulumu indah, kulitmu berserat dan porinya kecil, maka kau harus siap jadi santapannya. Kedua, wajahmu; kalau kau pandai menjaga bulu mata agar tak terbawa lari oleh angin, maka kau mesti mau jadi landasan mendarat bibirnya. Ketiga, yang lainnya. Mungkin nada bicaramu, suara tawamu, kedipanmu, atau pembawaanmu. Sayang. Kau malah ikut-ikutan senang dinilai begitu.

Hampir kulupa. Kawanku pernah bersabda; ia bicara tentang neraka, yang isinya adalah perempuan semua. “Makhluk yang paling cepat membuat dirinya sendiri masuk neraka.” Tapi aku bingung. Setelah itu, ia melanjutkan, “perempuan juga makhluk yang paling cepat membuat dirinya sendiri masuk surga.” Maka kutidur saja.

Paginya, kusapa matahari tanpa bahasa, tercenung. Teringat dirimu. Ingin rasanya kutampakkan apa yang tersekat-sekat dalam dada, tapi tak bisa. Aku tau diri. Kau dan aku tak sama. Aku di atas kasur, kau di atas kasut. Jadi kuperhatikan saja kau dari sini.

Bulumu masih tebal dan putih, persis seperti kali pertama kita bersua. Tubuhmu masih papa, lunak dan begelora. Wajahmu masih elok, panorama pagiku yang sempurna. Hanya saja yang lain-lainnya yang kusayangkan. Kau kenalkan aku dengan indukmu dulu, tapi sekarang kita jadi alien dalam stratosfer masing-masing. Tiap kali kubertandang ke tempatmu, hawa asing menjalar bahkan sebelum aku membuka pintu. Dari balik punggung, bisa terasa kecurigaan mengintaiku pelan-pelan. “Mau apa lagi dia kemari?”

Kau tertawa tapi mulutmu tertutup. Kau diam tapi hatimu kasak-kusuk. Kau tersenyum tapi lekukannya palsu. Kau menyipit saat menjerit tak menentu. Kau sentuh aku tapi rasanya seperti hantu. Kau memuji tapi diam-diam acuh.

Sempat kusesali, untuk apa aku jauh-jauh datang ke tempat itu? Bertemu dengan penggembala, dan akhirnya kamu?

Maka, jangan salahkan aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s