Hidup Dalam Layar

“We are only as blind as we want to be.” – Maya Angelou

52d26fecf9d04134e337e58cb4f175ab
“Internet Kills Socialising” oleh Endoo (deviantart.com)

Aku tak tau pasti. Mesti senang atau benci. Realita sudah jadi fiksi. Fiksi jadi sabda ilahi. Yang kuharap bertukar berita, lempar sapa, atau sekadar bersua “lagi sibuk apa?” akhirnya hanya jadi basa-basi. Halaman yang tergeser kini jadi saksi, seberapa waktu yang kuhabiskan memandangi dunia yang berbalik arah, menyerang pelan-pelan, dalam diam. Tak tau saat itu padahal sedang ditipu mati-mati.

Siapa yang mau protes? Kalau layar sebesar jarak pandang mata sudah disulap jadi psikotes. Atau konsultan untuk alat kelamin temannya yang maninya hanya tinggal setetes-setetes. Mungkin juga jadi rumah sakit penampung keluh kesah penderita diabetes. Karena terlalu lama melihat yang “manis-manis.”

Sekali pampang, gadis pujaanku dulu saat duduk di bangku menengah. Tubuhnya sudah semampai, lentik seiring berputarnya usia, persis seperti bulu matanya yang di-entah-diapakan itu. Belum lagi opini sejawat di bawahnya, tak habis-habisnya mau terlihat seperti dia. Kuturun, dan bintik hitam jerawat sahabat sebangkuku sudah pudar. “Karena vitamin” katanya. Sebesar-besar layar, wajahnya hampir bersaing dengan sinar dari telepon genggam. Buset!

Hingga tertangkap angka jumlah temannya, dan kulihat angka jumlah temanku. Sialan, damprat dalam hati. Tapi mau bagaimana? Beginilah hidup. Ada yang menang, ada yang tak mau kalah. Kucari gambar terbaikku. Tak ada noda, bintik, apalagi jerawat. Mulus dari jidat hingga leher atas. Kupencet “kirim” dan dua puluh orang mengangkat jempolnya. Kucari lagi terbaik yang lain. Kali ini tak hanya memberikan jempolnya, mereka juga membuka mulutnya. Aku pun mulai tinggi.

Satu persatu aku mulai ragu. Hidup di situ tak menjamin bahagiaku. Siapa yang tau, jari-jari yang mereka angkat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya untukku, ternyata hanya bualan mereka. Agar kusenang. Sebagai balasan karena sudah mengangkat jempol untuk mereka. Siapa yang tau. Tiap gambar terbaikku ternyata mimpi buruk bagi sejawatku yang lain. Yang hidup dengan serba keterlanjuran, serba ke”biasa-biasa-aja”an.

Akhirnya, kuputar saja engsel layarku. Suara windows menyapa pelan. “Halo!”, sapaan yang paling nyata dalam hidupku.

Kini aku tau pasti. Apakah mesti senang…

…atau benci.

JANUARI 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s