Generasi

sumber: deviantart
“Adam dan Hawa” oleh Chris Lamprianidis

Apa jadinya setan dalam benak Adam ketika melihat buah khuldi di surga bentuknya manusia? Saat hawa belum sempat diciptakan. Mungkin saja mereka akan berteman. Setan dalam balutan hitam, dan Adam putih. Mereka mungkin habiskan waktu berbincang, di “pojok ranjang Adam tempat ia tercipta”. Bermain kata-kata, sebelum akhirnya menjerumuskannya ke dunia. Bersamaan, mereka jatuh ke lubang yang profan, di mana hutan, air, dan awan berpadu mesra dalam hukum alam. Hingga terciptalah setan-setan dan manusia-manusia lain, atau terkadang gabungan keduanya.

Milenia berubah seiring masa berlini. Yang kuanggap “manusia” sekarang mungkin adalah kembaran Adam saat tubuhnya menghempas bumi. Telanjang. Lalu mendapati sesamanya, bercakap-cakap, diberi tenda untuk menghindari hujan dan serangan beruang hutan, sampai berbuat yang nikmat-nikmat. Dan aku hadir. Sambutlah Adam generasi milenia ke sekian!

Orang-orang bilang, tersimpan pedang yang amat tajam pada diri ini. Ia tampak, dan mencuat dari wajah. Maka tugasku bukan untuk mengasahnya. Kekata yang mengalun keluar dari sana bisa membahayakan siapa saja yang mendengarnya. Ingin saja kumaki, “jaga mulutmu!” tapi aku tak bisa selamanya petah. Jadi, kupicingkan saja dalam-dalam mata ini. Tiap kali bercermin, kupandang seonggok kotoran hitam berdiri di sana, bergerak ketika aku bergerak. Masih tersenyum ketika aku beranjak.

Kata kitabku, ada orang-orang yang hidup di bumi tapi mati. Mereka bernapas tapi tersengal. Melihat tapi menghindar. Mengangkat tangan tapi melempar api. Mengangguk padahal menyangkal. Mereka orang-orang yang punya dua bibir dan sepasang telinga. Tak pernah bosan berceloteh tapi tak mau menoleh kiri-kanannya. Kata kitabku lagi, mereka itulah “setan berbentuk manusia.” Mereka tampak, tapi penampakannya menakuti segolongannya.

Siapa pula yang mau membuat bualan kentut tentang akibat berbicara tidak-tidak tentang kaumnya. “Seperti memakan bangkai saudaranya sendiri,” jelasnya sudah. Kadang, ada yang tak mau angkat bicara, mereka yang ditindas dan disalahpahamkan. Dianggap kiri saat memihak kanan. Dianggap diam saat berteriak lantang. Dinihilkan saat hadir senyata-nyatanya. Dibuang saat mencoba menyelematkan. Hanya ada dua pilihan: menyerah atau berserah.

Aku memilih yang kedua.

Tapi aku selalu lupa. Mungkin selama ini aku bukan kembaran Adam. Tapi kembaran temannya yang jatuh bersamanya bermilenia-milenia silam.

DESEMBER 2015

Catatan

Tulisan ini saya buat saat merasa terpuruk, spesifiknya saat sedang di-bully diam-diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s