Coaching Clinic: Kado Ulangtahun Paling, ehm, Manis

Kalo ada orang nanya, “Wan, ngajar susah nggak?” Jawabannya susah susah gampang. Sabtu kemarin, 19 Desember 2015, adalah pertemuan ketiga Program Pengayaan Bahasa untuk penerima beasiswa LPDP Unpad yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa (Pusbah) FIB UNPAD. Coaching Clinic namanya. Ini adalah kali kedua Pusbah menyelenggarakan program ini, dan dua kali juga saya diajak untuk jadi “instruktur”nya. Pada saat yang sama, saya juga dapet tantangan untuk ngajar anak SD kelas 4 di tempat yang berbeda. Siapa sangka? Pengalaman ini jadi, ehm, kado ulangtahun paling manis yang pernah saya dapat. (Saking ga ada yang ngasih kado ultah ya, Wan?) Hiks.

Mereka berlima, tergabung dalam kelompok 4, yaitu kelompok terakhir di program pengayaan ini. 3 kelompok sisanya dibimbing oleh teman-teman seangkatan saya dari Sastra Inggris. Masing-masing dari peserta berasal dari daerah yang berbeda, kadang cara komunikasi yang berbeda, dan tentu saja muka yang beda-beda. Ada yang kalo ngomong sukanya keras-keras di depan mukanya yang berjarak 1 meter. Ada yang senyum terus, ga ngomong apa-apa. Haha. Ada juga yang ketawa tanpa diminta. Dan saya kebagian jadi instruktur kelompok ini.

Selama sembilan kali pertemuan Coaching Clinic, kami akan terus bareng-bareng, meski hanya bertemu setiap Sabtu pagi. Sembari menunggu liburan natal dan taun baru, dan dengan begitu pertemuan distop sementara untuk dua kali, saya mau berbagi sedikit tentang mereka dan pengalaman pas belajar bareng mereka. Boleh ya? Sedikit aja kook🙂

1450513369850
Kiri ke Kanan: Saya, Candra, Ismud, Samsul, Made, dan Ujang

Dari semuanya, Pak Ujang yang paling tua. Beliau datang dari Aceh. Saya gak nyangka ternyata beliau dulu sempat sekolah di bidang kepengajaran Bahasa Inggris, pantaslah beliau cukup fasih pas saya suruh presentasi ke depan dalam Bahasa Inggris. Hampir setipe dengan Pak Ujang, bang Candra agak pendiam. Mungkin malu-malu kucing yah, bisa dibilang. Tapi diamnya menunjukkan paham, bukan sebaliknya. Hmm apa begitu ya karakteristik orang Sumatera? Entahlah.Beliau juga yang keliatan paling jaga imej diantara peserta lainnya. Nah, kalo bang Samsul yang selalu senyum. Beliau yang paling antusias kalo saya suruh isi soal, dan selalu minta latihan tambahan ketika yang lain udah bilang “cukup, plis!” Dari logat Lomboknya yang kental, kadang saya suka ketawa diam-diam kalo beliau lagi bicara.

Tinggal sisa dua orang: Bang Ismud, calon perawat dari Makassar, dan Bang Made, yang paling kocak dan katanya jago nari Bali. Kedua orang inilah yang paling bikin suasana belajar jadi cair. Kalo saya lagi ngomong atau mengujarkan sesuatu dalam Bahasa Inggris, bang Made selalu punya cara untuk bikin itu jadi sesuatu yang lucu. Terus ditimpalin lagi sama Bang Ismud. Kalo udah begitu, yasudah. Dua atau tiga jam selanjutnya, gak pernah terasa jadi beban🙂

IMG_20151212_111321_1
Lagi belajar: latihan soal structure and written expression

IMG_20151212_111340

IMG_20151212_111432

Melihat semangat belajar mereka yang tinggi, saya tentu harus punya strategi mengajar yang juga bikin mereka semakin semangat dan percaya diri, khususnya dalam pengaplikasian ke kehidupan sehari-hari. Materi-materi seperti determiners, sentence structure, dan tenses, adalah materi-materi yang, kalau gak dibungkus dengan strategi yang “gurih”, siapapun pasti akan bosan mempelajarinya. Saya jadi keinget waktu masih duduk di bangku 3 SMA. Orangtua saya nyuruh saya les bahasa Inggris, dan pas placement test di tempat kursusnya, saya langsung masuk di level Intermediate 1 (dari tingkatan Basic-Intermediate-Advanced). Gak lama setelah 3 bulan, saya keluar karena saya udah tau materinya hahaha, meskipun cara gurunya ngajar asik banget. Sebelum UN pun saya les lagi, tapi kali ini khusus untuk conversation, karena waktu itu saya akan ikut lomba debat bahasa Inggris se-Jakarta, dan alhamdulillah, kursus 6 bulan itu ada hasilnya.

Kenapa saya cerita pas kursus 3 tahun lalu adalah guru les saya itu. Saya sangat terinspirasi dengan cara dia mengajar. Kan waktu itu sepanjang kelas kami harus komunikasi dalam bahasa Inggris, meskipun salah salah grammar-nya yang penting bicara. Dan speaking skill saya masih payah waktu itu (huuuh kayak sekarang udah bagus aja, Wan!). Guru saya dengan luwesnya ngomong bahasa Inggris dan berinteraksi dengan peserta les, sambil senyum, sambil mengedikkan bahu, sambil melakukan banyak hal, santai banget. Seolah kayak lagi ngomong dalam Bahasa Indonesia. Dan saat itu, saya pengeeen banget bisa ngomong kayak gitu: luwes, gak dibuat-dibuat, dan yang paling penting, bisa dimengerti.

Sekarang, keadaannya terbalik. Dulu saya duduk di bangku peserta, sekarang saya berdiri di depan para peserta. Saya jadi sadar betapa membosankannya duduk di bangku itu, dua-tiga jam hanya ngeliatin papan tulis. Untuuung kalo gurunya cakep. Kalo yang maap maap, yaa wassalam deh. Udah gitu cara ngajarnya monoton. Yah, semoga bisa bertahan di kerangkeng kehidupan! Hahaha.

Makanya, setiap kali saya dikasih kesempatan mengajar, saya selalu mendorong diri untuk memahami betul-betul karakteristik peserta belajar itu kayak gimana. Saya baru sadar bahwa orang dewasa udah bukan lagi waktunya untuk diajak ngomong atau ngobrol kayak anak SD. Dan mereka belajar sesuatu karena mereka tau mereka akan dapet sesuatu dari kegiatan belajar itu. Jadilah, saya juga gak boleh asal bunyi (baca: asbun) kalo udah berdiri di hadapan mereka, sebelum nanti malah di-asbun-in balik sama mereka, yang, ehm, agak menohok hingga ke ulu hati. Hadeuu. Gak ngebayangin deh sakitnya gimana. Hiks.

Makanya, setiap sebelum pelajaran berakhir, saya usahakan selalu ngadain game. Dan untunglah saya punya banyak ide kreatif untuk bikin game. Ada yang udah dipersiapkan, ada yang tiba-tiba muncul ide saat itu  juga. Haha. Saya juga selalu mendorong teman-teman peserta untuk bicara bahasa Inggris dalam konteks apapun. Dengan begitu, mereka jadi bisa mengambil risiko untuk gak takut salah dan dengan begitu, jadi lebih sadar di mana letak kesalahan mereka, kalo suatu saat mereka akan melakukannya lagi.

Nah, salah satu game yang jadi favorit saya adalah Dystopia, yang saya kasih ke kelompok saya di akhir pertemuan. Instruksi awalnya, sebenarnya, adalah dalam grup, mereka harus membayangkan kira-kira apa jadinya daerah tertentu dalam waktu tertentu. Misalnya, Jakarta tahun 2035. Nah, mereka harus menggambarkan dulu, seperti denah kota Jakarta dalam skala kecil. Nanti, mereka harus menjabarkan apa saja yang ada di denah yang mereka buat.

Tapi, mereka keberatan.

Karena masing-masing dari mereka berasal dari daerah yang berbeda, akhirnya instruksi gimnya sepakat kami ganti jadi menceritakan daerah masing-masing, which is MUCH MORE FUN! Saya hanya merekam presentasi Bang Ujang dan Bang Ismud, karena kalo mau ngerekam semua, memori hape saya gak cukup banyak. (Dasar gak modal lo, Wan!) :p

Oke deh, sekian. Ini foto-foto terakhir.

IMG_20151219_110719_1
Pak Ujang lagi presentasi
IMG_20151219_113554_1
Giliran bang Samsul
IMG_20151212_111353
Suasana Pusat Studi Bahasa Jepang FIB UNPAD pas hujan-hujan
1450513313619
Welfieee

IMG_20151212_111304_1

Selamat berlibur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s