Aksen British

Baru-baru ini, saya diundang di sebuah acara lomba pidato bahasa Inggris se-SMA Jawa Barat, dan tugas saya adalah menjadi juri dalam hal speech development, effectiveness, dan speech value. Sebelum datang ke tempat lomba, saya sudah meyakinkan diri bahwa kebanyakan pesertanya akan bicara dalam aksen yang “begitu-begitu saja.” Aksen amerika yang mainstream, seperti yang didengar di film-film Hollywood.

Tak disangka-disangka, dari 50 peserta, 5 orang membawakan pidatonya dengan aksen British yang betul-betul enak didengar. Dan kelima-limanya tampak sangat (atau terlalu?) percaya diri, tidak seperti kebanyakan peserta.

Mereka mampu membawakan pidato dengan berbagai fitur dan piranti yang mesti dikuasai untuk mampu bicara dalam aksen British. Saya pun tak sengaja terlempar ke masa-masa SMA dulu, tepatnya ketika saya sedang tergila-gila dengan serial Harry Potter. Setiap kali habis pulang menonton, saya langsung menenggelamkan diri di depan layar komputer dan berselancar ria tentang ke-aksen-british-an sampai lidah saya luwes bicara dalam aksen British.

Waktu itu begitu bangga rasanya bisa menjadi orang pertama di sekolah yang bisa bicara bahasa Inggris dengan aksen British. Aneh? Mungkin. Yah namanya juga anak baru gede. Semuanya harus serba mau duluan. Seolah ada semacam superioritas dalam menguasai british accent. Dan aksen-aksen lainnya tidak ada apa-apanya dibandingkan aksen British.

Duduk di bangku kuliah, saya pun sadar bahwa aksen British punya banyak jenis aksen lagi, dan aksen-aksen itu sebetulnya tidak ada bedanya dengan aksen di daerah lain di dunia. Pandangan naif saya dulu tentang aksen British akhirnya kalap ditelan jaman. Aksen seperti cockney, bristol, scottish, welsh, dan geordie hanyalah beberapa di antaranya, begitu juga di Amerika, Spanyol, dan daerah-daerah lainnya.

Sudut pandang ini pun kemudian saya perlebar ke potongan bumi lain: Singapura. Dengan mayoritas penduduk yang berkebangsaan Cina, Singaporeans menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam hal berdagang atau bisnis, yang bisa dibilang sudah jadi rutinitas, berbeda dengan di Indonesia, yang menggunakan bahasa Inggris hanya di sekolah di bawah kekangan konteks buku-buku modul atau mungkin dalam percakapan sehari-hari agar terdengar lebih kece. Namun begitu, Singapura justru punya aksennya (atau bahasa?) sendiri, yaitu singlish, yang di dalamnya bercampur tiga bahasa sekaligus: Cina, Inggris, dan Melayu. Pertanyaan pun membenak, apakah singlish kemudian statusnya menjadi lebih rendah dibandingkan, misalnya, aksen British atau Bahasa Inggris secara umum? Bukankah justru Singlish menjadi trademark bagi Singapura, dan tidak akan dikenal luas seperti sekarang jika penduduknya tidak melanggengkan bahasa yang mereka buat sendiri, kalau memang mau dibilang “dibuat”?

Lantas, mengapa Indonesia tidak begitu?

Mungkin pertanyaan itu yang membuat saya tercengang ketika yang keluar sebagai pemenang dalam lomba pidato yang saya rujuk sebelumnya justru menyampaikan pidatonya dengan aksen yang kedengarannya seperti campuran aksen Jawa dan Amerika, which is surprisingly sexier!

Lalu, saya bertanya dalam hati: ngapain ya dulu saya susah-susah mau bisa bicara bahasa Inggris dengan aksen British, sementara kalo pake “aksen lokal” justru yang mendengar mungkin lebih tertarik, atau justru terhibur?

Apakah anak-anak SMA ini juga berpikir demikian?

Ketika peserta yang berbicara dengan aksen British berada di panggung, saya pun penasaran bagaimana reaksi audiens. Beberapa tampak nyengir-nyengir mesem, entah karena kagum atau menahan ketawa karena aksen yang terdengar dipaksakan. Beberapa yang lain mengunci bibir rapat-rapat–bisa jadi karena tak mengerti sama sekali karena terlalu banyak “bunyi sentakan” di sana-sini yang mengganggu telinga.

Di acara lain, saya pernah mendengar Ibu Melani Budianta memberikan presentasi di UNPAD terkait Asosiasi Sastra Inggris se-Indonesia, dan di sejumlah poin beliau beralih dari Bahasa Indonesia ke ke Bahasa Inggris dengan aksen medhok Malangnya yang khas, bahkan sempat dicampur dengan bahasa Jawa. Walhasil? Penonton bukannya bingung karena tidak mengerti atau justru diam saja karena pengucapan beliau yang mengganggu, melainkan mereka tertawa kecil saat mendengar bahasa campur aduk khas Ibu Melani. Mereka terhibur.

Lalu, apakah omongan Ibu Melani “tidak ada apa-apanya” karena menggunakan aksen yang bukan British? Grammar beliau benar kok, penggunaan tenses-nya juga tepat guna. Aksen bicaranya saja yang, kalau boleh dibilang, “Indonesia” atau “Malang banget!”

Pada akhirnya, ini bukan lagi tentang aksen mana yang lebih gurih, terdengar lebih intelektual, atau lebih punya gengsi dibandingkan aksen yang lainnya. Ini tentang menghidupkan kembali kebudayaan, melawan lupa, dan menghindar dari “serangan-serangan berbahaya” dari luar.

Tak dipungkiri lagi penggunaan Bahasa Inggris begitu membenalu. Tak hanya orang tua, anak-anak kecil pun sudah luwes lidahnya untuk mengucapkan kata-kata yang paling sulit sekalipun dalam Bahasa Inggris. Kalau katanya Indonesia itu punya banyak daerah dari Sumatera hingga Papua, maka apakah salah untuk terus menghidupkan budayanya dengan mempertahankan penggunaan bahasa daerahnya? Untuk terus membagikan konsep negara yang terbayang dalam setiap benak kita?

Demikian pidato saya.

Terima kasih.

Rujukan

Mental Floss. When Did Americans Lose Their British Accents? http://mentalfloss.com/article/29761/when-did-americans-lose-their-british-accents diakses 24 November 2015, 12:16

Dialect Blog. British Accents. http://dialectblog.com/british-accents/ diakses 24 November 2015, 12:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s