Makkah Al-Mukarramah: The Sleepless City

Segala puji bagi Allah. Tanggal 22 Februari 2015 lalu saya dan keluarga diberikan kesempatan untuk berangkat ke tanah suci. Selama tujuh hari penuh, kami beribadah dan melakukan tur di kota Makkah, Madinah, dan Jeddah, dengan berbagai destinasi dan pengalaman. Tentu saja ini menjadi sebuah pengalaman yang begitu berharga bagi saya, mengingat sudah sejak lama saya memimpikan untuk bisa berkunjung ke rumah Allah, Ka’bah.

Sebelum hari H, berbagai peristiwa hadir di tengah-tengah gembiranya keluarga untuk pergi umrah. Beberapa kejadian aneh dan tak diduga-duga tiba-tiba muncul. Dari ayah saya yang sakit parah hingga tak mau bangun dari tempat tidur, adik dan kakak saya yang terserang pilek akut, sampai ibu saya yang jatuh dari motor hingga jempolnya harus dijahit. Masya Allah. Hampir terbersit dalam pikiran kami untuk membatalkan rencana berangkat umrah, namun saya mencoba untuk tetap ber-khusnudzon pada Allah bahwa semua ini pasti ada maksudnya. Di waktu-waktu seperti itu, orangtua saya, khususnya ibu, begitu khawatir tentang batalnya kepergian kami, mengingat beliau sudah direkomendasikan oleh dokter untuk melakukan operasi pencabutan kuku jempol kakinya, dan itu terjadi H-1 sebelum keberangkatan. Bayangkan! Tentu saja ibu panik setengah mati, namun saya mencoba menenangkan beliau dengan memahamkan beliau tentang cobaan. Saya memberitahunya bahwa cobaan yang datang kepada manusia bukan berarti Allah membenci kita, tetapi justru karena rasa sayang-Nya yang begitu dalam kepada umat manusia.

Belum selesai, sepulang dari rumah sakit setelah kaki ibu dijahit, Bapak saya tiba-tiba agak meriang di balik selimutnya. Semua orang di rumah agak kelimpungan, dan ibu, dengan kondisi kaki dibalut perban, langsung menghubungi tetangga terdekat dan membawa Bapak ke rumah sakit. Masya Allah, saya tak menyangka hampir semua tetangga di dekat rumah datang untuk menyaksikan apa yang terjadi. Walhasil, Bapak dibawa dengan menggunakan mobil dengan beberapa anggota keluarga, sementara saya, Maya, dan Mbah (ibu dari bapak) menunggu di rumah, berjaga-jaga. Di momen-momen seperti itu, saya ber-raja‘ kepada Allah untuk menyadarkan kami dari kebutaan duniawi. Saya mencoba menghindari prasangka buruk kepada Allah bahwa ini semua ditakdirkan agar kami tidak berangkat ke rumah-Nya. Sempat saya berceletuk, “Yah, pasrah aja lah. Mau berangkat kek mau nggak kek, pasrah aja udah” kepada adik saya beberapa hari sebelumnya, namun saat hari H tiba, semua anggota keluarga, yang sebelumnya di wajahnya tersimpan rasa menahan sakit, atau batuk-batuk dan bersin-bersin keras, semuanya lenyap tiba-tiba. Masya Allah. Walhasil, tanggal 22 pun kami diberangkatkan menuju Jeddah, dengan selamat. Meskipun perjalanan memakan waktu kurang lebih sembilan jam, melihat semuanya bisa duduk tenang di dalam pesawat, tanpa ada keluhan apapun, hati dan pikiran ini begitu sejuk.

~~~

Sembilan jam berlalu sudah, dan kami tiba di King Abdulaziz International Airport (setelah melewati proses pengecekan paspor dan lain-lain yang cukup lama), kami langsung ber-miqaat, di mana kami harus meniatkan hati untuk ihram dan dengan begitu mengganti pakaian kami dengan baju ihram. Waktu itu malam hari, sekitar pukul 2 dini hari waktu setempat. Udara bersuhu 28 derajat selsius. Sayang sekali, di perjalanan dari bandara ke hotel, saya hampir tak bisa melihat apa-apa. Namun, semua rasa lelah di jalan dan segala hal yang memberatkan kami betul-betul terbayar ketika melihat Masjidil Haram dari jauh, bermandikan cahaya di antara gelapnya malam. Masya Allah, dinding-dindingnya tampak begitu gagah, dan lautan manusia terlihat mengombang-ambing di pelupuk mata. Meskipun malam-malam begitu, Makkah tak pernah sepi, pasti ada saja orang yang berlalu-lalang ingin beribadah. Entah ingin qiyamul lail, berdzikir menunggu adzan subuh (di sana azan subuh pukul 05.34), hingga berfoto-foto di pelataran masjid.

Dengan bimbingan koordinator rombongan kami, Pak Soleh, kami masuk ke Masjidil Haram dengan perasaan haru. Saya mengira bahwa saat masuk ke gerbangnya saya bisa langsung melihat Ka’bah, ternyata tidak. Kami harus berjalan terlebih dahulu di aula-aula panjang di dalam masjid, yang di sisi-sisi dindingnya terdapat shelf Al-Qur’an dan tempat air zam-zam, lengkap dengan gelas plastiknya. Langit-langitnya yang begitu tinggi benar-benar membuat saya terasa begitu kecil di tengah-tengah manusia dari mana-mana. Akhirnya, setelah berjalan, berdesak-desakan, dan mencoba menghindari Air Conditioner yang menghujam bulu kuduk, kami berhasil tiba di depan Ka’bah. Sungguh tak ada kata-kata yang bisa diungkapkan ketika melihat kiblat, sebuah objek berwarna hitam setinggi kurang lebih delapan meter menjunjung ke angkasa, bermotifkan tulisan Arab dengan guratan Allah di setiap inci lembarnya. Sesuatu yang selama ini menjadi tujuan arah dalam shalat saya, sekarang berada di depan mata saya. Saya pun tak henti-hentinya mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir hingga mata ini tak sadar meneteskan dua-tiga butir air hangat ke atas pipi.

Tanpa berlama-lama lagi, kami pun langsung mencari ruang di sekitar Ka’bah untuk melakukan tawaf. Sekarang, halaman Ka’bah sudah lebih luas dibandingkan 10 tahun yang lalu, ketika ayah dan ibu berangkat haji. Mereka mengatakan bahwa halaman Ka’bah waktu itu masih melompong, belum ada “Lower Mataf Bridge” dan “Upper Mataf Bridge” seperti yang bisa dilihat di laman-laman internet sekarang ini. Namun begitu, aktivitas tawaf kami tidak terganggu, semua berjalan mulus. Tak sampai saya berhenti terkagum-kagum dengan agungnya Ka’bah di depan mata saya, Pak Soleh pun memberi aba-aba untuk memulai tawaf, dengan melihat lampu hijau yang ditempel di langit-langit lantai satu masjid. Dengan mulut yang tak berhenti memanjatkan doa, saya berjuang berjalan kecil-kecil bersama ribuan umat manusia lainnya, selama tujuh kali. Setelahnya, kami salat dua rakaat dan melaksanakan Sa’i di Masa’a.

Sedikit lelah dan berkeringat, kami pun meminum air zam-zam. Masya Allah segarnya. Belum mau pulang, kami pun melanjutkan perjalanan ke lantai dua tawaf, atau yang tadi saya sebut “Lower Mataf Bridge”, bridge ini digunakan khusus untuk tawaf bagi orang-orang yang hendak menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan lainnya. Tidak hanya itu, bridge ini juga menjadi sasaran paling empuk untuk berfoto-foto dengan panorama Ka’bah di belakangnya.

Ka'bah, diambil dari Lower Mataf Bridge
Ka’bah, diambil dari Lower Mataf Bridge
Berfoto bersama keluarga di depan Ka'bah
Berfoto bersama keluarga di depan Ka’bah

Sepulang dari Sa’i, kami melewati lorong yang sama tempat kami tadi masuk. Ternyata, hampir setiap sebelum subuh, orang-orang sana kerap mengadakan semacam kajian terhadap isu-isu yang spesifik, biasanya tentang sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Mereka mengadakannya di satu sudut yang cukup besar di dalam masjid, yang bisa menampung beberapa ratus orang untuk ikut serta. Ada seorang moderator, pembicara, dan tentu saja peserta. Mereka mendiskusikan hal yang menjadi subjek pembicaraan dan mencari solusi untuk permasalahan tersebut. Dalam bahasa Arab, semua orang aktif menyampaikan pendapatnya, hingga adzan subuh berkumandang.

Kondisi diskusi yang sedang berlangsung tak jauh dari Ka'bah
Kondisi diskusi yang sedang berlangsung tak jauh dari Ka’bah

Tidak hanya itu, di sudut lain di dalam masjid, orang-orang pribumi biasanya membuka kesempatan bagi para pengunjung masjid untuk belajar tajwid. Biasanya mereka memberi label “Qur’an Teaching for Visitors.” Tak sedikit orang-orang Indonesia yang duduk belajar bersama-sama dengan orang pribumi, tapi saya tak tau apakah itu gratis atau bayar.

Sebelum pulang, tak begitu jauh dari hotel, saya mampir ke toko es krim. Ya hitung-hitung untuk kudapan di kamar setelah makan malam. Hehe. Oya, dan satu hal lagi yang cukup mengejutkan bagi saya ketika tiba di tanah haraam adalah bahwa orang-orang sana, khususnya para pedagang (apapun), mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia! Sempat kejadian ketika Bapak ingin membeli parfum. Beliau sempat bingung dan ragu-ragu untuk menyapa penjualnya karena tak bisa bahasa Arab. Namun, sungguh mengejutkan saat si penjual tersebut yang menyapa kami duluan. Ia mengatakan, “Assalamualaikum. Ayo dilihat. Murah-murah ini” dengan logat khas Arabnya. Hahaha. Atau beberapa kali mereka bercanda, “Hajjah, Hajjah (saat memanggil Ibu saya) uang jatoh tuh.” Saya pun langsung kaget, dan walhasil, dengan sikap penjual tersebut yang hangat, kami pun masuk melihat-lihat toko miliknya.

Toko Es Krim Alasema di Makkah
Toko Es Krim Alasema di Makkah
Menikmati Eskrim Vanilla
Menikmati Eskrim Vanilla

Mengingat jadwal kami sudah dirancang oleh pihak penyelenggara umrah, dan kesempatan kami berada di Kota Makkah tidak terlalu banyak, maka kami pun menggunakan setiap momen dengan sebaik-baiknya. Daripada hanya duduk menyaksikan orang-orang berlalu lalang di depan kami, atau terpukau dengan wajah-wajah orang Asia Timur (baik laki-laki maupun perempuannya) hehe, kami pun sebisa mungkin menguatkan diri untuk melaksanakan tawaf. Bapak saya juga selalu mengingatkan kami untuk melakukan tawaf sebanyak-banyaknya. Walhasil, meskipun beberapa bagian tubuh saya agak nyeri karena jalan tak henti-hentinya, semuanya terasa sangat nikmat dan begitu worth it.

Selama hampir tiga hari berada di Kota Makkah, saya harus betul-betul menjaga diri dari melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya. Saya harus menahan diri untuk tidak  menepuk nyamuk (mengingat di Tangerang itu kota ternak nyamuk, jadi rasanya agak geram jika tak menepuk nyamuk yang melintas di depan mata hahaha), tapi syukurlah di sana nyamuk hampir tak ada. Terlebih lagi, segala ucapan-ucapan yang buruk atau keluhan tak penting seperti, “Aduh panas banget!” atau “Ya Allah dinginnyaaaa” betul-betul harus ditahan, mengingat di tanah haram, segala sesuatunya harus ‘bersih’, termasuk isi hati dan pikiran.

Sungguhlah, pesona kota Mekkah yang Penuh Kemuliaan ini begitu terasa ketika menginjakkan kaki di sini. Saya sempat tercengang ketika banyak penduduk Makkah yang melaksanakan shalat di tengah jalan atau di trotoar, tanpa sajadah pula! Masya Allah. Dan semua orang berusaha untuk melaksanakan shalat jamaah jam berapapun, tak kenal waktu.

Benarlah, jika orang-orang mengatakan The Sleepless City adalah julukan paling tepat untuk New York City, rasanya lebih tepat jika julukan tersebut ditujukan untuk Makkah Al-Mukarramah.

Wallahu’alam.

2 thoughts on “Makkah Al-Mukarramah: The Sleepless City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s