Padjadjaran Diplomatic Course 2014

Kemarin, tepatnya tanggal 22 November 2014, saya mengikuti sebuah agenda tahunan yang digelar oleh teman-teman dari jurusan Hubungan Internasional FISIP Unpad. Agenda tahunan ini bertajuk Padjadjaran Diplomatic Course, with the tagline: Enhancing Youth Diplomacy, Mastering MUN, dan dibuka untuk umum. Dengan investasi Rp 75.000, acara ini menyuguhkan berbagai materi penting dalam dunia diplomasi, khususnya wawasan seputar Model United Nations, atau semacam simulasi PBB, dan berbagai prosedur untuk, misalnya, menyampaikan pidato, membuat position paper, bernegosiasi, dan menjadi chair atau pemimpin sidang. Acara yang dihelat dari jam 9 pagi hingga setengah 4 sore ini berlangsung cukup seru dan mendebarkan. Meskipun awalnya otak saya agak panas karena empat materi digeber sekaligus, tanpa jeda, tapi semua kepusingan itu terbayar habis saat mini caucus dilaksanakan.

Poster PadDC (sumber: fisip.unpad.ac.id)

Melihat posternya yang kayak begini, saya langsung kepikiran untuk dateng pake jas, celana linen, dan pantofel. But on the D-day, the only person wearing all-formal outfit was I. Para peserta yang lain pake kemeja santai dan bahkan beberapa ada yang keliatan pake sendal, which screwed me up. Hehe. But to exacerbate my being screwed, I managed to get to know Roma, a student from whatever-you-call-it University in Semarang. He is a freshman of HI student there and said that this was the first time he visited Jatinangor and attended diplomatic course, knowing that such course has so far never been held in his own campus.

Setelah MC membuka acara, dan ketuplak menyampaikan sambutannya, materi pertama dimulai. Pematerinya namanya kang Randy (atau Rahman) dari ITB jurusan Industrial Engineering. Beliau membawakan materi Personal Speech, yang kemudian dibagi lagi menjadi beberapa jenis:

  • Substantive Speech
  • Stance Statement Speech
  • Supportive Speech
  • Critical Speech
  • Clarification Speech
  • Defense Speech

I’m not going to elaborate all those speeches one-by-one, but more or less the definition of each speech contains in its own names. Penjelasan pematerinya jelas banget, I can tell. Saya gak nyangka bahwa he has such prodigious vocabulary! Ya wajarlah ya. Pengalaman debating dan being involved in diplomatic activity-nya udah banyak banget. However, his speech was too fast! It’s really not like a pemateri style, but rather like an ambitious debater style in which he expects the audience to quickly understand what he is saying. Dan semua yang dia ucapkan itu bahasa Inggris. Good God for me hehehe, tapi buat yang lain? I don’t think his words will cling to their minds, like, effectively. Idk.

Para pemateri (dok.pri)
Para pemateri (dok.pri)

See, that’s him in white with the tie. Nah, belum selesai. Bagian yang cukup menjengkelkan, personally, adalah saat materi pertama berlangsung, dan (udahlah pemateri ngomong full English and non-halting dengan vocab yang waw), Roma, the Semarang stranger I’ve told you about, was so panicking about what he was going to say on the floor. Dia mewakili The Russian Federation, dan dia belum menyiapkan apa-apa untuk diutarakan nanti. Akhirnya, dia langsung browse apapun tentang Rusia dan the topic, Child Soldiers, which I forgot to tell you earlier :p, dan karena hasil carian dia berbahasa Inggris (ditambah dia tau saya anak Sastra Inggris) dia langsung minta terjemahin semua hasil carian itu, saat itu juga, while I was focused listening to the material. Hahaha. Pretty intense, no? I believe no one ever has done that sort of multitasking!😀 But I settled down because I knew he’s new to college and hardly knew anything about diplomacy and stuff.

Now, moving on to the second material: Drafting. Pemateri kedua ini lebih berkesan cair dan kelihatan ingin membuat suasana di ruangan Gedung A lantai 2 FISIP lebih santai, dengan menggunakan “gua” instead of “saya,” which was…kind of cool untuk seorang pemateri. Anyway, menurut saya materinya useful banget untuk mereka yang baik udah maupun kepingin ikutan MUN, karena di sinilah ternyata kelihatan semua seluk beluk di balik pembuatan position paper, working paper, dan draft resolution. Dalam membuat position paper, sesuai dengan formatnya, ada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus tercantum di paper kita, which are:

Position paper structure (dok.pri)
Position paper structure (dok.pri)

Yang menarik dari materi kedua ini adalah bahwa saya tau kriteria apa aja yang dinilai untuk kategori Best Position Paper. Dalam MUN-MUN manapun, biasanya ada award untuk kategori tertentu, beberapa di antaranya adalah Best Delegate, Best Block, dan Best Position Paper, and I’ve always been wondering what it was to do to make a good position paper. Ternyata, the criteria are:

  1. Format
  2. Plagiarism
  3. Formal language
  4. Diplomatic Correctness
  5. Grammar
  6. Structure & Coherence
  7. Sentence effectiveness
  8. Stance accuracy
  9. Proposals
  10. Bibliography / Citation
  11. QARMAs (Question and Resolution Must Answer)

Selanjutnya, materi ketiga adalah Negotiating. Di materi ini ditekankan bahwa negosiasi dalam diplomasi punya tiga fungsi: (1) to eliminate threating perception; (2) to perceive counterpart’s perception; (3) to dominate counterparts without mentioning explicitly our purpose of dominating them. Lebihnya lagi, pemateri ketiga, yang pernah berpengalaman di, if I’m not mistaken, di sebuah kegiatan diplomasi di Australia, lebih banyak menceritakan pengalamannya sewaktu dia menjadi delegate. Banyak kejadian-kejadian lucu dan menyebalkan sehingga beliau kadang-kadang mengucapkan frasa-frasa kasar dalam bahasa Inggris. Roma and I couldn’t stop laughing on our seats because of that. Moreover, the presenter was somewhat aggressive on the stage that several parts of his body move along with almost each word he was saying.😀

Anyway, materi keempat has three presenters. One of whom, a student of ITB, is on the collage picture above (picture 4). The material is Chairing. I don’t really like the material because probably it was the last material, and my brain was already a little bit tired (and my stomach growling). Secondly, the material was, of the three, the “heaviest” in some sort. Satu-satunya hal yang saya suka adalah pas mereka berbagi pengalaman mereka. Dua pemateri lainnya berasal dari HI Unpad dan yang terakhir merupakan alumni HI Unpad yang sekarang sedang merambah dunia diplomasi lebih dalam di KEMENLU RI.

Senior HI Unpad dan Alumni HI Unpad
Senior HI Unpad dan Alumni HI Unpad

Setelah istirahat makan siang, kami para peserta kembali ke ruangan yang sama, namun kali ini dengan tempat duduk yang berbeda, mengingat agendanya adalah Simulasi Sidang PBB. Saya mewakili The Republic of Cote D’Ivoir atau Pantai Gading. Sidang dipimpin oleh tiga chairs dan mosi yang dilemparkan adalah Each State’s Stance Regarding Child Soldiers. Untuk lebih jelasnya kayak apa simulasi sidang ini, I actually have written about the same thing when I joined the Harvard National Model United Nations 2013. Kalo tertarik baca kayak gimana mendebarkan, seru, dan menegangkannya simulasi sidang PBB, you may read my experience here.

So, that was it. Setelah acara selesai and I got my certificate, a thought of being a diplomat crossed my mind. Hehehe. Yaah siapa yang tau? Although I don’t know whether or not I would join MUN for the second time, at least today I had (much) better understanding not only in diplomacy and politics, but also in appreciating others’ perspectives concerning the same issue as I myself, as a representative of a certain state, am focusing on, for a better world and a better civilization.

See you!

Regards,
Himawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s