Liburan 2014: Lombok & Gili Trawangan

Tahun 2014 sepertinya menjadi tahun yang berkah buat saya. Di pertengahan tahun, rasa rindu saya terhadap keluarga besar di Kalimantan terbayar sudah dengan mudik ke Pontianak. Rasanya sangat menyenangkan, bisa berkumpul bersama Mbah, Nenek, para sepupu, dan om-tante. Makin menyenangkan pas tau kalo ke Pontianak setelah Semester Antara berakhir. Tugas yang gak keruan kayak apa, relain gak tidur untuk bikin paper tiga mata kuliah dalam satu waktu (serius ini berat banget! :p), sampe lupa makan (ya iyalah kan lagi puasa), semua hal yang memberangus isi otak itu diredam oleh pengalaman saya yang satu ini. Perjalanan lima hari ke bumi Nusa Tenggara yang indaaaaaaah banget.

Gak ngebayang. Lombok? Gila. It is more than just a dream come true. Yah, meskipun mimpi besar untuk jalan-jalan itu ke Mekkah terus ke London, Lombok urutan ketiga deeh. Hehehehe. I have no idea what to say when my mom asks me to join her “field trip” from her office, Kementrian Kehutanan. Jadi, ceritanya ibu saya itu sering dinas ke luar kota gitu, dan kali ini destinasinya ke Lombok. Yah kebetulan saya juga lagi libur, mau gak mau saya gak berani bilang “nggak”. Otomatis mau! Hehehe. Dan sepertinya ini bukan kebetulan🙂

Hari Pertama: Tanjung Aan & Pantai Kuta.

Setelah naro barang di hotel di daerah Mataram, saya dan Ibu langsung diajak oleh kolega kerja beliau ke dua tempat eksotis ini. Ibu saya sebetulnya udah cukup sering ke Lombok, tapi belum ke salah satu tempat ini, yaitu Tanjung Aan. Katanya, di sana, ada batu besar yang mencuat dari dalam air lautnya! Wah, ga kebayang betapa indahnya panorama seperti itu. Akhirnya, setelah perjalanan satu jam-an, kami tiba di sana. Dari dalam mobil, kami bisa melihat spektrum warna biru yang cantik yang dihasilkan permukaan air lautnya. Agak berbeda seperti di Tangerang, ternyata di Lombok sini gak terlalu panas justru. It’s like a combination of hot and breezy. You may say it’s hot, but you’ll enjoy the heat. You may also say it’s breezy, but it will be inappropriate to say in such climate. Karena kan di sana daerah pantai, saya awalnya ngira cuacanya bakal kering luar biasa kayak di pantai di Pulau Untung, deretan Pulau Seribu, yang pernah saya kunjungi tahun lalu.

Pantai Tanjung Aan
Pantai Tanjung Aan

Puas foto-foto dan selfie sampe mampus (hahaha) kami bertolak ke Pantai Kuta. Oke, awalnya saya ngira saya bakal ke Bali! Wah gila. Strong banget temen nyokap. Belom selesai di Lombok, udah mau ke Bali aja. Hehehe. Tapi ternyata saya keliru. Kuta yang dimaksud bukan kuta yang itu, melainkan daerah Kuta di Lombok. Ada juga ternyata. Hihi.

Oke, overall, pemandangan di tempat ini gak jauh berbeda seperti pantai kebanyakan. Ada pasir, udaranya hanget-hanget (tahi ayam) *abaikan*, trus ada air. (Bodo amat.) Yang beda hanyalah air lautnya subhanallah kayak gradasi dari putih, turquoise, biru muda, dan biru tua, kalo diliat dari pantai ke laut. Itu bener-bener jajanan mata yang paling huasseek dibandingkan aurat cewek-cewek cantik di PVJ atau Grand Indonesia. Hahaha. Becanda🙂

Ibu dan Saya di Tanjung Aan
Ibu dan Saya di Tanjung Aan

Setelah selfie-selfie (lagi), kami diantar pulang ke hotel. Balik ke kamar, saya punya ritual baru selama perjalanan: mandi-shalat-nonton. Gituuuu aja terus. Manisnya liburan tahun ini adalah saya akhirnya benar-benar punya waktu untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan saat leisure. Kalo pas kuliah mah, mau nonton film abis pulang kuliah aja rasanya harus tepekur dulu berapa kali, kalo perlu istikharah, “ya Allah, besok gue nonton film gak ya?” sementara pas mau buka Media Player Classics, Microsoft Word dan Adobe Reader udah menunggu untuk diketik untuk tugas akhir. Hahahaha. Tapi sekarang, rasanya mau nonton film gak ada tepekur-tepekur itu lagi. Masya Allah. Enak banget, bukan? Emang harus bersyukur deh. Soalnya kalo gak puas-puasin sekarang, nanti semester lima, kayaknya tepekurnya makin-makin lagi deh. Mau ngapa-ngapain aja tepekur dulu. Haha. Kesiksa banget.

 

Hari Kedua dan Ketiga: Field Trip di Lombok Utara

Nah, akhirnya sebelum saya tepekur lagi mau mejemin mata atau nggak (karena waktu itu filmnya lagi menayangkan film favorit saya, Like Crazy), tiba-tiba sinar matahari sudah masuk menerobos ke setiap sudut ruangan hotel *cieh*. Hari kedua dan ketiga ini bisa dibilang bukan yang bener-bener liburan, karena ini bagian di mana nyokap harus “kerja,” karena ya, jelas, tujuan nyokap ke sini kan karena…kerja, so I have to keep up with that fact. Ya sudahlah ya, daripada bengong cuma nonton di kamar, saya memutuskan untuk nimbrung bareng temen-temen ibu yang katanya dari Kemenhut “seluruh Indonesia”. Mengingat agenda di Lombok itu adalah Rapat Pimpinan Nasional.

Jadi, hari kedua itu saya dateng ke beberapa lokasi, semacam perkampungan di daerah Lombok, untuk “melihat-lihat” tumbuhan-tumbuhan jenis tertentu dan yang terakhir hutan lindung yang terkenal di Nusa Tenggara. Waktu itu, saya inget hari Jumat. Setelah shalat Jumat, kami mampir untuk makan siang di atas Pantai Nipah, Senggigi. Masya Allah. Itu bener-bener lukisan tuhan yang bagusnya gak bisa diuraikan dengan kata-kata. Dari atas sana, kami melahap lauk udang goreng dan nasi yang pulen sambil mata kami juga “melahap” suasana permukaan air laut yang begitu tenang. Sambil dihembus udara sepoi-sepoi dari ketinggian itu, saya rasanya pengen terjun! Hahaha. I surely haven’t felt that feeling of freedom, being on the top of something, becoming superior of particular thing. Kayak pengen terbang…….bener-bener terbang, melayang. But of course I didn’t. It was stupid.

 

Di atas Pusuk Pass, Gunung Rinjani
Di atas Pusuk Pass, Gunung Rinjani

 

Hari Keempat dan Kelima: Gili Trawangan!

Alhamdulillah. Tugas Ibu sudah beres di hotel. Saya, karena udah ga sabar pengen ke Gili, yang emang tujuan awalnya itu, merengek ke beliau untuk buruan menyelesaikan agendanya di hotel. Hehehe. Ya udah, akhirnya, ibu nelpon kolega yang kemarin mengantar kami ke Tanjung Aan, dan berangkatlah kami ke Gili!

Untuk menyeberang ke sana, kami harus melalui perjalanan air selama 15 menit lewat kapal penyeberangan. Gila. Sejak kapan ya terakhir saya naik kapal? Tiga SD! Waduh jelaslah. Sekarang baru kebayang maboknya kayak apa. Dulu mah mana kerasa apa-apa. But seriously, I had a terrific seasick! Knowing the fact that everytime I travel, either by ground, sea, or by air, I immediately get nauseous, like, really! Yaudah. Ceritanya udah 15 menit, dan pasir putih menyambut pijakan kami pas turun dari kapal kecil yang bermuatan hampir 60%nya orang-orang kulit putih.

Saya dan Ibu tiba sekitar pukul 4 sore, pas banget 2 jam sebelum sunset. Hihihi. Jadi, setelah naro barang di bungalow terdekat, kami langsung nyewa sepeda keranjang untuk keliling pulau. Di sepanjang jalan besar dekat pantai, berbagai kendaraan memenuhi padatnya pesona pulau itu. Semuanya ada kecuali kendaraan bermotor. Ga ada yang bawa motor atau mobil. It stroke me that how the island is viably protected from the pollution, keeping it instead by preserving dongkar (kayak delman) and bicycles. Udara di Gili ternyata gak se”buruk” yang saya bayangkan. Hehe. Hampir sama kayak di Lombok waktu hari pertama, it’s an in-between climate.

Pantai Gili Trawangan
Pantai Gili Trawangan
"Woodbench": tempat nonton sunset di Gili
“Woodbench”: tempat nonton sunset di Gili

Ya udah, sambil menikmati udaranya yang semriwing, kami “muter-muter” Gili dengan semangat. Sambil sesekali jeda untuk foto di tempat-tempat yang terlihat kece, perjalanan bersepeda kami jadi makin berkesan. Sayangnya, pas udah jam 17.45 WITA, kami berniat mampir ke Paradise Sunset Bar, tapi pas ngeliat udaranya mendung, kami yakin bahwa sore itu gak ada sunset. Huhuh not our lucky day.

Malamnya, setelah nyemplang-nyemplung sebentar di pinggiran pantainya, kami beberes dan cari makan habis isya. We at first intended to have dinner at the cafe, tapi ga jadi karena kami sendiri ragu-ragu apakah itu nama restoran atau Factory Outlet. Hahahha! Abisan aneh-aneh namanya. We surely never have heard those kinds of cafe names, at least in a place we’ve lived in, so…

 

Pantai Gili
Pantai Gili

Yah, sepertinya itu dulu pengalaman kami liburan ke Lombok (dan beberapa tempat di sana) dan Gili Trawangan. We’ve indeed had a grotesque quality time. Kami harus bersyukur bahwa Allah masih memberikan kami “ruang” untuk beristirahat dari kesibukan kampus dan kantor yang mendera. Bahwa Indonesia masih memiliki pesona alam yang harus terus diapresiasi dan dijaga dengan berbagai cara yang kreatif. Mungkin negeri luar lebih indah. Bangunan-bangunan dan orang-orang yang “asing” jadi ketertarikan bagi setiap manusia manapun. Tapi bumi Indonesia juga menyimpan banyak mutiara yang kadang kita luput. Kadang kita malah keseret sama pesona negara luar sampe lupa kalo di negara sendiri kita mungkin gak bakal pernah dibuat bosen🙂

Hihih. Jadi keinget celetukan temen saya yang sekarang lagi di Durham sana,

“Main ke rumah orang boleh, tapi inget, kalo makan jangan kekenyangan, di rumah sendiri masih banyak makanan!”

 

Sampai jumpa!🙂

Himawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s