Fraude: Modus Subtil Penipuan Baru

Lukisan “Fraude” oleh Ernesto Vladimir

Ini bukan pertama kalinya. Saya sudah mengalami ini sekitar tiga kali di kampus. Di masjid kampus tepatnya. Biasanya, selepas shalat zuhur, saya seringkali tak langsung beranjak. Meregangkan kaki untuk membaca Qur’an (apalagi sekarang bulan Ramadhan) atau me-review catatan kuliah yang beberapa kali saya harus berjuang sendiri memahaminya. Hehehe. Ya, hitung-hitung sambil menunggu berbuka puasa. Saya biasanya mencari tempat yang posisinya paling nyaman di sekitaran masjid ini. Biasanya di tempat yang langsung menghadap ke gunung Manglayang dengan sinar sore keemasannya yang cantik. Kalau sudah senyaman mungkin, barulah saya mulai melakukan aktivitas membaca.

Tapi suatu hari, saya sedang sibuk menyortir argumen-argumen penting dalam tulisan “The Death of the Author” karya Roland Barthes untuk dijadikan bahan paper kuliah selanjutnya. Suasana sore yang begitu memukau membuat saya enggan beranjak dari pelataran masjid itu. Tetapi ada pemandangan yang sedikit janggal. Seorang bapak berpeci, berpakaian serba putih membawa tas hitam besar, dengan gaya jalan yang (kelihatan) dibuat pincang, tertangkap mata saya. Dia tampak bingung. Awalnya, dia berjalan mondar-mandir di sebuah garis di satu titik yang dia karang sendiri. Sesekali juga tampak dia mengeluarkan telpon genggamnya sambil melilhat sekelilingnya. Seolah-olah tak ada yang meneleponnya.

Tidak sampai lima menit sejak saya melihatnya, tiba-tiba ia sudah duduk di sebelah saya. Jaraknya sekitar satu meter dari tempat saya duduk. Dia kemudian membuat suara melenguh, seperti kesakitan. Beberapa kali terdengar suara meringis, tapi, alih-alih menanyakan keadaannya, saya tetap terpaku pada layar laptop. Lalu suara-suara seperti “haduhhh” atau “capeeek” mulai terdengar. Kecanggungan itu berlangsung selama beberapa detik, sebelum akhirnya bapak itu memulai,

“Dek, kuliah di sini?”

Layaknya seorang anak saja, saya memperlakukannya seperti seorang bapak. Saya pun memperkenalkan diri dan akhirnya menanyakan apa yang sedang ia lakukan di sini.

“Saya lagi nunggu temen, Dek. Tapi belum ketemu nih sampe sekarang.”

“Emang mau ngapain ketemuan?” iseng saya.

“Mau minta bantuan uang. Anak saya kan lagi sakit. Dia kena radang paru-paru. Paru-parunya kejepit tulang rusuknya, haduuuuuh. Bulan puasa banyak aja cobaannya,” lanjutnya sambil mengeluh tak keruan.

Lalu, ponselnya berbunyi. Satu pesan singkat masuk. Dia langsung membacanya dan menyodorkannya pada saya,

“Nih lihat, Dek.”

Maaf, Pak. Saya ga bisa bantu dulu. Saya lagi sibuk. Mungkin kita bisa ketemu lain waktu. (dalam bahasa Sunda)

Kurang lebih seperti itu isinya. Nomernya tak jelas terlihat.

“Dek Himawan,” lanjutnya, suaranya lebih rendah, “bapak mah gak mau yah tangan di bawah (minta-minta maksudnya). Maap-maap aja ya, Dek. Tapi da gimana. Anak bapak urjen banget keadaannya.”

“Emang sekarang lagi dirawat di mana, Pak?”

“Di rumah sakit Cicalengka.”

“Oh gitu ya.”

Sungguh! Saat itu, sulit bagi saya untuk menemukan kaburnya garis tipis antara su’udzon dan waspada. Ini mau tak mau terjadi lagi. Saya jadi “korban” lagi, batin saya. Mengapa sih orang-orang ini harus berbohong dan memunculkan motif-motif aneh yang membuat siapapun yang mendengarnya percaya dan simpatis? Memangnya sebegitu sulitnya untuk bilang bahwa, “Dek, saya ga punya uang untuk buka puasa hari ini dan mungkin tiga hari ke depan. Boleh gak, saya minjem duit?”

Tapi sebelum saya berpikir lebih jauh, si bapak melanjutkan omongannya.

“Tolong banget, Dek. Ini kalo perlu sekalian beli kitab-kitab saya,” katanya sambil mengeluarkan dua buku tebal yang kira-kira halamannya 700.

“Ditambah ini deh, Dek,” ia menyodorkan Al-Quran kecil.

Alibinya tak sengaja terkuak. Tingkahnya yang dari awal sudah membuat bertanya-tanya, ternyata tergambar jelas dari raut mukanya: bingung bagaimana caranya agar alibinya terdengar meyakinkan. Setiap alasan yang dia lontarkan tertepis telak lewat garis mukanya. Masya Allah.

“Ya sudah, Pak. Gak usah. Bapak lebih butuh itu semua. Memangnya butuh uang berapa?” lanjut saya.

“320 ribu, Dek.”

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi lagi. Nama pengirimnya Reska–siapapun dia.

Isinya:

Pak, Reska butuh 320 ribu aja. Ini buat obat dan tebusan yang lain, Pak.

“Saya insya Allah akan bantu Bapak,” kata saya akhirnya, “tapi saya harus ambil uang dulu di ATM.”

Pergilah saya ke ATM terdekat dan mengambil uang yang kurang dari permintaan si bapak tadi. Meskipun dalam perjalanan saya sempat sedetik ragu untuk belok ke arah yang lain dan bukannya ke ATM, malah ke tempat lain, tapi saya tidak lakukan itu. Ini, saya yakin, adalah rencana yang sudah dituliskan oleh Allah sore ini.

Saya pun kembali ke masjid itu dan tanpa ragu langsung memberikan uang kepada si bapak. Sebelum saya pergi, beliau sempat melontarkan “jampi-jampi”nya (kalau saya boleh bilang begitu) bahwa semoga saya “sekolahnya bener, jadi anak yang pinter, dan lulusnya cepet.” Hahaha. Agak lucu mendengar yang terakhir.

Sudah saja, saya pergi meninggalkannya, dan mesjid itu, jauh-jauh. Dalam perjalanan pulang itu, saya banyak berpikir. Sebelum pergi, dia sempat mengatakan bahwa dia ingin “mencari takjil.” Tapi, mendadak ada yang aneh. Saat pertama kami berbincang (yang saya lupa ceritakan di awal), dia sempat menanyakan di mana Masjid Merapi (nama disamarkan), lalu saya jawab, “Emang mau ngapain, Pak ke situ?”

“Mau nunggu temen.” Ini dia ucapkan sebelum dia menanyakan di mana saya kuliah. Lalu, tak lama dia mengatakan dia ingin “mencari takjil.” Ya mungkin di mesjid itu. Tapi, langkahnya tampak terburu-buru. Entahlah, mungkin memang benar dia ingin mencari takjil di mesjid itu, bukan di warung-warung atau jajanan pinggir jalan.

Ya Allah. Begitu banyak orang-orang yang terkadang harus mencari dalih agar bisa “didengar”, agar bisa merasa “diinginkan” atau “dipedulikan,” Mereka tak tahu bahwa mereka merugikan diri sendiri. Bapak tadi bukan contoh satu-satunya. Namun begitu, menjelaskan motif-motif orang lain yang pernah menghampiri saya (dan saya berharap ini tidak terjadi dengan teman-teman) akan jadi insignifikan karena itu bukan poin utamanya. Intinya adalah bahwa orang-orang itu tidak akan pernah lelah, lelap, apalagi tertidur. Siapa saja yang dianggap sedang “sendiri” pasti akan jadi “sasaran empuknya”. Kapanpun, dalam situasi apapun. Mereka awalnya akan membuka percakapan dengan sangat halus, menyapa kita (misalnya dengan mengucapkan Assalamualaikum) dan membuat kita menganggap bahwa mereka hanya ingin mengobrol, lalu di tengah-tengah mulai menyeret kita dalam keadaan yang mereka pikir “Aku patut diperhatikan” dan akhirnya membuat kita melakukan sesuatu.

Jujur, saya bukannya ingin mengatakan bahwa kita harus menjauhi orang-orang itu. Tapi, masih untung saya waktu itu masih dalam keadaan sadar. Dalam keadaan sepenuhnya tahu bahwa saya sedang berada dalam sebuah percakapan. Saya pikir-pikir lagi, apa jadinya jika saya dalam keadaan tidak sadar? Mungkin bukan sekadar uang saya yang bablas, tapi mungkin barang-barang lain dan parahnya harga diri saya. Wallahu’alam. Yang jelas, orang-orang itu sedang butuh dan perlu dibantu. Meskipun motifnya setak-keruan apa, sebagai manusia yang “wajib membantu sesama,” kejadian ini tidak boleh dilihat hanya dari satu sudut pandang.

Mungkin ini modus baru penipuan. Atau sudah lama, tapi saya saja yang baru  menyadari? Modus penipuan yang begitu subtil. Begitu…manusiawi. Ini sudah jadi kewajiban saya untuk saling mengingatkan. Untuk berhati-hati. Sebelum giliran Anda yang dihampiri orang-orang itu, Anda harus tetap memegang satu kunci ini: jangan berhenti berdzikir.

 

Salam,

Himawan.

2 thoughts on “Fraude: Modus Subtil Penipuan Baru

  1. jadi agak ngeri gimana gitu kak, padahal saya pengin kuliah di Unpad juga😦
    tapi kayaknya yang begitu terjadi di mana-mana, ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s